Ketika Aku Menjadi Anjing (Inilah Koran, 12 Mei 2013)

AKU masih kesal dengan anjing sialan itu. Benar-benar binatang tak tahu diuntung. Sudah dirawat sebaik mungkin, tetap saja menggigit dari belakang. Mungkin benar kalau ada orang yang bilang, jangan merawat anjing kurus dari jalanan, nanti ia akan tetap menggigit. Dan itu terbukti.

Dadaku masih saja bergemuruh. Badai kemarahan di dalam sana belum jua reda. Rasanya, aku belum akan puas kalau tidak mencincang anjing sialan itu sampai lumat, kalau perlu membakarnya menjadi abu. Tapi, istriku buru-buru meminta Pak Amin menyingkirkan anjing keparat itu. Aku tahu, ia belum mati tadi. Mungkin tengah sekarat.

“Jangan berlebihan. Kasihan,” ucap istriku ketika mata merahku berkobar-kobar menatapnya.

“Binatang itu pantas mendapatkannya,” aku mendengus kesal. Aku masih mencengkram erat palu besi yang ada di tanganku, “Ia hampir saja memakan anak kita. Kau tahu itu. Aku melihatnya sendiri,” darahku masih meletup-letup.

“Doni tidak apa-apa, Pa. Cuma luka sedikit,” istriku masih saja membela binatang sialan itu. Heran, apa perempuan terlalu mudah jatuh iba?

“Kalau rabies bagaimana? Kamu ini.”

Kekesalan sudah bertumpuk-tumpuk dalam kepalaku. Semua ini tidak akan bisa kuurai bila belum dipuaskan. Dan cara untuk memuaskan kekesalan dan amarah yang bertumpuk-tumpuk dalam dada dan kepalaku ini cuma satu saja: Membuat binatang laknat itu mendapatkan ganjaran yang pantas. Mati dengan cara yang sangat mengenaskan dan menyakitkan.

“Dokter bilang tak ada apa-apa,” istriku masih membelanya.

“Ah, sudahlah. Suruh Pak Amin buang anjing keparat itu. Biar ia mati perlahan. Tak usah dibawa ke dokter segala,” aku pergi meninggalkan halaman belakang dengan menenteng palu besi yang berlumuran darah. Istriku senyap. Tak berkata apa-apa.

♦ ♦ ♦ ♦

KUPIKIR, rasa amarah ini akan reda bila aku sudah merendam tubuhku dengan air hangat di kamar mandi. Mengendurkan otot-ototku yang tegang karena anjing sialan itu. Nyatanya, sampai aku berbaring di tempat tidur, amarah masih saja bergumpal-gumpal. Serupa gulungan bola panas yang membakar di dalam dada.

Siapa yang tidak marah ketika mendapati anjing peliharaannya tengah menggigit anak semata wayangnya hingga berdarah? Aku melihat sendiri perbuatan terlaknat binatang kurap itu. Padahal, selama ini aku sudah memberinya makan yang jauh lebih baik dari anjing-anjing gelandangan di luar sana. Itukah balasan yang dilakukannya padaku? Ada perasaan menyesal ketika dulu aku mengikuti saran istriku untuk merawat anjing itu.

Muasalnya terjadi di hari Minggu pagi beberapa tahun lalu, saat aku dan istriku tengah berlari-lari kecil mengelilingi kompleks perumahan tempat kami tinggal. Kami menemukannya masih sangat kecil, kurus, tak terawat, dan terluka di bagian kaki. Ia berjalan terpincang-pincang mengikuti kami yang hanya melewatinya. Suara kecilnya terdengar menyayat hati, hingga istriku berhenti dan jatuh iba kepadanya.

Aku berusaha menolak ketika istriku meminta agar diizinkan membawanya pulang. Terus terang, aku tak terlalu suka dengan hewan peliharaan. Terlalu merepotkan. Perlu waktu yang tak sedikit untuk mengurusnya. Satu hal yang paling kubenci dari hewan peliharaan seperti ini, ia akan buang air kecil dan besar sembarang tempat. Apalagi anjing yang gemar memberi tanda pada hal-hal tertentu dengan kencingnya. Itu tentu saja sangat menjijikkan. Baunya membuat rumah tak nyaman.

