Behind The Scene MyCurlyLove: Hati-hati Penerbit PHP!

Gambar

Apa yang paling bikin seorang penulis novel bahagia? Tentu saja novelnya terbit, dijual di toko buku, dibeli, dan dibaca banyak orang. Rasanya? Hepi banget! Apalagi pas ada pembaca yang suka novel itu, terus bilang, “suka ama ceritanya, berasa ikut jadi tokoh ceritanya. Jadi pas baca kena di hati.”

Tapi nulis dan nerbitin novel nggak gampang. Gak bisa jadi dalam semalam, seminggu, atau sebulan. Prosesnya panjang. Tulis, editing, tawarkan ke penerbit, antri dibaca editor, kalau oke dibawa ke sidang redaksi, naskah dieksekusi, jika gol baru deh dihubungi penerbit. Itu pun nggak langsung terbit minggu depan. Pasti ada editing atau revisi untuk menyempurnakan dan bagian ini bisa berapa kali sampai dirasa sempurna, baru deh proofing, desain kaver, lay out, dan lain-lain sampai edar di toko buku. Itu perlu waktu berbulan-bulan. Dan nasib novel terbaruku, My Curly Love yang terbit di Ice Cube – KPG lebih berliku lagi dari itu. Ditulis 2011, baru bisa terbit 1 Juli 2013!

Ya, aku akan berbagi sedikit cerita tentang perjalanan berliku novel My Curly Love sampai akhirnya bisa terbit di Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Semoga aja cerita ini bisa membuatmu lebih bersemangat nulis sekaligus berhati-hati dalam memilih penerbit plus harus jeli membaca kontrak penerbitan.

Novel ini judul awalnya Heaven’s You Tentang Kita, Tentang Cinta. Ditulis tahun 2011. Selesai editing, naskah ini aku tawarkan ke sebuah penerbit di Kota J. Kita sebut saja Penerbit X. Dan diterima alias akan diterbitkan setelah antri dibaca editor selama 3-4 bulan. Wui, senang banget dong. Pasti! Apalagi penerbitnya cukup bagus –sepanjang yang aku tahu sebelum kerjasama.

Nggak lama setelah kabar bahagia via email itu, aku menerima kiriman kontrak dari Penerbit X untuk dibaca dan dipelajari serta ditanda-tangani jika sudah paham, lalu dikirimkan balik yang untuk arsip penerbit. Duh, kalau sudah tanda tangan kotrak, pasti terbitkan? Itu bayangan dalam benakku dan mungkin bayangan semua penulis.

Sekadar catatan: Pada pasal sekian ayat sekian; Penerbit X punya waktu maksimal selama 6 bulan untuk menerbitkan naskah itu dan menjualnya di toko buku sejak kontrak ditanda tangani. Pada ayat berikutnya di pasal yang sama, jika waktu itu terlampaui dan penerbit tidak bisa memberi penjelasan yang diterima oleh penulis, naskah akan kembali pada penulis (alias bisa penulis tarik dan kasih ke penerbit lain).

Sebulan sejak tanda tangan kontrak, Penerbit X kirim email, isinya calon kaver-kaver novel ini dengan desain unyu, manis, dan bikin bingung milih. Duh, makin gak sabar nunggu novelnya terbit, apalagi diemail penerbit bilang, akan segera cetak dan kemungkinan bulan depannya terbit. Aku pun meminta bantuan beberapa teman baik untuk ikut milih kaver karena benar-benar bingung –jujur, kavernya emang manis-manis banget. Penerbit juga melakukan voting internal untuk memilih. Akhirnya, aku memilih salah satu kaver yang paling banyak disukai teman-teman. Dan menunggulah diriku dengan manis, kabar baik dari penerbit X.

Singkat cerita, bulan yang dijanjikan pun datang. Eh, kok nggak ada kabar apa-apa ya? Semisal aku diminta baca ulang naskah sebelum naik cetak? Aku mulai was-was dan kirim email berisi pertanyaan. Beberapa hari dibalas. Katanya ada sedikit masalah, penerbit tengah melakukan perombakan formula dengan alasan internal yang tak bisa aku ceritakan di sini, tapi intinya aku dikasih tahu alasannya. Oke, baiklah, aku ngikut aja. Karena memang pengin banget kan terbit?

Bulan berganti bulan dengan cepat. Kabar naskah novelku ini makin gak jelas. Dijanjikan bulan depan, nggak jadi juga, dijanjikan bulan depan lagi, dan seterusnya, tentu saja aku dikasih beragam alasan. Dari yang mulai penerbit ingin ganti formula tadi, ganti editor (dan aku baru teringat selama proses itu, aku belum pernah dikenalkan dengan editor yang menangani naskahku, biasanya dengan penerbit lain pasti dikenalkan, karena kami bisa diskusi berbagai hal yang harus direvisi atau dicari jalan tengah dalam editing naskah), sampai beberapa alasan lucu yang bikin saya “WOW!”.

