Lola (Tribun Jabar, 6 Januari 2013)

DI awal perkenalan kami, ia mengaku namanya Lola. Hanya Lola. Tak ada nama keluarga atau lainnya. Ah, aku tak ingin mempermasalahkan itu. Bagiku tak terlalu penting nama belakangnya siapa –ternyata pada perpisahan kami nanti, aku merasa nama belakang itu menjadi demikian penting. Gaya berpakaiannya yang menurutku demikian penting malam itu. Bayangkan saja, seorang perempuan berambut pirang, duduk di salah satu kursi bar bernama BetelNut di Ubud-Bali tapi berbusana seperti perempuan Indian. Tidakkah itu ganjil? Oh, mungkin lebih tepatnya menarik.

Ia duduk sendiri, di pojok bar. Segelas wiski atau mungkin brendi ada di tangannya. Sementara itu penyanyi cantik asal Kamboja yang menjadi idola malam ini, sudah membuat hampir seluruh pengunjung bar menari. Dan perempuan berpakaian ala Indian itu masih bergeming di kursinya.

Aku bangkit dari dudukku. Sebenarnya obrolan dengan Justin Torres dan Marcela Romero sangat menyenangkan. Mereka bercerita banyak tentang dunia literasi di Amerika dan Meksiko, negara asal mereka. Namun perhatianku mendadak berubah ketika melihat sosok perempuan itu. Kutinggalkan saja Justin dan Marcela. Putu Gede Pradipta dan Arif Fitra masih bisa menemani mereka.

Matanya masih tertuju ke arah penyanyi Kamboja itu ketika aku menduduki kursi yang ada di sebelahnya. Ia tak menatapku. Mungkin kedatanganku tak mengganggunya.

“Apa kau ingin menambah minummu, Nona?”

Ia langsung menoleh saat aku berbicara setengah berteriak di sampingnya, melawan hentakan musik yang ingar di dalam bar. Beberapa detik kemudian, ia mengalihkan matanya pada gelas di tangannya. Gelas itu sudah kosong.

“Boleh,” suaranya terdengar begitu merdu. Aku mendekatkan kursiku. Kulambaikan tangan pada bartender. Gelas itu kembali terisi. Bartender itu pun menuangkan brendi untukku.

“Siapa namamu?”

“Lola,” ia menyahut dan kembali menatap ke arah penyanyi Kamboja dan pengunjung bar yang semakin meliuk-liukan badannya, mengikuti irama musik yang menyentak seiring malam merangkak.

“Saya Budi,” aku menyebut namaku walau ia tak bertanya.

Beberapa menit kami terdiam. Aku sedikit kebingungan untuk memulai obrolan kembali. Mata birunya begitu fokus tertuju ke arah para pemain musik dan pengunjung bar yang semakin memenuhi lantai untuk menari.

Tak ada yang istimewa dari sosoknya. Ia seperti perempuan Eropa kebanyakan. Rambut pirang, mata biru, kulit pucat, tinggi yang semampai, bibir tipis dengan mulut mungil. Hanya saja pakaiannya itu terlalu mencolok untuk pengunjung sebuah bar di Ubud. Ah, apakah aku terlalu berlebihan?

“Apa kau berasal dari Amerika?” aku ingin menyebutkan salah satu kota tapi kuurungkan.

“Ya, San Fransisco.”

Aku meneguk sedikit brendi yang ada di gelasku. Sebenarnya, aku bukan peminum alkohol yang baik. Aku gampang sekali mabuk dan bila mabuk, biasanya racauanku akan sedikit parah. Tentu aku tak ingin terlihat demikian konyol di depannya.

“Aku suka menari. Sayangnya, aku tak punya teman untuk turun ke lantai sana,” kulirik ia lewat ekor mataku. Ia masih tak mengubah posisi duduknya. Seperti semula ketika aku duduk di sebelahnya.

“Aku penari yang buruk.”

Ia meminum lebih dari setengah isi gelasnya.

“Di bar seperti ini, tak akan ada yang peduli. Apa tarian kita buruk atau bagus?”

Ia menatapku. Tajam. Entahlah, aku merasa tatapan matanya itu terlalu misterius. Dingin. Menusuk. Namun diwaktu bersamaan seperti ada kobaran api di dalam retinanya. Seperti sebuah gairah. Berkobar-kobar. Dan ia terlihat mati-matian menikamnya.

