Permintaan Ibu, Majalah NooR, Juni 2011

Sungguh, aku tak pernah menduga kalau Ibu meminta kepadaku untuk mengirimnya ke panti jompo. Jangankan melintaskannya dalam pikiran, berandai pun aku tak pernah. Siapa yang tega melakukan hal itu? Tuhan, aku tak ingin dicap anak durhaka lantaran tega mengirim Ibu ke tempat orang-orang terbuang itu. Rumahku masih sangat luas untuk menampung dirinya.

Aku terbungkam. Senyap mengisi ruang, menjadi kawan antara kami bertiga: Aku, istriku, dan Ibu. Tak ada gurat berkelakar yang tergaris di wajah tua Ibu, membuatku sadar, beliau sangat serius dengan apa yang diucapkannya barusan. Kuhela napas karenanya.

“Mengapa Ibu harus ke sana? Rumah ini masih sangat luas, tak bisakah Ibu tetap bersama kami?” kuakhiri senyap. Istriku masih bungkam, dari raut wajahnya terlihat dia merasa menjadi orang yang sangat bersalah. Kupaham itu, posisinya tentu tak mengenakkan. Sebagai menantu, tentu tanya-tanya tengah berkecambuk dalam pikirannya: Apakah aku bukan menantu yang baik, tak becus, tak bisa membahagiakan mertua atau bahkan telah menyakiti hatinya?

“Ibu merasa tak nyaman di rumah ini,” ujar Ibu.

“Mengapa? Apa ada hal yang membuat Ibu tersinggung? Ucapan atau sikap kami? Anak-anak atau bahkan Bi Nah?” kejar istriku, sepertinya dia tak tahan lagi terbungkus dalam senyap. Diakhirinya rasa bersalah yang kian menyergap itu dengan berondongan pertanyaan.

“Mungkin juga,” jawab Ibu pendek, tentu saja jawaban itu membuat raut istriku seketika berubah. Kian diselimuti rasa bersalah yang tebal.

“Nafsi minta maaf kalau telah melukai perasaan Ibu, mungkin Nafsi khilaf. Sungguh, Nafsi tak berniat menjadi menantu yang kurang ajar,” pinta istriku seketika. Serta-merta jemarinya lembut menggenggam tangan keriput Ibu.

“Tak ada yang salah. Ibu hanya minta dikirim ke panti jompo. Hanya itu. Jika Ibu di sana, kalian tak akan repot. Ibu juga akan lebih bahagia,” putus Ibu sembari meninggalkan aku dan istriku yang duduk bingung di atas sofa ruang tamu. Kami saling lempar pandang, setelah itu bersamaan menghela napas. Membuang beban yang terasa begitu berat terganjal di dada.

♦ ♦ ♦ ♦

“Apa benar, Bi?” tanyaku kembali. Aku mencoba mencari kejujuran dari raut wajah Bi Nah yang tertunduk dalam pasi, tak ada kebohongan yang bisa aku tangkap dari wajah polos perempuan paruh baya itu. Aku telah mengenalnya seperti aku mengenal Ibu. Bi Nah jujur, telaten, ulet, dan berdedikasi penuh atas pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Tak sekali pun aku menemukan kecurangan yang diperbuatnya, semisal menggelapkan barang-barang yang ada di rumah atau perbuatan buruk lainnya. Makanya, aku selalu mengingatkan istriku untuk tak pernah telat memberikan hak Bi Nah, sebagaimana beliau tak pernah terlambat menunaikan kewajibannya kepada kami.

“Nggak, Den. Ibu melakukan pekerjaan biasanya. Saat semua pergi keluar rumah, Ibu akan minum teh sembari membaca koran pagi langganan keluarga, jika majalah NooR langganan Ibu telah datang, Ibu akan membacanya juga. Setelah itu, membersihkan kebun bunga Ibu yang ada di halaman depan. Jika aktivitas paginya selesai, Ibu akan mandi dan sarapan. Lalu, mulai merajut di teras belakang. Makan siang, istirahat, dan bila sore Ibu minum teh kembali sembari membaca Qur’an. Saat malam, biasanya Ibu akan makan malam kalau anak-anak telah pulang, kalau anak-anak belum pulang biasanya Ibu minta temani Bibi,” lapor Bi Nah, mengulangi laporan pertamanya. Persis sama, tak ada bedanya.

“Jika tak ada masalah, mengapa Ibu tiba-tiba minta dikirim ke panti jompo, Bi?” tanyaku, mungkin juga bisa disebut curhat tepatnya. Kali ini Bi Nah terdiam. Entahlah, apa beliau memang tak tahu alasan Ibu atau tak ingin memberitahu?

