Di Suatu Hikayat, Aku dan Emak Bercerita (Lampung Post, 23 Juni 2013)

Gambar

Ilustrasi oleh Lampung Post, 23 Juni 2013.

SEJAK aku dapat mengingat dengan jelas, Emak telah memulai hikayat ini. Sebuah cerita yang saban hari berjejal di lubang cupingku. Berdenging. Lalu, lamat-lamat menjadi doktorin. Dan aku, mau atau pun tidak, duduk khitmat menyimaknya. Menelaah dalam kebingungan tentang apa yang Emak ceritakan.

Dalam hikayatnya, Emak selalu berkisah tentang seorang gadis bertubuh purnama. Hidung bangir. Bibir semerah delima dan ikal mayang yang menjuntai sepinggang. Kisah yang membuat mataku mengerjap penuh binar. Kemudian, kisah itu berubah kelam saat Emak mulai menguak cerita si gadis secara dalam.

Kata Emak, di suatu limas ada seorang gadis yang terbuang. Bukan lantaran ia hidup sebatang kara ataupun tak bersanak-saudara. Gadis itu memiliki orangtua, pun dengan karib-kerabat. Hanya saja, sebuah nasib malang telah membuatnya tersisi ke sudut kelam. Dalam bilik pengap, tak berani menampakkan hidung ke khalayak.

Saat aku diam dengan penuh tanda tanya, Emak menghela napas, lalu melanjutkan ceritanya. Pada bilangan masa yang tak hendak gadis itu ingat, ia berkenalan dengan seorang bujang rupawan. Seketika, rumpun mawar di dadanya menggeliat, merincakkan bulu hidung sang bujang. Demikianlah, masa menyalin-nyalin rupa dengan cepat, menggiring keduanya dalam rajutan basah yang hangat.

Seperti halnya bermain hujan, tempiasnya pastilah akan memercik dan menciptakan gerimis yang sedikit-sedikit akan membasahi. Pun dengan si gadis dan bujang. Sesekali, keduanya bertaut tangan, bermain mata, membelai rambut, lalu lambat-laun sesekali liur bertemu liur. Dan, pada bilangan gerimis yang kesekian, singkap-menyikap mulai menyeling. Gelombang aneh terasa menggiring, bukit bersalju mengintip, jakun turun-naik, dan seekor ular mendesis. Pada titiknya, bisa ular menyembur, menancapkan taring, dan si gadis terkapar; membiru dalam cemas yang mengkantar. Ular lenyap tak tentu rimba, bersilat lidah dengan dua cabang. Hingga, si gadis dibalur jelanga, terbuang dalam bilik pengap seorang saja.

♦ ♦ ♦ ♦

            AKU meringkuk dalam baluran cerita Emak yang mengerikan. Alangkah menakutkan. Di pelupukku, sosok gadis malang itu mengantar-kantar. Meringkuk dengan rambut kusut masai dalam bilik pengap. Sementara, tubuh kian kepayahan menahan perut yang terus mengembang. Sedang di luar bilik sana, hanya berjarak setipis dinding papan, bibir-bibir mengurai cerita busuk yang mengelindap jauh ke kedalaman dadanya. Dan kembali, airmata hanyalah kawan yang tak bisa diajak berbagi terlalu dalam.

Hikayat Emak selalu saja membuatku menghirup napas lebih dalam. Lebih-lebih ketika aku merasa ada sesuatu yang tumbuh dan terasa sakit di dada. Dan Emak kian gencar bercerita ketika di pagi buta aku meringis penuh derita, sesuatu memerah di bawah pusar.

Kau sudah jadi gadis sempurna, itulah ucapan Emak yang menenangkanku dalam balutan nyeri yang terasa mengkili. Lalu, kisah itu kembali terurai. Jangan percaya dengan mulut manis seorang bujang, apapun yang ia katakan. Tersebab kumbang hanyalah ingin singgah sebentar saja, mencicip madu, lalu terbang. Kecuali, jika ia datang hendak bersarang, membentuk rumah dari liurnya, dan beranak-cucu yang banyak. Barulah kau percaya. Itupun bila ia telah bertandang ke limas kita, mengajak Ebak-emaknya, dan bermufakat atas kehendak yang merayap-rayap di palung dada.

