Bulan Sabit Berulu (Media Indonesia, 29 September 2013)

DI ujung jembatan itu, sedikit menjauh dan agak tersembunyi di balik pepohonan yang tumbuh demikian rindang, sebuah rumah limas berdiri dalam kebisuan. Limas itu mengingatkanku pada sosok penghuninya. Seorang perempuan tua yang dilukai bulan dan hidup dalam kesunyian.

Sekejap saja pikiranku dikepung kenangan. Masa kanak-kanak yang tersimpan dalam ingatan. Kenangan itu bagai setumpuk besi tua berkarat, berderit-derit ketika diangkat.  Lamat-lamat semua terangkai dalam jalinan cerita yang rasanya masih begitu hangat. Padahal, bertahun-tahun lampau aku sudah melewatinya.

Dulu, di masa aku kanak-kanak, penghuni rumah itu begitu menggoda. Terlebih dengan cerita yang terurai tentang dirinya. Mak Satam, demikian orang-orang dusun Tanah Abang memanggilnya, perempuan tua yang hidup sebatang kara, setelah nasib tragis merenggut seluruh orang yang ia cintai pada tahun 1965.

“Jangan kerap bertandang ke sana, Bujang,” itulah pesan emak bila melihat atau mendengar kalau aku bersama kawan-kawan sering singgah ke limas tua itu sepulang sekolah, “Mak Satam orang tak bertuhan,” sambung emak bila mata bocahku dulu menghatur tanya pada larangannya itu.

Seketika keningku bekernyit tak paham. Tak bertuhan? Lantas, mengapa kami kerap menjumpai Mak Satam tengah khusyuk sembahyang zuhur? Sering pula kami menjumpainya mengaji dengan suara yang demikian lirih. Apa seperti itu tak bertuhan? Entahlah, aku tak berani cerita banyak kepada emak. Tersebab,emak pasti akan marah lantaran aku telah melanggar larangannya.

Kami memang lebih kerap datang diam-diam ke limas Mak Satam. Sepulang sekolah, lepas muazin mengumandangkan azan zuhur yang demikian sengau. Limasnya yang berada di pinggir jalan dekat jembatan, selalu kami lewati pulang-pergi sekolah. Mulanya aku dan kawan-kawan sekadar mampir untuk merayu jambu bijinya yang sudah menguning masak. Kami kerap pula memasang pancing ikan gabus di sungai kecil belakang limasnya. Ia selalu menyambut kami dengan hangat.

Mulutnya yang sudah keriput akan lincah bercerita tentang masanya kecilnya di zaman Belanda dan Jepang. Ia akan bercerita pula tentang batang jambu yang katanya ditanam suaminya. Tentang anak bujang-gadisnya yang berparas mirip bapak mereka. Tentang semua hal yang sepertinya sangat ingin ia ceritakan.

Bila ia bercerita tentang kenangan, Mak Satam akan berwajah demikian buram. Kerap pula sepasang matanya melamur, lalu dari mata tuanya itu akan bermekaran putik-putik bunga kopi, bunga-bunga yang mekar dengan sempurna, lalu gugur saat itu juga.

“Kau anak siapa?” tanya itu masih kuingat jelas, awal mula Mak Satam berkisah tentang dirinya yang dilukai bulan pada kami.

“Anaknya Nalis, Mak,” Sarpen mendahului mulutku terbuka, tersebab aku masih disibukkan mengunyah jambu biji yang setengah masak.

“Oh, Nalis anak bujangnya Saron,” Mak Satam mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, ya, aku kenal dengan bapakmu. Bapakmu itu karib anak bujangku, Satam. Umur mereka sama, hanya beda beberapa bulan. Bila kau tanya pada bapakmu, ia akan paham apa yang Mak ceritakan ini. Bila Satam masih hidup, mungkin saja aku telah bercucu seusiamu,” terawangnya pada langit-langit limas yang kian usang dan lapuk dimamah masa.

“Bulan sabit telah melukai Mak,” sambungnya dengan pipi mulai berleleran airmata. “Gara-gara bulan sabit, Satam mati. Gara-gara bulan sabit suami Mak mati. Bulan sabit juga yang membunuh anak gadis Mak, Murtia. Bulan sabit yang merenggut semuanya.”

“Bulan sabit di langit sana, Mak?” tanya Pangki, karib sebangku itu. Kami mengerlingkan mata tanda sepakat dengan tanya itu.

