Khuldi (Tribun Jabar, lupa tanggal & bulannya)

Sampai detik ini pun, Ayah masih melarangku mendekati pohon yang tumbuh rindang di belakang rumah kami itu. Ia, pohon yang menggoda. Daunnya lebat dengan kanopi yang terjulur-julur, membentuk sebuah persembunyian yang bagus untuk bermain petak umpet. Semasa kecil, aku kerap membayangkan duduk di salah satu dahannya sembari mengawasi sekeliling. Bahkan, aku selalu memimpikan punya rumah kecil di sana. Ah, tentu menyenangkan bisa mendengar orkestra burung-burung liar yang saban hari kulihat dari teras belakang. Tentu saja, yang paling kuinginkan memetik buah dari pohon itu. Warnanya merah seperti kobaran api yang berkilat-kilat. Bila senja datang dan warna mentari kuning keemasan, buah merah pohon itu berkilauan, seperti merayuku untuk menjangkaunya.

Aku tak pernah mengerti, kenapa Ayah melarangku mendekati pohon itu? Apa yang Ayah takutkan dengan sebatang pohon perdu itu? Mungkinkah di sana ada hantu yang bersarang dan Ayah cemas kalau saja hantu itu menculikku? Kalau iya, kenapa Ayah tak menebangnya? Atau Ayah takut aku akan terjatuh saat memanjat dahan-dahannya. Oi, tidakkah itu suatu hal yang biasa bagi anak laki-laki? Ayah tentulah paham dengan kehidupan laki-laki.

Suatu hari, mungkin karena Ayah telah bosan dengan semua pertanyaanku atau Ayah merasa aku telah cukup umur untuk memahami ceritanya, ayahku memberikan jawaban atas semua pertanyaan yang telah aku lemparkan bertahun-tahun lampau kepadanya.

Kata ayahku, di dahan pohon itu bersarang seekor raja ular. Ia bukan ular sembarangan. Ia ular jelmaan Ifrit dari neraka jahanam. Badannya sangat besar dan panjang, selalu melilitkan tubuhnya di salah satu dahan dekat pokok batang. Sisik ular itu berwarna coklat, memiliki mata semerah darah. Bila ia membuka mulutnya, kau akan melihat sepasang taringnya yang panjang dan berbisa. Ular itu memangsa tiap manusia yang mendekati pohon rindang itu. Mulanya, sang raja ular memperdaya korbannya dengan kenyamanan yang dihadirkan dedaun pohon, lalu merayunya menggigit buah beracun pohon itu, ketika mangsanya terperdaya, ular itu akan mematuk sampai putus urat leher korbannya dan menelannya bulat-bulat.

Aku sangat ketakutan dengan cerita Ayah. Malamnya aku bahkan bermimpi, raja ular itu turun dari dahan pohon dan merayap menuju jendela kamarku. Ia mencungkil jendela dari luar dan duduk di sisi ranjang. Ekornya yang bersisik coklat kasar itu menggesek-gesek kulit kakiku hingga aku terjaga. Aku gemetar melihat tubuh ular yang besar dengan sepasang taring berbisa, lidah yang terjulur, dan mata yang semerah darah itu berada di sampingku. Raja ular itu memberiku sebutir buah pohon yang berwarna merah, sangat berkilau dalam temaram lampu kamarku yang remang. Ular itu memaksaku untuk menggigit buah itu. Aku tak mau, tentu setelah aku menggigitnya, ia akan mematuk urat leherku sampai putus dan menelanku seketika. Paginya, kuceritakan mimpi itu pada Ayah. Tapi, Ayah tak berkomentar apa-apa.

♦ ♦ ♦ ♦

Jika Ayah belum pulang dari kantor dan aku tidak ada kegiatan bersama teman-teman SMP-ku, aku sering memperhatikan pohon rindang itu dari balik kaca jendela kamarku. Tetap saja, pohon yang Ayah beri nama Khuldi itu mempesona bagiku. Aku masih menyimpan rasa penasaran dan keinginan yang kuat untuk berada di bawah dahan-dahannya bahkan duduk di salah satu kanopinya itu. Tapi, cerita Ayah tentang raja ular yang bertahta di sana, membuatku selalu mengurungkan niat untuk mendekatinya.

Di saat aku naik ke kelas enam SD, pernah aku bertanya kepada Ayah, dari mana asal raja ular di pohon itu? Menurut Ayah, raja ular itu berasal dari neraka jahanam. Ia sengaja dilempar Tuhan ke dunia karena mencoba mematuk Adam di surga. Sayangnya, Hawa, istri Adam, telah terperdaya duluan. Ular itu telah menggigit dan menyemburkan bisa kepadanya. Aku kebingungan. Mengapa ular itu ingin mematuk Adam dan Hawa? Kata Ayah, karena Adam dan Hawa memetik buah dari pohon khuldi milik sang ular.

