Nulis Cerpen #4MusimCinta Berhadiah #MusimyangBerceritatentangCinta

musim yg bercerita

foto dari akun @shabrinaws_

Haloo… kamu….!

Sudah tahukan kalau baru-baru ini aku merilis buku kumpulan cerita #MusimyangBerceritatentangCinta. Lihat foto di tulisan ini deh. Itu bukunya. Berisi 10 cerita pendek dan 2 novela dengan tema cinta dan problem wanita dewasa. Buku ini terbitan Elex Media Komputindo. Harganya Rp 39.800, tersedia di seluruh toko buku di Indonesia. Beberapa cerpen di dalamnya sudah pernah dimuat majalah Femina, Kartini, NooR, tabloid Nova, de el el. Loh, kok malah iklan buku :D

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di cerpen | 6 Komentar

Mengenal Potensi Diri Sejak Dini

Buku SD Kur13

Kurasa, mereka yang SD di tahun 80-90-an pasti pernah menjawab jadi polisi, dokter dan pilot ketika ditanya cita-citanya. Tak banyak yang menjawab ingin jadi atlet sepakbola, penulis novel, penari, penyanyi, dan lain sebagainya.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di esai | Tag | Tinggalkan komentar

Benarkah Metode Belajar Kurikulum 2013 Membuat Siswa Mandiri?

#K13

sumber foto: mcdens13.wordpress

Beberapa waktu belakangan ini di sosial media berseliweran berita tentang Kurikulum 2013 yang katanya terlalu memberatkan siswa dengan tugas hingga waktu bagi para siswa tersita habis dalam urusan tugas sekolah, jadi mereka tak bisa mengembangkan bakat dan kreativitas di bidang lainnya. Awalnya saya cuek saja. Toh, saya bukan siswa lagi. Jadi tidak perlu pusing memikirkan kurikulum sekolah yang berubah. Suatu hal yang wajar bila kurikulum berubah, sebab zaman pun berubah, jadi tentu saja tantangan dunia pendidikan dalam mencetak generasi bangsa juga berubah. Namun lama kelamaan saya jadi penasaran dengan perbincangan tentang Kurikulum 2013 dan akhirnya ingin tahu lebih banyak mengenai kurikulum ini.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di esai | Tag | 1 Komentar

Anak Pintaan (Tribun Jabar, 31 Agustus 2014)

