De Njai Itih (Kedaulatan Rakyat, 28 Februari 2016)

Itih

SEKITAR tiga minggu lalu, sebelum ayahku mengakhiri perjalanannya di muka bumi karena kanker usus, dia memanggilku. Dia memberiku sebuah buku catatan tua. Tak menyerahkannya langsung, hanya menunjukkan tempat penyimpanannya. Dan itu juga bukan miliknya, melainkan milik kakekku, Willem Pieter. Buku berkertas kuning kecokelatan itu disimpan dalam peti besi yang ada di loteng rumah kami.
”Nenek buyutmu seorang nyai,” ucap ayah dengan suara serak dan terbata. ”Namanya Itih. Dia berasal dari Cimahi, Jawa Barat, Indonesia. Setelah melahirkan kakekmu, Pieter. Dia dibuang. Aku dan kakekmu sudah berusaha mencarinya, bertahun-tahun. Tapi kami gagal. Aku ingin kau melakukannya demi kami. Setidaknya, bila kau bisa menemukan kuburannya. Kau akan bisa menemukan keluarga kita di sana.”
Tentu saja aku terhenyak. Bagaimana bisa? Selama ini aku hanya mengetahui tentang sejarah pergundikan dan anakanak Indo-Eropa dari buku-buku yang kubaca di kampus dulu. Dan aku… aku tak pernah sekali pun melintaskan dalam benak jika aku ternyata salah satu dari Indo-Eropa itu.
Aku tak ingin mempercayai ini. Tapi begitulah kenyataan yang menghantamku.
***
AKU menulis catatan ini berdasarkan kisah dari ayahku, James Pieter. Dia menceritakan rahasia ini setelah bertahuntahun menyembunyikannya dariku. Awalnya, aku merasa heran mengapa kulit dan rambutku berbeda dari ayah, ibu, dan saudara-saudaraku yang lainnya. Juga kenapa aku dianggap beda oleh ibuku sendiri. Inilah rahasia itu.
19 Januari 1906
SEBULAN setelah usiaku delapan belas tahun, seorang teman pribumi ibuku berkata saat dia berkunjung di rumah kami, ”saya sangat siap mencarikan Tuan James teman bermain.”
Dadaku berdebar-debar saat cupingku menangkap perkataannya itu. Ibu menoleh padaku, lalu menatap perempuan pribumi berkebaya putih di depannya, Nyai Enci, dia tersenyum. Ibu pun tersenyum, hangat, seperti lelehan cokelat. Dadaku berdegup-degup melihat senyuman keduanya. Harapanku membuncah seperti semburan wiski yang dikocok sekencang dan selama mungkin, lalu penyumbat botonya dibuka tiba-tiba.
”Carilah,” jawab ibu sembari tersenyum, ”sudah masanya dia bermain .” Aku menyeringai mendengar ucapan ibu itu.
***
SEMINGGU setelah kunjungan Nyai Enci itu, di suatu siang yang lembap karena hujan terus menerus mengguyur Bandung, perempuan pribumi itu datang.
”Lihatlah,” ucap ibu. ”Nyai Enci membawakan teman untuk bermain denganmu. Apa kamu menyukainya?” Dia terus menerus menundukkan kepalanya, memandang lantai rumah dan ujung kakinya yang tak mengenakan alas apa pun. Aku melangkah, mendekatinya. Kusentuh dagunya dan mengangkat wajah itu. Mata kami bertemu. Dia punya sepasang mata bening dengan retina yang demikian hitam. Mata bulat yang terperangkap kacakaca basah. Wajahnya lonjong dengan bibir tipis yang terlihat berkedut-kedut.
Aku melepaskan dagunya, memutarinya dan melepas sanggul rambutnya. Dia terlihat berjinjit, sekilas, maju selangkah ke depan. Rambut itu terurai, melewati pundak dan nyaris menyentuh punggungnya yang terlihat kencang.
”Aku menyukainya,” jawabku. Nyai Enci terlihat menarik napas, lega.
”Dia akan tinggal dan menjadi Nyai-nya James,” ibu mendekati gadis yang terus tertunduk, menatap lantai itu. ”Selama dia di sini, aku akan memberi orangtuanya gulden. Pulanglah dan kabarkan itu.”