“Jadi, pohon di belakang rumah kita adalah pohon khuldi dari surga?”

Ayah menggeleng kuat saat aku melemparkan tanya itu, “Ular itu salah sangka. Tapi, jangan sesekali mendekatinya, apalagi memetik buahnya.”

Aku tidak tahu, apakah cerita Ayah benar atau hanyalah dongeng semata agar aku tak mendekati pohon khuldi itu? Ayah juga bilang, raja ular yang bersarang di pohon itu tidak dapat di bunuh. Ia makhluk yang tidak akan pernah mati sebelum hari kiamat datang. Itu mengapa, Ayah tak dapat membunuh binatang berbisa itu. Ah, cerita yang Ayah lontarkan semakin membuatku penasaran sekaligus takut untuk mendekati pohon itu. Bagaimana jika Ayah benar? Jika Ayah bohong?

Namun, seiring waktu berjalan, aku mulai melupakan cerita Ayah tentang raja ular yang bertahta di pohon rindang belakang rumah kami itu. Aku juga mulai melupakan rasa penasaran dan keinginan untuk memanjat dahan-dahannya. Terlebih ketika aku sibuk di SMA dan bergelut untuk mencari bangku di universitas impianku. Aku benar-benar melupakan pohon menggoda itu ketika tenggelam di dunia kampus, dan hanya sesekali pulang, saat liburan, untuk menemani Ayah.

Aku menyangka, aku benar-benar akan mengacuhkan pohon yang semakin besar dan rindang di belakang rumah kami itu, apalagi ketika aku telah sibuk dengan pekerjaan kantor dan Ayah yang selalu menyambutku di sore hari dengan makan malam yang menyenangkan. Ternyata aku keliru. Aku kembali tergoda dengan pohon itu dan teringat dengan semua cerita Ayah setelah beberapa kali aku memergoki Ayah sedang menatapnya di tengah malam buta.

Kali pertama, aku menemukan Ayah duduk termangu di depan jendela dapur, mata kosongnya tertuju ke arah pohon yang berdiri dalam gelap, dalam remang bias cahaya lampu teras. Mata Ayah berkaca-kaca, seperti menahan suatu rasa yang tak bisa aku terjemahkan. Ada hubungan apa Ayah dengan istana raja ular itu? Ayah terburu menyembunyikan fakta ganjil itu dariku. Ayah bilang, ia tak bisa tidur karena kamarnya panas, makanya cari angin dan duduk terlelap di kursi dapur. Padahal, ketika aku mengantar Ayah kembali ke kamarnya, AC di kamar Ayah menyala dengan suhu yang cukup dingin untuk udara di musim hujan.

Itu, bukanlah kali terakhir aku memergoki Ayah memandang pohon itu lama-lama. Sejak malam itu, aku kerap menemukan Ayah duduk di teras, mata lurus ke arah pohon khuldi yang sekelilingnya berumput tebal dan panjang. Seperti sebelumnya, ketika aku menanyakan, apa yang Ayah perhatikan dari pohon rindang itu? Ayah terburu memberendel rasa penasaranku dengan pertanyaan tentang pekerjaanku, cerita tentang buku bagus yang ia beli di toko buku, atau tentang film keluarga yang ia tonton tadi pagi.

Aku tak ingin memaksa Ayah bercerita, seperti dulu, saat Ayah mengisahkan kepadaku tentang raja ular yang bertahta di pohon khuldi itu. Tentang buah merah berkilat yang ternyata berasal dari surga. Aku tak ingin, walau rasa penasaran begitu besar tumbuh di dadaku. Aku tak ingin memaksa Ayah, walau sejujurnya aku cemas sekaligus sangat penasaran karenanya. Aku hanya ingin membahagiakan Ayah, termasuk jika Ayah merasa akan lebih baik kalau ia menyimpan rapat-rapat perihal kebiasaan ganjilnya mengamati pohon itu di masa pensiunannya ini.

Hingga pada suatu hari, ketika aku dan Ayah baru pulang dari menonton film di akhir pekan. Tiba-tiba Ayah memanggilku. Tanpa mempedulikan rasa penasaran yang bercokol di wajahku, Ayah berjalan mendahuluiku, menuju pintu dapur, membukanya dan melangkah ke arah pohon khuldi yang telah menggodaku sejak dulu.

“Ayah akan menujukkan sesuatu padamu.”

Aku mengikutinya dengan pikiran membuncah, cemas, dan luapan rasa kegembiraan yang tak terterakan. Inikah kesempatan yang aku impikan bertahun-tahun itu? Tapi, bagaimana kalau raja ular itu benar-benar mematuk urat leherku dan Ayah hingga putus, lalu ia menelan kami bulat-bulat?

Aku melarikan bola mata di antara kanopi pohon.

“Lihat. Lihatlah, itu ular jelmaan Ifrit yang menjaga buah khuldi.”

