Rumah Tua yang Tumbuh di Atas Kepala Bi Mar (Tribun Jabar, 11 September 2011)

TIBA-tiba saja, rumah tua itu telah tumbuh di atas kepala Bi Mar yang kelabu. Tiang-tiangnya yang dari kayu tembesu itu, menghujam ke kedalaman batok kepala Bi Mar. Hujaman tiang-tiang itulah yang acapkali meranakkan sepasang sungai kembar di pipi keriputnya. Bukan lantaran sakit yang mengkili di tempurung kepalanya yang membuat airmata Bi Mar cucur-bancur, tetapi tempias bayangan rumah itulah yang mengkantar-kantar segandeng matanya.

Selayaknya, Bi Mar tak perlu menguras airmata. Tersebab tak ada hal yang patut ia tangisi. Kubur Mang Isa telah lama padat. Bertahun silam. Mungkin pula, sebatang badan lelaki yang ia puja itupun tinggal kerangkanya saja. Lalu, apa musabab? Lagi. Limas tua yang tumbuh di atas kepalanya mencengkram urat-urat, memaksanya membongkar lipatan-lipatan kenangan yang telah usang dimamah masa. Kemudian, hendak ataupun tak nak, ia terpaksa mengurainya. Membaui cerita yang tercium apak dari helai-helai masa lampau.

Kita harus dapat anak bujang, Dik. Pada masanya, bila kita telah uzur dan anak-anak gadis kita telah diboyong laki mereka ke limas seorang-seorang, kita hanya tinggal berdua di limas ini, tak ada yang mengurusi. Lalu, kita akan mati bergilir dalam sepi. Nasib baik, jika kita mati bersama, hingga yang ditinggal tak merasa sunyi.

Kata-kata Mang Isa bertahun silam itu, masih saja berdengung-dengung dalam kepala Bi Mar. Serasa baru semalam lelaki itu membisikkanya, merayunya untuk kembali menggenggamkan jari-jemari. Lalu, keduanya menghitung hari, menggunting almanak demi almanak, melipat purnama demi purnama. Dan gunung demi gunung tumbuh di perut Bi Mar, kemudian pada masanya gunung itu meletus, memuntahkan beban yang terasa menghimpit hingga ke bawah pusar. Sayang, selalu saja lenguh kecewa meningkahi deru napas Bi Mar yang sekarat dalam bilik pengap.

Kini, aku terdempar seorang saja di limas menantu kita, Bang. Memang tak serupa nasib Mak Salit yang mati sendiri dalam sunyi di limasnya. Namun, aku merasa alangkah ini ganjil. Bila kunyalang mata di tengah pejam yang tak pernah pulas, aku merasa tengah bertandang di rumah seseorang. Semalam saja. Esoknya aku akan terlelap di kasur kapuk kita kembali. Nyatanya, malam-malam itu tak pernah usai. Alangkah ganjil malam yang kulewati ini.

Selepas itu, airmata Bi Mar akan kembali turun, menyusuri lereng-lereng keriput. Dan rumah tua yang mengkantar-kantar segandeng matanya itu kian kuat mencengkram batok kepalanya. Menumpangkan beban berat dari papan-papannya dan segala kenangan yang pernah tertulis pada tiap kisi-kisinya.

♦ ♦ ♦ ♦

MULANYA, Bi Mar mencoba membutakan hati dari duga-duga yang mungkin saja bergulir pada segenggam daging dalam dadanya yang mulai ikut-ikut keriput itu. Bi Mar berpura telah mendengar orang-orang bicara di cupingnya yang mulai pekak.

Tak apa, orang se-Tanah Abang akan mahfum kalau kau tinggal bersama menantu, mengikuti anak gadis yang berlaki. Tentu saja, orang-orang tak nak melihat pemandangan tak sedap saban harinya tentang dirimu. Tertatih-tatih ke Sungai Lematang, mendayung perahu untuk menengok rimba duku-durian, bahkan terengah-engah dengan tangan gemetar menggenjot sepeda kumbang menuju rimba balam.

Betapa bayangan itu telah membuat dada Bi Mar nyenggeret. Hembusan napasnya berderak, sesak menghimpit. Tempias bayangan itulah yang membuat Bi Mar akhirnya luluh atas bujuk-rayu yang dilancarkan Sana dan Rustam, menantunya.

“Tinggallah bersama kami, Mak. Limas ini terlalu lengang untuk Mak. Saban minggu kita akan bertandang dan membersihkannya,” itulah rayuan Sana dan diaminkan oleh menantunya itu.

“Mengapa tak kalian saja yang tinggal di limas ini bersama Mak?” Bi Mar masih mencoba, walau sesungguhnya ia telah pasrah. Dan lagi, Bi Mar mendengar kata-kata yang telah membuat cupingnya kapalan. Kata-kata yang bertahun lampau telah jua didengungkan lakinya, Mang Isa.

