Boneka Air Mata Hantu (Jawa Pos, 29 September 2013)

SAAT aku kecil ibuku bercerita, dia punya boneka yang berasal dari air mata hantu. Terdengar menyeramkan dan tak masuk akal, bukan? Anehnya, aku tidak takut dengan cerita ibu. Aku justru penasaran bagaimana rupa boneka yang berasal dari air mata hantu itu. Baiklah, aku akan memulai kisah ini.

Sejak aku dapat mengingat dengan jelas (berarti seumur hidupku), aku belum pernah melihat Ibu tersenyum dan tertawa. Tidak sekalipun. Aku sudah mengingat-ingat dengan keras dan hasilnya nihil. Wajah ibu selalu kelabu, seolah dia tak pernah mengenal ekspresi kebahagiaan. Hanya gurat-gurat penuh duka yang tergambar di wajahnya.

Aku kerap membayangkan Ibu tersenyum atau tertawa lepas. Semisal di acara ulang tahunku atau mungkin saat menonton film kartun lucu bersamaku. Tapi kenyataannya tak pernah. Bahkan yang membuatku bingung, ibu pernah meraung-raung ketakutan dan menangis saat aku menghadiahinya burung origami hasil prakaryaku di sekolah. Tidakkah itu ganjil?

Tak heran Ibu cepat sekali menua. Bahkan terlalu cepat. Kuterka penuaan dini wajah Ibu karena dia tak pernah tersenyum dan tertawa selama hidupnya. Jadi keriput di wajahnya lebih cepat muncul. Urat-urat di sana tak pernah tertarik kencang, hanya tergelambir seperti karet gelang terendam minyak tanah.

Saat aku SD teman-temanku pernah menyangka ibu adalah nenekku, lantaran wajahnya itu. Juga uban yang mendadak bersekongkol dengan gelambir-gelambir di wajahnya. Padahal waktu itu umurku sepuluh tahun dan ibu baru saja merayakan ulang tahunnya yang ketiga puluh. Tapi teman-temanku menerka usia ibu lima puluh tahun.

Berapa kali aku bertanya pada ibu, kenapa dia tak pernah tersenyum bahkan tertawa? Dan jawaban ibu selalu sama.

Aku tak bisa tertawa lagi karena penjual tawaku sudah diculik hantu perempuan.

Tentu saja aku tersengat mendengar jawaban ibu itu. Alangkah lucu dan tak masuk akal apa yang ibu katakan. Mana mungkin ada penjual tawa di dunia ini. Semua orang bisa tertawa sejak lahir, sebagaimana mereka bisa menangis saat pertama kali mengoek dari rahim ibunya. Tapi ibu bersikukuh kalau dia tak berdusta. Dan aku tak bisa membantah. Saat itu aku duduk di bangku kelas 6 SD.

Seperti halnya bocah-bocah seumuranku, pasti akan sangat penasaran dan tertarik untuk tahu lebih banyak hal ganjil dan tak masuk akal seperti yang diceritakan ibu. Maka aku meminta ibu untuk menceritakan kisah lengkapnya.

****

KATA ibu, dia pertama kali bertemu penjual tawa itu saat duduk di bangku SMA. Usianya sekitar enam belas tahun waktu itu. Ibu dan si penjual tawa itu bertemu di halte depan SMA, di musim yang basah dan daun-daun berwarna hijau cerah. Ibu bahkan ingat persis hari, jam, tanggal, bulan, dan tahunnya. Tapi dia tak ingin membaginya denganku. Katanya, itu biarlah menjadi hal yang paling berharga untuk dia ingat. Baiklah, aku juga tak ingin memaksa ibu membaginya.

Dia tampan. Retina matanya coklat terang dengan hidung lancip. Rambutnya hitam lebat seperti rambutmu. Dan aku paling suka dengan bibir merahnya. Bibir itu terlihat hangat dan basah. Terlebih ketika bibir itu membentuk selengkung senyum atau menderai tawa.

Setiap mengisahkan bagian ini, mata ibu yang keruh berbinar-binar. Seperti ada luapan kebahagiaan yang terperangkap di sana. Tapi tak bisa keluar. Mengerikan, bukan? Kudukku acapkali meremang dengan sendirinya. Aku membayangkan riak itu adalah aku. Aku yang terkurung dalam kamar gelap, hanya bisa melihat keluar tapi tak bisa beranjak ke mana-mana. Menakutkan.

Laki-laki penjual tawa itu setahun lebih tua dariku. Dia juga masih SMA.

