Dua Perempuan (Ummi, Desember 2011)

AKU menghela napas. Melegakan dada yang terasa menyempit seketika. Entah, mendadak saja aku kehilangan seluruh kata-kata. Harus bagaimana menjelaskan dengan Emak perihal perempuan pilihanku itu? Allahurobbi, aku benar-benar tak tahu harus memulai semua ini darimana? Telah berapa kali kuulur-ulur waktu itu, sedang Emak kian antusias saja menceritakan tentang Hafnah kepadaku.

“Kau ceritakan saja sejujurnya, Faisal. Mbak yakin, Emak akan mahfum atas pilihanmu,” mendadak saja Mbak Ifa muncul mengagetkanku. Aku tergagap, buru-buru membetulkan letak dudukku yang tak salah. Lagi, kuhela napas karenanya.

“Masalahnya tak sesederhana itu, Mbak,” hanya itu kata yang bisa kuucapkan. Mbak Ifa duduk di kursi rotan yang ada di sebelahku. Berdua kami menatap langit malam yang masih ingusan. Bulan terlihat berlayar sendiri di langit yang luas, sesekali gerombolan awan hitam menyapunya, timbul-tenggelam, lalu muncul lagi. Sendiri.

“Lalu, apa semua ini akan selesai dengan kamu mendiamkannya?” aku kian senyap mendengar ucapan Mbak Ifa itu. Mbak Ifa benar. Apa semua ini akan selesai bila aku mendiamkannya? Tapi, aku harus memulai darimana? Aku tahu Emak pasti akan kecewa dengan pilihanku ini. Emak pasti terluka. Dan aku tidak ingin melukainya. Allahurobbi, mengapa semua ini menjadi demikian pelik?

“Apa Emak sudah pulang?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan. Mbak tidak suka. Kesannya kamu berlari dari masalah,” aku tertohok mendengar kata-kata Mbak Ifa. Kutelan ludah. Lagi, kularikan mata pada malam ingusan yang terang bulan. Lewat teras limas kami yang menghadap ke arah Sungai Lematang, dapat kunikmati pedar-pedar cahaya bulan sebelah di atas riak Sungai Lematang yang mengalir tenang.

“Juga Emak masih di rumah Mang Sahlan. Ikut meracik bumbu untuk hajatan sunatan anak bungsunya Mang Sahlan,” sambung Mbak Ifa.

“Mbak tahu sendiri, Emak menghendaki aku meminang Hafnah, anaknya Uwak Qosim. Temanku sejak dari SD, SMP, bahkan sampai SMA itu,” kularikan mata pada Mbak Ifa, kakak perempuanku ini diam menyimak, seolah seseorang yang tidak tahu apa-apa, mungkin membiarkan aku menuntaskan cerita, “Harapan Emak, bila aku menikah dengan Hafnah. Aku pulang dan menetap di kampung saja, menjadi guru madrasah bersama Hafnah, mengurusi kebun karet kita, limas kita, kebun duku-durian kita, dan semua warisan almarhum Ebak,” kuhembuskan napas berlahan, membuang gumpalan sesak yang bersemayam.

“Lalu?” pinta Mbak Ifa ketika aku terdiam demikian lama.

“Aku tidak bisa, Mbak. Tidak bisa. Sebab aku ingin tetap bekerja di stasiun televisi itu. Itulah alasanku mengambil kuliah broadcasting. Cita-citaku. Lalu, setelah semua yang kuperjuangkan. Mengapa sekarang Emak seolah tidak mendukungku? Mengapa baru sekarang? Tidak ketika aku hendak kuliah dulu.”

Kulihat Mbak Ifa menghela napas berat. Mungkin sekarang sesak yang ada di dalam dadaku sudah berpindah kepadanya. Aku masih setia menunggu jawabannya.

“Itu semua karena Emak ingin jurai limas kita ini tetap tegak, Sal,” terdengar suara Mbak Ifa begitu lirih, “Kau tahu?” matanya beralih ke wajahku, “Emak kesepian setelah Ebak wafat setahun silam. Tak ada yang menemaninya di rumah sebesar ini. Sedang Mbak dan Zainab anak perempuan. Kami ini bersuami. Dalam adat kita, anak perempuan yang bersuami akan ikut suaminya. Mengurus limas mertua. Sedang kau anak laki-laki satu-satunya, kau yang seharusnya mengurus Emak, limas, kebun karet, dan semua warisan Ebak. Itu tanggung-jawabmu. Itulah kenapa Emak begitu ngotot kau meminang Hafnah.”

Bulan separuh di atas langit itu terlihat pasi. Kusut masai serupa mukaku kini. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Alangkah pelik semua ini.

“Aku akan mengurusi Emak, Mbak. Telah kuajak Emak tinggal di Jakarta bersamaku. Tapi, Emak menolak. Sebab Emak hendak mengurusi semua warisan Ebak. Kubilang, biarkan Mbak Ifa dan Mbak Zainab yang urus semua ini. Aku bersedia meminang Hafnah dan mengakhiri hubunganku dengan teman sekantorku itu. Aku tahu, akan sulit menjelaskan kepadanya setelah proses perkenalan kami yang panjang melalui guru mengajinya itu. Tapi, aku yakin ia akan maklum bila kujelaskan pelan-pelan. Tetap saja Emak tak bersedia. Hafnah juga sepertinya berkongsi dengan Emak, tak hendak meninggalkan Tanah Abang. Ia bilang, akan menerimaku bila tetap di sini.”