Tak akan orangtua mereka mengizinkan, bila anak bujangnya menunggui limas mertua, mengikuti istri melangkah, menegakkan jurai perempuan sembari membunuh jurai keluarga seorang lanang, Dik.

Pada akhirnya, Bi Mar yang mengalah. Memejamkan mata saat melangkah meninggalkan limasnya, berpura tak melihat pasang-pasang mata yang menguntil di belakang punggungnya. Anak-anak gadisnya menarik napas lega, seolah baru saja menggulingkan sebatang kayu besar yang tumbuh di dada seorang-seorang. Setidaknya, mereka tak usah risau kalau-kalau emaknya akan mati tanpa ada seseorang yang mengetahui ihwalnya. Walau masing-masing dari mereka harus mengulum rasa pedas di mulut yang membikin merah dan menggetarkan kedua mata, rasa pedas yang disuapkan orang-orang se-Tanah Abang.

♦ ♦ ♦ ♦

HARI-hari terasa sangat ganjil bagi Bi Mar. Bukan lantaran karena rasa sunyi seperti di limasnya dulu, yang kerap memenjarakannya dalam senyap yang begitu lengang. Rumah ini begitu hingar. Saban hari selalu saja ada derai tawa cucu-cucunya, jerit tangis, atau baku pukul bocah-bocah ingusan yang berebut apa saja dengan saudara-saudaranya. Melihat hal itu, Bi Mar kerap terkenang dengan masa-masa lampau, masa saat gadis-gadisnya masih belia, seperti rayap-rayap yang menyempal. Nah, kenangan itulah yang menggiringnya dalam perasaan ganjil itu.

Seharusnya, hingar ini ada di limas kita, Bang. Derai tawa, jerit tangis, dan baku pukul cucu dari anak lanang kita. Bukan di rumah asing yang terasa sangat asing. Geladak rumah inipun terasa ganjil, tak kukenal, serupa aku mengenal geladak limas kita, saban hari aku menapakkan kaki di sana, saban petang-pagi aku mengelap-elapnya dengan kain basah. Ini? Akupun tak kenal dengan serat-serat di papan geladak itu.

Dan Bi Mar berusaha untuk menipu dirinya kembali. Semua ini akan berlalu seiring waktu yang akan melibasnya. Bukankah perkara bisa ala biasa? Aku akan terbiasa di rumah ini.

Lalu, Bi Mar menindih-nindih perasaannya. Bergelut dengan cucu-cucunya dan mengibaskan bayangan rumah tuanya yang kerap saja datang. Tentu saja, Bi Mar berharap, waktu gegas melangkah serupa masa yang demikian cepat menyilap rambutnya menjadi uban. Kemudian, malaikat maut bertandang dan mencabut nyawa rentanya. Dan anak-menantu serta cucu-cucunya akan meratap barang satu-dua jam, kemudian melupakan dirinya yang tertimbun dalam tanah. Setelah itu, masa akan berjalan demikian tenang. Setenang dirinya yang tak akan lagi mengingat-ingat rumah tuanya.

Rupa-rupanya, harapan Bi Mar itu tak bisa menjadi nyata. Semakin ia gigih menimbun rumah tua itu dalam batok kepalanya, rumah tua itu semakin menyeruak. Bahkan kini, rumah itu telah tumbuh demikian kuat di atas kepalanya yang kelabu. Mencengkram urat-urat, menghujamkan tiang-tiangnya jauh ke dalam tempurung kepalanya. Rumah itu telah berdiri tegak di sana, di atas kepala Bi Mar.

Mengapa kau tinggalkan limas kita, Dik? Tak ada sesiapa yang merawat cerita di tiap jengkalnya. Tidakkah kau lupa dengan apa saja yang tertera di sana? Aku khawatir, masa panjang yang kau lewati di sini akan menenggelam dan menghanguskan kenanganmu tentang rumah itu, tentang kita.

Bi Mar seolah-olah mendengarkan dengung suara Mang Isa di cupingnya. Lalu, tak hanya rumah itu yang tumbuh di atas kepala Bi Mar. Segala macam perabotan di rumah itu mendadak saja telah menempati tempatnya masing-masing pada rumah yang tumbuh di atas kepala Bi Mar itu. Sebuah ranjang besi dengan kasur kapuk dan kelambu yang pertama kali mengkantar mata Bi Mar. Di ranjang itulah, pada malam-malam yang dingin dan senyap, Bi Mar dan Mang Isa mentautkan jari-jemari, saling berbisik, lalu menderukan napas penuh lenguh. Di atas kasur kapuk itu pulalah, saban dua tahun sekali, Bi Mar mengejankan gadis-gadisnya. Ranjang besi, kasur kapuk, dan kelambu itu menjadi saksi bisu atas impian Bi Mar dan Mang Isa yang tak terwujud: Anak bujang.

