Anak Bujang (NOVA, 29 April – 5 Mei 2013)

“ANAKMU perempuan,” ucap dokter sambil tersenyum. Seketika aku membawa retina ke arah Bang Rifan. Wajah getirnya membuatku memejamkan mata. Aku bisa menahan rasa sakit selepas melahirkan ini. Namun rasa perih di dalam hatiku tentu bukan hal mudah.

Bang Rifan tak berkata apa-apa. Ia hanya menggenggam jemari tangan kananku. Aku pun senyap. Pertaruhan nyawa ini terasa sia-sia bagiku.

Keringat masih meluncur dari keningku. Ia serupa ingatan yang mengalir deras dalam kepala. Aku ingin menghalaunya dengan memejamkan mata. Tetapi justru kenangan itu semakin nyata.

Ah, apa yang aku cari dari kenangan? Tak ada. Tersebab kenangan dalam kepalaku ini seumpama hutan belukar. Di hutan itu tumbuh pohon-pohon berduri, ada pula ular-ular berbisa yang bersarang. Semua yang ada di hutan kenangan itu akan melukaiku.

“Kalau istrimu tetap tak bisa melahirkan anak bujang. Kamu harus menikah lagi.”

Ucapan itu terluncur dari mulut ibu mertuaku. Aku yang mendengar secara tak sengaja pembicaraan mereka tersengat. Segera kutarik badan yang hampir menyembul dari pintu dapur. Kuintip Ibu dan Bang Rifan yang duduk di sofa ruang tengah.

Bang Rifan senyap. Tak ada sepatah kata yang ia ucapkan. Mungkin ia tengah menyusun kosakata yang paling tepat untuk menjawab permintaan ibunya.

Dadaku berdebar-debar. Aku menunggu dengan harap-harap cemas. Tentu saja aku berharap Bang Rifan akan menolak permintaan ibunya ini. Bukankah kami saling mencintai? Aku tak bisa membayangkan jika harus membagi cinta dengan perempuan lain. Aku tak sanggup bila suamiku akan tidur dengan perempuan selain aku. Bulu kudukku meremang.

“Iya, Bu,” jawab Bang Rifan pelan.

Seketika aku merasa tulang belulangku seperti dilolosi satu per satu. Aku nyaris terjatuh ke lantai kalau tak berpegangan pada tepi daun pintu. Sungguh, aku tidak pernah menduga Bang Rifan akan menjawab seperti itu.

***

MUNGKIN ini akan terdengar lucu dan kuno sekali. Di kota kecil yang sudah tersentuh kemodernan serupa Muara Enim, masih saja ada kejadian seperti ini. Atau karena adat terlalu mengingkat dan mencengkram kuat kami sampai ke seluruh aliran darah. Entahlah, aku tak tahu.

Orang-orang tua di sini masih berpegang teguh dengan adat dan kepercayaan. Seorang perempuan tidak akan dianggap sempurna bila ia tidak mampu melahirkan anak laki-laki untuk suaminya. Seberapa banyak pun anak perempuan yang ia lahirkan. Ia tetap bukan perempuan sempurna.

Garis kehormatan dan keturunan diukur pada anak laki-laki. Sebuah keluarga dianggap akan terus ada, selama keturunannya melahirkan anak laki-laki. Anak laki-laki yang akan jadi pewaris harta. Anak laki-laki yang meneruskan dan menjaga rumah adat limas. Anak laki-laki yang menjadi penentu semua itu.

Aku mendesau. Mengusir galau dan gundah yang bersarang dalam dada. Bang Rifan senyap di tepian ranjang. Ia tak berkata sepatah kata pun setelah aku mengutarakan kekecewaan atas dirinya. Aku kecewa karena ia tak membelaku di depan ibunya.

Terkadang aku tidak mengerti, mengapa Bang Rifan yang berpendidikan tinggi dengan pergaulan hidup sebegitu luas masih bertekuk lutut pada ketidak-adilan ini? Apa karena ia seorang laki-laki? Jadi ia tidak merasakan betapa sakitnya berada di posisiku. Atau ia memang sudah bosan padaku dan ingin mendekap perempuan lain? Bisa jadi. Mungkin badanku tak seindah awal menikah dulu. Aku sudah tiga kali melahirkan.

“Kita berusaha dulu sekali lagi,” ucap Bang Rifan tiba-tiba, mengusir senyap yang memenjarakan kami.

