Kematian Heartfield (Suara Merdeka, 7 Juli 2013)

IMG00763-20130707-1324

Ilustrasi oleh Suara Merdeka, 7 Juli 2013

Sampai sekarang, orang-orang masih bertanya-tanya: Kenapa Heartfield, pengarang yang diceritakan Haruki dalam Kaze No Uta O Kike, memilih bunuh diri dengan cara terjun dari Empire State Building pada tahun 1938 itu? Tahun ketika ibunya meninggal. Seharusnya dia bisa bunuh diri dengan cara yang lebih indah dan baik dan gagah. Yah, semisal dia menembak kepalanya sendiri dengan revolver 38 mm yang berhiaskan mutiara di gagangnya itu. Bukankah dia sangat membangga-banggakan senjatanya itu? Bahkan dia pernah berujar, “suatu saat nanti aku akan menembak diriku sendiri dengan benda ini.”

Tapi pada kenyataannya, dia mati dengan cara loncat dari balkon Empire State Building. Memang sih, cara dia bunuh diri itu tetap terasa luar biasa. Bayangkan saja, di pagi hari Minggu yang cerah pada bulan Juni, dia loncat indah dari ketinggian puluhan kaki, mendekap lukisan Hitler di tangan kanan dan payung yang mengembang di tangan kiri. Cuma tetap saja, itu bukanlah kematian yang bagus. Badannya ringsek. Dan dia terlihat konyol –menurutku.

Nah, orang-orang terus bertanya, kenapa Heartfield memilih mati seperti itu? Itulah yang ingin aku ceritakan. Aku punya sedikit cerita rahasia. Dan karena ini sebuah cerita pendek, kau boleh percaya atau tidak. Sebab dalam cerita pendek, kita bebas bercerita sebuah kebenaran atau dusta. Bisa jadi pula, kita sebenarnya bercerita tentang kebenaran melalui dusta. Apa pun itu, cerita pendek memerlukan sedikit dusta agar dia menarik. Karena tak ada satu pun redaktur koran yang berkenan memuat cerita tak menarik di medianya. Pembaca juga seperti itu, tak mau membaca cerita buruk. Apalagi jika yang membaca AS Laksana, kau akan diceramahi sampai tuli jika tulisanmu jelek. Sebenarnya itu baik, tapi bila kau tak kuat mental, kau bisa bunuh diri mendengar ocehannya. Ah, sudahlah, tak usah pikirkan itu. Kita kembali pada cerita kematian Heartfield.

****

Kupikir kau perlu tahu siapa Heartfield itu. Dari cerita Haruki, namanya Derek Heartfield. Dia lahir di salah satu kota kecil di Ohio pada tahun 1909. Dan bunuh diri tahun 1938. Usia yang masih sangat muda. 29 tahun.

Apa mungkin dia bunuh diri karena patah hati?

Ayahnya seorang insinyur telekomunikasi yang pendiam dan ibunya seorang ibu rumah tangga yang pintar membuat kue serta mahir meramal. Heartfield kecil tumbuh menjadi remaja laki-laki yang membosankan. Dia tak punya teman. Kerjanya cuma baca komik, majalah, makan kue buatan ibunya, dan tentu saja masturbasi sebagaimana remaja pada umumnya. Masa remajanya yang menyedihkan itu berlangsung sampai dia lulus SMA.

Kuterka, Heartfield pasti tak pernah punya pacar dan berkencan dan merasakan berdansa di kelulusan SMA dan bahkan dia belum pernah berciuman sekalipun sampai kelulusan itu.

Apa mungkin dia bunuh diri karena tak kunjung mendapatkan kekasih?

Selulus SMA, Heartfield bekerja di kantor pos. Tapi tidak berlangsung lama. Dia berhenti. Itu katanya. Tapi aku yakin sebenarnya dia dipecat. Dan itu lebih masuk akal bila mengingat betapa dia laki-laki yang membosankan. Dia tak pandai tersenyum pada costumer. Juga tak mahir mengoceh untuk menyenangkan orang-orang. Sejak itu, dia benci dengan kantor pos. Sebenarnya, dia benci banyak hal. Tapi ada dua yang paling dia benci: Kantor pos dan perempuan.

