Dua Lelaki dalam Telekung Mak Limah, Tribun Jabar, 13 Mei 2012

MAK Limah duduk terpekur di kelendang limas, mata lamurnya melayang jauh ke ujung senja yang kerontang di barat dusun. Dada ringkihnya menegak, menghirup napas yang terasa sesak. Mendorong gumpalan-gumpalan beban yang tersumbat di jantung-hatinya. Ketika helaan napas terhembus dari bibir keriputnya, suara adzan dari toa langgar menggema, menyentaknya ke alam sadar. Sudahlah Limah, mereka tak akan pulang. Bujuk hatinya.

Ia membuang sesak yang bergumul di dada. Menindih kekesalan yang tiba-tiba menua, melampaui ubannya yang sulam menyulam di kepalanya. Digenggamnya amarah itu dalam dada. Berharap suara muadzin yang serak sekarat mampu mendinginkannya.

Mak Limah bangkit dari duduknya, melangkah berlahan menuju pintu dapur yang terngangah. Saat tangan keriputnya menutup daun pintu, masih saja ia melarikan mata ke arah tangga, kalau-kalau lelaki yang ia tunggu telah berdiri di sana. Tapi lelaki itu tak kunjung muncul. Ditutupnya berlahan daun pintu, seiring dengan kalimat laa ilaaha illallooh yang terdengar dari kubah langgar. Timbul tenggelam bersama suara kekehan para lelaki di toko kopi Sahlan, bantingan kartu remi, dan tentu saja gelindingan kotak dadu.

♦ ♦ ♦ ♦

“Hendak ke mana lagi, Bang? Isya-lah dulu denganku,” pinta Mak Limah begitu memergoki lelaki itu telah beranjak menuju daun pintu. Air wudhu masih menetes dari wajah keriput Mak Limah.

“Aku mau ke toko kopinya Sahlan. Kau isya-lah sendiri,” lelaki itu merengkuh senter yang tergantung di dinding limas, tak ditolehkannya wajah ke arah Mak Limah.

“Sudahlah, Bang, kau telah tua, sebaiknya Abang rajin sembayang, bukan kian gila dengan judi di toko kopinya Sahlan.”

“Apa kau cakap?” wajah Pak Samin memerah, “Tahu apa kau? Jangan asal ngomong. Percuma kau sembayang saban waktu kalau tak pandai jaga mulut. Iiih, perempuan macam apa kau ini?” dengusnya.

Mak Limah menghela napas, tak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan lagi. Ia tertegun dalam senyap sampai lelaki di depannya hilang di balik daun pintu yang kembali tertutup rapat. Derap sandal lelaki itu terdengar di tangga limas, lalu lenyap. Malam merangkak hening bersama munajat Mak Limah yang begitu panjang. Gelak suara laki-laki yang berkumpul di toko kopi Sahlan meningkahi malam, berjalan beriring bersama gelas-gelas kopi yang sulam-menyulam, bantingan kartu remi, domino, dan gelindingan kotak dadu, asap kretek, berbaur-meniduri gerutuan-kekeh keberuntungan.

Doa perempuan tua itu masih sama, seperti malam yang sudah-sudah. Berhari-hari lampau, berpekan-pekan silam, berpurnama-purnama punai, bahkan telah bertahun-tahun bilangan. Tentu, harapannya tak akan pupus dimamah masa, tak seperti keriput yang bertandang sebagai tanda. Ia masih saja berharap, Alloh yang ia sujudi pagi, petang, hingga malam, mengijabah doanya yang cuma sebatang kata: Temukanlah dua lelakinya hidayah akan akhirat yang pasti datang!

♦ ♦ ♦ ♦

“Usin…!” jerit Mak Limah menggelegar, seorang pemuda yang tengah tertangkap basah mengobrak-abrik lemari terhenyak, wajahnya pias. Mak Limah berdiri berkacak pinggang di ambang pintu kamar, “Kau buat apa lemari Mak?!”

Pemuda itu diam, tangannya serta-merta bersembunyi di belakang punggungnya.

“Apa yang kau ambil?!” pemuda itu menggeleng cepat.