Sejak bertemu penjual tawa itu hidup ibu sangat bahagia. Seperti ada pupuk kebahagiaan yang laki-laki itu hamburkan di dada ibu, hingga dada ibu begitu cepat mengembang, lalu dalam sekejap sepetak kebun bernama hati di dadanya disesaki bunga-bunga. Bunga-bunga itulah yang menebarkan aroma kebahagiaan di dada ibu.

Semua itu berlangsung cukup lama. Kata ibu, sejak di bangku kelas 1 SMA hingga dia semester empat kuliah.

Lalu, apa yang membuat laki-laki itu diculik hantu perempuan, Bu?

Aku tak sabar menunggu kelanjutan cerita ibu. Kulempar saja tanya itu. Kupikir, ibu terlalu panjang menceritakan prolog dari kisahnya. Tidakkah akan lebih baik jika langsung ke inti cerita? Aku tak terlalu suka cerita yang bertele-tele. Tapi ibu seolah tak peduli. Dia tak menjawab pertanyaanku.

Semua berjalan penuh kebahagiaan. Ibu dan penjual tawanya terus bersama sampai mereka pindah ke Kota B untuk kuliah. Dan mata ibu akan sangat kelabu bahkan terlihat menghitam bila ceritanya sampai di bagian ini.

Di Kota B petaka itu bermula. Awalnya semua baik-baik saja, terlebih mereka saling mengenal satu sama lain. Bahkan sampai saling mengenal hal-hal yang belum boleh dikenal. Apalagi hal sederhana seperti hobi si penjual tawa yang melipat burung origami.

Burung origami yang dia lipat membawa petaka. Waktu itu hujan deras turun di Kota B. Di bulan merah jambu. Awalnya, dia lipat burung origami seperti biasa dan aku menemaninya. Lalu tiba-tiba burung origami itu bergerak dan terbang dari dalam toplesnya, dia menyerbu ke arahku. Aku tak bisa melawan. Penjual tawa seperti tersihir si burung origami dan lupa ingatan. Burung origami itu mematukku hingga terluka. Dan membekas demikian dalam. Di dada.

Setelah kejadian itu, ibu kerap diserang burung origami dalam toples si penjual tawa. Berkali-kali. Lalu petaka besar datang lagi, seorang hantu perempuan telah menjerat penjual tawa ibu. Dia teperdaya dan ikut si hantu perempuan ke sarangnya. Tak kembali. Tak pernah kembali, walau ibu sudah memohon agar dia kembali.

Dia meninggalkan aku dengan luka dan air mata. Lalu air mata itu menjelma jadi boneka yang terus tumbuh besar.

Cerita ibu tentang penjual tawanya selalu berakhir di bagian ini. Aku sering meminta pada ibu untuk melanjutkan ceritanya. Karena aku yakin cerita ibu belum tuntas, ada kelanjutannya. Tapi ibu bergeming. Acapkali pula kupancing-pancing ibu dengan pertanyaan seperti ini.

Lalu bagaimana kabar boneka air mata yang ditinggalkan penjual tawa itu, Bu? Apa dia terus tumbuh besar sampai sekarang? Apa penjual tawa tahu tentang boneka air mata itu? Di mana boneka air mata itu, Bu? Aku ingin melihatnya.

Dan masih banyak lagi caraku memancing ibu melanjutkan kisahnya. Tapi ibu tetap tak mau melanjutkannya. Ceritanya berakhir dengan ending tak jelas. Menyisakan demikian banyak pertanyaan di benakku. Sementara misiku yang sesungguhnya tak kunjung tercapai: Mengetahui sarang hantu perempuan yang menculik penjual tawa. Bila sudah kuketahui aku akan membebaskannya dan membawanya ke depan ibu. Dengan begitu ibu akan tersenyum dan tertawa lagi.

****

KUPIKIR saat aku beranjak dewasa aku akan melupakan cerita penjaja tawa Ibu ini, karena aku menganggap ini hanyalah dongeng semata. Tapi ternyata aku keliru. Aku justru makin teringat cerita ibu saat aku bertemu seorang laki-laki bermata tembaga ketika usiaku menginjak angka tujuh belas tahun. Dari dia aku bisa tertawa begitu lepas, begitu bahagia.

Lalu, lamat-lamat kesadaran menyergapku tiba-tiba. Jangan-jangan laki-laki ini adalah penjual tawa yang Ibu ceritakan. Tapi, dia begitu muda. Seusiaku. Mana mungkin laki-laki penjual tawa Ibu tak menua.