Akhirnya, kumuntahkan semua gumpalan dalam dada itu. Semua. Aku berharap, dadaku yang sesak menjadi sedikit lega setelah beban yang bergelayut di dalamnya kukuras. Setidaknya, aku bisa bernapas dengan sempurna. Nyatanya, tetap saja. Rasa menghimpit itu begitu terasa. Malah kian terasa.

“Tak sesederhana itu, Sal. Seperti katamu tadi,” Mbak Ifa membetulkan kerudung kaosnya. Angin malam yang mulai berhembus dari arah Sungai Lematang mengibarkan ujung kerudungnya itu. Satu-dua nyamuk terasa membabi-buta di betisku yang tersingkap. Aku membetulkan ujung sarung, menutupi seluruh kakiku. Lalu, kutarik kedua kakiku untuk meringkuk di atas kursi rotan. Bersila.

“Lalu, aku harus bagaimana, Mbak?” aku seperti seseorang yang mati akal saat ini. Benar-benar mati akal. Entahlah, aku tak tahu lagi harus bagaimana. Rasanya aku tidak memiliki pintu lain selain membuat Emak terluka. Dan sejujurnya, aku tidak ingin melakukan itu. Inilah yang terus membuatku mengulur waktu. Padahal, masa liburku di kampung hampir usai. Sedang niatku pulang belum terealisasi jua: Memberitahu Emak kalau aku hendak menikah dan meminang seorang gadis Jawa yang satu kantor denganku. Ah, alangkah sukarnya berjalan di setapak bernama hati perempuan.

Dalam rencanaku sebelum pulang. Kata-kata ini sudah kususun jauh sebelum pesawat membawaku terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Sultan Mahmoed Badaruddin II di Palembang. Akan kuceritakan niatku pada Emak usai makan malam yang demikian hangat. Ketika Mbak Ifa dan Mbak Zainab berikut kakak-kakak iparku dan seluruh anak mereka datang ke limas Ebak. Aku akan mengatakan pada mereka, kalau aku akan segera menikah, kemudian memboyong Emak bersamaku ke Jakarta. Karena aku percaya, Emak akan kesepian tinggal di limas seorang saja setelah Ebak wafat setahun silam. Nyatanya, Emak mendahuluiku bercerita.

“Sejujurnya, Mbak juga tidak tahu, Sal,” baru kali ini kulihat Mbak Ifa ikut-ikutan mati akal. Padahal, Mbak Ifa selama ini menjadi orang yang mendukungku dan selalu memberi solusi setiap aku terjegal masalah dengan Ebak dan Emak, pun ketika aku berniat kuliah dulu. Mbak Ifa-lah yang berjuang demikian keras untuk menyakinkan Emak dan Ebak atas keinginanku itu. Sebab, mereka cuma ingin aku tamat SMA dan mengurusi harta warisan.

“Semua ini terganjal dengan adat kita, Sal,” Mbak Ifa menerawang jauh ke kelamnya malam, “Adat kita menuntut anak lanang, terlebih bila cuma satu-satunya seperti kamu, untuk tetap berada di kampung. Menjaga dan mengurusi rumah adat, warisan, dan segala tetek-bengeknya. Dan Emak ingin kamu seperti itu. Tidak salah, bukan? Kamu juga tidak salah dengan mimpi-mimpimu itu,” Mbak Ifa tercenung. Senyap menemani kami berdua. Hanya suara dengung nyamuk kian terasa ganas di cupingku.

“Kamu sudah dewasa. Jadi, sekarang kamulah yang harus memutuskan jalan hidupmu. Bismillah saja. Insya Allah, akan ada jalan. Jangan lupa sembahyang. Nanti Mbak akan coba bicara dengan Emak ya,” Mbak Ifa berdiri dari duduknya. Kulihat sebaris senyum khasnya yang penuh optimis itu terentang dengan sangat manis. Ah, mendadak saja aku menjadi sejuk melihat senyum Mbak Ifa itu. Aku mengangguk. Mbak Ifa tenggelam di balik daun pintu limas yang menutup pelan.

Malam masih merangkak gontai, menemani bulan separuh yang berlayar di kelam raya. Aku masih tercenung memikirkan semua obrolan dengan Mbak Ifa barusan. Ah, bisakah aku memilih dengan bijak? Dengan tidak menyakiti Emak tapi tak jua melukai diriku. Entahlah, aku akan memikirkannya ulang. Mengajak Allah terlibat dan meminta agar diteguhkan pada jalan yang Ia rentangkan kelak. Itulah keputusan yang kupunya. Setidaknya sampai masa liburku usai. Lamat-lamat, suara riuh ibu-ibu yang meracik bumbu di limas Mang Sahlan merayapi cupingku.(*)

C59, Menjelang Lebaran 1432 H

By AlamGuntur Posted in cerpen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s