Tips Part 3 : Paragraf Pertama dan Ending yang Kece

Image

Ikaln My Curly Love dan orangnya, jomblo sih😀

 

Sudah jadi rahasia umum, jika paragraf pertama dalam sebuah cerita akan menentukan nasib cerita itu. Cerita akan terus dibaca atau ditinggal bergantung dari kalimat pembuka yang menarik atau tidak. Kadang ada cerita yang sebenarnya bagus tapi nggak dibaca orang karena kalimat pembukanya membosankan atau bertele-tele.

Lantas bagaimana cara membuat paragraf pertama yang menarik?

Heemmm… ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Ini berdasarkan pengalaman pribadiku saat menulis atau saat mengamati teknik tulisan penulis lain atau dari beberapa buku yang sempat kubaca.

 

Pertama, aku suka membuka ceritaku dengan memberi gambaran pada pembaca akan isi ceritaku. Garis besarnya. Menurutku cara ini bisa mengikat pembaca agar tertarik dengan apa yang akan kuceritakan. Walau beberapa orang mengatakan, cara ini cukup berbahaya. Kenapa? Karena kalau nggak bisa ditulis dengan baik, akan membuat pembaca justru tak tertarik. Sebab untuk apa membaca sesuatu yang sudah jelas di kalimat pembuka? Cara menyiasatinya, biasanya aku tak memberikan semua informasi cerita di paragraf pertama. Tapi hanya sekadar garis besar cerita.

 

Contoh:

Takbanyak yang tahu. Ah, mungkin tepatnya, tak ada yang tahu. Kalau selain Mary Wollstonecraff Godwin dan kekasihnya, penyair Percy Bysshe Shelley, yang menjadi tamu Lord Byron di musim panas 1816, ada seorang tamu lagi yang menginap di kastilnya malam itu. Kastil megah di tepi Danau Geneva. (Tamu Ketiga Lord Byron, Koran Tempo, 16 Oktober 2011)

 

Kalimat pembuka di atas sudah memberi gambaran akan garis besar cerita pada pembaca. Yaitu tentang tamu-tamu Lord Byron di musim panas 1816. Nah, dari sana akan timbul pertanyaan? Siapa tamu ketiga? Kenapa namanya tak langsung disebut seperti Mary dan Percy? Apa istimewanya cerita tentang tamu ini hingga harus dibagi pada pembaca? Dan seterusnya.

Diharapkan pembukaan yang memberi garis besar cerita pada pembaca seperti ini akan membuat pembaca penasaran dan ingin melanjutkan bacaannya. Diharapkan…. biasa jadi justru pembaca nggak tertarik. Hihihihi…

 

Kedua, aku senang sekali menyodorkan masalah/konflik yang ada dalam cerita pada pembukaan ceritaku. Karena menurutku itu menarik. Bukankah pembaca akan penasaran dan ingin tahu; bagaimana masalah dalam cerita ini berakhir? Apa akan berakhir bahagia atau justru sebaliknya?

 

Contoh:

Dusun Tanah Abang gempar. Saro, anak gadisnya Wak Safar, hilang di Lematang. Di batang, di atas rakit dari kayu gelondongan dan papan itu, hanya ada bakul cuciannya. Sosok gadis sepuh itu lenyap. Menggeliatlah dusun yang tengah lelap di pagi ingusan itu, pagi ketika orang-orang muda tengah berpeluh menggumuli pokok-pokok karet. Pagi itu, mendadak Tanah Abang menjadi rincak seperti gadis muda belia yang tengah mengkal. Menggoda, mengundang seluruh orang untuk tumpah di bibir Lematang. (Perempuan yang Tenggelam di Lematang, Suara Pembaruan, 23 Januari 2011) ßcerpen ini salah 1 dari 19 cerpen yang ada di buku kumcerku yang akan diterbitkan Sheila Fiksi, Penerbit Andi, dalam waktu dekat. Judulnya buku kumcernya Mata Sayu itu Bercerita (iklan dulu, hahahahaha…)

 

Bagaimana dengan pembukaan cerita seperti itu? Tentu pembaca ingin tahu nasib si Saro itu? Ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, kan? Nah, diharapkan keingin-tahuan pembaca ini membuat mereka meneruskan bacaannya.

