Cerpen Gokil: Chapter 9 (ThumbStory)

Image

#MyCurlyLove sudah tersedia di toko buku. Novel remajaku

 

Aku tersengal-sengal. Ya Tuhan… mimpi buruk itu lagi. Ini mimpi yang kesekian sejak Josh jatuh pingsan di café Awan dan sekarang tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Mendadak, aku merinding. Ada perasaan takut yang menyelinap.

Aku sudah menceritakan mimpi buruk ini pada Andre dan dia bersikap dingin. Bahkan dia terlalu santai. Mungkin niatnya bagus, agar aku nggak terlalu khawatir tentang Josh.

“Josh nggak akan mati, Ren. Sebenarnya dia itu cuma cacingan. Minum obat cacing dua tablet beres. Atau kalau nggak sebenarnya dia cuma sakit panu. Kita beliin aja obat panu satu kontener, pasti sembuh.”

Gila, penyakit kok keren banget. Mana mungkinlah kalau Josh cacingan atau sakit panu dirawat kayak gitu? Dan aku nggak tahu kenapa Josh, dokter, dan keluarganya nggak pernah mau menceritakan tentang penyakit Josh itu.

Aku jadi teringat dengan permintaan Josh waktu itu. Kalau aku nggak bisa milih antara dia atau Andre, Josh cuma minta agar aku mau jadi pacarnya selama sebulan. Ah, seandainya saja Andre nggak tahu, mungkin aku akan mengabulkan permintaan Josh itu. Siapa tahu aja –bukan berniat ngedoain Josh koit- hidupnya memang sebentar lagi.

Duh, kok aku jadi takut (lagi) kalau ngebayangi Josh meninggal. Soalnya aku akan kehilangan tempat curhat, tempat nebeng motor ke sekolah karena Andre itu kalau tidur udah kayak kebo, selalu kesiangan dan janjinya buat jemput setiap pagi selalu gagal total. Josh juga tempat minta traktiran kalau lagi boke, tempat nangis kalau lagi berantem ama Andre. Pokoknya aku bakalan rugi besar kalau Josh kenapa-kenapa.

Siapa lagi coba yang mau dikata-katain pas aku lagi kesal kecuali Josh? Siapa juga yang bersedia mendukungku mewujudkan impian suatu hari nanti nerbitin novel dengan judul yang absurd, Tata Cara Merawat dan Melihara Rambut Bob Jamur dengan Baik dan Benar? Cuma Josh. Hanya Josh. Herannya kok aku jatuh cintanya ama Andre. Sebenarnya aku juga suka Josh tapi yang nembak dengan kata-kata puitis Andre, sedang Josh nembak aku dengan senapan angin yang dipinjam dari Pak Lurah. Daripada mati, mending kutolak.

Serena…! Lu gila ya? Josh sekarat dan lu masih mikirin untung-rugi.

Aku tercengir sendiri. Emang gila ya? Kugaruk rambut bob jamurku. Ah, aku makin stres saja gara-gara ulah dua anak monyet yang sekarang menjelma jadi gozzila itu. Josh dan Andre. Mendadak, aku teringat ucapanku pada Andre kemarin sepulang dari rumah sakit.

“Dua hari lagi Josh ultah, Ndre. Kita bikin pesta kejutan yuk. Biar dia ceria lagi. Kan BT kalau terbaring di ranjang rumah sakit mulu.”

****

“Ndre, mending jangan deh. Kalau niat ngerayain ultah Josh ya yang baik-baik kek. Jangan ngerjain kayak gini. Kalau dia serangan jantung atau kena ayan, kan berabe? Aku nggak mau gotong-gotong Josh ke UGD sambil jalan kaki. Bisa gempor tauk.”

“Ya ela, Ren. Nggak gitu juga kali. Ini biar ultah Josh berkesan. Kalau hidupnya memang sebentar lagi, semoga ultah terakhirnya ini begitu membekas sampai ketika dia jadi pocong pun dia akan tetap mengenangnya.”

“Ish… doa lu…” aku manyun.

“Tenang aja. Paling Josh pingsan doang kalau dia beneran takut. Masak iya juga anak band dengan gaya metal tapi penakut. Kan gak lucu.”

“Takut ya takut aja, Ndre. Gak ada urusan anak band atau anak kyai. Dan juga Josh sekarang lagi sakit. Lu nggak liat dia tergolek lemah kayak gitu?”

Tapi Andre nggak mau mendengar ucapanku. Dia tetap melancarkan aksinya untuk ngerjain Josh di hari ulang tahunnya. Aku jadi sedikit menyesal sudah mencetuskan ide memberi Josh kejutan itu. Padahal niatku agar kekakuan antara Andre dan Josh kembali mencair, sejak Andre tahu kalau Josh suka padaku dan minta supaya aku jadi pacarnya selama sebulan. Hubungan Andre dan Josh sedikit renggang, nggak seperti yang dulu. Nah, biar mereka akrab lagi dan aku nggak serba salah, aku mencetuskan ide untuk memberi kejutan Josh di hari ulang tahunnya. Lagian, Andre harus menyadari jika Josh benar-benar sakit.

Cuma Andre punya pikiran lain. Sepertinya ini sekalian ajang balas dendam dari Andre atau emang murni cara dia menunjukan pedulinya. Tapi ya tetap saja, sudah tahu Josh takut hal-hal berbau horror, Andre malah berniat nyamar jadi suster ngesot.

****

Aku sengaja berangkat ke rumah sakit lebih dulu, nggak menunggu Andre jemput karena aku masih nggak setuju dengan ide gilanya itu. Tapi karena buru-buru itu, aku nggak sempat dandan yang layak. Memang sih malam ini aku dan Andre berniat jaga Josh di rumah sakit sekalian memberi kejutan ultahnya itu.

Aku memakai t-shirt kebesaran warna pink, celana pendek di atas lutut, rambut bob jamur, dan tas ransel biru berisi perlengkapan selama jaga di rumah sakit. Aku meringis menyadari penampilan absurdku ini. Kok kayak Dora the Explorer ya?

Aku menekuk wajah menyadari itu semua. Sebenarnya, aku ingin meninggalkan tas ransel ini tapi di dalamnya ada kotak kado untuk Josh. Kado spesial. Aku mendapatkannya nggak mudah dan nggak murah. Tapi kupikir itu memang layak untuk Josh, sahabatku yang sedang sakit. []

[cerpen ini ditulis dalam rangka ThumbStoryEstafet, Oktober 2013]

By AlamGuntur Posted in cerpen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s