Namun, aku tak kuasa menolak mata penuh harap istriku itu. Retina mata itu disesaki permohonan. Terlebih ketika aku mendengar suara pilu anjing itu. Rasa iba tiba-tiba menjalari dadaku. Aku tak tega meninggalkannya dengan kaki terluka dan lapar seperti itu. Kalau tak diselamatkan, ia bisa mati di sini.

Begitulah, kami membawanya pulang. Bahkan aku menemani istriku membawanya ke dokter hewan, agar kakinya yang terluka itu tidak membusuk dan cepat sembuh. Aku meminta dokter sekalian memberinya suntik anti rabies. Sejak saat itu, Morgen –demikian istriku memberinya nama yang artinya pagi dari bahasa Jerman karena kami menemukannya pagi hari, menjadi bagian dari keluarga kami.

Awalnya, aku menjaga jarak dengan Morgen. Bagaimana pun aku tetap tidak suka dengan hewan peliharaan. Tapi, usaha istriku untuk mendekatkanya padaku cukup berhasil. Mungkin karena sejak menikah kami belum jua dikaruniai anak, jadi kedatangan Morgen dalam rumah memberi suasana baru. Mungkin. Mungkin saja.

Keakrabanku dengan Morgen yang mulai terbangun kembali mengendur ketika istriku tiba-tiba saja memberi kabar kehamilannya. Itu berita paling menggembirakan yang pernah kudengar seumur hidupku. Setelah lima tahun menikah, ini waktu yang paling aku tunggu-tunggu.

Jadi, tidak salah bukan ketika aku sangat murka saat pulang kerja menemukan anjing sialan itu tengah menggigit anakku sampai berdarah di tangannya? Setelah menyelamatkan Doni, putra semata wayangku, dan membawanya ke dokter. Aku meminta Pak Amin mengikat binatang kurap itu di halaman belakang. Lalu, aku menghajarnya hingga sekarat. Aku ingin binatang laknat itu tahu, kalau ia pantas mendapat ganjaran atas perbuatan tercelanya itu.

“Mama pikir, Papa tadi terlalu berlebihan. Kasihan Morgen, ia mati dengan cara mengenaskan,” tiba-tiba istriku yang berbaring di sebelahku membuka percakapan. Lampu kamar sudah dimatikan, tinggal lampu remang-remang yang ada di atas meja.

“Ia pantas mendapatkannya,” aku mendengus.

“Tapi, tak harus membunuhnya,” istriku tetap saja membelanya, “Kita bisa mengirimnya ke rumah singgah untuk hewan.”

“Lalu, ia akan memakan anak orang lain. Begitu?” istriku seketika diam. Aku menunggu reaksinya. Hening menyergap. Tak ada yang berbicara. Perlahan detik-detik merayap di antara kami berdua.

“Mungkin Morgen tak berniat memakan Doni, Pa. Hanya bermain,” ucap istriku lagi, setelah senyap yang cukup lama membungkusnya.

“Bermain apanya?” aku benar-benar kesal mendapati pembelaan istriku ini. Apa anjing sialan itu lebih berharga daripada anak kami? “Papa melihatnya sendiri. Ia menggigit tangan Doni sampai berdarah. Bahkan ia mengambil Doni dari boksnya.”

Kembali senyap mengisi ruang antara kami berdua. Hanya terdengar helaan napas istriku. Entahlah, aku sangat tidak paham dengan jalan pikirannya itu. Mengapa ia masih saja membela anjing sialan itu? Sudah jelas-jelas, anjing keparat itu mencelakai anak kami. Namun, ia masih saja mengatakan kalau anjing itu tak berniat buruk. Kalau tak berniat buruk, mengapa ia menggigit Doni sampai terluka?

“Kita tidak tahu pasti alasan Morgen, Pak. Kalau saja Papa yang jadi Morgen, mungkin Papa akan paham,” ucap istriku lirih.

“Maksudmu?” aku melipat kening. Emosiku tiba-tiba saja hendak meledak lagi.

“Sudahlah, Pa. Tidur saja,” istriku menarik selimut dan memunggungiku. Aku kembali mendengus dibuatnya. Aku benar-benar tidak paham dengan jalan pikiran perempuan. Mengapa ia begitu peduli dengan anjing keparat itu?

