Babi Kecil yang Menangis dalam Lukisan (Banten Muda, 16 Mei – 15 Juni 2013)

Babi

Ilustrasi oleh Banten Muda, edisi 16/ 16 Mei – 15 Juni 2013

AKU melihatnya sendiri. Babi kecil gemuk dalam lukisan di ruang tamu kami itu menangis. Benar-benar menangis. Sepasang sungai kembar mengalir di sudut matanya. Kemudian meluncur deras di landai pipinya yang tembem kemerah-merahan. Dari retina matanya yang basah, aku menangkap ketakutan yang tak bisa kuraba. Kilat cemas begitu kentara. Entah, apa yang babi kecil itu takutkan dari dalam lukisannya. Aku tak paham.

Istriku memajang lukisan itu di ruang tengah rumah kami, sepekan setelah hilangnya anak semata wayang kami. Kehilangan tragis yang menyisakan luka demikian perih bagiku. Mungkin itu juga yang dirasakan istriku. Mungkin. Karena itu ia menghibur diri dengan tenggelam dalam hobinya: Mengumpulkan lukisan. Dan lukisan babi kecil yang menangis itu menjadi favoritnya. Ia begitu merawat dan menjaganya. Seperti menjaga benda sangat berharga.

Sebenarnya, aku bukanlah seseorang yang menyukai lukisan. Mungkin karena aku tak pandai menafsir tiap cerita yang tertera dalam goresan-goresan cat itu. Pasti itulah alasan terkuatku. Aku tak terlalu peduli dengan beragam lukisan yang dikumpulkan istriku. Namun, sejak lukisan babi kecil gemuk itu di pajang, aku mendadak begitu suka mengamatinya. Ini baru pertama kalinya aku suka mengamati lukisan. Terlebih setelah aku melihat tak sengaja babi kecil dalam lukisan itu menangis. Aneh sekali, bukan? Ada seekor babi yang menangis dalam lukisan. Ketika kuraba air matanya dengan telunjuk dan ibu jari. Jemariku basah.

Seketika dadaku berdesir. Kudukku meremang. Ini bukanlah sekedar lukisan biasa. Aku sangat yakin itu. Dan air mata babi kecil itu makin mengalir deras. Tak terbendung lagi.

Mata kami bertaut. Semakin kentara sekali kilat cemas di retinanya. Dan entahlah, apa ini perasaanku saja. Aku seperti begitu mengenal retina mata babi kecil itu. Retinanya tak asing. Kucoba mengingat-ingat, di mana aku pernah melihat retina serupa itu? Semakin aku mencoba mengingatnya, semakin aku yakin mengenalnya. Sayangnya, aku belum bisa menemukan pemilik retina itu dalam lipatan memoriku.

Ketika aku menceritakan ihwal babi kecil dalam lukisan itu. Istriku senyap beberapa menit. Matanya begitu tajam menatapku. Aku paham, tentu ceritaku itu tak bisa ia masukkan dalam akal: Mana ada lukisan yang bisa menangis? Dan aku memilih tak melanjutkan cerita itu padanya.

Tapi, hatiku mengatakan kalau lukisan itu menyimpan suatu misteri. Dan aku yakin, apa yang kulihat itu benar-benar air mata. Aku bahkan menyentuhnya. Ah, ada apa dengan lukisan itu? Bila telah demikian, pikiranku pasti akan terbawa ke lukisan itu lagi.

Babi kecil gemuk yang malang. Ia terperangkap dalam latar lukisan yang kelam. Tentu si pelukisnya tengah menorehkan kepekatan malam di belakang babi kecil itu. Kata istriku lukisan itu bercerita tentang seekor babi kecil yang tersesat dalam pekat malam. Mungkin ia keasyikan bermain hingga tak sadar malam telah datang. Ketika ia tersadar, pekat telah menabrak retinanya. Oh, apa mungkin itu yang menyebabkan babi kecil menangis?