Di dalam novel yang kutulis, aku juga biasanya membuka cerita di bab 1 atau prolog dengan menyodorkan konflik utamanya.

 

Contoh:

“Bantu gue dapetin Mei, Sa.”

Ucapan Dion itu membuat tulang-tulang di tubuh Sasa terasa mencair. Dia nggak salah dengar, kan? Dion minta dia jadi mak comblang untuk Dion dan Mei. Apa cowok kribo itu nggak tahu kalau sejak dulu Sasa menyukainya? Atau Dion sengaja? Sasa menggigit bibirnya, menahan tangis. (Paragraf di bab 1 novel My Curly Love, Penerbit Ice Cube Publisher, Penerbit KPG. Masih tersedia di toko buku kok. Beli ya? Iklan lagi, hahahahaha…)

 

Ketiga, nggak tahu ini hampir sama atau tidak dengan menyodorkan konflik pada pembaca. Aku suka membuka ceritaku dengan menampilkan ketegangan pada pembaca. Sesuatu yang membuat kita sebagai pembaca menahan napas dan deg-deg-ser dibuatnya. Jiya! Deg-de-ser. Hihihihi…

 

Contoh:

Aku baru saja membunuh ayahku dan meninggalkan Ibu yang menangisinya. Heran, seharusnya perempuan itu tertawa bahagia karena aku sudah mewujudkan keinginan yang bersemayam dalam hatinya. Mungkin dia terlalu pengecut untuk mengakui itu. Atau bisa jadi, sebenarnya Ibu tengah bersandiwara di depan tetangga, kalau dia begitu kehilangan laki-laki berengsek itu. Padahal kenyataannya, dia senang bukan kepalang. (Jerat, Suara Merdeka, 14 April 2013)

 

Agak ngerikan membayangkan cerita yang seperti ini. Nah, aku memanfaatkan kengerian itu untuk memancing pembaca.

 

Contoh yang lain:

Malam ketika Ayah membunuh Ibu, hujan turun dengan deras. Aku ingat, itu bulan Desember, karena lonceng dan kidung Natal bergema dari gereja sebelah kontrakan kami. Tak ada yang mendengar jeritan Ibu. Gemuruh hujan menenggelamkannya. (Malam Hujan Bulan Desember, Kompas, 15 September 2013)

 

Tegang nggak? Tegang ya? Tegang ya? Awas loh kalau situ nggak bilang tegang dan merinding disko bayangin cerita selanjutnya kalau nemu paragraf pertama kayak gini. Loh, kok maksa sih? Bhuahahahahaha….

 

Keempat, cara ini agak jarang kupakai. Tapi menurutku cukup oke juga sih. Yaitu menampilkan setting cerita di paragraf pertama. Biasanya aku memakai paragraf seperti ini untuk cerita-cerita berbau horror atau gotik. Biar terkesan serem gitu.

 

Contoh:

Limasitu pekat. Tak ada setitik cahaya pun yang terlihat. Dinding-dinding papannya terlihat kusam dalam gelap. Bau melati menyeruak. Mengelindap. Semerbak. Lalu, berputar-putar ke atas bubungan. Kemudian, angin membawanya terbang. Menarik kunang-kunang kecil untuk datang. (Peri Kunang-Kunang, Koran Tempo, 3 Juni 2012)

 

Tapi harus hati-hati memakai cara ini untuk paragraf pembuka. Sebab kita bisa terjebak dengan paragraf pembuka yang monoton dan membosankan sekali. Kita harus menuliskan setting yang kuat dan benar-benar penting agar membuat bangunan cerita menjadi menarik. Hati-hati! Jangan terjebak dengan berlebay-lebay ria mendeskripsikan suasana setting dan sekitarnya, seperti keadaan bulan yang sendirian, malam yang sepi, angin sepoi-sepoi, matahari yang cantik, dan sebagainya. Dih, malesin banget kalau dibuka kayak gitu.