Mungkin dia benci perempuan karena tak ada satu pun yang tertarik dan jatuh cinta padanya, lalu mengajaknya berkencan. Atau mungkin sebenarnya Heartfield seorang gay? Tak tahulah, dia juga tak punya teman laki-laki, selain seekor kucing jantan yang sangat dia sayangi. Dalam hidupnya memang hanya ada tiga hal yang paling disukainya; senapan, kucing jantannya itu, dan kue yang dipanggang ibunya –diingat, kue bukan ibunya.

Ajaibnya, berdasarkan cerita Haruki, Heartfield ini kelak bisa menulis cerita pendek dan novel dan bahkan novel petualangan yang berseri sampai empat puluh dua seri! Tentu itu terdengar agak ganjil.

Cerita-ceritanya juga ganjil dan aneh dan kurang masuk akal.

Di novelnya yang berseri itu. Wald: The Adventure Kid. Dia bercerita tentang Wald yang meninggal 3 kali, membunuh 5000 orang musuh, dan tidur dengan 375 perempuan, termasuk perempuan alien alias dari Planet Mars.

Ketika orang-orang bertanya; “tidakkah novelmu itu kurang masuk akal?” Heartfield menjawab dengan santai, “apa artinya menulis novel yang isinya sudah diketahui orang lain?”.

Dan memang, cerita-cerita Heartfield banyak tak masuk akal.

Apa sebenarnya dia memang kurang waras dan karena ini dia bunuh diri?

****

Heartfield menulis selama delapan tahun dua bulan sebelum mengakhiri hidupnya. Dan menurut cerita, dia pengarang yang gagal. Plotnya kacau, kalimatnya sukar dipahami, tema ceritanya kekanak-kanakan, dan banyak lagi kekurangannya. Berbeda sekali dengan pengarang sezamannya: Hemingway dan Fitzgerald.

Apa mungkin dia bunuh diri karena dianggap pengarang gagal?

Ada beberapa cerita yang terdengar tentang muasal Heartfield memilih bunuh diri. Ada yang terdengar konyol dan ada juga yang menurutku masuk akal. Terlebih bila aku teringat jika cerita-cerita yang Heartfield tulis dan disinggung Haruki, juga banyak yang konyol dan tak masuk akal. Dan perlu diingat, yang Heartfield tulis itu fiksi. Sementara kita tahu, cerita di dunia nyata terkadang lebih konyol dan lebih tak masuk akal daripada fiksi.

Cerita pertama. Sebelum ibunya meninggal dan akhirnya Heartfield bunuh diri, kucing kesayangan Heartfield lebih dulu mati.

Kau ingat. Di dunia ini cuma ada tiga hal yang disukai Heartfield. Salah satunya kucing jantannya ini. Kucing ini bukan mati karena tua, tapi dia mati karena bunuh diri. Kucing itu menabrakan dirinya pada mobil dan mati.

Dari cerita seseorang yang tak bisa disebutkan namanya, karena dia tahu kisah ini dari seseorang yang pernah mendengarnya dari seseorang, kemudian seseorang lagi, dan seseorang lagi, seseorang lagi, yang ujungnya seseorang itu mendengarnya dari Heartfield atau keluarganya atau membaca catatan Heartfield tentang ini –tak bisa dipastikan, yang jelas bukan dari Haruki.

Kucing jantan itu memilih bunuh diri karena dia patah hati. Terdengar ganjil, kan? Tapi itulah cerita yang berembus. Seumur hidup kucing jantan itu, dia tak pernah berkencan, kawin, atau bahkan sekadar memiliki pacar seekor kucing betina. Selama ini, tak ada satu pun kucing betina yang tertarik padanya. Itulah kenapa kucing itu begitu menyukai Heartfield juga. Mereka memiliki kesamaan. Sama-sama tak disukai lawan jenis.

Lalu, pada suatu musim panas, ada sebuah keluarga yang baru pindah ke daerah mereka dan keluarga itu punya kucing betina yang cantik. Kucing jantan itu jatuh cinta pada pandangan pertama. Sialnya, dia ditolak mentah-mentah. Berbagai cara kucing jantan itu lakukan, tetap tak berhasil. Dari merayu dengan seekor ikan, seiris paha ayam goreng, bahkan sampai kue kegemarannya yang dipanggangkan ibu Heartfield, tak ada satu pun yang membuahkan hasil.