Ini dia beberapa alasan lucu itu. Katanya naskahku ditangani editor lepas di kota C karena penerbit ingin ganti formula tadi. Oke. Tak masalah, batinku. Tapi cerita selanjutnya yang bikin pengin ngakak tapi juga kecewa. Katanya naskah itu sudah selesai dikerjakan editor lepas itu dan dikirim si editor via kurir/pos. Dan sebelnya, si kurir/pos nggak nemuin alamat si penerbit, jadi kiriman balik deh.

Hah? Halloo…! Ini zaman teknologi, kan bisa kirim via email kerjaan kayak gitu. Lebih cepat, lebih praktis. Satu lagi, Penerbit X ini sudah berdiri beberapa tahun dengan alamat yang sama dan juga sudah menerbitkan banyak naskah artinya pasti sudah sering terima kiriman naskah via kurir/pos atau kiriman lainnya. Kan lucu kalau kurir sampai nggak nemukan alamatnya, alamat kantor mereka juga bukan di Mars atau Pluto kok tapi di Kota J. Tapi aku kembali ngalah. Oke, mungkin emang benar. Baiklah, nunggu lagi.

Si Bos Penerbit X –emang dia yang terus menjawab emailku, bilang dia ada acara di Kota X minggu depan, akan dia ambil langsung deh naskah itu ke editor lepas, udah janjian. Harapanku muncul lagi. Lalu, beberapa minggu berikutnya, aku tanyakan. Dan ini jawaban si bos penerbit: Ya, saya sudah ketemu ama editornya, sudah dikasih CD yang berisi naskahmu. Tapi ternyata CD-nya nggak bisa dibuka di satu pun komputer di kantor kami!

Aaakkkk…! Pengin bunuh diri deh bacanya! Hahahahaha… Ya salam, kalau udah ketemuan, ngapain juga sih kasih naskah itu via CD, kan bisa copi ke laptopnya dengan flasdis atau kirim via email aja kenapa sih? Heran! Kan masing-masing punya email, kenapa harus pake cara jadul? Ngelus dada. Sabar… sabar… sabar…

Tapi aku masih berharap naskah itu bisa terbit karena aku nggak mau kerjasama berakhir dengan buruk. Aku percaya penerbit X pun begitu. Etapi, 6 bulan sudah berakhir ternyata. Dan aku sudah memberi perpanjangan waktu dengan harapan naskah novel itu bisa terbit.

Terus dan terus aku berharap sambil berprasangka baik; Penerbit X gak mungkin PHP, mereka juga bertaruh nama baik. Dan banyak sugesti positif yang aku buat dalam pikiran. Tapi tetap saja nggak mempan. Pasalnya, tahun 2012 itu Penerbit X banyak banget bikin event lomba yang akan dibukukan. Dan sialnya, event-event itu diadakan baru-baru saja tapi bukunya bisa terbit dengan cepat tanpa kendala. Sementara naskah novelku? Oh My God! 2012 sudah mau berakhir tapi naskah itu makin nggak jelas nasibnya. Sudah 1 tahun lebih ada di mereka. Hiks, sakit hati banget. Apalagi jawabannya si bos X makin terasa ngawur.

Aku sempat diskusi dengan beberapa teman tentang nasib naskah ini. Rasanya, aku nggak bisa bersabar lagi. Aku juga merasa sudah nggak punya harga diri di depan Penerbit X itu; kok kayaknya ngemis-ngemis banget pengin terbit, jadi rela di-PHP-in selama 1 tahunan. Aku kan bisa cari penerbit lain. Apalagi kontrak kami sudah habis masanya karena waktu maksimal 6 bulan itu sudah dilewati dan alasan yang diberikan sudah nggak bisa aku terima. Teman-temanku menyarankan untuk dicabut aja naskah itu dan tawarkan ke penerbit lain.

Akhirnya dengan berat hati dan memikirkan secara matang, kutarik naskah itu. Bos X sedikit kesal karena aku menarik naskah. Dan dia melontarkan kata-kata via email yang membuatku sakit hati tapi sekaligus tertantang untuk membuktikan diri kalau penilaiannya salah.

Dia bilang gini: “Penulis kelas dunia saja, butuh waktu 5 tahun, baru naskahnya terbit. Lah ini baru 1 tahun juga.”

Hiks, sebagai penulis aku menerjemahkan kalimatnya itu sebagai berikut: Penulis kelas dunia aja butuh waktu 5 tahun, kamu baru 1 tahun. Kelas lu dimana? Penulis baru juga lu!