“Di kotaku tidak demikian,” ia kembali menyahut, lalu menandaskan isi gelasnya. Aku kembali melambaikan tangan pada bartender yang setia di balik meja, lelaki itu kembali mengisi gelas Lola.

“Mereka akan melemparimu tomat bila kau menari dengan buruk,” ia terkekeh. Tawanya terdengar begitu satir di telingaku.

“Benarkah?” aku mencoba terkejut walau itu terdengar konyol. Lemparan tomat di dalam bar? Aku tersenyum kecil, “Tak ada tomat di sini. Jadi kau tak usah khawatir.”

“Tapi banyak gelas dan botol,” tukasnya cepat.

Aku senyap. Ia pun diam. Mata birunya kembali tertuju pada pengunjung bar yang semakin ramai memenuhi lantai untuk menari. Kursi-kursi sudah kosong. Bahkan Justin, Marcela, Arif, dan Putu Gede sudah berbaur dengan mereka, menggoyangkan badan mengikuti irama musik.

Aku semakin yakin kini, kalau mata biru itu sedikit berkobar-kobar. Seolah ada api yang membakar di dalam sana. Timbul-tenggelam. Sepertinya, ia tengah berusaha melawan sesuatu yang dikehendaki narulinya.

“Aku pun penari yang buruk. Tapi aku suka menari.”

Ia menoleh padaku. Sekilas, beberapa menit mata kami bertaut. Lalu ia terburu membawa matanya kembali ke arah kerumunan pengunjung bar yang sudah dirasuki musik.

“Mengapa kau belum pulang selarut ini?” ia berkata tanpa menoleh padaku, “Pasti istrimu menunggu dengan cemas.”

“Aku masih lajang,” jawabku cepat.

Lagi, ia menoleh. Matanya sedikit menukik, retina itu menatap sangsi. Pun gurat-gurat di wajahnya yang terlihat pucat. Ada seringai ejekan di wajahnya.

“Tak di Grass Valley atau pun BetelNut, lelaki pandai sekali berdusta.”

Aku melipat kening mendengar kata-katanya itu. Sedikit tak paham. Grass Valley. Kupikir itu pasti nama bar yang ada di kotanya, bar yang kerap ia kunjungi.

“Aku jujur,” kembali kuteguk sedikit isi gelasku.

“Sudah berapa banyak perempuan yang percaya? Lalu mau ikut menginap di kamar yang kau sewa?”

Aku hanya tersenyum kecil.

“Aku tak mengajakmu untuk menginap di kamarku malam ini. Aku hanya ingin mengajakmu menari. Menikmati malam di Ubud dan bercerita tentang festival tahunan ini.”

“Para penambang akan memberiku bunga dan gumpalan emas setiap aku menari. Apa kau bisa memberiku hal itu?”

“Ini bukan San Fransisco, Lola,” aku meminum hingga tandas isi gelasku, “Bukanlah pula bar Grass Valley, apalagi tempat para penambang, koboi, atau pun suku Indian. Ini Ubud. Jadi aku hanya bisa memberikan keramahan padamu.”

Ia tersenyum. Jemarinya yang lenting meletakan gelas kosongnya ke atas meja bartender. Ia mengulurkan tangan padaku. Aku tergesa menaruh gelasku di atas meja lalu menyambut uluran tangannya. Suara nyanyian penyanyi cantik asal Kamboja itu terdengar semakin merdu di telingaku. Irama musik yang ingar membuat aku begitu bersemangat. Dan kulihat kobaran di retina Lola semakin menyala-nyala.

♦ ♦ ♦ ♦

AKU sedikit terkejut ketika Lola mulai menari. Kupikir, ia sedikit benar: Tariannya sangat buruk. Mungkin itu juga alasannya tak ingin kuajak menari di tengah kerumunan pengunjung bar. Ia memilih mengajakku menari di pojokan bar, bahkan nyaris di lorong toilet.

“Tarianmu membuat dadaku sesak,” aku membisikan kata-kata itu di telinganya. Wajah pucat Lola sedikit kemerahan.

“Mereka menyebutnya tari laba-laba.”