“Selama ini, Bibi yang paling banyak menghabiskan waktu bersama Ibu. Apa Ibu tak sekali pun bercerita kepada Bibi?” korekku kembali. Mungkin saja ada yang luput dari ingatan Bi Nah atau itu tadi, sengaja diluputkannya.

“Seingat Bibi, tidak ada. Bibi biasanya akan sibuk membereskan rumah setelah anak-anak sarapan dan Aden serta istri ke kantor. Menyiapkan segala keperluan Ibu dan pekerjaan Bibi lainnya,” jelas Bi Nah. Aku kembali terdiam dibuatnya.

“Tidak sekali pun, Bi?” yakinku.

Bi Nah menerawang, mencoba mengingat-ingat kalau memang ada yang dia lupakan. Kutunggu dengan sabar perempuan paruh baya itu mengumpulkan segala memorinya. Kerut berlipat di keningnya, sampai pada akhirnya, Bi Nah kembali menggelengkan kepalanya.

“Sepertinya memang tidak ada, Den,” desisnya antara putus asa atau memang merasa bersalah karena tak bisa menolong banyak. Aku menghela napas jadinya. Mungkin memang tak ada yang Bi Nah ketahui tentang alasan Ibu yang mendadak saja ingin tinggal di panti jompo. Aku iba melihat wajah tertekannya.

“Ya, sudahlah, Bi. Maaf telah merepotkan Bibi. Kalau saja ada yang Bibi ingat atau Ibu bercerita kepada Bibi tentang alasan Ibu ingin ke panti jompo, ceritakan kepadaku,” pintaku, mengakhiri rasa bersalahnya karena tak dapat memberi jawaban yang memuaskanku.

“Iya, Den,” janjinya, cukup membuatku lega, walau perasaan tak puas tetap saja bercokol dalam dada. Apa gerangan yang membuat Ibu mengajukan permintaan aneh ini? Ke panti jompo. Tuhan, mengerikan sekali kata-kata itu. Aku masih saja tak dapat mencerna permintaan Ibu itu dengan baik. Ada apa? Apa alasannya? Ibu tak sekali pun mau menuturkan alasannya. Ah, hal itu kian membuatku tertekan.

♦ ♦ ♦ ♦

“Apa yang Bi Nah ceritakan, Pa? Apa Ibu pernah bercerita tentang alasannya ingin ke panti jompo?” cerca istriku begitu malamnya kami sama-sama merebahkan tubuh penat di atas ranjang.

“Tak ada, Ma. Bi Nah tidak tahu,” jawabku pendek. Aku membiarkan mataku membelai lampu gantung yang berada di langit-langit kamar, sinar redupnya berpedar-pedar di tembok kamar.

“Mama khawatir, Mama yang menjadi penyebab semua ini,” cemasnya.

“Jangan menyalahkan diri sendiri,” aku membawa mata ke arah wajah istriku yang terlihat menderita, terbaca sekali beban itu di wajahnya. Kutarik badanku menuju kepala ranjang, menyandarkan punggungku di sana. Mensejajarkan diri dengan istriku yang menyanggahkan tubuh letihnya di sana.

“Bukan menyalahkan diri sendiri, Pa. Tapi, ini hal yang lumrah,” aku mengangguk mahfum, “Tentu tetangga akan menudingku sebagai menantu tak baik jika sampai Ibu ke panti jompo. Pastilah, orang mengatakan aku yang telah menjadi penyebab semua ini.” Terdengar jelas sekali suara itu penuh beban di telingaku. Beban yang tak bisa ia tutupi. Aku kian iba sekaligus bersalah kepadanya. Ah, tahukah Ibu kalau istriku berusaha demikian keras untuk jadi menantu terbaiknya? Lalu, apa hal yang membuat Ibu ingin tinggal di panti jompo? Benarkah karena ulah istriku? Ah, aku sangsi akan hal itu.

“Tidak hanya dirimu, Ma. Tapi, kita. Apa kata orang? Itu yang pertama kali menghantui pikiran Papa. Anak durhaka, tak tahu terima kasih, tak bisa balas budi dan lain-lainnya. Padahal, ini keinginan Ibu sendiri. Ini murni permintaan Ibu.”

“Lalu, kita harus bagaimana? Memenuhi permintaan Ibu atau mendiamkannya saja?” tanya istriku, matanya memohon aku memberi keputusan terbaik bagi dirinya, aku, dan tentu saja Ibu.