”Baik, Nyonya,” Nyai Enci tersenyum puas. ”Namanya Itih, usianya tujuh belas tahun. Tuan James harus sabar dalam bermain, dia belum mengerti apa-apa. ”
Perempuan bernama Itih itu mengangkat wajah dan memandang Nyai Enci dengan pandangan berkaca-kaca, dia seolah memohon dan berharap diajak pulang bersama perempuan berkebaya putih dengan renda di bagian dada itu.
”Kau harus tinggal Itih,” suara Nyai Enci terdengar datar. ”Orangtuamu sudah setuju dan sangat berharap kau mau melakukan ini. Bila tidak, mereka dan adik-adikmu akan mati kelaparan,” dan sepasang air mata mengalir dari sudut mata Itih, lalu berkejaran di landai pipinya yang mulus.
***
20 Oktober 1914
HARUSNYA, aku tahu hari ini akan datang juga. Cepat atau lambat. Seperti yang dialami Walvaren, sebelum dia harus kembali ke Holland dan menikah dengan perempuan sederajat. Aku tak tahu tentang perasaanku, seperti ada seekor kupu-kupu yang terbang dalam perutku, terutama saat melihat Itih yang hanya tertunduk, tak bersuara. Persis seperti dia pertama kali datang ke rumah kami tujuh tahun lalu.
Di depan kami, Maria Klein, seorang pegawai luarbiasa Kantor Catatan Sipil Bandung, sedang menuliskan sebuah surat pengakuan atas Willem Pieter, anakku yang lahir dari rahim Itih.
Hari ini, tanggal 20 Oktober 1914, James Pieter, bertempat tinggal di Bandung, menerangkan kepada saya, Maria Klein, pegawai luarbiasa Kantor Catatan Sipil Bandung, bahwa di Bandung, 10 September 1907 pada pagi hari (sebelum tengah hari) jam setengah enam dilahirkan seorang anak berkelamin laki-laki (Willem Pieter) dan menerangkan pada saya bahwa anak tersebut diakui sebagai anaknya.
Selanjutnya di depan saya ada seorang perempuan pribumi bernama Itih, berumur 24 tahun, tanpa pekerjaan, tinggal di Cimahi, yang menurut ayat 204 Kitab UndangUndang Hukum Perdata, menerangkan kepada saya bahwa dia telah menyetujui pengakuan itu.
Aku tak sanggup lagi menyimak pembacaan hasil tulisan Klein itu, terlebih begitu melihat air mata jatuh satu-satu dari wajah Itih yang tertunduk, seperti hujan. Di belakangnya, Willem yang berumur tujuh tahun bersembunyi. Anak lakilaki berambut pirang kecokelatan itu mendongak saat merasakan getaran tubuh Itih.
”Bu, kenapa kau menangis?” tanyanya. Bahu Itih kian terguncang.
Seorang babu kami untuk membawa Willem ke belakang. Bahu Itih makin terguncang ketika mendengar tangisan Willem yang berteriakteriak memanggilnya.
”Sekarang kau bisa pulang ke rumahmu,” ucap ibu. ”Tentu saja aku akan memberimu uang sebagai bekal. Aku tak akan sejahat yang kau pikirkan. Tapi kau jangan sekali pun menampakan batang hidung di sini. James dan Willem akan kembali ke Holland.”
***
TANGANKU gemetar ketika membaca lembar demi lembar cerita yang ditulis, kakekku, Willem Pieter. Aku tak pernah menyangka sama sekali. Kakek buyutku menuliskan jika surat pengakuan yang dibuat waktu itu terselip di dalam buku ini. Aku segera mencarinya dan menemukan kertas yang demikian tua. Tintanya sedikit buram dan menguning bersama kertas. Kubaca isinya, persis seperti yang tertulis di buku catatan ini. Saat aku melipatnya, aku menemukan sebuah paragraf di belakangnya. Ditulis dengan tulis tangan Pieter.
Ketika saya kecil, sebelum ayah membawa saya ke Holland, beberapa kali seorang perempuan pribumi yang tidak berpakaian cukup layak di dekat pagar rumah kami. Berkali-kali dia berusaha mendekati saya, tetapi selalu dihalau oleh babu kami. Apakah dia ibu?
Mataku terasa memanas. ❑
G59-Pali, 2016.