♦ ♦ ♦ ♦

AKU merasa sudah gila. Entahlah, lukisan babi kecil gemuk itu seolah telah merasuki alam bawah sadarku. Aku selalu teringat padanya. Bahkan bila sudah berada di rumah, aku bisa berjam-jam mengamati lukisan babi itu. Dan tetap saja, aku melihatnya menangis. Kegilaan itu tak hanya sampai di sana. Aku bahkan merasa lukisan itu memanggil-manggilku. Benar-benar memanggilku. Malah bibir babi kecil gemuk itu mulai bergerak-gerak, seperti hendak bercerita.

“Tolong aku…”

Aku tersengat. Bahkan sampai tersurut berapa langkah ke belakang. Mataku nanar, seolah hendak meloncat dari rongganya. Tidakkah cupingku salah dengar? Babi kecil itu meminta tolong. Alangkah gila semua ini! Aku menatapnya. Ia diam. Kuraba pipi tembemnya. Ia senyap. Gegas kubawa langkah ke dalam kamar. Aku ingin menceritakan kejadian ganjil itu pada istriku.

“Babi kecil dalam lukisan itu tadi meminta tolong,” ujarku dengan napas memburu ketika menjejakkan kaki dalam kamar. Istriku yang tengah asyik membaca majalah langganannya di atas ranjang mengangkat wajahnya. Ia melipat kening.

“Kamu mulai berhalusinasi lagi,” dengusnya.

Aku seketika bungkam. Istriku tentu tidak akan percaya dengan apa yang akan aku ceritakan tentang lukisan itu. Pasti. Seketika, aku langsung diam. Perasaan menggebu-gebu tadi langsung menguap tak berbekas. Aku yakin bila aku memaksanya untuk percaya akan apa yang kuceritakan, ia tentu makin yakin kalau aku sudah mulai gila.

Tapi, aku yakin sekali tadi mendengar babi kecil itu meminta tolong. Apa aku salah dengar?

Gegas kubawa langkah kembali ke ruang tengah. Ke depan lukisan babi kecil itu. Ia masih di sana, berdiri dengan wajah pasi, di belakangnya kegelapan seperti jubah hitam tebal yang siap menelannya bulat-bulat.

Kutarik sebuah kursi. Aku duduk di depan lukisan itu. Sudah kuputuskan, aku akan memintanya bercerita. Aku tak bisa lagi menahan rasa penasaran yang bergumul-gumul dalam tempurung kepalaku ini. Rasanya kepalaku hendak meledak.

“Ceritakan padaku apa yang membuatmu menangis. Aku akan mendengarkannya,” ucapku tanpa basa-basi. Mataku lekat menatapnya.

Babi kecil itu tak bergerak. Hanya retina matanya berkilat-kilat basah. Seperti ketakutan yang teramat sangat. Apalah gerangan yang membuatnya demikian?

“Jangan takut. Aku tak akan menceritakannya pada istriku,” kumekarkan sekuntum senyum, mata babi kecil itu mengerjap, “ini rahasia kita berdua,” bisikku di cupingnya.

“Apakah itu janji?” tanyanya tiba-tiba yang membuatku seketika tersengat. Ah, aku masih saja terkejut bila mendengar suara kecilnya itu.

“Aku berjanji,” anggukku cepat-cepat, masih berbisik. Kulihat kiri-kanan, memastikan istriku tak melihat apa yang aku lakukan. Aku pun tak ingin ia mendengar percakapanku dengan babi kecil dalam lukisan ini. Babi kecil itu pun melihat ke kiri dan kanan, mengikuti gerakanku.

“Tak ada siapa-siapa. Ceritalah,” aku duduk dengan manis di atas kursi. Babi kecil itu pun duduk di atas tanah dalam lukisannya.

♦ ♦ ♦ ♦

BABI kecil itu mulai berkisah. Katanya, ia sebenarnya seorang anak laki-laki yang dikutuk ibunya menjadi babi dan dikurung di situ. Penyebabnya karena ia mengetahui rahasia besar tentang ibunya. Rahasia yang tak boleh terbongkar.

“Rahasia apa?” potongku.

Babi kecil itu berjinjit ngeri. Wajahnya pias.

“Aku tak bisa mengatakannya. Bila aku menceritakannya, Ibu akan membunuhku.”

Aku diam. Tapi, aku akan berusaha membujuknya. Rahasia besar apa hingga seorang ibu tega melakukan semua ini. Mengutuk anaknya menjadi babi dan mengurungnya dalam lukisan yang pekat.