Biadabnya, kucing betina itu justru jatuh cinta pada kucing tetangga samping rumah Heartfield. Dan kucing jantan ini sejak dulu membenci kucing jantan tetangganya. Karena kucing itu memiliki hidup yang menyenangkan; dikelilingi gadis-gadis. Karena patah hati, kucing jantan itu memilih bunuh diri. Seumur hidupnya, baru kali itu dia sangat-sangat jatuh cinta pada kucing betina. Dan ditolak. Jadi dia memilih bunuh diri.

Heartfield sangat terpukul. Dia kehilangan satu dari tiga hal yang dia sukai di dunia ini.

Saat itu, Heartfield sudah berniat ingin bunuh diri juga. Tapi urung dia lakukan, karena di masih memiliki ibu yang memanggangkan kue enak untuknya. Dia juga masih punya senapan revolver 38 mm kesayangannya. Dan cerita yang beredar kedua berhubungan dengan senapan yang gagangnya berhiaskan mutiara ini.

Pada hari saat dia ingin menembakkan sebutir peluru dari revolver 38 mm itu ke kepalanya –memang hanya ada sebutir peluru di dalamnya. Tiba-tiba saja Heartfield mendengar senapan itu berteriak dan memakinya.

Edan! Senapan bisa berteriak dan memaki?

Ya, dan kupikir hanya ada dalam cerita pendek sebuah senapan bisa berteriak dan memaki.(*)

Revolver 38 mm itu berteriak karena dia ketakutan melihat otak Heartfield berhamburan nantinya. Dia juga takut pada darah. Dan senapan itu juga takut ditinggalkan. Selama ini, senapan itu tak punya siapa-siapa selain Heartfield yang mencintainya. Bila Heartfield mati bunuh diri, dia akan kesepian.

“Sebagai seorang kawan, aku tak akan sudi membunuhmu!” teriak revolver 38 mm itu.

“Kau terlalu goblok! Masih ada aku dan kue buatan ibumu! Setidaknya masih ada yang kau cintai dan mencintaimu! Kau juga belum berhasil jadi pengarang! Jangan mati dulu!”

Karena itulah, Heartfield mengurungkan niatnya bunuh diri di hari kematian kucing jantan kesayangannya itu.

Lalu cerita ketiga?

Tentu saja kau bisa menebaknya. Ini berhubungan dengan ibunya.

Saat ibunya mati di tahun 1938 itu. Heartfield sangat terpukul. Dia kehilangan kue kesukaannya, sekaligus satu-satunya perempuan di dunia (yang mungkin) dia cintai. Dia sudah berusaha menghibur diri dan menganggap hidupnya akan baik-baik saja karena dia masih punya senapan kesayangan. Tapi dia gagal. Dia telah berjuang untuk melewatinya.

Karena tak mungkin bunuh diri dengan revolver 38 mm kesayangannya, Heartfield memilih loncat indah dari atas gedung. Dan beberapa orang yang mengenalnya lewat Haruki mengenang betapa cara dia bunuh diri itu sangat romantis. Dan aku tak tahu di bagian mananya romantis yang dimaksud? Karena dia memeluk lukisan Hitler bukan Monalisa atau perempuan cantik lainnya.

****

Begitulah cerita yang beredar tentang muasal kematian Heartfield. Seperti yang kukatakan di awal, kau boleh percaya, boleh juga tidak. Termasuk bila kau meyakini jika Heartfield cuma seorang tokoh rekaan oleh Haruki. Bagaimanapun aku harus menulis cerita pendek yang menarik jika ingin dimuat dan bisa kau baca. Jadi aku menulisnya seperti ini.[]

C59, Juni 2013.

Setelah membaca novel “Dengarlah Nyayian Angin” karya Haruki Murakami.

(*) Digubah dari sebuah kalimat dalam cerpen Sungging Raga, “Sepasang Rangka” yang dimuat Jurnal Nasional: … hanya dalam cerita pendek seorang mayat bisa bermimpi.

By AlamGuntur Posted in cerpen

4 comments on “Kematian Heartfield (Suara Merdeka, 7 Juli 2013)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s