Cerita Juru Kunci (Suara Pembaruan, 25 Maret 2012)

DUA orang, laki-laki dan perempuan, duduk berhadap-hadapan di ruang yang pengap dan sumpek itu. Di depan si laki-laki yang menyingsingkan lengan bajunya sebatas siku, terduduk mesin ketik tua. Kertas folio terjulur setengah halaman ke depan, sebagai penanda, kalau lelaki itu sudah mengetik cerita yang terurai dari mulut perempuan di depannya. Ia kembali menjangkau rokoknya yang menyala dan tergeletak di bibir asbak. Dihisapnya pelan-pelan. Lalu, menyemburkan asapnya.

“Aku suka rokok,” tiba-tiba perempuan itu memecah keheningan. Lelaki di depannya sedikit tersengat.

“Kamu mau merokok,” ia menjulurkan sebatang rokok dari bungkusnya.

“Aku suka bau rokok. Lelaki tampan yang datang saat pemakaman ibuku, suka merokok. Aku mencium baunya, saat ia merokok di sebelah Maria.”

Lelaki itu memijat keningnya. Cerita yang sama. Berulang-ulang. Tentang lelaki misterius, yang mungkin saja tersangka pembunuh kakak perempuan si perempuan yang duduk di depannya ini. Tapi, sejauh ini, ceritanya hanya berkutat di situ-situ saja. Tentang laki-laki yang pertama kali ia lihat di acara pemakaman ibunya. Senja kerontang di bulan Juli, ketika mentari merah sebesar tampah telah condong ke barat, dan pendeta yang memimpin upacara terbata-bata mengucapkan doa dan ayat-ayat Tuhan.

“Ia memakai kemeja hitam, celana hitam, dan membawa setangkai mawar putih kesukaan ibuku. Ia tak berkata apa-apa kepadaku. Tapi aku melihatnya membisikkan sesuatu di telinga Maria,” pembukaan cerita yang sama, dengus lelaki itu. Tapi, ia diam saja. Berusaha kembali menyimak. Mungkin saja, perempuan ini akan menceritakan kisah lain. Kisah yang tadi luput dari ingatannya. Mungkin saja, harap lelaki itu.

“Ia sangat tampan. Seperti pangeran impian yang selama ini hanya ada dalam benakku. Rahangnya keras dengan cabang halus di pipi kiri-kanan. Mata coklatnya sangat indah. Aku juga suka dengan alis, bulu mata, dan rambut hitamnya. Sangat sempurna. Mungkin ia sesempurna pangerang di dongeng Putri Salju atau juga Cinderella yang pernah ibu dongengkan kepadaku.”

Lelaki itu menghela napas dibuatnya. Masih cerita yang sama. Belum ada cerita yang beda dari mulut perempuan ini. Sejak seminggu silam. Sejak pembunuhan itu terjadi. Dan sejak perempuan yang diduga lelaki itu kurang waras, menjadi satu-satunya saksi kunci pembunuhan itu. Hanya dia. Cuma dia yang bisa membantu lelaki itu untuk menguak kasus pelik ini.

“Sepertinya ia mengidap keterbelakangan mental. Kita tidak akan mendapatkan info apapun dari dia,” keluh lelaki itu tadi siang kepada atasannya. Lelaki itu merasa sudah tak sanggup untuk mendengarkan cerita perempuan itu. Cerita yang berulang-ulang. Sampai-sampai lelaki itu hampir hapal dengan semua bagian dari ceritanya. Sementara yang ia dapatkan hanyalah merekah-rekah dengan sktesa wajah lelaki yang diceritakan perempuan itu. Sialnya, sudah puluhan sketsa yang dibuat dan diperlihatkan kepadanya, belum satu pun yang mendekati wajah lelaki tampan yang diceritakannya.

Atasan lelaki itu mendesau. Mereka masih menatap sosok perempuan yang ada dalam ruangan itu melalui dinding kaca. Perempuan itu mendekap boneka dekilnya, matanya berputar-putar. Sesekali tersenyum. Mulut komat-kamit dan membisikkan sesuatu pada bonekanya. Lalu, ia berjalan-jalan dalam ruangan itu.

Sesungguhnya, lelaki itu sudah ingin menyerah. Ia hendak menyudahi saja menginterogasi perempuan di depannya ini. Tapi, mereka benar-benar tak punya pilihan lain. Tak ada satu barang bukti pun yang bisa ditemukan di tempat kejadian perkara. Jangankan menentukan tersangka pembunuhan itu. Mengumpulkan keterangan dan barang bukti sangat sulit. Di rumah itu tidak ditemukan senjata tajam yang digunakan untuk menikam korban, sebelum korban didorong hingga terjatuh dari lantai dua rumahnya. Sialnya lagi, rumah itu hanya dihuni dua orang: Maria dan perempuan itu.