“Kau ambil apa?!” Mak Limah menyerbu ke arah Usin, pemuda itu berusaha melepaskan cengkraman emaknya. Tapi, Mak Limah tetap mencakar-cakar tangan anaknya, berusaha merebut sesuatu yang ada dalam genggaman Usin.

“Kau ambil kalung Mak. Itu kalung peninggalan kajut[1]-mu. Kembalikan..!” raung Mak Limah. Usin mendorong emaknya hingga terjengkal di lantai papan limas.

“Aku pinjam, Mak. Kalau menang, hutangku habis terbayar, nanti Mak kubelikan lagi kalung serupa ini, lebih besar malah.”

“Usin..!” histeris Mak Limah, “Mak tak ada urusan dengan hutang dan judimu. Kembalikan kalung  Emak…!” pintanya melolong-lolong, merobek-robek langit petang.

Usin tak peduli, tergesa ia meloncat ke arah pintu kamar yang terbuka. Berlari menuju dapur dan lenyap di kolong limas yang mulai temaram. Tak ia hiraukan beberapa pasang mata tetangga yang tertuju ke arahnya.

“Usin….! Pulang kau…!” pekik Pak Samin yang berjalan tergesa-gesa dari toko kopi Sahlan begitu mendapat kabar tentang rumahnya yang gempar. Mendengar suara bapaknya, Usin menghalau langkah ke dalam remang, secepat kilat. Mata lamur Pak Samin hanya melihat sekelebat bayangan anak lanangnya itu sebelum hilang di antara tiang-tiang limas tetangga. Tergopoh-gopoh dia menaiki tangga dapur, menjumpai Mak Limah yang tersedu-sedu di lantai kamar.

“Kau tengok?! Anak bujangmu mencuri kalung peninggalan emakku!” histerisnya begitu melihat Pak Samin telah berdiri di ambang pintu kamar. Lelaki tua itu menarik urat wajahnya. Membalik badan dan hendak melangkah keluar.

“Bang..!” lolong Mak Limah.

Berdenyap-denyaplah darah di ubun-ubun Pak Samin mendengar jeritan istrinya. Ia membalik badan, mengacak pinggang, dan menyemburkan amarah.

“Ada apa?!” geramnya, “Anakmu yang maling kalung, apa yang akan kau salahkan?!”

“Iya..! Kalau Abang tak gila judi, tak mungkin si Usin kecanduan macam dirimu! Kau yang mengajarinya, kau yang mencontohi!”

“Jangan kau bawa-bawa aku! Salah kau sendiri, kalung bukannya dipakai, malah disimpan dalam lemari!”

“Abang tua bangka yang tak tahu diri! Bau tanah tapi masih saja tak ingat mati!” raung Mak Limah kembali.

“Sudah-sudah, Limah! Tak malu kalian, magrib-magrib bertengkar serupa ini,” tiba-tiba saja Ketib Hamzah telah muncul di belakang mereka. Mak Sainah, istri Ketib Hamzah, yang rumahnya hanya berjarak dua-tiga limas, tergopoh memeluk Mak Limah dan menenangkannya, sementara Pak Samin diseret Ketib Hamzah menuju ruang tengah.

“Usin maling kalung peninggalan emakku, Yuk[2]. Aku tak ridho, kalung emas itu peninggalan turun-temurun, sudah empat turunan. Seharusnya, sudah kuturunkan pada Zainab. Rencanaku pekan di muka, tahunya Usin telah mencurinya,” racau Mak Limah, tak terima dengan perbuatan anak lanangnya.

Mak Limah sesugukkan, dadanya perih. Bukan perihal kalung warisan moyangnya saja yang membuatnya pedih. Tapi, tingkah-laku anak lanangnya yang membuatnya teriris. Anak lanang satu-satunya, anak yang ia harapkan bisa menjadi tra kebanggaan baginya dan leluhurnya. Tak tahunya adalah anak bengal yang gila judi serupa bapaknya, pemalas, dan tak sedikitpun memberinya kebanggaan.

“Ini salah Bang Samin, Yuk. Ia sebagai bapak memberi contoh yang tak baik buat Usin. Kau pasti sependapat denganku, Yuk. Usin mencontoh bapaknya yang gila judi itu,” racau Mak Limah. Mak Sainah tak menanggapinya, wanita itu justru menyuruhnya beristigfar.