Aku mengangkat wajah, menatapnya. Mata kami bertaut. Ada riak-riak tidak berdaya dalam retina Bang Rifan. Aku paham sekarang. Mungkin posisinya tidak juga bagus. Ini seperti buah simalakama baginya. Di lain sisi, ia mencintai aku dan anak-anak kami. Namun pada sisi alin, ia mencintai orangtuanya yang begitu teguh memegang adat ini.

Aku mendongakkan wajah menyadari itu semua. Kutahan tangis yang hendak tumpah. Tangis itu sebenarnya sudah dari tadi hendak keluar. Aku masih saja menahannya. Tapi kini, aku tak mampu membendungnya lagi. Air mataku tumpah tanpa bisa kucegah. Seolah tanggul di mataku jebol. Aku terisak, bahuku terguncang. Tangisku malam ini bergulung-gulung bersama emosi yang bersarang dalam dada.

Bang Rifan menggeser badannya. Ia menjangkau badanku. Tanpa suara, ia memelukku. Kubasahi baju dan dadanya itu dengan airmata.

***

“KALAU kamu tak mau dimadu, kamu harus ikuti petuahku.”

Itu ucapan yang ibu mertuaku lontarkan saat aku sibuk di dapur untuk memasak makan siang. Aku seketika mengangguk kecil, tanpa menyahut apa-apa. Mungkin Bang Rifan sudah membuat kesepakatan pada ibunya, kami ingin mencoba sekali lagi.

“Aku dulu juga dua kali melahirkan anak perempuan sebelum akhirnya melahirkan Rifan,” ceritanya tanpa diminta.

Aku menghela napas. Bang Rifan memang anak lelaki satu-satunya. Kedua kakak Bang Rifan perempuan, ayuk Dahlian dan ayuk Ivo.

Ah, bukankah seharusnya ibu mertuaku paham dengan perasaanku kini? Betapa aku sakit mendengar kata-katanya kemarin itu. Betapa aku sekarang cemas sekaligus risau karena ia menuntut aku melahirkan anak laki-laki. Bukankah ia paham? Tersebab dulu, ia pun pernah berada di posisiku ini. Dua kali melahirkan anak perempuan sebelum akhirnya melahirkan Bang Rifan. Apa ia lupa rasanya berada di posisiku?

Aku menatap dengan saksama ibu mertuaku lewat ekor mata. Ia duduk di depan meja makan sambil mengupas sayuran. Apa mungkin ia tak punya perasaan? Atau ini cara ia membalas dendam atas sakitnya dulu.

Aku yakin, dulu ia pun gundah ketika neneknya Bang Rifan menuntut ia agar segera melahirkan anak laki-laki, karena kedua anaknya perempuan. Di dalam keluarga ini seperti mempunyai kutukan. Selalu saja sulit mendapatkan anak laki-laki. Tapi ujungnya selalu membahagiakan, karena mereka bisa melahirkan anak laki-laki di saat-saat tergenting pada posisi mereka. Akankah akhir yang manis juga tertulis untukku?

“Kamu jangan masak nasi dengan listrik,” ucap ibu ketika melihatku hendak memasukkan beras yang sudah kucuci bersih ke dalam rice cookers. Aku seketika menghentikan gerakan tanganku.

“Kamu masak dengan mengukus,” sambungnya, aku terbelalak mendengar ucapannya itu. Apakah aku salah dengar?

“Sebelum dikukus, kamu aron dulu nasinya sampai setengah matang,” ibu kembali berkata tanpa peduli dengan wajah terkejutku. “Nah, saat mengaron itu. Kamu pakai kayu ini sebagai pengaduknya,” ibu mengeluarkan sebuah kayu sebesar jempol tangan yang panjangnya sekitar empat puluh sentimeter.

“Ini kayu ribu-ribu. Diberikan ibu mertuaku dulu,” ceritanya. “Saat kamu mengaron nasi itu. Setiap nasi yang melekat di kayu ini kamu makan. Setelah nasi matang dikukusan, kamu simpan kayu ini di bawah kasurmu dan Rifan. Ini syarat agar kamu bisa hamil anak bujang.”

Aku menelan ludah. Ternyata ini petuah yang ibu mertuaku maksudku. Ia tengah memintaku untuk melakukan kepercayaan turun-temurun dalam masyarakat di sini. Pikiranku sedikit berontak. Ini tidak masuk akal. Apa bisa sebatang kayu pengaron nasi menentukan jenis kelamin anak yang akan kukandung nanti? Aku ingin mengatakan itu pada ibu mertuaku. Namun kuurungkan. Aku memilih mengalah. Aku mengikuti keinginannya.