Di sudut bilik pengap itu, ada meja riasnya. Sebuah kaca tertempel di dinding, tempat Bi Mar mematut diri dan memoleskan gincu –sesekali saja, kalau Mang Isa tiba-tiba hendak melihat bibirnya merona merah. Bi Mar ingat, kerapkali Mang Isa memeluknya dari belakang saat tengah asyik menabur bedak di pipinya. Di sudut lainnya, ada gerobok kayu jati mereka, dalam gerobok itu Bi Mar masih menyimpan kebaya yang ia kenakan saat mendengar janji Mang Isa pada ebak-nya, dulu di depan penghulu.

Seperti berkongsi, segala barang yang menyesaki tiap jengkal rumah tua itu hadir di pelupuk Bi Mar. Satu-persatu. Lalu, mereka menguraikan tiap cerita yang pernah tertera di sana. Tiap derai tawa, isak tangis, bahkan doa-doa Bi Mar dan Mang Isa yang disimpan sajadah, telekung, serta kopiah, semua terurai dan bercerita dari dalam rumah tua yang tumbuh di atas kepala Bi Mar.

Lagi, Bi Mar berusaha mengibasnya. Ia menenggelamkan diri dalam putaran masa bersama cucu-cucunya. Ia seolah-olah tak merasa ada rumah tua yang demikian berat telah tumbuh di atas kepalanya. Rumah yang memikulkan beban demikian berat. Sangat berat. Lehernya pun serasa begitu payah untuk menopangnya. Ia bertahan. Dan mungkin ingin tahu, berapa lama ia mampu memikul rumah yang tumbuh di atas kepalanya itu?

♦ ♦ ♦ ♦

“MAK hendak pulang, Na. Rasanya sangat berat membiarkan limas kita tanpa seseorang mendiaminya.”

Tentu saja, ucapan Bi Mar di subuh buta itu bak sengatan lipan di cuping anaknya, Sana. Perempuan beranak enam itu benyai. Ia mengerjap-ngerjapkan mata beloknya, menyusuri gurat keriput yang kian kentara di wajah emaknya. Lalu, ia menghela napas, berusaha meredam hati yang mendadak resah. Kabut basah ikut-ikutan turun dan mengapung di matanya.

“Di sini saja, Mak. Aku dan ayuk-ayuk khawatir kalau Mak tinggal seorang saja di sana. Kalau Emak sakit di malam buta bagaimana?” Sana merajut rayu, menerawang masa di depan yang terasa begitu buram. Mendadak, matanya serasa dua tandan nira yang penuh kuah begitu melihat emaknya bergeming tanpa suara. Sana mahfum dengan gurat wajah keriput itu, artinya emaknya tak akan berubah pikiran: Bi Mar akan kembali ke rumah tuanya.

Dan begitulah, berpasang mata orang se-Tanah Abang kembali menguntil di belakang punggung Bi Mar ketika di pagi yang masih kelam, orang-orang melihatnya pulang tertatih dengan baju segumpalan. Rumah tua itu kembali berderang oleh lampu minyak tanah, tetapi tetap saja lengang seperti malam yang sudah-sudah. Tiap pagi kelam dan petang pekat, orang-orang akan melihat anak-anaknya silih berganti datang, membujuk rayu yang terdengar usang. Bi Mar tetap diam dengan rumah tua yang tumbuh dan makin kuat mencengkram batok kepalanya.

Kemudian, orang-orang menyaksikan pandangan tak sedap itu saban harinya. Bi Mar tertatih-tatih ke Sungai Lematang, mendayung perahu, menggelegakkan periuk, dan mengangkut satu-dua sisir pisang dari kebunnya, membawa sepotong-dua kayu bakar ke dapurnya. Dan perempuan-perempuan muda di Tanah Abang menalukan cemas di dalam dada, lebih-lebih yang belum jua mengoekkan anak bujang dari selangkangannya; alangkah mengerikan hidup di masa tua serupa Bi Mar.

Bi Mar tak perduli, cupingnya yang telah pekak memang telah ia tulikan. Ia hanya hendak membiarkan rumah tua yang tumbuh di atas kepalanya itu semakin tumbuh. Melihat rumah tua itu tumbuh subur di atas kepalanya, membuat Bi Mar bahagia. Bahagia menyusuri masa yang demikian lengang, masa yang beberapa tahun silam begitu ia cemaskan. Dan rumah itu benar-benar tumbuh semakin besar, hingga menutupi seluruh uban di kepala Bi Mar. (*)

C59, Maret-April 2011.

By AlamGuntur Posted in cerpen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s