 

By AlamGuntur Posted in cerpen

Yang Patut Dikenang Sepanjang 2015

Apa yang layak dikenang dari tahun 2015 yang akan segera berakhir? Sepertinya akan sangat banyak. Walau untuk karya bisa dibilang, tahun 2015 bukan tahun yang menggembirakan untuk saya –dibanding beberapa tahun sebelumnya. Namun tetap saja banyak hal yang harus disyukuri dan dijadikan ruang introkpeksi diri. Semoga saja, sebelum tahun 2015 berakhir, masih ada hal-hal manis yang bisa dikenang.

1. Tahun 2015, saya hanya menerbitkan 1 buku. Kumpulan cerpen gotik “Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang”, Gramedia Pustaka Utama. Akhirnya setelah draf ini wara-wiri, bongkar-pasang, ketemu juga tempat terbitnya. Terima kasih Mas Pramoe Aga untuk ilustrasi kovernya yang manis sangat. Juga untuk Benzbara yang memberi “petunjuk” jalan untuk naskah ini.

2. Seperti tahun 2014, tahun 2015 adalah tahun kesedihan juga. Saat tahun 2014, saya kehilangan beberapa orang tercinta (uwak, mamang, kemudian nenek tercinta –banyak cerpen lokal saya yang terinspirasi dari dongeng-dongengnya, kami sangat dekat dan kepergiannya membuat saya terpuruk–, kakek dan kakak ipar yang membuat saya seakan tak mampu menghadapi tahun 2015). Di tahun ini saya kehilangan seorang sahabat sangat baik: Swistien Kustantyana. Sampai detik ini saya masih tak percaya bila dia sudah pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Kadang saya masih menganggap dia jalan-jalan ke Korea, menemui oppoppa idolanya. Atau dia tengah menyelesaikan S2-nya di London. Bila ngobrol dengan Norman Erikson Pasaribu dan Mbak Nuri Dhea S, saya suka sesak napas sendiri. Bagian yang membuat saya cukup bahagia bila mengenang T. Karena saya sempat membantu mewujudkan salah satu mimpi kecilnya; dimuat di Jawa Pos (dan sayangnya tak sempat di Kompas). Cerpen duet kami “Spektrum Banksy” dimuat di koran itu beberapa minggu sebelum dia meninggal.

3. Yang ini cukup mengejutkan, saya menjadi Juara 2 Lomba Hidangan Istimewa di Tabloid Sajian Sedap. Selain menginspirasi saya lewat dongeng-dongengnya –yang terus menerus mempengaruhi warna tulisan saya– almarhum nenek juga meninggalkan kesan-kesan tentang masakan dan masa kecilku.

4. Kalau yang ini tentu saja membuat saya merasa sangat bahagia ketika diberi kesempatan oleh Mas Farick Ziat untuk menjadi pembuka cerita bersambung di Majalah GADIS. Setelah halaman itu vakum cukup lama, saya membukanya kembali lewat cerita bersambung “Saat Cinta Memilihmu”. Semoga halaman cerita bersambung di GADIS ini terus ada, tak hanya di tahun 2015, tapi di tahun-tahun yang panjang di depan sana. Oya, satu cerpen saya juga dimuat di bulan Mei oleh GADIS “Pertemuan di Rumah Abu”. Semoga tahun 2016 saya bisa menulis lagi untuk GADIS.