DARI sekian banyak dongeng yang dikisahkan kajut-ku, emak bapakku, aku paling menyukai ceritanya tentang anak yang dilahirkan dengan empat tetek di badannya. Ya, empat puting susu. Dua di dada dan dua di bawah ketiak. Terdengar ganjil, bukan?
“Tak semua anak punya empat tetek. Hanya anak pintaan saja,” ujar kajut sambil sibuk mengunyah sirih. Aku masih saja tercenung dan tak habis pikir, kenapa bisa seseorang lahir dengan empat puting susu? Bila dia laki-laki, mungkin tak akan masalah. Toh, teteknya tak akan membesar. Lalu, bagaimana bila dia anak perempuan? Aku meringis membayangkan tetek di bawah ketiak itu ikut mengembang seiring usianya.
“Aaauu!” aku setengah menjerit dan meringis, serta terburu mengusap-usap kepalaku yang baru saja dipukul kajut dengan telapak tangannya yang kapalan.
“Aku tahu apa yang dipikirkan anak bujang seusiamu,” dengusnya. Aku hanya tercengir lebar. “Hanya anak laki-laki yang lahir seperti itu,” lajut kajut di antara tangannya yang kembali sibuk menumbuk racikan sirih dalam besi kuningan yang panjangnya cuma sekilan. Giginya tak sekuat dulu dalam mengunyah sirih, jadi dia harus menghancurkan dulu sirih, buah pinang, gambir, dan entah apalagi yang dibalutnya dalam daun hijau pedas itu.
“Kenapa hanya anak bujang, Jut?” aku penasaran dan tak habis mengerti.
“Karena dia anak pintaan. Cuma anak bujang yang dipinta-pinta di dusun kita ini. Tak ada orangtua yang merengek-rengek pada Allah dan leluhur untuk minta anak gadis.”
“Lalu, kenapa dia punya empat tetek?”
Kajut menghela napas. “Itu sebagai tanda kalau dia lahir kedua kalinya.” Dia berusaha tersenyum, tapi aku berjinjit melihat bibir, gigi, dan liurnya yang memerah serupa darah itu.
“Saat lahir pertama kali, tetek di bawah ketiak anak pintaan akan membesar. Itu sebagai tanda kalau dia anak pintaan. Keluarganya harus selamatan bubur dan membuat sesaji untuk diantarkan pada makam leluhur sekaligus membayar nasar yang diucapkan emaknya. Jika tidak, usianya tak akan panjang.”
Sebenarnya, aku hendak menyangkal cerita kajut tentang ini. Usiaku sudah dua belas tahun dan guru agama Islam di sekolah mengatakan, kami tak boleh percaya pada reinkarnasi. Tak ada kelahiran kedua. Tak ada anak pintaan. Tak ada sesajen selamatan di makam leluhur. Tapi aku membungkam mulutku. Aku tahu tabiat kajut, dia akan marah dan memukulku jika membantah ceritanya. Aku menganggap kisahnya hanya dongeng. Andai-andai yang kerap dia dengungkan saat umurku masih hitungan jari tangan.
Ganjilnya, bila tengah menceritakan dongeng tentang anak pintaannya ini, mata kajut akan berbinar-binar saat menatapku, seperti ada kaca-kaca yang terperangkap di sana. Dia kerap mengelus-elus rambutku. Kalau dulu, aku pasti sudah membaringkan badan dan meletakan kepala di salah satu pahanya, membiarkan kajut mengusap rambutku dan aku biasanya akan jatuh tertidur. Namun sejak usiaku lewat sepuluh tahun, aku tak mau melakukan itu lagi. Menurutku agak memalukan anak laki-laki bermanja-manja pada emak atau kajut-nya.
♦♦♦
SEPERTI di ceritaku yang sudah-sudah, di dusun kami, anak bujang memang kebanggaan keluarga. Sebuah keluarga dianggap tak akan memiliki generasi penerus jika mereka tak punya anak bujang, sebanyak apa pun anak gadis yang sudah dia miliki. Mengerikan, bukan? Jadi itulah mengapa semua perempuan yang bersuami rela melakukan apa pun demi bisa meranakkan seorang anak bujang dari selangkangannya.
Kenapa pula harus perempuan yang berpayah-payah dan ketar-ketir ihwal ini? Tersebab perempuanlah yang akan mati ketakutan bila tak kunjung punya anak bujang. Di dusun kami, perempuan selalu salah. Bila kau perempuan dan tak kunjung bunting, orang-orang, termasuk suami dan mertuamu akan lekas menuding kalau dirimu mandul. Bila kau sudah berkali-kali mengembungkan perut dan saban mengempiskannya hanya meng-oek-an anak gadis, kau pula yang akan ditunjuk muka sebagai musababnya. Ujung dari cerita ini hanya dua; kau diceraikan karena dianggap tak becus atau kau rela dimadu dengan perempuan lain yang dianggap mampu memberi keluarga suamimu anak bujang. Silakan pilih. Sialnya, di antara dua pilihan itu semuanya pahit.
Akan kuberi kau kisah tentang Bi Enoi, perempuan yang jadi tulang punggung keluarga itu. Saban pagi dia akan gegas menggenjot sepedanya, menembus kabut dan udara pagi yang mengecup sumsum. Sudah hampir lima tahun dia menyadap karet sendiri. Perkaranya sudah basi sekali. Kelima anak yang dia ejankan dari gua di antara kedua pahanya itu adalah perempuan. Lalu, suaminya, Kuwar, laki-laki berbadan tegap dengan kulit kuning langsat dan wajah rupawan itu berbini dua. Tak ada yang dapat dilakukan Bi Enoi. Dia tak meratap. Tak pula menangis dan meracau. Dia hanya mengangkat wajah dan banting tulang menghidupi kelima anaknya. Sementara lakinya sudah berbahagia lantaran istri keduanya sekali beranak langsung meng-oek-an anak bujang.