Tak hanya batang kayu itu saja yang ibu mertuaku petuahkan. Ia pun memintaku memakan pisang ambon setiap hari Kamis malam Jumat. Katanya, malam Jumat disunnahkan nabi bagi suami istri untuk berhubungan. Lagi, lagi, aku tak membantah. Aku pun mengikuti petunjuknya.

Aku juga dianjurkan makan belut. Bahkan posisi berhubungan suami istri pun ibu mertuaku memberikan petuahnya. Aku tiba-tiba merasa semua hal tentang diriku diatur sedemikian rupa olehnya agar sesuai dengan syarat dan petuah leluhur agar aku bisa melahirkan anak laki-laki.

“Kamu mungkin merasa ini tak masuk akal,” ucapnya ketika melihat wajahku yang mulai menunjukkan pemberontakkan akan petuahnya. “Tapi ini terbukti. Aku membuktikannya sendiri. Jadi semua terserah kamu. Kalau tak ingin dimadu, ikuti semua petuahku. Atau siap-siap berbagi kamar dengan perempuan lain.”

Aku seketika bungkam. Tak berani membantah.

Mungkin iya, tuntutan agar aku melahirkan anak laki-laki sudah menghilangkan akal sehatku. Aku tak ingin melihat Bang Rifan menikah lagi. Aku tak ingin dimadu. Aku tak pernah mau melihat Bang Rifan tidur dengan perempuan lain. Tentu akan terasa ganjil bila aku terjaga di tengah malam dan tak mendapati Bang Rifan di sebelahku. Saat itu aku akan tersadar, jika Bang Rifan tengah tidur bersama istri mudanya. Bulu kudukku meremang membayangkan itu semua.

***

AKU bahagia sekaligus cemas ketika menyadari, kalau aku sudah hamil kembali. Ibu mertuaku semakin banyak mengeluarkan petuahnya. Bang Rifan pun memupuk harapan yang besar pada bayi yang kukandung ini. Ah, mungkin harapan Bang Rifan tak seberapa dibanding harapanku.

Saat kandunganku menginjak usia lima bulan. Bang Rifan mengajakku untuk USG. Katanya, agar kami sudah mengetahui jenis kelamin anak keempat kami ini. Aku langsung menolaknya. Bukan karena aku tak penasaran dan yakin bahwa kali ini aku mengandung bayi laki-laki. Justru sebaliknya, aku merasa takut. Aku takut bayiku kembali perempuan. Karena itulah aku tak mau USG.

Aku sedikit lega ketika Bang Rifan tak memaksaku. Pun orangtuanya. Aku terus menata hati dan berdoa, agar kali ini anakku laki-laki. Aku menyemangati diriku sendiri. Walau bayang-bayang ketakutan itu terus saja menghantuiku seiring usia kandungan yang merangkak kesembilan bulan.

***

“APA ibu sudah tahu jenis kelamin anak kita?” tanyaku setelah dokter meninggalkan aku dan Bang Rifan saja.

Bang Rifan menatapku. Matanya sendu. Ia berusaha tersenyum tapi terlihat kecut di wajahku. Bang Rifan mengangguk kecil.

“Apa itu artinya Abang akan….” aku tak sanggup melanjutkan kalimatku sendiri.

Bang Rifan masih menggenggam jemarikuku. Ia tak berkata apa-apa. Tidak sepatah kata pun. Aku tak bisa menahan tangisku. Air mataku meleleh tanpa bisa kucegah. Aku menangis tanpa isak.

Bang Rifan masih tak bersuara. Ia seolah telah kehilangan mulutnya. Tangannya hanya terus menggenggam tanganku. Kebisuannya justru semakin menyiksa hatiku. Aku menatapnya. Wajahnya terlihat datar, tanpa ekspresi.

Ah, mengapa di zaman semodern ini masih saja mempertahankan adat dan pikiran kolot? Aku ingin bertanya demikian. Tapi aku tak sanggup untuk mengeluarkannya. Karena aku sudah disibukan oleh tangisan. (*)

C59, Oktober 2012.

By AlamGuntur Posted in cerpen

2 comments on “Anak Bujang (NOVA, 29 April – 5 Mei 2013)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s