5. Setelah tahun 2011 silam, cerpen saya dimuat 2x oleh KOMPAS dalam tahun yang sama. Kesempatan itu terulang di tahun 2015. Ada 2 cerpen saya yang dimuat KOMPAS tahun ini yaitu “Uparaca Hoe” dan “Bolu Delapan Jam”. Tentu saja itu kesempatan luar biasa yang diberikan  tim KOMPAS Minggu. Semoga saja, kedua cerpen itu dapat mengantar saya untuk berjumpa dengan penulis-penulis keren di acara tahunan KOMPAS di BBJ bulan Juni 2016 mendatang. Dan capaian 2015 ini sekaligus menjadi pemantik untuk saya berkarya lebih baik lagi di tahun 2016.

6. Setelah 2 tahunan tak dimuat MEDIA INDONESIA dan JAWA POS, pada tahun 2015 ini ada satu cerpen saya yang dimuat oleh kedua koran ini. Bagi saya ini hal yang patut saya banggakan untuk dijadikan pemacu semangat. Sayangnya saya kembali gagal menaklukan KORAN TEMPO, sepertinya saya belum mampu memberikan apa yang dicari oleh redaksinya terhadap karya-karya saya. Semoga tahun 2016 saya bisa melakukan itu.

7. Bagiannya sedihnya, novel INDONESIANA saya nggak jadi terbit Oktober 2015, jadwalnya molor sampai sekarang dan saya tak tahu pasti masalahnya, karena hal itu di luar jangkauan saya. Hanya GAGAS MEDIA dan crewnya yang tahu. Proses terakhir saat kami merumuskan judul dan blurb awal Desember 2015. Setelahnya belum ada kabar lagi, juga kovernya. Jadi kemungkinan besar novel ini tak akan terbit di tahun 2015 –tinggal menghitung hari, kan?

8. Cerita sedih apa lagi? Oya, mantan saya menikah tahun ini. Aduh, hal ini patut dibagikan tidak ya? Hahahahaha. Jika dia baca status ini, saya selalu berdoa untuk kebahagiaannya. Bukankah setiap orang berhak mencari kebahagiaan dirinya?

9. Yang bikin sedih lagi, ada novel yang tengah kugarap dan nggak kunjung selesai. Padahal sudah janji pada editornya. Ternyata tahun 2015 sudah mau berakhir dan janji itu tak kunjung terealisasi. Semoga saya bisa menebusnya di tahun 2016.

10. Saat tahun 2015, saya tengah menyusun sebuah novel, ya katakanlah sastra. Bukan novel roman populer seperti biasanya. Saya ingin menulis novel yang serius, yang premisnya sudah lama terpendam dalam kepala. Sayangnya karena kesibukan pekerjaan dan kemalasan akut yang menyerang, novel itu tetap berbentuk kerangka semata. Semoga tahun 2016, saya dapat menulis novel itu sampai tamat. bila pun tak terbit, setidaknya saya telah membahagiakan diri saya sendiri karena menuliskan apa yang ingin sekali saya tuliskan.

Sebenarnya masih banyak hal yang patut dikenang dan disyukuri sepanjang tahun 2015-ku, tapi saya pikir cukup itu garis besarnya. Lalu, apa yang patut dikenang dan disyukuri dari tahun 2015-mu?

By AlamGuntur Posted in cerpen

Blog Tour #PerfectPain by Anggun Prameswari

Perfect Pain

Judul : Perfect Pain
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2015
Cetakan : Pertama
Tebal : 324 halaman
ISBN : 9789797808402

Sayang, menurutmu apa itu cinta? Mungkin beragam jawab akan kau dapati. Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi. Atau malah tentang bekas luka dalam hati-hati yang berani mencintai.