“Tak apa. Cerita saja. Aku akan merahasiakannya. Ini rahasia kita berdua.”

Babi kecil itu menggeleng-geleng kuat. Ia makin ketakutan. Wajahnya semakin pasi. Aku hendak membuka mulut lagi. Tapi, sebelum aku membuka mulut lagi. Babi itu sudah berteriak-teriak ketakutan dan berlari ke dalam lukisannya. Ia menghilang. Bersembunyi dariku. Aku memanggil dan memintanya kembali, tapi ia tak muncul lagi. Sampai berjam-jam aku menunggunya, ia tetap tak kembali. Sepertinya, ia benar-benar takut aku memaksanya untuk menceritakan rahasia terbesar ibunya itu.

Sejak percakapan itu, aku dan babi kecil sering bercerita. Setiap waktu luang, aku selalu duduk di depan lukisan itu dan mendengar cerita si babi kecil yang ketakutan dalam perangkap lukisan. Sayangnya, ia tetap tak mau menceritakan rahasia ibunya.

Ternyata, tak hanya ibunya yang babi kecil itu takuti. Ada satu hal yang paling membuatnya takut saat ini. Seekor serigala yang ada di dalam lukisan. Seekor serigala betina yang kelaparan dan selalu mengintainya setiap saat dalam gelap. Mata serigala itu merah menyala-nyala. Aku mencari-cari serigala itu dalam lukisan. Kutemukan dua titik merah dan sketsa samar moncong serigala di ujung lukisan yang tertimbun warna gelap.

“Serigala itu sudah membuat tungku api. Ia juga sudah memotong-motong wortel untuk supnya. Bahkan aku melihat ia sudah mengisi belanga besarnya dengan air. Ia akan memasakku,” cerita babi kecil itu dengan cemas. Dan air matanya kembali mengalir pelan.

Aku kian sedih mendengarnya. Tapi, aku tak tahu harus melakukan apa. Sudah kucari cara untuk mengeluarkannya dari lukisan itu. Namun, aku belum jua menemukannya.

♦ ♦ ♦ ♦

KUPIKIR aku tengah bermimpi. Di dalam mimpi, babi kecil memanggil-manggil namaku. Aku benar-benar mendengarnya. Dan yang membuatku gemetar, ketika ia melontarkan kalimat ini: “Tolong! Tolong aku! Aku takut! Keluarkan aku dari sini! Serigala betina itu akan memakanku!”

Seketika aku terjaga dari tidur. Keringat membanjir di tubuhku. Kutengok istriku yang biasanya terlelap di sebelahku. Kosong. Istriku tak ada. Selimutnya tersingkap. Gegas aku turun dari ranjang dan berjalan terburu-buru ke ruang tengah, ke tempat lukisan babi kecil itu digantung.

Aku nanar, tanganku bergerak gelisah di atas lukisan babi itu. Ia menghilang. Tempat ia berdiri dengan muka yang ketakutan itu kosong melompong. Mataku liar mencari-carinya. Tak ada. Segera kubawa retina ke arah dua titik merah yang ada di sudut lukisan, dua titik yang kutebak sebagai mata serigala betina yang babi itu ceritakan. Mata itu pun raib. Aku kian panik. Tiba-tiba saja, ditengah kekalutanku, babi kecil gemuk itu muncul dengan wajah yang pasi di muka lukisan. Aku melihat wajahnya berlumuran darah. Ada luka di beberapa tubuhnya.

“Tolong aku! Serigala betina itu akan memakanku!” teriaknya dengan bibir gemetar. Wajahnya melukiskan kecemasan yang tak tertakar.

“Di mana?” bisikku cemas.

“Ia di belakang,” babi kecil gemuk itu mendesis pias.

Lalu, aku melihat seekor serigala betina telah berdiri dengan wajah menyeringai di belakang babi itu. Ia membawa sebilah pisau berkilat. Matanya merah, lidahnya terjulur meneteskan liur. Aku tersengat ketika melihat wajah serigala betina itu. Dadaku mengempis seketika. Ya Tuhan, aku mendesis tak percaya. (*)

C59, 8-9 April 2012

By AlamGuntur Posted in cerpen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s