♦ ♦ ♦ ♦

            Telekung subuh Mak Limah belumlah terlepas begitu ia merasa ada derit langkah di atas papan limas, ia menolehkan wajahnya. Dalam temaram bolham lima watt yang terpasang di ruang belakang, mata lamurnya menangkap satu sosok berjalan dijinjit. Satu sosok yang sangat ia kenal, sosok yang semalaman ia tunggu kepulangannya dengan gumpalan bara di dada.

“Pulang juga kau! Mana kalung Emak?!” pintanya seketika, membuat sosok yang berjalan pelan-pelan itu terhenyak dan membatu di tempat.

“Mana, Husin bin Samin?!” bentaknya. Membahana di subuh yang masih buta.

“Kalungnya sudah kujual, Mak,” desis Usin, tanpa ada intonasi berdosa.

“Apa?!” pekik Mak Limah, badannya gemetar, gemuruh dalam dadanya meluap tiba-tiba dan tak bisa ia tahan lagi.

“Usin..!” geram Mak Limah, “Itu kalung warisan turun-temurun dari moyangku! Berani-beraninya kau menjualnya! Pada siapa?!”

“Emak tak perlu tahu..!” kini giliran Usin yang membentak. Mendadak, ia ikut-ikutan kalap.

“Sini duitnya dan katakan pada siapa kau jual kalung itu, Mak nak tebus!”

“Duit apa, Mak?!”

“Duit dari kau jual kalung itu!” raung Mak Limah.

“Su…, sudah habis, Mak. Aku kalah,” kata Usin terbata.

“Usin..!” raung Mak Limah menyerbu ke arah Usin.

“Nanti aku ganti kalau aku menang, Mak!” pekik Usin sembari menghindar.

“Menang, menang! Tai kucing kering! Dari dulu kau tak pernah menang berjudi! Kalung, gelang, motor, uang balam[3], semua habis! Kau…, benar-benar…!”

Subuh buta itu mendadak melotot. Teriakkan, sumpah serapah, dan segala bunyi terdengar menggema dari dalam limas Mak Limah. Ayam yang tadi sibuk berkokok merayu mentari mendadak senyap, meringkuk cemas dengan ketakutan yang membungkus bulu-bulu di badan mereka.

Anak-beranak itu bertengkar hebat. Pak Samin yang tadi masih meringkuk di atas ranjang karena pulang larut semalam, tersentak. Ia bangkit menuju dapur dan menemukan anak-istrinya tengah perang mulut, perang tangan, perang cakar. Seakan tak peduli kalau perempuan tua yang mengamuk di depannya adalah emaknya sendiri, Usin membalas semua serangan perempuan bertelekung itu. Pukulan, tendangan, dan tamparan bertubi-tubi mendarat di tubuh Mak Limah yang ringkih. Mak Limah melemparkan apapun yang bisa ia jangkau ke arah Usin.

“Diam….!!” bentak Pak Samin yang pening melihat perkelahian anak-beranak itu. Seketika keduanya senyap, tapi begitu sadar siapa yang membentak, kembali Mak Limah histeris.

Perempuan melempar termos kosong yang ada di atas meja ke arah Usin. Pemuda itu mengelak. Termos air itu terjatuh di samping kakinya. Secepat kilat, Usin menjangkau termos yang tergeletak di lantai dan melemparnya kembali sekuat tenaga ke arah emaknya. Mak Limah melenguh ketika pantat termos air minum yang keras itu menghantam tepat di dada ringkihnya. Ia tersungkur. Telekung putihnya memerah ketika perempuan itu memuntahkan ludah anyir dari mulutnya. Pak Samin membatu. Usin terangngah. Mak Limah diam tergeletak di lantai limas. Anak-beranak itu tak bergerak.

Jemari Usin terlihat gemetar, matanya nanar, bibirnya pucat tanpa sepatah kata yang terucap. Pun dengan Pak Samin yang seperti tak percaya melihat perempuan tua bertelekung itu muntah darah.(*)

/C59, April-Oktober 2010.


[1] Nenek.

[2] Mbak

[3] Karet

By AlamGuntur Posted in cerpen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s