Nasib. Begitu saja orang-orang dusun mengatakannya. Dan tak ada yang bisa berbuat apa-apa. Ritme hidup Bi Enoi terus berjalan. Anak-anak gadisnya tumbuh besar. Dia pun sudah lama kering kerontang dalam malam-malam yang mencucuk kulit di tepi Sungai Lematang ini.
Tak heran, bila banyak perempuan yang belum jua punya anak bujang rela melakukan apa pun. Maling kayu sereket pengaron nasi sebelum matang dalam periuk milik sanak-kerabat yang sudah punya anak bujang. Lalu memakai kayu pengaron itu sekali saat menanak beras di rumahnya, memakan nasi yang tertinggal, dan menyimpannya di bawah ranjang tempat dia dan suami merajut harapan. Ada pula yang percaya harus makan pisang emas atau pisang udang setiap malam Jumat. Dan tentu saja, termasuk melakukan pintaan. Berharap leluhur bermurah hati dan memberinya anak bujang.
Banyak tanda seseorang adalah anak bujang pintaan. Tentu saja selain dia putra tunggal di keluarganya dan punya empat tetek di badannya. Selain itu, anak pintaan selalu lahir tengah malam.
“Antara jam dua belas sampai jam satu malam,” kata kajut. “Kalau bukan purnama, biasanya hujan deras.”
“Kenapa begitu, Jut?”
Kajut menoleh. Bibirnya masih sibuk mengunyah sirih. Beberapa kali dia meludah ke dalam peliman, kaleng bekas biskuit bergambar perempuan Belanda tengah naik sepeda. Tempat itu memang kajut gunakan untuk menampung ludah. Agak menjijikan.
“Entahlah, aku tak tahu.”
“Kenapa tak tahu, Jut?” aku masih mengejarnya. Dia merengut dan mendelik.
“Tak semua hal kuketahui,” dengusnya.
Hari itu aku baru paham. Ternyata ada juga yang tidak kajut-ku ketahui dari dongeng yang dia kisahkan. Biasanya dia selalu punya jawaban atas semua pertanyaanku pada ceritanya. Seperti kenapa Ketetem hanya mencungkil mata anak bujang nakal? Karena gadis malang itu dibunuh oleh sekelompok bujang nakal. Kenapa Hantu Seriman keluar waktu magrib? Karena magrib orang-orang tua sembahyang di rumah dan di langgar, jadi anak-anak mudah diculiknya. Dia selalu punya jawaban. Tapi tidak kali ini. Dan mungkin itulah yang membuatku menyukai ceritanya tentang anak pintaan dari kajut.
♦♦♦
PERIHAL anak pintaan ini, aku punya kawan sebaya yang kata orang-orang anak pintaan. Namanya Sapuwan. Dia memang anak lanang tunggal di rumahnya. Lahir tengah malam saat purnama. Punya dua tetek lagi di bawah ketiaknya, aku sudah melihatnya sendiri, dan tentu saja saat membuntingkan dia, emaknya beberapa kali mimpi aneh tetapi selalu mimpi yang sama.
Aku hampir lupa mengisahkan bagian itu.
Setiap perempuan yang akan melahirkan anak pintaan. Dia pasti kerap bermimpi aneh dan ganjil dan sama. Tak ada beda.
Kata orang-orang, dari yang kudengar dan Sapuwan mengiyakan juga serta mengisahkan ulang pada kami. Saat emaknya membuntingkan Sapuwan. Emaknya kerap bermimpi ditemui laki-laki tua berjenggot putih dan memakai lilitan kain basahan mandi di atas kepalanya. Laki-laki itu juga hanya mengenakan sarung tanpa alas kaki dan membiarkan dadanya yang kendur serta keriput itu terbuka. Dalam mimpi emaknya itu, si laki-laki tua memberinya kain yang dililitkan di kepala itu. Selalu seperti itu mimpinya. Dan emaknya terbangun saat sudah menerima kain.
Mulanya, emaknya Sapuwan tak hendak menceritakan mimpi ganjilnya. Tapi lama kelamaan, dia tak kuat dan akhirnya mengisahkan pada mertua perempuannya. Tak dinyana, perempuan yang mulai mengeriput itu terperanjat seperti disengat lipan.
“Kenapa?” aku dan Pebot tak kuasa untuk menahan rasa penasaran.
Sapuwan menelan ludah, seolah-olah dia ikut cemas dan ketakutan. Ganjil sekali tingkahnya. “Karena laki-laki tua yang emakku gambarkan dalam mimpinya, mirip sekali dengan puyang kami.”
“Puyang-mu yang mana?” Pebot melipat keningnya.
“Kakek bapakku. Tak akan kau kenal-lah,” dia mendengus. Pebot dan aku mencibir.
“Lalu?” aku menunggu.
Seperti yang Sapuwan ceritakan. Kajut-nya terperanjat dan bertanya pada emaknya. Apa dia meminta anak bujang dan berjanji membuat selamatan? Dengan takut-takut, emaknya mengangguk. Wajah mertuanya makin pasi.
Aku bingung kenapa Sapuwan mengatakan kajut-nya pucat pasi mendengar cerita emaknya tentang mimpi ganjil itu? Bukankah mereka justru bahagia lantaran akan punya anak-cucu bujang di rumah? Generasi penerus leluhur. Apa mungkin sangi (nasar)-nya terlalu berat? Ternyata tidak juga, emaknya hanya berjanji akan membuat bubur tiga warna.
“Lalu kenapa kajut-mu ketakutan?” Pebot sepertinya punya pikiran yang sama denganku.

