Cerita dari Segelas Kopi (Lampung Post, 23 Oktober 2011)

SEJAK kedatangannya di kampung ini, lelaki itu selalu duduk di teras limasnya. Teras yang menghadap ke jalan raya dan tengah kampung. Bila ditanya oleh orang-orang yang lalu lalang ke rimba karet sedang apa dirinya? Lelaki itu selalu menjawab: “Aku sedang mendengarkan cerita dari segelas kopi.”

Ahai, tentu saja jawaban lelaki itu membuat orang-orang dusun mengeryitkan kening pertanda pening. Apakah ada segelas kopi yang pandai bercerita? Mungkinkah serupa kajut-kajut, orangtua dari Emak-ebak mereka, yang bercerita setiap malam menjelang punai saat mereka akan terlelap di masa bocah? Tapi, semua itu tak dapat mereka masukan dalam akal.

Kabar tentang lelaki yang punya segelas kopi pandai bercerita itu merebak ke penjuru dusun. Mula-mula cerita itu berloncatan dari mulut-mulut perempuan kampung, kemudian jadi bumbu dapur, dimasak dalam gulai pindang, dihaluskan dalam ulekan sambal pedas, lalu dihidangkan di meja makan malam. Setelah itu, laki dan bujang-gadisnya akan memasang telinga sembari mendecak-decakkan lidah atas hidangan yang dikunyah lekas-lekas.

Dari sanalah kisah lelaki yang memiliki segelas kopi bercerita itu mengalir. Ada yang sangsi, ada pula yang menganggapnya benar-benar terjadi. Dan beberapa orang yang terpancing penasaran di hati, berganti-ganti, menjadi tamu lelaki itu di pagi hari.

Seperti pagi ini, ketika kabut masih menyungkup wuwungan limas, embun baru saja menyeruak seperti biji keringat di jidat, lelaki itu telah menerima dua tamunya.

Lelaki itu membawa tamunya menikmati pagi yang menggigil di teras limas. Tiga gelas kopi telah terserak di atas meja. Asap putih tipis masih mengepul-ngepul di atasnya. Dua pasang mata tamu lelaki itu tak lepas menatap gelas-gelas kopi yang ada.

Seolah tak melihat, mungkin saja ia berpura-pura, lelaki itu membiarkan saja kedua tamunya itu memandang lekat-lekat gelas kopi yang ada di depan mereka. Lamat, lelaki itu menjangkau gelas kopinya, menyeruput sedikit isinya. Terdengar decakan lidahnya yang beradu air kopi panas.

“Silakan, diminum,” ujar lelaki itu begitu melihat kedua tamunya masih saja menatap ke arah gelas kopi masing-masing.

“Katanya, gelas kopimu pandai bercerita. Apa benar?” salah seorang tamu lelaki itu tak kuasa lagi menahan gumulan tanya yang tindih-menindih dalam batok kepalanya. Lelaki itu tercengir, ia meletakkan gelas kopinya kembali ke atas meja. Melihat cengiran lelaki di depan mereka, kedua tamu itu bertukar pandang. Apakah ada yang aneh? Mungkin itu yang ada dalam benak mereka.

“Kami mendengar desas-desusnya merebak di kampung. Dan kami ingin membuktikan sendiri kebenaran cerita yang beredar itu,” sahut yang seorang lagi, “Tapi sejak tadi, kami tak mendengar kopi di depan kita ini berkisah,” tambahnya. Seolah tak perduli dengan cengiran tuan rumah di depannya.

“Gelas kopiku ini memang pandai berkisah,” sahut lelaki itu begitu tamunya usai berkata, serentak kedua tamu itu saling lempar pandang. Kemudian, melongok dengan muka penuh gurat bingung. Keduanya memasang mata yang begitu lekat pada gelas kopi di atas meja dan berganti ke raut muka tuan rumah.

“Aku tak mendengar apa-apa,” desau tamu itu kepada kawannya yang duduk di sebelahnya. Lagi, kedua retina keduanya bertaut.

“Aku pun tidak,” sahut kawannya, “Atau kita yang tak bisa mendengarnya?” seolah bertanya pada dirinya sendiri, kedua lelaki itu kembali melarikan mata pada gelas kopi sang tuan rumah.

“Apa kalian tak mendengar kisahnya sejak tadi?” si empu rumah melontarkan tanya itu. Serentak, kedua tamunya mengangguk. Dan gurat takjub dikelindapi bingung merekah seperti kuntum-kuntum bunga di kedua mukanya.

