Ocehan Tentang Harimau! Harimau! Mochtar Lubis

 

Gambar

Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis

Salah satu rencanaku di tahun 2014 adalah membaca lebih banyak buku. Jujur di tahun 2013 aku sedikit sekali membaca buku, mungkin karena terlalu sibuk ngoceh di sosial media kali ya. Padahal banyak buku yang sudah dibeli, dikasih, tukeran tapi belum dibaca. Sayang banget. Untuk memenuhi target baca buku lebih banyak itu, aku akan memaksa diriku sendiri

Nah agar tercapai, aku perlu siasat. Biasanya penulis baru akan semangat nulis ketika deadline semakin dekat. Lalu bagaimana dengan membaca? Aku ingin membuat “semacam” deadline juga (atau tugas ya), selesai baca aku harus menuliskan ocehanku atas buku itu. Kan malu kalau ocehan nggak nambah-nambah di blog. