Gadis Buruk Rupa dalam Cermin (Radar Surabaya, 16 September 2012)

SEJAK gadis-gadis memiliki cermin dalam bilik, mereka selalu mengajukan pertanyaan yang sama: “Cermin ajaib, siapakah gadis tercantik di dunia?” Dan jawaban yang mereka terima pun tetap sama, “Ratu Ravenna-lah yang tercantik.”

Bila mendengar jawaban yang sama, gadis-gadis itu pun lekas-lekas menjangkau bedak. Mengoleskan pupur halus yang didapat dari abu jenazah gadis malang buruk rupa di pipi mereka. Lalu, mereka pun akan mengoleskan gincu merah tebal-tebal, gincu yang juga di dapat dari darah gadis buruk rupa.

Ai, sadarkah mereka para gadis. Dulu, dulu sekali, sebelum Ratu Ravenna menjadi perempuan tercantik di dunia, dia sudah menempuh ritual yang paling menakutkan. Tak sekedar berpupur abu jenazah, apalagi hanya bergincu darah perawan buruk rupa. Ada yang lebih mengerikan dari itu. Jauh lebih mengerikan. Hingga hal paling menakutkan yang ia lakukan itu, tak sekali pun dilintaskan iblis paling jahat di dunia dalam otak mereka. Ajaibnya, Ratu Revenna melakukannya dengan senyum kebahagiaan. Mungkin. Mungkin kecantikan memang membuat perempuan rela melakukan apapun.

Tersebutlah, pada masa Ratu Ravenna masih seorang perempuan berwajah setan. Berkulit keriput dengan gigi-gigi busuk. Rambutnya panjang terurai, tetapi tak sehalus sutra, melainkan kasar-kasar serupa ijuk. Uban pun sulam-menyulam. Mata bergelambir, punggung membungkuk. Persis nenek sihir dari negeri hantu.

Telah ratusan kali, mungkin pula ribuan kali. Ah, tidak! Pasti berjuta-juta kali, Ratu Revenna meratapi nasibnya yang buruk. Bila orang-orang tak tahu ihwal dirinya, pasti akan menerka kalau ia nenek tua yang hampir sekarat. Nenek bau tanah yang hampir menemukan masa untuk kekal di neraka. Duh-duh, mereka salah. Ratu Revenna seorang gadis belia, baru berusia tujuh belas. Wajah setan dan tubuh nenek sihirlah yang membuatnya demikian mengerikan.

Perihal dirinya yang buruk rupalah, membuat ia menderita siang dan malam. Orang tuanya pun malu dan tak menganggapnya ada. Bahkan, pada malam hujan berbadai. Ayah dan ibunya yang jadi harapan terakhir, telah melakukan persekongkolan paling keji atas dirinya.

“Kita sembelih atau tenggelamkan dengan batu di dasar sungai?” pertanyaan  ibunya itu masih ia ingat dengan jelas. Ketika ia diam-diam mencuri dengar mufakat keji antara mereka. Dan ayahnya yang berwajah sangar itu tak tega. Katanya, ia tak akan sanggup mengasah parang lalu menyembelih putrinya seperti seekor ayam. Ia pun tak kuasa mengikatkan batu-batu berat lalu menjatuhkan putrinya ke dasar sungai. Tapi, ia pun tak sanggup menerima kenyataan dan olok-olok khalayak, kalau putrinya berwajah setan.

Akhirnya, dipilihlah keputusan paling keji di antara yang terkeji dalam pikiran mereka. Malam berbadai itu, mereka akan membuang Ratu Revenna ke hutan terlarang. Hutan sarang binatang buas. Hutan tempat bersemayam setan dan dedemit paling sangar. Itu pilihan terbaik. Biarkan Ratu Revenna mati diterkam binatang buas, dijadikan budak setan, atau bunuh diri karena tak tahan.

Malam jahanam itu benar-benar ditunaikan. Ratu Revenna dibawah menyelinap, mulut dibekap, kaki dan tangan diikat. Tak ada satu pun penduduk yang sadar, kalau sepasang suami-istri telah bertindak keji pada anaknya yang buruk rupa. Ah, kalau pun mereka menyadarinya, pasti mereka akan berpura-pura buta, seolah tak melihatnya.

Tak ada airmata tanda menyesal dari wajah ibunya, pun dari ayahnya. Padahal, Ratu Revenna menunggu-nunggu itu. Bahkan tak ada ucapan selamat tinggal. Ia dilepas begitu saja. Seperti seekor binatang yang dikembalikan ke alam raya. Ratu Revenna menyangga hatinya. Ia mengeraskan jantungnya. Ditanggulnya kedua kelopak mata. Tak boleh ada tangis di sana. Tak akan ada yang iba melihatnya menangis darah sekali pun.

Lolongan serigala liar menyambut kedatangannya. Seperti menyambut kawan lama yang sudah ditunggu beribu tahu lampau. Gagak-gagak hitam seketika riuh, berkoak-koak. Hutan terlarang menggeliat, para dedemit dan setan yang bersemayam tersentak. Gerangan apa yang membuat binatang kematian demikian suka cita?

♦ ♦ ♦ ♦

BEGITULAH, para dedemit dan setan hutan terlarang menyambut kedatangan Ratu Revenna yang buruk rupa. Mereka menggodanya untuk jadi budak. Berkongsi membangun kerajaan iblis di luar hutan terlarang. Mulanya, Ratu Revenna bergeming. Ia tak tertarik. Ia tak mau kekuasaan. Ia cuma ingin satu saja: Mati!

“Kami akan memberimu kecantikan abadi. Dengan kecantikan itu kau akan membalas segala perbuatan keji. Termasuk membuat seluruh bujang berbadan kekar dan tampan bertekuk lutut tak berdaya. Semua bujang. Bahkan bila kau mau, seluruh bujang di dunia ini akan rela menjadi selimutmu.”

Itulah iming-iming yang diberikan dedemit dan setan hutan terlarang.

“Bayangkan,” bisik sesosok dedemit berwajah serigala, “Kau akan secantik bidadari khayangan. Seperti ini,” sekejap kemudian dedemit itu beralih rupa, wajahnya telah berubah jelita. Seumur-umur hidupnya, Ratu Revenna belum pernah melihat gadis sejelita di depannya. Termasuk Cinderella yang disebut-sebut orang dusunnya sebagai gadis tercantik di kampung mereka.

“Tak hanya cantik,” desis siluman ular sembari bergelung di samping Ratu Revenna, “Kau pun akan jadi penguasa. Kami akan membunuh ratu sekarang. Lalu, mempertemukan dirimu dengan sang raja. Raja akan tergila-gila dan menikahimu. Nah, kau bayangkanlah itu,” bisik sang ular di telinga Ratu Revenna.

Seketika, bayangan kecantikan dan hidup yang menyenangkan terbentang dalam pikiran Ratu Revenna. Ia membayangkan dirinya secantik bidadari khayangan. Lalu, seluruh bujang tampan di penjuru negeri memimpikan dirinya saban malam. Bahkan ada yang datang suka rela untuk jadi budaknya, termasuk menyediakan badannya sebagai alas kaki Ratu Revenna agar tak terkena kotoran.

Tak hanya itu, seluruh gadis di seluruh negeri akan sakit hati dan mati perlahan karena iri. Mereka akan berpupur tiap menitnya, akan memoleskan gincu tiap detiknya. Hingga wajah mereka mengeras karena pupur, bibir bengkak karena gincu.

Ah, Ratu Revenna kian melambung ketika membayangkan sang raja akan tergila-gila juga kepadanya. Seluruh orang yang dulu mengolok-olok muka setannya, akan mencium tanah ketika ia lewat. Bahkan ayah dan ibunya akan meratap-ratap, melolong minta pengampunan. Seandainya dijadikan babu oleh Ratu Revenna, kedua orangtua keji itu pun akan suka cita menerimanya.

“Lalu, apa imbalan yang kalian pinta?” tanya Ratu Revenna dengan suara mendesis. Ia sedikit gemetar menanyakan itu. Ia paham, semua itu tak cuma-cuma. Sangat paham.

“Darah gadis dan bujang, Revenna,” desis para dedemit serentak. Mata mereka berkilat. Terang, seperti belati yang sangat tajam. Siap menikam hati Ratu Revenna yang berdenyut cemas.

“Apa aku bisa?” Ratu Revenna bergidik, membayangkan ia akan membunuh orang-orang. Ah, tapi hatinya sudah mantap. Tidaklah akan ia lupakan derai tawa bujang-gadis yang mengolok-olok wajahnya ketika satu-dua kali bertatap muka. Bahkan ada bujang yang meludah jijik saat mata Revenna menatapnya tajam. Mungkin, ia paham hati Revenna berharap disentuhnya.

“Kami akan membantu. Percayalah. Kami akan membantu. Bila kau setuju, Revenna,” seringai dedemit-dedemit itu dengan senyum menggoda. Ratu Revenna pun mengangguk mantap. Seketika langit berdentam. Serigala liar melolong bersahut-sahutan. Di ranting-ranting pohon yang berselimut pekat, gagak-gagak hitam berkoak ramai. Kesepakatan telah tercapai.