“Berapa kali kau bertemu dengan lelaki itu? Selain di pemakaman ibumu,” dan lelaki itu mengulang pertanyaan yang sama juga. Ia berharap akan mendapat jawaban lain. Jawaban yang memberinya titik terang.

“Dua kali. Dua kali,” mata itu berbinar, “Di pemakaman ibuku dan pemakaman bibi. Ia selalu datang di acara pemakaman keluarga kami,” sepertinya lelaki itu hanya akan mendapatkan cerita yang sama. Jawaban perempuan di depannya masih sama. Seperti yang sudah-sudah. Lelaki itu menghela napas lagi. Ia menghisap rokoknya kuat-kuat sebelum menyemburkan asapnya ke udara.

“Dan ia selalu berada di dekat Maria. Ketika berpamitan pun ia mendatangi Maria. Padahal, aku sangat berharap ia mendatangiku. Aku ingin melihat wajah tampannya dari dekat. Aku ingin menyentuh pipinya. Aku ingin memeluknya. Aku ingin membawanya pulang.”

“Apa lelaki itu pacarnya Maria?”

“Tidak tahu. Aku tidak tahu. Tapi aku berharap ia bukan pacar Maria,” ada dengusan kesal dari napas perempuan di depannya. Lelaki itu mengeryitkan keningnya. Sesuatu terlintas dalam tempurung kepalanya. Apakah? Ah, jantungnya berloncatan. Entahlah, ada semacam kegembiraan sekaligus kengerian yang seketika menghantam pikirannya.

“Apa kau cemburu lelaki tampan itu dekat dengan Maria?” dengan hati-hati ia melontarkan pertanyaan itu. Matanya lekat menatap raut di depannya. Lelaki itu tak ingin melewatkan sedikit pun perubahan mimik wajah di depannya. Namun, lelaki itu menghela napas kecewa. Perempuan di depannya tak menunjukkan sikap yang berkembang dalam pikirannya.

“Maria sudah punya pacar. Mereka sudah bertunangan. Aku tidak suka pacarnya Maria. Ia selalu bau alkohol dan sering tidur di rumah sejak ibu meninggal.”

Lelaki itu kembali menjangkau rokoknya. Ia tidak menemukan apa yang ia harapkan. Tadi sebuah pikiran liar terlintas dalam benaknya: Kalau perempuan di depannya ini adalah pembunuh Maria. Mungkin ia cemburu karena kedekatan Maria dengan lelaki tampan itu. Ternyata dugaannya meleset. Tak ada gurat cemburu di wajah perempuan di depannya. Lebih-lebih ketika ia menceritakan kalau Maria sudah punya tunangan. Entahlah, lelaki itu makin merasa kacau dan pikirannya seperti selokan yang tersumbat. Tak ada ide yang mengalir di sana.

♦ ♦ ♦ ♦

            “APA mungkin tunangan Maria yang melakukan ini? Bisa jadi, kan?” lelaki itu berharap atasanya kali ini bisa sepaham dengan pikirannya. Lelaki tambun di depannya menghelas napas. Ia mengusap-usap wajahnya.

“Kita sudah memeriksanya dua kali. Alibinya cukup kuat dan tak bisa digoyahkan. Banyak saksi yang mengukuhkan itu, kalau di malam Maria terbunuh, tunangannya itu ada di tempat kerjanya sampai pagi.”

Buntu. Tak ada pintu yang bisa dikuak. Kasus yang pelik. Pembunuhan yang cepat dan rapi. Tak ada saksi selain adik korban yang terbelakang mental dan katanya tidur di kamar tapi terjaga ketika mendengar jeritan Maria.

“Aku tak melihat siapa-siapa. Tapi, aku melihat laki-laki tampan di pemakaman ibu dan bibiku,” hanya itu yang ia ucapkan.

“Tak ada satu pun yang tahu siapa laki-laki yang dimaksudnya? Acara pemakaman ibu dan bibinya didatangi banyak pelayat. Tak ada buku tamu. Tak ada pula yang memperhatikan siapa saja yang mengucapkan bela sungkawa secara langsung ke Maria saat itu, karena hampir semua pelayat melakukannya,” lelaki itu seperti bercerita sendiri. Sementara atasannya yang bertubuh tambun itu masih berpikir keras. Itu ditandai dengan keningnya yang berlipat-lipat dan butiran keringat yang bermunculan di sana.