Huuu… menghela napas. Kayaknya si bos X lupa dengan isi kontrak sendiri. Kan jelas-jelas di sana waktu maksimal mereka 6 bulan, aku sudah memberi tambahan waktu juga. Lain ceritanya jika di kontrak tertera waktu maksimal mereka 5 tahun. Ya, mungkin aku akan menunggu 5 tahun –dan sampai jamuran, karatan, atau jadi fosil nungguin naskah itu terbit jadi buku utuh.

Terus bos X bilang juga: “Sebenarnya naskahmu itu nggak layak, jelek. Tapi karena kami bla, bla, bla, jadinya kami akan terbitkan!”

Hallo…! Kok baru bilang gak layak setelah aku narik naskah? Kenapa dulu di-ACC dan mau diterbitkan bila gak layak? Aneh banget, kan?

Bos X juga bilang, mereka sudah keluar banyak biaya untuk naskah itu. Bayar editor lepas, dll. Lah, aku emang gak dirugikan juga nih selama nunggu 1 tahunan itu?

Dan ada kalimat yang bikin aku narik napas dalam-dalam: “Coba kamu tawarkan naskahmu ini ke penerbit besar. Nggak akan ada yang sebaik kami menyambutmu.”

Hiks, itu kan sama saja artinya dia bilang: “Coba kamu tawarkan naskahmu ini ke penerbit yang lebih besar, nggak akan ada yang mau nerbitin.”

Oke, fine. Aku terbakar nih, baiklah aku akan buktikan. Tapi nggak kubalas sih emailnya waktu itu, cuma bilang dalam hati saja. Aku akan buktikan si bos X salah dalam menilai. Naskahku ini akan terbit dan dia akan melihatnya di toko buku, bahkan mungkin membelinya.

Dengan rasa “dendam” yang membara di dalam dada (kalimatnya bombastis nih), aku merevisi naskah itu di Desember 2012 dan Januari 2013. Benar-benar tertantang untuk membuktikan. Lalu, aku mulai mencari penerbit yang lebih besar dari penerbit x ini. Ada seorang teman yang kerja jadi editor dan tahu tentang naskah ini, pernah menawarkan untuk diterbitkan di penerbit mereka. Aku tolak secara halus dengan alasan mau direvisi dulu. Padahal sebenarnya aku ingin cari penerbit yang lebih besar dari penerbit X, ya buat buktiin vonis bos x salah. Karena temanku ini kerja di penerbit yang (menurut pengamatanku) belum terlalu besar dibanding penerbit X.

Alhamdulillah, aku bertemu dengan Ice Cube Publisher lini remaja dari Kepustakaan Populer Gramedia, aku menawarkan naskahku ini. Nggak lama, aku dapat kabar: Naskahku lolos tapi harus revisi lagi termasuk ganti judul, karena ada banyak hal yang berubah sepanjang 2011-2013, jadi harus diupdate dan “diremajakan”. Tak masalah. Toh, sebagai penulis aku sadar, editor penerbit adalah mata lain dari penulis untuk melihat kekurangan dan kelemahan karyanya, hingga bisa sesuai dengan market tujuan. Aku bersedia merevisinya.

Aku langsung dikenalkan pada editor yang akan menangani naskahku: Mbak Winda Veronica. Beliau juga sudah membuat beberapa catatan yang harus aku kerjakan. Jadilah kami diskusi beberapa kali via email, bolak-balik baca naskah itu sampai pada akhirnya, naskah itu naik cetak tanggal 19 Juni 2013.

Fhuiii, rasanya luar biasa sekali. Aku bahagia naskah itu bisa terbit walau banyak mengalami perubahan termasuk judul. Tak masalah. Aku bahagia karena aku bisa membuktikan jika naskahku itu tetap bisa terbit dan di penerbit yang lebih besar dari Penerbit X. Suer, aku nggak dendam dalam makna negatif dengan bos Penerbit X itu. Aku “dendam” dengan vonisnya terhadap naskahku dan cara dia mem-PHP novelis baru sepertiku. Itu saja. Dan aku juga berterima kasih padanya, karena dari dia, aku belajar suatu hal yang luar biasa: “Jadi penulis harus punya harga diri dan yakin denga karya sendiri. Jika memang bagus, apa pun rintangannya, naskah itu akan tetap terbit. Hanya terkadang, jalan memang berliku. Nasib setiap karya tak selalu sama. Ada yang mulus. Ada yang jalanna berkelok-kelok dulu.”