Ah, nama itu memang pas untuk tarian yang baru saja Lola perlihatkan padaku. Ia menari seolah-olah banyak laba-laba besar sedang merambati badannya. Dan ia berusaha sekuat tenaga membuat laba-laba itu agar terlepas dari tubuhnya. Berguncang-guncang. Mengacak-acak tangan ke badan. Aku nyaris pingsan melihatnya tadi. Dadaku seakan hendak meledak.

“Para penambang emas sangat menyukai tarianku itu walau buruk,” ceritanya tanpa diminta. Aku kembali berkernyit. Ceritanya sedikit tak kupahami.

“Itu tarian buruk. Aku tak bisa menari tapi aku perlu uang untuk hidup. San Fransisco terlalu kejam untuk perempuan lajang sepertiku yang tak punya keahlian apa-apa. Sayangnya gara-gara tarian itu aku dibenci oleh istri para penambang. Bukan salahku. Salah suami mereka yang mata keranjang.”

“Aku masih lajang,” ucapku untuk kesekian kalinya.

Ia tak berkata apa-apa, melangkah tergesa menuju bartender, memesan segelas minuman, lalu meneguknya hingga tandas. Setelah itu ia terburu menuju pintu keluar bar. Aku segera meletakan beberapa lembar uang di atas meja bartender lalu menyusulnya.

“Ini belum pagi untuk pulang,” ucapku sambil menyajarkan langkah.

“Aku tak ingin kena sinar matahari. Kulitku akan terbakar.”

Aku menatap jam di pergelangan tanganku, masih jam empat subuh.

“Kau seperti perempuan vampir yang tak ingin kena sinar matahari.”

Ia menghentikan langkahnya. Aku pun berhenti.

“Apa kau percaya adanya vampir?” mata birunya menatapku lekat. Aku mengangkat sedikit pundakku.

“Aku suka vampir. Aku suka menulis cerita gothik. Ah, mungkin kau pernah membaca tulisan Horace Walpole. Ia penulis gothik hebat dari Inggris.” Aku teringat nama itu.

Setidaknya, aku berharap ia mengenalnya. Sebab aku sangat yakin ia datang jauh-jauh dari San Fransisco untuk mengikuti Ubud Writers and Readers Festival. Tentu ia menyukai buku dan rela datang jauh-jauh ke sini.

“Kakekku mungkin mengenal dan berteman dengannya. Sebelum menetap di Amerika, kami pernah tinggal di Inggris.”

Aku tersentak. Tidakkah itu terjadi beratus tahun lalu?

“Kakek buyut maksudmu?”

“Ayah dari ibuku.”

Aku membatu. Menatapnya dengan pandangan tak percaya. Entah, aku tak tahu harus berkata apa padanya.

“Aku harus segera pergi. Tak usah berbaik hati mengantarku,” ia tergesa berbalik, “Oya, nama panjangku Lola Montez. Mungkin kau ingin tahu.”

Ia menghilang di balik kegelapan malam. Aku terpaku di depan Pura Ubud Dalem. Rasanya pertemuan ini terlalu ganjil. Juga obrolan kami. Apa ia tengah bergurau? Atau aku yang kelewat banyak menegak brendi hingga sedikit mabuk. Entahlah.

♦ ♦ ♦ ♦

SEPERTI  yang kukatakan di muka. Awalnya aku tak terlalu peduli dengan nama belakangnya. Namun ketika ia bercerita yang sedikit ganjil bagiku, aku merasa nama itu cukup penting. Ia secara tersirat mengatakan padaku, kalau ia berasal dari ratusan tahun lalu. Aku tak ingin peduli. Kuanggap saja aku tengah mabuk dan tak fokus dengan ceritanya. Tapi aku tak bisa menguasai rasa penasaranku. Terlebih ketika aku samar-samar mengingat, rasanya nama Lola Montez itu cukup akrab diingatanku. Dimana?

Dan aku menemukannya dalam ingatan, di buku cerita yang pernah kubaca saat kanak-kanak. Buku seri pengetahuan disney’s. Aku semakin tercekat ketika menemukan foto dan kisah hidupnya di wikipedia. Perempuan berpakaian ala Indian di BetelNut itu sama persis dengan foto yang terpampang di sana. Hanya saja ia terlihat lebih pucat malam itu. Sangat pucat. Seolah kulitnya tak berdarah. Seperti kulit vampir yang haus darah. (*)

Sania’s House, Ubud Writers and Readers Festival, 5-8 Oktober 2012.

By AlamGuntur Posted in cerpen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s