“Apa mungkin Magdalena-lah yang membunuh Maria?” lontar lelaki itu tiba-tiba, mengagetkan dirinya sendiri. Ia pun merasa ganjil dengan pertanyaannya itu. Lelaki tambun di depannya tak kalah kaget. Wajahnya langsung pias.

“Apa yang membuatmu menduga seperti itu?”

“Perasaanku mengatakan demikian,” lelaki itu menghirup napas, berusaha mengusir keterkejutannya sendiri. Alangkah gila pikirannya ini, “Ia kelihatannya suka dengan lelaki tampan itu. Tapi, lelaki itu justru lebih akrab ke Maria. Apa mungkin cemburu bisa membuat seseorang melakukannya?” ditunggunya reaksi lelaki tambun di depannya. Berapa detik, lelaki tambun itu senyap.

“Kita perlu bukti. Bukan perasaan,” patah atasannya.

Entahlah, lelaki itu masih berusaha mencari benang merah atas perasaannya liarnya itu. Perasaan ganjil yang mengatakan kalau Magdalena-lah pembunuh Maria.

♦ ♦ ♦ ♦

LELAKI itu menarik kembali sebatang rokok dari dalam bungkus kretek yang tergeletak di meja. Entah, itu batang ke berapa. Ia pun lupa menghitungnya. Hanya saja, asbaknya rokok yang ada di depannya telah menampung begitu banyak puntung rokok.

“Laki-laki tampan itu datang ke acara pemakaman ibu dan bibiku. Aku cuma melihatnya dua kali. Saat pemakaman ibuku, itu kali pertama aku melihatnya. Aku sangat terpesona. Ia seperti pangeran dalam dongeng Putri Salju dan Ciderella yang diceritakan ibuku. Aku berharap ia menyapaku. Ternyata tidak. Ia mendatangi Maria dan membisikinya. Saat pemakaman bibiku, ia juga datang dan mendatangi Maria lagi. Padahal, aku ingin sekali ia menyapaku. Tapi itu tidak terjadi.”

Lelaki itu masih berusaha untuk menyimak cerita perempuan di depannya. Masih berkutat denga cerita yang sama. Alur yang sama. Dan para tokoh yang sama.

“Ia tidak pernah datang lagi,” wajah perempuan itu berubah kuyu, lelaki di depannya menegakkan leher. Ia belum mendengarkan bagian ini. Perempuan di depannya memberi narasi baru dalam ceritanya, ia memasang telinga.

“Padahal, aku berharap ia datang ke rumah. Aku suka dengan wajah tampannya. Kupikir ia pacar Maria. Kalau ia pacar Maria, ia pasti datang. Ternyata bukan. Ia tidak pernah datang ke rumah. Aku ingin bertanya pada Maria tentang laki-laki itu. Tapi, Maria tidak pernah punya waktu untukku. Ia selalu menghabiskan waktu dengan pacarnya.”

Lelaki itu menunggu. Perempuan itu menatapnya lekat. Entah kenapa lelaki itu merasa bergidik ditatap demikian rupa.

“Tapi aku melihat laki-laki tampan itu lagi,” wajah perempuan itu berbinar, lelaki di depannya menahan napas: Mungkinkah bagian ini akan memberinya titik terang? Ia berharap, ditunggunya bibir perempuan itu terbuka.

“Laki-laki itu datang ke acara pemakaman Pak Brook. Aku melihatnya. Aku melihatnya,” wajah itu benar-benar berbinar. Binar bahagia yang tak bisa dilukiskan, “Ternyata, laki-laki itu akan selalu datang ke acara pemakaman,” tambahnya dengan senyum lebar. Senyum yang demikian lebar.

Seketika dada lelaki itu terasa mengempis. Ia tercekat. Bibirnya seketika terkatup rapat. Entahlah, ia tak tahu harus berbuat apa? Serasa ada malaikat maut yang datang di depannya dan berkata akan mencabut nyawanya saat itu juga. Lelaki itu pias.

“Jadi…,” lelaki itu tak sanggup berkata. Perempuan di depannya makin melebarkan senyumnya, mata itu pun makin berbinar. (*)

C59, 5-6 Maret 2012

Kutulis untuk Nova Hariyana di Kep. Riau

By AlamGuntur Posted in cerpen

2 comments on “Cerita Juru Kunci (Suara Pembaruan, 25 Maret 2012)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s