Maukah kau menyimak, Sayang? Kuceritakan kepadamu perihal luka-luka yang mudah tersembuhkan. Namun, kau akan jumpai pula luka yang selamanya terpatri. Menjadi pengingat bahwa dalam mencintai, juga ada melukai.

Jika bahagia yang kau cari, kau perlu tahu. Sudahkah kau mencintai dirimu sendiri, sebelum melabuhkan hati? Memaafkan tak pernah mudah, Sayang. Karena sejatinya cinta tidak menyakiti.

 

Saat akan menulis novel ini, Anggun sempat beberapa kali bercerita pada kami (selain aku ada Yetti A.Ka, Emil Amir dan Faisal Oddang) tentang rencana novel keduanya ini. Tentu saja kami tahu Anggun akan menulis roman depresi lagi, tapi saat tahu bila temanya KDRT, aku sempat tercekat. Tak banyak novel dengan tema ini yang pernah kubaca. Tak tahu kenapa tema ini sedikit dilirik oleh penulis. Bisa jadi karena tema ini cukup berat dan menguras emosi saat dituliskan, seperti yang kerap Anggun ceritakan. Betapa dia seakan “diteror” oleh naskahnya sendiri. Seakan dia menyatu bersama Bidari dan merasakan segala sakitnya.

 

Aku menyukai cara Anggun bercerita. Seperti di After Rain, Anggun dapat menghidupkan karakter-karakternya. Aku kadang kesal pada Bidari yang terkesan sangat penakut dan bodoh. Namun aku menyadari sesuatu. Tak mudah bagi seseorang untuk keluar dari kondisi yang membelenggunya bertahun-tahun. Karakter Bidari yang jadi korban KDRT terbentuk karena pengalaman masa lalu yang suram. Dan kebanyakan para korban KDRT juga merasa tak menjadi korban. Apa yang dia alami adalah hal lumrah. Selain itu, para korban KDRT, terutama posisi istri, bertahan demi anak-anak mereka.

 

Aku menghela napas berkali-kali saat mengikuti karakter Karel dalam Perfect Pain. Seharusnya anak seusia itu punya masa kanak-kanak yang manis untuk dikenang. Bukan gambaran ibunya yang babak-belur dihajar ayahnya. Namun dari Karel juga, aku belajar suatu hal yang luar biasa. Betapa cinta dan kasih sayang yang tulus akan membuat seseorang melakukan apa pun demi orang yang dicintainya. Termasuk memaksa dirinya menjadi “gajah” walau sesungguhnya dia hanyalah “semut” belaka.

Di lain sisi, aku juga benci pada Bram tapi sekaligus kasihan. Sayangnya, Anggun tak menceritakan masa lalu Bram, kenapa dia menjadi seperti itu? Sebab saya selalu percaya; masa lalu akan membentuk seseorang di masa depannya.

Dibanding After Rain –yang saat itu sangat kusukai—ternyata aku lebih menyukai Perfect Pain. Novel kedua Anggun ini terasa lebih matang, konfliknya lebih runut, karakter-karakternya juga terasa nyata dan hidup. Aku bahkan merasa bukan tengah membaca sebuah novel fiksi, melainkan kisah nyata seorang ibu muda bernama Bidari.

 

Untuk kamu yang suka baca novel dewasa dengan ceirta berbeda dan tentu saja melebamkan dada tapi punya akhir cerita yang manis; kamu harus baca novel ini!

 

GIVEAWAY

Oya, Gagas Media menyediakan 1 eks novel Perfect Pain buat kamu. Caranya mudah :

  1. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar : Menurutmu, apa itu cinta?
  2. Di akhir jawaban tuliskan nama lengkapmu, alamat email (wajib), akun sosial mediamu (twitter dan FB)
  3. Giveaway ini berlangsung sampai tanggal 27 Desember 2015, pukul 00.00 WIB. Pengumuman pemenang tanggal 28 Desmeber (tentative) via blog ini dan akun twitterku @AlamGuntur, juga akun Facebook Guntur Alam

Sederhana kan? Ditunggu jawabanmu.