Aku diam sejenak. Mencoba meraba-raba cerita Emak di antara rasa yang menyesak di perutku, kadang kala mendesak-desak jauh ke bawah pusar. Nyeri. Dan Emak seolah tak peduli, ia melanjutkan ceritanya kembali.

Ingatlah hikayat gadis yang Emak ceritakan, lantaran tak percaya cerita emaknya, ia bermain basah dengan bujang. Bila kau telah merasakan nyeri di sana dan kedewasaanmu dirayakan dengan keramas di satu pekan berikutnya, itu artinya kau bukan kanak-kanak yang ingusan serupa masa silam. Walau tubuhmu masih belia, tapi isi di dalam telah purna. Jadi, ingatlah selalu kata Emak, jangan sesekali biarkan bujang menitip liur kental di dalamnya, kecuali ia telah berijab-sah di depan Ebak-mu dan khalayak.

Kepalaku berdengung-dengung. Tertatih aku menyeret napas mengikuti ritme cerita Emak. Ini bilangan angka ke empat belas sejak aku mengoek panjang dari perut Emak, nyeri di bawah pusar dan dada sebagai penanda tetapi aku masih saja belum paham akan hikayat Emak yang terasa mengganjal.

Tinggal berapa tatih kau akan sampai ke tangga lebih tinggi, di sana kau akan paham apa yang Emak ceritakan.

Dan aku akan diam, berpura mafhum, lalu berujar dalam hati. Emak pastilah benar, ia telah kenyang asam-garam dunia, tentulah lebih paham akan apa yang ada. Lalu, aku menata napas. Menyibak urai pikiran yang kusut. Setelah itu, kubayangkan kembali sosok gadis malang itu, terserak seperti baju bekas di dalam bilik pengap. Sesekali tangannya meraba bundar perut dengan putaran tapak tangan. Aku bergidik. Kusabit gulma buruk yang tumbuh di pikiranku itu. Sekilas-pintas, kurasa gadis dalam otakku itu menengadah muka, aku berjinjit melihat raut wajahnya. Oh, tidakkah gadis itu mirip denganku?

♦ ♦ ♦ ♦

APAKAH aku harus menceritakan ini kepada Emak? Riak kebingungan menghentak-hentak benakku. Sekejap itu, riak kenangan berpusar. Menderas. Dan mengombakkan dadaku. Kembali rasa aneh itu membuat hatiku merona. Lalu, bayangan wajah dengan rahang keras itu mengantar-kantar, sebaris senyum manisnya juga menghujam-hujam. Oi, dag-dig-dug di jantungku kian tak berirama. Alahai, kenapa jua kuingat-ingat rautnya? Menyesal, aku benar-benar menyesal ikut Yuk Maryam membantu hajat di rumah Wak Safar. Bila tidak, tentu mataku tak akan bertaut dengannya, cupingku tak mendengar desau suaranya.

Kau cantik, seperti purnama yang terbit di kelam hatiku. Maukah kau jadi penerangku selamanya?

Kata-katanya itu. Binar matanya. Jemarinya yang terasa besar dan hangat –yang tiba-tiba saja menggenggam tanganku malam itu. Kepalaku semaput. Darahku berdesir-desir. Mendadak saja raut muka Emak terlintas, lalu dengung hikayatnya mulai terdengar. Berdenging-denging. Tumpang-tindih dengan lempengan peristiwa malam itu. Aku terengah. Hikayat Emak dan kenangan hangat malam itu membelukar di kepala. Aaarrrggghhh…! Aku harus menebasnya, harus menggundulinya. Kuulang-ulang cerita Emak, berkejaran dengan ritme yang kacau. Wajah rupawan. Wajah Emak. Hikayat Emak. Sengau suaranya.

Ingatkah hikayat Emak. Jangan percaya dengan mulut manis seorang bujang, apapun yang ia katakan. Tersebab kumbang hanyalah ingin singgah sebentar saja, mencicip madu, lalu terbang. Kecuali, jika ia datang hendak bersarang, membentuk rumah dari liurnya, dan beranak-cucu yang banyak. Barulah kau percaya. Itupun bila ia telah bertandang ke limas kita, mengajak Ebak-emaknya, dan bermufakat atas kehendak yang merayap-rayap di palung dada.