Hei, bukankah bisa saja itu terjadi. Laki-laki itu diculik hantu perempuan kata ibu. Nah, bisa saja di dunia hantu membuat dia awet muda. Dan dia tak pernah menua sampai kapan pun.

Aku makin penasaran. Ada keinginan untuk membuktikan pikiran yang menikamku itu. Tapi aku ragu. Bagaimana jika benar? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku benar-benar harus membawanya ke depan ibu? Kemudian ibu akan tertawa lagi seperti dulu. Begitu?

Aku tak mampu berpikir jernih, isi kepalaku tumpang tindih. Anehnya, hatiku bergerak sendiri. Aku dan laki-laki bermata tembaga itu semakin akrab. Semakin melebarkan tawa. Semakin membuncahkan bahagia. Dan aku kian penasaran. Kian ingin tahu siapa dia. Mungkin saja dia mengenakan topeng kulit. Mungkin saja dia menyimpan rahasia besar. Dan mungkin saja dia tahu tempat tawa ibu disimpan. Mungkin tawa ibu dimasukan ke dalam botol, ditutup rapat, lalu dimasukan dalam lemari besi, dikunci, dan dibenamkan dalam gudang pengap.

Pikiranku beranak pinak demikian liar. Seliar keingin-tahuanku akan laki-laki itu. Dia juga sangat antusias. Aku menggelora dalam semangat untuk membuka rahasianya. Dia membara dalam letupan yang meledak-ledak di dada. Lalu burung origami mematukku. Dan aku belum kunjung menemukan rahasianya. Apalagi sebuah kunci yang menyimpan tawa ibu.

Hingga, laki-laki itu mendadak hilang tanpa jejak. Tak ada sepucuk surat, sebaris pesan singkat di ponsel, atau apa pun tanda pamit. Dia hilang. Lenyap begitu saja. Aku panik luar biasa. Bukan. Bukan saja lantaran aku takut misiku gagal. Tapi aku mendadak kehilangan senyum dan tawa seiring raibnya laki-laki itu. Apa dia diculik hantu perempuan seperti yang ibu kisahkan padaku? Aku tak tahu.

Yang aku tahu, laki-laki itu sudah mencuri senyum dan tawaku. Membawanya pergi dan mungkin menyimpannya dalam botol di lemari tua sebuah gudang pengap. Dia juga menyemai benih air mata di ladangku. Lalu, air mata itu tumbuh perlahan menjelma boneka. Boneka yang terus tumbuh dan tumbuh. Aku panik. Di tengah kepanikanku, mata ibu yang kelabu menatapku. Matanya begitu kelam, begitu hitam, menikam. Seolah-olah mata itu sepasang pedang panjang yang tajam. Mata ibu mengulitiku. Aku gemetar. Aku berusaha menyembunyikan boneka air mata itu. Tapi tak bisa. Dia terus tumbuh besar tanpa bisa kucegah.

Dan lolongan ibu terdengar seperti jeritan hantu perempuan paling menderita di dasar neraka. Dia meraung-raung menatapku yang ketakutan. Matanya pecah dan air mata yang jatuh berwarna merah. Perlahan wajahku bergelambir, keriput bermunculan, aku menua dengan cepat. Aku berubah jelek seperti hantu perempuan yang mati penasaran. Sementara, boneka air mata itu terus tumbuh besar, menjelma gadis jelita. []

C59, 2013.

By AlamGuntur Posted in cerpen

9 comments on “Boneka Air Mata Hantu (Jawa Pos, 29 September 2013)

  1. Well, analoginya menarik. Tapi aku kehilangan rasa legit ketika membaca cerita-ceritamu, Gun. Secara tema kamu mungkin sudah ke mana-mana, tapi gaya berceritamu menjadi bukan siapa-siapa. *sotoy

    Salam,
    Uchan
    di Bandung

    • Hahahahaha…
      Makasih, Ceu, sudah mampir ke sini. Orang kesekian yang bilang, ada yang bergeser atau berubah atau hilang (dan sebagainya, dan sebagainya) dalam gaya berceritaku. Mungkin aku tengah mencari hal yang baru agar tak mati dalam kebosanan. Entahlah…. Makasih ya atas komentarnya, berguna sekali.

  2. Salam silaturahim.
    Saya baca di JP Minggu kemarin. Saya termasuk orang yg jarang baca cerpen mas. Entah kenapa, cerpen anda di atas, membuat saya (tiba-tiba) tidak sabar menunggu Jawapos edisi hari minggu yang akan datang.

    *Eh mas, burung origami mematuk itu saya belum paham banget. Kalau boleh tahu, analogi dari apa ya. hehehe

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s