Aku mendadak teringat dengan ceritanya dulu. Tentang kesetiaan hewan peliharaan yang ia baca dari buku. Entah, buku apa. Aku tak sempat bertanya. Istriku pernah berkata kalau seekor anjing itu akan tetap setia berjaga di depan pintu rumah tuannya sampai tuannya pulang, ia tidak akan makan makanan pemberian tetangga. Beda halnya dengan kucing, kalau kucing ia akan cepat mengeong, mengendus, bahkan tertidur di pangkuan tetangga sebelah yang memberinya sepotong ikan.

Kupikir, buku itu salah. Buktinya petang tadi, anjing keparat itu hampir saja membunuh anakku. Ah, memikirkannya membuat kepalaku hendak pecah. Aku menarik selimut, lalu mulai memejamkan mata.

♦ ♦ ♦ ♦

AKU terkejut bukan kepalang ketika tiba-tiba terbangun, istriku menuangkan makanan anjing di depanku, kemudian berlalu. Kutatap mangkok makanan bertulisan Morgen. Apa yang terjadi di sini? Aku celingukan. Mencari-cari seseorang untuk bertanya. Pak Amin tak ada, Bi Surti tak ada. Hanya ada Doni, anakku di dalam boks bayinya. Ia terlihat tertawa-tawa sambil mengayun-ayunkan mainan di tangannya. Beberapa kali mainan itu terlepas dan masuk ke dalam boks. Ia mengambilnya lagi.

Apa yang terjadi padaku? Aku kebingungan. Semalam, aku tidur di kamar bersama istriku setelah perang dingin akibat keputusanku membunuh Morgen. Lalu, mengapa tiba-tiba aku menjadi anjing di rumah ini? Kuraih kalung yang melingkar di leherku. Morgen.

Aku terkesiap ketika membacanya. Ada cemas yang seketika menjalar. Ini salah. Mengapa aku menjadi Morgen? Lantas bila aku menjadi anjing, apa Morgen yang menjadi diriku? Aku terburu hendak berlari menuju pintu, mengejar istriku yang lenyap di sana tadi. Aku ingin bertanya tentang keganjilan ini. Namun, niatku urung saat melihat Doni sudah tergantung di boks bayinya. Ternyata, mainannya jatuh ke lantai dan ia berniat turun untuk mengambilnya.

Ya Tuhan, Doni bisa terjatuh. Kalau ia terjatuh, kepalanya terluka. Aduh, bisa celaka. Aku kebingungan. Kupanggil istriku dnegan suara kencang. Bukan suara panggilan yang keluar, melainkan gonggongan. Dan ia tak muncul juga. Sementara, Doni sudah hampir terjatuh. Ia hanya berpegangan satu tangan di pinggir boksnya. Ah, aku tak bisa membayangkan kalau ia mencium lantai keramik yang keras ini.

Aku kembali memanggil istriku. Dan lagi-lagi gonggongan khas anjing yang keluar dari mulutku. Aku panik. Benar-benar panik. Doni sudah hampir terjatuh. Dan ia benar-benar melepaskan pegangannya pada pinggir boks itu. Secepat kilat aku meloncat dan menangkapnya dengan mulutku. Ada perasaan lega, ketika aku bisa menggigit tangan Doni dengan kuat. Ia tak terjatuh mencium lantai.

“Morgen…!” aku terkejut ketika mendengar suara itu. Istriku berdiri dengan wajah pasi dan menatapku nanar, ia memegang palu. Doni masih dalam gigitanku. Dan entah apa yang terjadi. Tiba-tiba saja istriku sudah memukuliku dengan palu. Ia membabi-buta. Aku menjerit, memanggil namanya, dan berusaha menjelaskan kalau yang ia lihat tak seperti yang ia pikirkan. Aku tak berniat melukai Doni, aku menyelamatkannya yang hampir jatuh.

Namun, suara yang keluar dari mulutku hanya kaingan anjing yang kesakitan. Istriku terus memukuliku. Darah membanjir. Merembes dari kepalaku. (*)

C59, 28 Juli 2012.

By AlamGuntur Posted in cerpen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s