“Papa tak tahu, nanti kita bicarakan lagi. Sudah malam, sebaiknya kita istirahat. Besok Mama ada meeting katanya. Pagi-pagi Papa juga sudah ada janji ketemu klien. Nanti Papa telpon Rina, Rama, dan Beni. Mungkin Ibu cerita kepada mereka. Kita juga harus merudingkan semua ini dengan adik-adik Papa itu. Jika Ibu memang tak nyaman tinggal bersama kita, mungkin Ibu mau kembali tinggal bersama salah satu dari mereka, asal Ibu tidak ke panti jompo,” putusku membuat ada sedikit binar dari wajah lelah istriku. Aku menarik tubuhnya ke dalam pelukanku dan membawanya melayang menuju alam mimpi. Sekedar memberinya ketenangan sesaat dalam hatinya.

♦ ♦ ♦ ♦

Aku masih menunggu Iqbal, anakku yang duduk di kelas sepuluh SMA, mengumpulkan ingatannya. Jalanan Jakarta mulai padat, mobil yang kusetir sedikit merayap. Kuusap dagu, mencoba mengusir kesal dan cemas menghadapi macet. Aku pasti akan terlambat kalau mengantar Iqbal dulu ke sekolahnya, tapi aku tak punya pilihan, hanya ini waktuku untuk berbicara dengannya.

“Tidak ada, Pa. Oma benar-benar tak pernah cerita,” jawabnya setelah sekian detik diam. Sepertinya, ia tak menemukan apa yang kupinta dalam memorinya.

“Kepada Diyah atau Nisa?” kejarku, mungkin saja kedua anakku yang lain pernah mendengar cerita Oma mereka dan menceritakan ulang pada Iqbal. Tapi, harapanku itu pun pupus. Iqbal menggelengkan kepalanya lemah.

“Ya, sudahlah,” akhirku dengan rasa kecewa yang sangat.

“Kenapa harus repot sih, Pa? Kalau Oma memang mau ke panti jompo, kenapa nggak dipenuhi saja?” aku mendelik mendengar ucapan Iqbal barusan. Melihat reaksiku, ia langsung bungkam. Tak berkata-kata lagi.

Ah, pikiranku kian kacau. Ibu tak cerita kepada Bi Nah, pada anak-anakku: Iqbal, Diyah, dan Nisa. Bahkan tidak kepadaku dan istriku. Oo, kenapa Ibu melakukan ini semua? Apa sebenarnya yang Ibu inginkan? Apa yang kuberikan kepada Ibu kurang? Tak bisa memenuhi keinginannya. Kuingat-ingat. Sepertinya, aku telah memberikan semua yang bisa membuat hidup Ibu bahagia. Lalu, mengapa tiba-tiba Ibu mengajukan permintaan aneh ini? Oh Robb, aku tak menemukan titik terang.

♦ ♦ ♦ ♦

“Rina nggak tahu, Bang. Ibu tak pernah cerita, waktu Rina telpon sebulan yang lalu sebelum ke Tokyo, Ibu tak bilang apa-apa. Ketika Rina tanya, mau oleh-oleh apa? Tak ada, kata Ibu.” Terdengar suar Rina agak bingung.

“Benar, Rin? Kau tak lupa. Ya, mungkin Ibu bercerita sebelum kau telpon itu,” yakinku. Rina terdiam, mungkin dia mencoba mengingat-ingat. Memang sebulan yang lalu Rina ke Tokyo, tugas kantornya. Ia memang membelikan Ibu oleh-oleh yang banyak. Pak Hadi, sopir keluarga itu, yang mengantarkan oleh-olehnya. Sedang Rina sendiri tak datang, alasannya sibuk dengan pekerjaan kantor yang menumpuk.

“Sepertinya memang tidak, Bang. Ibu seperti biasanya, tak ada yang aneh dari sikapnya. Mungkin Ibu merasa bosan di rumah, makanya minta dikirim ke panti jompo,” argument Rina. Alasan yang tak dapat aku terima.

“Tapi, Abang tak ikhlas melakukanya, Rin. Mbakmu juga. Apa kata orang nanti?” ungkapku. Mencoba membuatnya mengerti jalan pikiranku.

“Kalau Ibu merasa lebih bahagia, kenapa nggak, Bang?” tanyanya yang seketika membuatku senyap. Ibu lebih bahagia, berarti Ibu tak bahagia bersama kami?

“Ya, sudahlah, nanti Abang bicarakan lagi dengan Ibu dan mbakmu. Kau datanglah ke rumah, ajak Danu dan anak-anakmu. Mungkin Ibu akan berubah pikiran jika kalian semua datang dan meminta kepadanya untuk mengurungkan niat ke panti jompo itu.”