 

Nah, itu dia 4 caraku dalam membuka cerita alias paragraf pertama. Sori kalau aku pakai contoh tulisanku sendiri. Soalnya ribet kalau harus cari contoh tulisan orang lain. Harus cari-cari dulu. Kan kalau tulisan sendiri tinggal buka Data D di laptop. Hahahahaha… Jadi jangan protes ya.😀

Ending

Tentang ending, sebenarnya aku tak punya cara khusus dalam menuliskan ending cerita. Kalau kamu rajin baca cerpenku, kamu akan tahu gayaku dalam menutup cerita. Ending gantung! Hahahahahaha…

Kata orang-orang sih itu ending gantung. Tapi menurut teori itu ending terbuka alias terserah pembaca meneruskan cerita yang ada. Penulis membuka kesempatan untuk pembaca berimajinasi dengan kelanjutan cerita yang tak “diselesaikan” penulisnya. Kenapa aku sering memakain ending terbuka? Karena kadang aku juga bingung gimana selesaikan cerpenku. Bhuahahaha…

 

Contohnya:

Anginkian mendedas di pelipir limas, meningkahi perjuangan Bi Mar dalam bilik pengap. Sesekali terdengar rintik mengimbau di atas genting. Kajut Mis masih terus memberi aba-aba, menyemangati Bi Mar yang kian kepayahan. Usia yang sudah lewat kepala empat, anak yang kata Kajut Mis sungsang, membuat perjuangan Bi Mar kian berat. Sementara itu, di tengah limas, Mang Isa menunggu dengan cemas, anak-anak perawannya meringkuk dalam senyap. Doanya cuma sebatang kalimat: Anak bujang! (Mar Beranak di Limas Isa, Kompas, 20 Maret 2011)

 

Kalau kamu belum baca cerpen ini, aku kisahkan sedikit. Cerpen ini tentang Bi Mar yang dituntut oleh adat, suami, keluarga, dan masyarakat di lingkungannya agar terus hamil dan melahirkan sampai dia bisa melahirkan anak laki-laki yang kelak menjadi penerus keluarga. Tak peduli jika Bi Mar sudah punya banyak anak perempuan dan umur yang semakin tua. Selagi masih bisa hamil, dia harus terus hamil. Menakutkan ya?

Dan begitulah ending ceritanya. Aku sebenarnya kasihan sama Bi Mar, tapi juga nggak tega dengan suaminya, Mang Isa, yang ingin sekali dapat anak laki-laki. Jadi ya kuakhiri saja cerita di situ. Biar Bi Mar dan Mang Isa atau pembaca yang melanjutkan kisah mereka. Hiks….😥

Ada lawan ending terbuka yaitu ending tertutup. Artinya ending tersebut membuat ruang imajinasi pembaca sedikit kecil. Pembaca tak bisa meneruskan cerita karena akhir dari cerita sudah jelas. Misal dari contoh cerpen Bi Mar tadi, Bi Mar melahirkan anak laki-laki dan mereka hidup bahagia selamanya. Kayak dongeng banget ya.

Kira-kira gitu deh. Semoga saja ocehan kali ini bermanfaat. Jangan lupa perhatikan iklan buku di tips ini ya. Dan kalian harus beli… *maksa* Hahahahaha…. Semoga manfaat. Sampai jumpa pada ocehan gila episode berikutnya. Kamu bisa ngobrol gila juga dengan follow twitterku @AlamGuntur. Mmmuuuuuaaaccchhhh…. []

Image

Buku #HabibMunzir sudah tersedia di TB. Gramedia, Gunung Agung, Tisera, dll. Harga Rp 39.000. Penerbit QultumMedia

🙂🙂🙂

11 comments on “Tips Part 3 : Paragraf Pertama dan Ending yang Kece

  1. Sebagai pembaca, aku lebih suka dengan cara mas memulai cerita. Calon pembaca disajikan kalimat pembuka yang bikin penasaran, bikin tegang, bikin mikir karena itu akan membuat calon pembaca itu mau gak mau ( kalau bilang terpaksa, rasanya gimana gitu yah ) tetap meneruskan membacanya.
    Kalimat pembuka yang bertele-tele biasanya sih di-skip sampai ketemu yang seru. Kalau gak ketemu juga biasanya aku tinggalkan. Kelar bacanya.😛

    Nice post, mas. Terima kasih sudah berbagi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s