Sapuwan terdiam. Aku melihat gerakan di lehernya, dia menelan ludah.
“Sebab biasanya anak pintaan meminta upah lebih mahal, kata kajut-ku.”
“Upah?” aku dan Pebot saling pandang, tercengir. Ada-ada saja. Macam kami saja yang minta diupah saban bulan puasa agar tak batal puasanya. Bila sanggup menahan haus dan lapar sampai magrib, kami akan diberi berapa rupiah. Aku nyaris terkekeh membayangkan itu. Enak sekali anak pintaan itu.
“Upahnya nyawa,” desis Sapuwan yang membuat seringai di wajahku dan wajah Pebot langsung lenyap. Mata kami membulat.
“Bapakku mati muda karena aku anak pintaan kata kajut-ku,” suaranya makin melirih. Aku merasa tengkukku meriap.
“Pasti kau bergurau,” Pebot mewakili kesangsianku.
“Tak,” Sapuwan cepat membantah. “Begitulah adanya. Emakku mimpi bertemu puyang dari pihak bapak. Itu artinya kalau aku berumur panjang, ya bapak atau kakekku yang meninggal. Itu takdir dari anak pintaan.”
“Kalau emakmu mimpi bertemu puyang dari pihak keluarganya?” tanyaku takut-takut.
“Berarti bisa jadi bapaknya emakku yang mati.”
Aku menelan ludah. Pahit. Takut. Merinding sekaligus tak percaya.
“Kau juga anak pintaan-kan, To?” ucap Sapuwan. Aku mengangkat wajah. Memandangnya dan mengalihkan mata ke arah Pebot.
“Siapa?” tanyaku bergetar.
“Kau,” jawab Sapuwan. Enteng tapi membuat lututku lemas. Kupandang dia. Dia tak tersenyum. Tak tertawa tanda bergurau. Tak ada ekspresi apa-apa. Aku merasa bulu kudukku berdiri tegak seperti barisan prajurit yang mengarahkan bambu runcing ke udara. []
C59-L45, 10 Maret – 21 April 2014.
Guntur Alam, lahir dan besar di Tanah Abang Muara Enim. Buku novelnya teranyarnya, Di Bawah Langit Jakarta, Penerbit Noura Books. Kini menetap di Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatra Selatan.

Dipublikasi di cerpen | Tinggalkan komentar

Menikmati Menu Cinta di Kedai Bianglala

 kedai

foto diambil dari just-fatamorgana blogspot

 

APA yang kamu pikirkan bila membaca halaman persembahan sebuah buku yang ditulis seperti ini; demi seorang perempuan rumit, luka-duka, dan lelaki-lelakinya? Dan penulisnya seorang perempuan. Mungkihkah pikiran kalian akan sama denganku; buku ini akan dipenuhi cerita tentang cinta-cinta yang akan membuat hatimu terperas. Aku menggadang itu sejak membaca halaman persembahan tersebut.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di cerpen | 1 Komentar

Sayembara Menulis Novel DKJ 2014

Dewan Kesenian Jakarta kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel DKJ 2014 untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel. Melalui sayembara ini DKJ berharap lahir novel-novel terbaik dari pengarang Indonesia yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di cerpen | Tinggalkan komentar

Berkelana dalam Ruang Imajinasi dan Kerumitan Pikiran Norman

kumcer norman

 

SUNGGUH, aku jatuh cinta dengan judul buku kawanku ini, Norman Erikson Pasaribu (kemudian aku akan menyebutnya Norman di sini) yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, April 2014: Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di resensi | 1 Komentar