“Wah, sayang sekali kalau begitu. Padahal, gelas kopiku ini berkisah hal yang sangat menarik pagi ini,” ujar lelaki si empu rumah sembari jemari tangannya memegang gagang gelas.

Kedua tamu itu benar-benar takjub dibuatnya. Apakah ini sebuah kebenaran? Mata mereka kian melotot melihatnya. Melihat gelas keramik dari tanah itu. Sejatinya, gelas serupa itu sering mereka jumpai dijual di hari pekan. Dibawa toke guci dari Palembang atau Prabumulih sana. Warnanya kuning gading, mengkilat, dengan lukisan seperti ruas-ruas bambu pada dinding luar. Tingginya hanya sekilan tangan. Tak ada yang istimewa. Tapi, menjadi luar biasa ketika si empu mengatakan kalau gelas itu pandai berkisah. Tidakkah hal ini luar biasa didengar telinga?

“Apa yang gelas itu kisahkan?” seorang dari tamu itu melempar tanya. Kawannya mengangguk cepat sebagai tanda setuju dengan tanyanya. Si empu rumah kembali tercengir. Lalu, ia mengangkat gelas kopi itu, menyeruput sedikit isinya. Aroma kopi hangat yang menyeruak di kedua lubang hidungnya, memberi sensasi luar biasa.

“Apa kalian hendak mendengarnya?” lelaki itu malah balik bertanya. Gegas, kedua tamu itu mengiyakan dengan anggukan, “Baiklah, akan aku ceritakan,” lelaki itu membetulkan letak duduknya yang tak salah. Pun dengan kedua tamunya yang ikut-ikutan lata, membetulkan letak duduk yang tak salah.

“Inilah kisah yang diutarakan gelas kopi ini padaku,” buka lelaki itu pada kisahnya. Kedua tamunya duduk menyimak dengan penuh khitmat.

 

ADA seorang lelaki yang baru membeli sebuah limas di suatu kampung. Lelaki itu memutuskan untuk menetap di kampung yang asri dan hijau itu. Ia sudah lelah dengan hiruk pikuk kota. Ia hendak meninggalkan semua urusannya di sana. Semua hal telah ia serahkan pada anak dan menantunya. Ia ingin menghabiskan masa tuanya di kampung yang hijau, mengenang masa-masa muda bersama almarhumah istrinya, dan tentu saja ia ingin memiliki kisah lain pada hidupnya, selain yang telah ia miliki sebelumnya.

Semua yang lelaki itu impikan nyaris terwujud. Kampung yang asri, penduduk yang ramah, dan keheningan yang begitu senyap. Sayangnya, kesendirian kerap membuat lelaki itu merasa bosan. Setelah hiruk-pikuk kota yang menjejali hidupnya selama ini, tiba-tiba saja ia dikungkung sepi yang demikian mencekam. Tak ada kawan baginya melewati hari. Penduduk kebanyakan sibuk menghabiskan hari di kebun-kebun karet, barulah ketika petang menjelma mereka pulang. Dan ketika malam masih ingusan, kampung telah lelap oleh dengkuran lelah.

Di limas yang ia beli? Tak ada siapa-siapa, hanya seorang pembantu yang disertakan anaknya. Pembantu itu terlalu sibuk membenahi rumah, memasak, mencuci, dan tentu saja bergosip dengan gadis-gadis belia di sungai. Pastilah, mereka tengah membicarakan bujang anu atau anu yang berbadan bagus, bersenyum manis, bermata elang, bertangan besar, bahkan mungkin saja tentang isi celana.

Sampai suatu hari, lelaki itu menemukan gelas kopi antik, warisan si empu rumah terdahulu, yang juga seorang tua yang tinggal sendiri dan mati dalam kesendiriannya. Mulanya, lelaki tua yang baru menghuni rumah itu tak tahu kalau gelas itu pandai berkisah. Sampai di suatu pagi, saat ia duduk menghadap ke jalan raya di teras limasnya, gelas kopi itu memulia kisahnya yang pertama.

Inilah kisah gelas kopi itu.

Gelas kopi itu berkisah pada tuan barunya. Kalau (dulu) sebelum tuan barunya itu datang, penghuni limas itu adalah seorang lelaki renta yang tinggal sendiri. Padahal, anak lelaki itu sangatlah banyak. Namun, tak seorang pun yang tinggal bersamanya.

“Mengapa?” sang tuan baru bertanya pada gelas kopinya.

“Karena semua anak lelaki renta itu adalah perempuan, Tuan,” gelas kopi menjawab demikian cepat. Berkeryitlah kening sang tuan baru. Ia tak paham akan maksud gelas kopi. Seperti mengerti, gelas kopi itu menjelaskan.