Kata-kata Emak itu seperti aroma tanah basah yang habis dilucumkan hujan. Aku menghirupnya dalam-dalam, melegakan dada. Lalu, kujemput gulita dalam pejam, berniat mengusir simpul senyum sang bujang rupawan. Celakanya, wajah itu telah menghadang di sana. Dan aku tak berkutik. Kuhalau raut wajah dan sengau suara yang menggedor hati, sia-sia. Dengung suara Emak pun tak dapat lagi memercik. Aku pasrah. Kubiarkan saja, wajah itu merajut angan dalam benak.

Itu wajar, kau seorang perawan, Fa. Bila telah tiba masanya, kau akan menikah. Kalau tak berkenalan dengan bujang, dari mana kau dapat calonnya?

Itulah kata-kata Yuk Maryam ketika kubagi galau yang bersarang di dada. Entah, aku kian tak paham. Kian terombang-ambing saja. Seolah berkongsi dengan hati dan raut sang bujang yang kian hari kian rajin saja hadir, terasa semua ini bersitentang dengan Emak. Aku cemas. Bila kulanggar, tentu aku akan terbuang seperti gadis dalam hikayat Emak. Tapi, aku tak kuasa menanggul hati yang menampung air kasmaran, kian berdesak-desak saja.

Akhirnya aku menyerah. Kata-kata Yuk Maryam menyudahi kemarau. Walau diam-diam tanpa sepengetahuan Emak, kusambut tangan besar yang hangat itu. Dan semua terurai dengan indah. Degup-degup di jantung masak sempurna. Tak ada apa-apa, kami bertukar cerita, bertukar tawa, bertukar rindu, bertukar cinta, sesekali bertukar hangat di telapak tangan.

♦ ♦ ♦ ♦

HANYA Risma yang tahu dan tentu saja bujang keparat itu. Oi, haruskah aku mengurai cerita legam ini kepada Emak? Tapi, aku tak akan mampu. Aku tak bisa. Tentu Emak akan murka, bukan lagi beliung serapah atau repetan yang tak usai walau malam telah matang sempurna sekali pun, bila Emak tahu ini. Pastilah Emak akan merajam dan melemparku ke dalam bilik pengap serupa gadis yang ada dalam hikayatnya. Tetapi, aku tak akan mampu menyimpan bangkai ini berlama-lama.

Lagi, rasa pedas dalam dada membuat merah dan menggigilkan kedua mataku. Lalu, rasa itu menghimpun bulir-bulir hangat yang asin untuk bergulir. Dadaku sesak. Napasku tersengal. Peritiwa-peristiwa yang bersinggungan mengail-ngail airmata. Dengung hikayat Emak yang membuatku muak –tetapi kali ini begitu hendak kudengar. Desau suara bujang yang terasa membuai hingga aku lupa bumi berpijak. Keheningan membawa peristiwa-peristiwa itu kian kentara dalam batok kepala. Dan air bening itu kembali mengalir. Aku tak ingin menangis. Tapi, airmata telah menciptakan telaga di mukaku yang kusut masai.

Aku berusaha menyabit belukar galau yang tumbuh di hati. Entah, aku pun kian tak paham dengan apa yang tumbuh di batok kepalaku. Marah. Sesal. Takut. Semua berbaur. Lalu mengelindap. Silih berganti wajah Emak dan Ebak. Aku gemetar melihat raut mereka dalam pelupuk mata. Tentu, ini adalah hujan darah bagi mereka, akan berkalung malu hingga ajal menjelang. Kupejam mata, serasa Emak tengah meratap-lolong di kelam raya, menyesali nasib malang yang menimpahnya, beranak gadis bengal, mengusal-ngusalkan kotoran di mukanya. Membayangkan itu, airmataku kian beranak-pinak.

Kuraba perut yang lamat-lamat terasa lebih besar dari biasa. Ada detak halus di dalam sana, detak yang membuat perasaanku luluh seketika. Apa aku tega? Hatiku berdesir karenanya. Lamat pula, segandeng mataku menangkap sepiring nanas muda yang terserak, segelas minuman pahit yang kata Risma mujarab. Emak… Oh, betapa aku hendak mendengar Emak berhikayat sekarang. Kembali, kabut mengapung di mata.(*)

C59, 2011-2013

By AlamGuntur Posted in cerpen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s