Lututku goyah mendengar suara Ayah itu. Mana? Kutajamkan pengelihatan. Tapi aku tak melihat apa pun. Tak ada seekor ular besar bersisik coklat yang melingkar di dahan paling dekat dengan pokok batang. Tak ada mata yang semerah darah, atau sepasang taring panjang yang berbisa. Aku melempar pandangan ke arah mata Ayah, mencoba mengikuti retina lamurnya menuju.

Di dahan paling rendah, mata Ayah berlabuh, kudermagakan pula mataku di sana. Seutas tali nilon yang cukup besar, berwarna coklat, dan tertanam dalam kulit pohon, terlihat sangat rapuh dimamah masa, melingkar di sana. Itukah raja ular itu? Ular jelmaan Ifrit dari neraka? Ular yang telah mematuk Hawa.

Ayah membalik badannya dan melangkah menuju rumah, meninggalkan aku sendiri yang terbungkus kebingungan. Tak sepatah kata yang terlontar dari bibirnya. Menoleh pun tidak atau menungguku untuk mensejajarkan langkah. Ayah pulang dengan langkah yang demikian gontai, seperti melepas sebuah ikatan pada hatinya.

Malamnya, Ayah mengisahkan sebuah cerita yang selama ini terkubur jauh di dasar hatinya. Seperti masa kecil dulu, kudengarkan dengan seksama cerita Ayah. Cerita Ayah kali ini masih sedikit sama: Tentang sebatang pohon khuldi yang tumbuh besar di belakang rumah kami. Pohon yang dijaga seekor ular besar bersisik coklat, bermata merah, bertaring penuh bisa. Sebatang pohon yang berbuah merah laksana darah.

Kata Ayah, sebelum raja ular itu bertahta di sana, telah tinggal Adam dan Hawa bersama seorang putra mereka. Mereka bahagia, sebelum pada suatu masa, Hawa tergoda dengan sebutir khuldi terlarang milik seekor ular yang menjelma menjadi teman kerjanya. Dan Adam mengetahui itu secara tak sengaja. Sebenarnya, Adam telah memaafkan Hawa, terlebih Hawa telah meminta maaf. Adam pun tak ingin anak mereka ikut terseret dengan masalah sebutir khuldi terlarang itu. Tapi rupanya, lantaran perasaan berdosa dan malu yang tiada terkira pada Adam, Hawa terbujuk rayuan raja ular yang menjaga batang khuldi di belakang rumah mereka. Petang itu, ketika Adam pulang, Hawa telah raib. Ketika ditemukan, sosoknya terbujur di bawah batang khuldi belakang rumah, lehernya membiru dipatuk ular bersisik coklat yang melingkar di dahan paling dekat pokok batang.

Setelah menuntaskan cerita, Ayah bangkit dari duduknya dan menenggelamkan dirinya di dalam kamar. Seperti petangnya, Ayah tak memberi kesempatan kepadaku untuk melontarkan tanya yang menggorok-gorok batang leherku.

♦ ♦ ♦ ♦

Petang itu, saat aku pulang dari kantor, aku tak menemukan Ayah di dalam rumah. Aku cemas. Pikiranku langsung tertuju dengan satu hal: Pohon khuldi. Kemarin Ayah telah melanggar pantangannya. Benar saja, aku menemukan Ayah terbujur di bawah pohon khludi itu, leher Ayah membiru dipatuk seekor ular bersisik coklat yang melingkari batang tenggorokkannya dan berbelit pada dahan paling dekat pokok batang. Di meja makan, Ayah menuliskan secarik surat.

Saat Hawa terlempar dari surga karena sebutir khuldi terlarangnya. Sesungguhnya, Adam pun ikut terlempar. Karena rasa cintanya pada Hawa, Adam mencoba segigit rasa buah khuldi itu. Itu mengapa, Ayah mengikuti bujukkan raja ular penjaga pohon khuldi di belakang rumah kita. Jangan sesekali kau dekati pohon itu, karena raja ular bersisik coklatnya akan mematuk lehermu sampai putus. (*)

C59, tengah malam di kamarku, 2010.

By AlamGuntur Posted in cerpen

6 comments on “Khuldi (Tribun Jabar, lupa tanggal & bulannya)

  1. saya tidak tahu pesan apa yang ingin disampaikan oleh tulisan di atas, tetapi saya senang membacanya. Saya kira penulisnya bisa menjadi pendongeng yang mahir, kalau saja mau .Salam kenal dari saya oldman Bintang Rina

  2. bang, jelasin maksudnya.. Aku nggak dapat. Aku kira, endingnya itu akan tertuju pada seorang ibu. Dimana ibu telah duluan dipatuk seekor ular. Makanya sang ayah ngikutin jejak karena begitu cintanya ia pada istrinya. Seperti adam dan hawa itu.

    • Tapi metafor banget, Bang. Harus jeli ngebacanya. Kalau enggak, maka inti dari cerita nggak dapat. Thank before🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s