“Mas Danu lagi ke Seoul, Bang. Seminggu, ada pekerjaan di sana. Aku dalam tiga hari ini akan keluar kota. Tak tahu anak-anak, apakah mereka bisa? Aku tak janji, mungkin  Rama dan Beni bisa.” Uu, aku menghembuskan napas kuat-kuat mendengar ucapan Rina itu. Tak ada harapan yang bisa kugantungkan kepadanya.

Aku mengakhiri pembicaraan via telepon itu. Sudah kutebak, akan seperti itu semua jawaban mereka. Beni tengah ke Batam karena ada proyek yang harus ditinjaunya ke sana, sementara istrinya telah seminggu di Singapore karena tugas kantor. Tak berbeda jauh dengan Rama, dia tengah di Kalimantan, sama tugas kantor juga. Istrinya ada di Jakarta, tapi tak bisa janji pasti datang, karena kantornya, stasiun tivi, tengah melakukan perhelatan akbar yang membutuhkan kerja keras dari semua karyawannya. Huuu.., aku menghembuskan napas mengingat semua itu. Semua sibuk.

♦ ♦ ♦ ♦

“Bu, apa tak bisa ditimbang lagi? Jika kami ada salah, ceritakan,” rayuku.

Ibu masih saja diam. Terlihat sibuk dengan rajutan yang ada di tangannya. Hari ini aku membatalkan beberapa janji, juga istriku, karena Ibu semakin ngotot meminta kami mengirimnya ke panti jompo. Bahkan beliau telah mengajukan satu panti yang katanya sangat cocok dengan dirinya. Beliau mencari sendiri tentang data, cerita, dan berbagai hal yang berhubungan dengan panti jompo di bilangan Bogor itu.

“Keputusan Ibu tetap, Ibu ingin ke panti jompo saja,” ucapnya tegas.

“Mengapa harus ke sana, Bu? Apa kata orang nanti? Tentu mereka mengecap kami anak tak berbakti, tak bisa balas budi kalau Ibu tinggal di panti. Kami masih sanggup mengurus Ibu,” kali ini istriku yang merayu Ibu.

“Tak usah dengar ucapan orang lain. Tak ada yang salah, Inah baik, kau juga menantu yang baik, anak-anakmu manis.”

“Lalu, apa masalahnya?” kejarku.

“Ibu kesepian, Dani,” nada suara Ibu terdengar ditekan, seperti kumulatif sebuah beban yang tak bisa ia tahan lagi, “Pagi-pagi kau dan istrimu ke kantor, anak-anakmu sekolah, Inah sibuk di dapur. Saban hari kerjaan Ibu hanya merajut, minum teh, nonton tivi. Membosankan sekali. Sama seperti Ibu di rumah Rani, Rama, dan Beni. Kalau di panti jompo, Ibu akan punya banyak teman. Tentu akan lebih menyenangkan. Tolonglah, penuhi permintaan Ibu ini. Orang-orang akan paham, bukan kalian yang membuang Ibu tetapi karena keinginan Ibu sendiri.” Aku tercekat, pun istriku.

Seketika aku dan istriku tertohok mendengarnya. Itulah yang aku luputkan: Ibu kesepian, tak ada teman mengobrol, dan tak ada kawan untuk mengisi hari tuanya. Aku dan istriku memang sibuk, acapkali kami pergi keluar kota bahkan keluar negeri karena pekerjaan, pun Rani, Rama, dan Beni. Sementara anak-anak, pastilah lebih memilih sibuk dengan sekolah, les, komunitas, dan seabrek kegiatan dan hobi mereka.

“Ibu mohon, penuhi permintaan Ibu ini. Ibu akan lebih bahagia di sana. Bila kalian libur, kalian bisa mengunjungi Ibu di sana. Sungguh, Ibu tak akan pernah mengecap kalian anak tak berbakti. Kalian anak-anak Ibu yang hebat, yang telah membuat Ibu bangga melahir dan membesarkan kalian. Orang lain tak tahu apa-apa tentang kalian,” pinta Ibu dengan wajah memelas.

Aku melarikan mata kepada istriku yang terpekur dalam senyap. Sementara, di depan kami Ibu menunggu jawaban dengan wajah penuh harap, kelebat-kelebat tanya berseliweran dalam otakku: Apa kata orang? Ibu lebih bahagia, kata Ibu. Kepalaku kian pening dibuatnya. Haruskah aku meluluskan permintaan Ibu ini? Atau aku, istriku, anak-anakku, serta anak-anak Ibu lainnya yang harus memanajemen ulang waktu untuk Ibu. Oo, aku benar-benar tak bisa berpikir apa-apa saat ini. (*)

C59, Februari 2009 – Februari 2011

By AlamGuntur Posted in cerpen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s