Dalam adat-budaya kampung ini, Tuan. Anak bujang adalah pewaris harta dan orangtua. Jadi, bilalah sang orangtua telah lanjut usia, tanggung-jawab merawat dan menghidupinya ada di pundak anak bujangnya. Semua warisan, pun dengan rumah limas, juga tanggung-jawab anak bujang. Anak-anak gadis akan menikah, lalu mengikuti langkah suaminya, menjaga harta dan warisan mertua. Tak bisa menjaga harta dan warisan orangtua.

Inilah nasib naas orangtua renta itu, Tuan. Sepeninggal istrinya yang wafat setahun silam, lelaki renta itu tinggal sendiri di limasnya yang besar. Bukan tak berbelas anak-anak perempuannya. Tetapi, semua tak berkutik. Walapun mereka mendapat jatah sama dengan saudara-saudara mengenai harta warisan orangtua, tapi tetap tak ada yang bisa untuk tinggal bersama lelaki renta itu di limasnya. Sebab, apa kata orang sedusun raya bila mengetahui ihwal memalukan ini: Seorang lelaki, mengikuti istrinya melangkah. Alahai, itu mengerikan!

Sampai, pada suatu ketika lelaki renta itu menemukan gelas kopi yang pandai berkisah, Tuan. Dari gelas kopi itulah, si lelaki renta beroleh kawan dalam kesendirian. Mereka bertukar cerita tentang banyak hal, tentang kenangan, rindu, dan masa yang pernah mereka lewati masing-masing. Bahkan tentang pemilik gelas kopi itu sebelum ditemukan lelaki renta.

“Siapa pemilikmu sebelum aku, wahai gelas kopi?” tanya lelaki renta itu. Sang gelas kopi menceritakan pemiliknya sebelum lelaki renta itu. Inilah kisah gelas kopi itu pada si lelaki renta.

Dulu, di masa Sriwijaya, gelas kopi itu dibawa oleh seorang saudagar China. Setelah mengarungi lautan yang luas dan bermil daratan yang terbentang. Gelas kopi itu akhirnya menyudahi perjalanannya pada sebuah pasar di pelabuhan Sriwijaya. Seorang gadis cantik telah menukarnya dengan beberapa koin uang pada sang saudagar China.

“Aku hendak membelikan gelas ini untuk kopi ayahandaku,” itulah ucapan gadis itu ketika seorang kawannya bertanya. Gadis itu tahu, ayahandanya seseorang yang menyukai kopi. Dan sebelum ia meninggalkan ayahandanya sendiri karena akan menikah dengan pujaan hatinya, ia ingin memberi ayahandanya itu pengganti dirinya. Dan ia memilih, gelas kopi itu adalah pengganti yang tepat untuk ayahnya. Dalam benaknya, ayahnya akan bercengkrama tiap pagi bersama gelas itu, seperti kepadanya.

Singkat cerita, gadis itu telah menikah dan diboyong suaminya. Tinggallah ayah si gadis yang dirundung sepi. Sesekali, anak, menantu, dan cucu-cucunya datang bertandang. Tapi, kedatangan mereka bukanlah obat pelipur laranya, melainkan malah membuatnya kian merasa kesepian. Tersebab, setiap mereka pulang, lelaki itu akan disungkup sepi yang demikian merajam.

Setelah ia berpikir dengan cermat, lelaki itu memutuskan untuk membeli sebuah rumah di daerah perkampungan. Ia ingin meninggalkan bandar dagang Sriwijaya. Ia sadar, ia telah tua dan tak mungkin lagi berniaga. Harta dan semua yang ia punya, telah ia bagikan kepada putri-putrinya. Ia ingin menikmati kesendiriannya di kampung tenang, bersama penduduk yang ramah, dan tentu saja dengan segelas kopi yang pandai berkisah.

 

“ITULAH, kisah yang diceritakan gelas kopi ini,” tutup si lelaki empu rumah pada dua tamunya yang menatap dengan takjub. Keduanya saling pandang. Benar-benar kisah yang menarik di hati mereka. Ketika matahari mulai merayap, kedua tamu itu pamit pulang dan berkata: “Kami akan mengisahkannya pada penduduk kampung lainnya.”

Lelaki si empu rumah hanya tersenyum saja. Ia menjangkau gelas kopinya. Lalu, menyeruput isinya pelan. Gelas kopi berbisik pelan, “Apakah itu cerita tentang Tuan?”

Tanah Abang – C59, 06-09 September 2011

By AlamGuntur Posted in cerpen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s