Sebuah Ocehan (Jelang) Akhir Tahun

Magi Apel Pisau

Kumcer Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang, Gramedia Pustaka Utama. Tersedia di toko buku seluruh indonesia

MEMANG belum akhir tahun, koran Minggu masih memiliki dua cerpen untuk menutup tahun 2015 ini. Namun entah kenapa, aku begitu ingin menulis ini segera –setelah tanpa sengaja membaca blog seorang teman yang kebetulan di-retweet oleh seorang temanku di twitter.

Baca lebih lanjut

By AlamGuntur Posted in esai

Cara Agar Naskahmu Diterbitkan GPU

Magi Apel Pisau

Kumpulan Cerpen Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama

Banyak banget kan yang bertanya-tanya; gimana caranya agar naskahku diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama? Nah, untuk menjawab pertanyaanmu, berikut aku copy-kan ketentuan dan cara yang bisa kamu lakukan agar naskahmu diterbitkan GPU. Info ini saya ambil dari tumblr GPU. Semoga berhasil ….

Baca lebih lanjut

By AlamGuntur Posted in esai

#LOMBA – Lomba Menulis Surat Berhadiah Total 80 Juta.

Lomba Pos

Gaes, ada lomba menulis surat nih dari Pos Indonesia wilayah Jawa Barat. Temanya GENERASIKU MELAWAN KORUPSI. Syata lengkap baca ketentuan di poster atau di bawah ini :

1. Usia 13 – 17 tahun (SMP/ MTS/ SMA/ MA/ SMK sederajat)
2. Mengirimkan fotocopi kartu siswa
3. Format surat dengan komposisi sebagai berikut :
4. Tempat & tanggal, alamat tujuan, salam pembuka, isi surat, salam penutup dan tanda tangan
5. Tulisan harus ditulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menggunakan tinta berwarna hitam yang terdiri dari 800 – 1000 kata ( 2 halaman kertas folio bergaris)
6. Tulisan dapat ditujukan kepada siapa saja contohnya orangtua, sahabat, walikota bandung, gubernur jawa barat, KPK dan lain – lain.
7. Tulisan asli karangan sendiri dan tidak mengandung unsur pelecehan / penghinaan terhadap SARA
8. Tulisan belum pernah dipublikasikan dan dikutsertakan dalam lomba sejenis
9. Hasil tulisan dikirim tanggal 11 Desember 2015 dan paling lambat tanggal 11 Februari 2016 ke PO BOX Kantor Pos Bandung dengan mencantumkan nama jelas, alamat, dan nomor telepon serta menggunakan perangko pos Rp. 5000, yang diteguhkan dengan cap tanggal pos terakhir dan dibawahnya ditulis ” Lomba Menulis Surat”
10. Informasi lebih lengkap dapat mengunjungi Kantor Pos terdekat Se- Jawa Barat dan melalui media sosial


Yuk ikutan Sahabat Pos...
Dan untuk 30 Finalis terbaik bisa mengikuti Pelatihan Menulis pada tanggal 9 Maret 2016 di Balai Kota Bandung bersama : Tere Liye, Ginatri S. Noer dan Habiburrahman El Shirazy.

By AlamGuntur Posted in Lomba

#TipsNulis – Cara Asik Atasi Badmood

Magi Apel Pisau

Sering nggak kamu ngalami badmood saat nulis, yang ujungnya tulisan itu nggak kelar-kelar? Aduh, ini sih aku banget. Banyak banget tulisanku yang baru separuh dan nggak selesai. Namun, pada akhirnya bisa selesai juga, sih. Walau ditinggalnya kelamaan. Terus gimana caraku kembalikan mood agar bisa lanjutin tulisan itu? Berikut beberapa cara yang mungkin saja bisa kamu contoh, itu pun kalau cocok.

Baca lebih lanjut