“Bukan,” desau Mak Satam. “Bulan sabit berulu yang berkarib dengan palu. Ah, tak pahamlah kalian akan itu. Mak pun tak paham kenapa semua jadi begitu,” lagi Mak Satam mendesau dengan muka pilu. Kami berempat: Aku, Sarpen, Pangki, dan Ivan, saling pandang tanda tak mengerti apa yang dikisahkan Mak Satam pada kami.

“Tak ada yang tahu kalau kelompok tani itu disokong bulan sabit berulu yang berkarib dengan palu. Sampai petaka itu datang. Banjir darah melanda. Suami dan anak-anak Mak mati dibantai orang-orang yang marah dan menuding suami Mak bagian dari kudeta.”

Ceritanya tumpang-tindih. Membuat kami lebih sering tak paham. Tapi, kami senyap. Menyimak Mak Satam berkisah.

“Mak meringkuk ketakutan dalam sungai kecil di belakang sana,” gemetar telunjuk Mak Satam menunjuk ke arah belakang limasnya. “Di balik rumpun nanggai yang kerap kalian jadikan tempat mancing ikan. Waktu itu Mak hendak mengambil wudu sembahyang isya. Orang-orang beringas dan tak dikenal itu datang dengan parang-parang berkilat. Jeritan suami dan anak-anak Mak membuat Mak mati ketakutan. Saat Mak pulang, limas ini telah bersimbah darah.”

Kami berempat meringkuk dalam ketakutan dan senyap yang menyergap. Tak ada lagi irama mulut yang mengunyah jambu biji. Jambu-jambu itu terserak begitu saja di ujung-ujung kaki kami, bahkan yang ada dalam genggaman pun tak kuasa lagi kami kunyah. Alangkah mengerikan cerita Mak Satam ini.

Begitulah, Mak Satam kerap berkisah tentang bulan sabit berulu yang telah melukainya. Luka yang demikian dalam di relung dadanya. Orang-orang kampung mengucilkannya setelah itu. Ia lama pergi ke rumah karibnya di dusun jauh, lalu kembali setelah semua bisa ia hadapi.

“Mak yakin, suami Mak tak tahu apa-apa. Ah, tidakkah itu terdengar lucu di telinga, Bujang? Orang kampung macam suami Mak bisa melakukan hal mustahil itu?” kami mengangguk setuju. “Sayangnya, tak ada yang mau tahu. Mereka melukai Mak dengan merenggut apa yang Mak miliki,” dan retina itu kian berkuah airmata.

♦ ♦ ♦ ♦

“Mak Satam sudah meninggal dua purnama silam, Sal,” ucap Sarpen dengan wajah sendu. Aku terpekur mendengar cerita Sarpen itu. “Tak ada yang tahu ia meninggal. Lepas zuhur itu, pulang dari kebun karet, aku mampir ke rumahnya,” Sarpen menelan ludahnya. “Mak Satam terbujur kaku dalam balutan telekung sembahyangnya. Kupikir, kalau tak isya, Mak Satam meninggal subuh.”

Aku tak tahu harus berkata apa. Lagi, berdua kami senyap. Seketika pikiranku melayap, ke pucuk-pucuk pohon karet, ke bubungan limas, dan bertengger pada kenangan. Di sana aku melukiskan wajah penuh luka Mak Satam. Luka yang kupahami setelah bertahun-tahun kemudian aku mafhum dengan apa yang ia kisahkan.

Entahlah, aku tak tahu, mendadak saja mataku mengembang. Putik-putik bunga kopi mekar di sudut-sudut mataku. Aku jarang sekali menangis. Tapi, kali ini aku tak kuasa untuk menahan dua sumur penuh kuah ini. Bergulir begitu saja. Alangkah malang nasib Mak Satam. Setelah ditinggal orang-orang tercinta dengan cara yang menyakitkan, ia terbuang bertahun-tahun di tanah leluhur sendiri. Tragisnya, tak ada yang mau menyembahyangkan jasadnya. Hanya pengurus masjid dan ketiga karibku yang menetap di kampung. Ah, kenangan kami itu seketika menampar-nampar ingatanku.

Aku luruh.Mak Satam tak tahu apa-apa tentang bulan sabit berulu itu. Pun suami dan anaknya, tapi ia menanggung dosa itu seumur hidupnya. Dosa yang tak pernah ia perbuat. Dalam kenangan yang menggigil, aku berkuah airmata. []

Tanah AbangMuara Enim 2011-2013.

By AlamGuntur Posted in cerpen

3 comments on “Bulan Sabit Berulu (Media Indonesia, 29 September 2013)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s