 Aku mau berterima kasih banyak pada Mbak Winda Veronica, editorku di KPG. Terima kasih sudah begitu bersabar dan menyemangatiku dalam revisi. Tuhan memberkatimu dan keluarga besar KPG…

Terima kasih juga untuk teman-teman yang selama 2012 itu begitu bersemangat dalam membantuku memilih jalan dan diskusi: Om Pramoe Aga, Miss Anggun, Tante Nova, Uni Yetti, Niknok, Kang Gans, Untung W, dan lain-lain. Aku cinta kalian semua. Jangan kapok untuk berdiskusi denganku.

Terakhir, buat teman-teman yang pengin baca novel ini, My Curly Love, harap bersabar menunggu, novel ini akan edar tanggal 1 Juli 2013. Tebal 230 halaman. Ukuran 13.5 x 20 cm dengan harga 42.000, dan desain di dalamnya unyu banget deh. Ceritanya juga remaja banget. Bagi yang pengin nostalgia semasa remaja, masa ABG di SMA, masa cinta pertama, wajib baca deh. Pastinya buat teman-teman yang masih duduk di bangku SMP-SMA-Kuliah kalian harus baca.

Terima kasih sudah mampir ke blogku.

Salam manis,

Guntur Alam

Gambar

Gambar

Tampilan isi “My Curly Love”.

By AlamGuntur Posted in Buku

34 comments on “Behind The Scene MyCurlyLove: Hati-hati Penerbit PHP!

    • Ya, perjalanan panjang yang melelahkan. Ajaibnya karena “dendam-kreatif” itu, aku merasa nggak lelah dan terus menggolkan naskah ini. Makasih sudah mampir.

  1. Aaaaaa, Kak, ternyata berliku seperti ini. Semoga tambah berkah setiap bukunya.
    Ngelihat cara kak Guntur yang sanagt terkendali cerita tentang penerbit itu, aku salut!
    dan, menurutku penerbitnya harus makasih banget karena dirahasiakan😀

    • Gak enak kalo disebut. Entar pencemaran nama baik. Dan tiap orang punya kesempatan kedua untuk memperbaiki diri. Kali aja sekarang mereka sudah berbenah dan lebih baik. Mari kita doakan…

    • Makasih, Vera.
      Semoga cerita ini menginspirasi, jadi kalau dirimu berurusan dengan penerbit. Kamu bisa teliti dan nggak takut untuk bertanya serta mengambil sikap jika progress naskahmu agak “aneh”.

    • Ya, naskahnya berkelok-kelok nih perjalanannya. Tapi akhirnya dapat penerbit yang lebih besar yakni Penerbit KPG. Aku mengikuti saran Bos X, harus cari penerbit yang lebih besar dari mereka🙂

    • Terima kasih, Mbak Menning. Mungkin karena saya “terbakar” sih karena vonis Bos X, makanya segigih ini. Jadi harus berterima kasih pada Bos X juga.

  2. Jangan-jangan diterbitkan oleh bos X dengan judul dan nama penulis lain mas. Coba cari info novel2 yang diterbitkan X itu, minimal tahu isinya ada yang mirip dengan novel tulisan mas pa nggak. Tapi, semoga saja nggak seperti itu ya..

    • Kayaknya nggak ada deh, setahuku. Soalnya buku-buku Penerbit X selama 2012-2013 nggak ada yang ke arah sana… Terima kasih sudah mampir ke blogku.

  3. Jangan lupa kalo novelnya udah edar, dikirim ke bos Penerbit X ya, hihihihi…
    Selamat atas terbitnya sang novel ya… oh, dan salam kenal🙂

    • Salam kenal…😀
      Heemm, ide bagus. Tapi harus tuh kirimi beliau? Kayaknya biarin aja deh, semoga aja beliau mau beli sendiri –menghargai penulis– atau beliau melihatnya di toko buku. Apa pun itu, aku sudah lega karena sudah bisa membuktikan jika aku emang mampu. Makasih sudah mampir ke blogku.

  4. bener-bener perjalanan panjang.
    mungkin tuhan memang sudah memutuskan kalau naskahmu seharusnya memang diterbitkan di penerbit yang lebih besar. tuhan hanya menguji. dan sekarang pasti jauh lebih senang ya?😀

    • Segala sesuatu ada hikmahnya, baik dan buruk. Saya berusaha mengambil hikmahnya saja. Tentang nasib novel ini di pasaran nanti, saya serahkan pada Tuhan juga. Dia yang punya kuasa.
      Yang pasti, saya sudah ikhlas dengan apa yang terjadi di belakang sana. Saya hanya harus menatap ke depan. Terima kasih sudah mampir dan baca.

    • Terima kasih sudah mampir. Ya, inti cerita di sini hanya ada 3 kok:
      1. Menerbitkan novel itu gak gampang, butuh perjuangan.
      2. Teliti baca kontrak dan jangan takut untuk bertanya tentang progress naskahmu.
      3. Setiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki diri, termasuk saya dan penerbit X.
      Selamat menulis….😀

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s