♦ ♦ ♦ ♦

SEPERTI yang dijanjikan para dedemit. Ratu Revenna mendapatkan semuanya. Wajah setannya berubah dalam sekejap mata. Tubuh nenek sihirnya seketika menghilang. Ia menjelma menjadi gadis jelita dalam semalam. Tak hanya itu, negeri seketika berkabung. Ratu mati mendadak tanpa sebab. Begitu saja. Tak bernapas. Lalu, raja yang hobi berburu tiba-tiba bertemu Ratu Revenna. Jatuh cinta dan memboyongnya ke istana.

Kegemparan terjadi di luar istana. Orang-orang di dusun Ratu Revenna merasa tak asing dengan nama ratu mereka yang anyar. Revenna. Ah, tidakkah nama itu begitu akrab di telinga. Lalu, semua mata menjurus ke arah rumah kedua orang tuanya. Keduanya ditemukan membusuk dengan leher putus.

Berakhir demikiankah cerita ini? Tidak. Tiap malam bulan purnama, ada kengerian yang datang mencekam. Tiba-tiba saja terjadi hal menakutkan. Gadis-gadis berwajah jelita mati satu persatu secara mengenaskan. Wajah mereka mengerut, serupa nenek keriput, dan tak setetes darah pun tersisa di tubuh mereka. Tak hanya gadis-gadis, bujang-bujang elok rupa dengan badan gempal pun ikut-ikutan mati mendadak. Rata-rata ditemukan bugil dengan kematian yang mirip sang gadis. Mengerut.

Ah, malam berbulan menjadi momok menakutkan. Terlebih bila terdengar lolongan serigala di kejauhan dan koakkan gagak hitam di atas kampung mereka. Seketika, gadis-gadis berwajah jelita dan bujang-bujang rupawan meringkuk cemas. Malam yang benderang karena cahaya bulan, kini menyimpan kematian bagi mereka.

Semua itu karena Ratu Revenna ingin menyempurnakan kecantikannya, selain membayar janji pada dedemit hutan terlarang. Tersebab, setiap ia bertanya pada cermin ajaibnya: “Siapa perempuan tercantik di dunia?” Cermin menyebalkan itu selalu memberikan jawaban yang sama, “Putri Salju-lah yang tercantik, Ratuku.”

Seketika darah Ratu Revenna mendidih. Anak tirinya itu memang memiliki kulit lebih halus dan putih darinya. Bibir lebih merah. Rambut lebih hitam. Mata lebih berbinar. Semua hal yang melebih kecantikannya. Ia kesal. Ia tak terima. Ingin sekali ia membunuhnya lekas-lekas, menghisap darahnya hingga tandas. Tapi, itu tak bisa ia lakukan di dalam istana. Lalu, atas bantuan para dedemit terciptalah muslihat itu. Putri Salju terusir dari istana. Ratu Revenna seketika menyusun rencana. Bukan hal yang sukar, tapi ia menginginkan yang sempurna.

Pada pagi yang masih terbilang kelam, Ratu Revenna datang menyelinap, beralih rupa jadi nenek penjual apel. Ia menawari Putri Salju sebiji apel merah, memaksanya menggigit sepotong. Dan Putri Salju jatuh terkapar. Seketika tawa Ratu Revenna membahana. Keinginannya telah purna. Dan tujuh kurcaci pun ikut tertawa senang.

Rencana mereka tinggal selangkah. Menunggu kedatangan pangerang negeri seberang, pangeran rupawan yang mencari putri untuk dijadikannya istri. Inilah rencana pamungkas. Ratu Revenna sudah bosan jadi istri seorang raja tua. Ia mau yang lebih muda, yang lebih bergairah dan hangat.

♦ ♦ ♦ ♦

KISAH ini memang berakhir bahagia bagi Ratu Revenna. Ia membunuh Putri Salju. Menghisap darahnya hingga tandas, lalu ia beralih rupa, menjadi putri salju yang tertidur dalam peti kaca. Pangeran rupawan itu datang, menciumnya hingga terbangun. Dan para kurcaci tertawa senang bersama dedemit hutan terlarang.

Demikianlah, cerita ini melegenda. Dan gadis-gadis yang baru memiliki cermin dalam bilik selalu bertanya: “Siapa gadis tercantik di dunia?”. Jawabannya tetap sama. Ratu Revenna. Mereka pun berlomba-lomba, mengoles pupur dari abu jenazah dan gincu darah perawan. (*)

C59, 04-05 Juni 2012. Kutulis untuk Mbak Intan Paramaditha yang banyak memberiku inspirasi lewat tulisannya.

By AlamGuntur Posted in cerpen

3 comments on “Gadis Buruk Rupa dalam Cermin (Radar Surabaya, 16 September 2012)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s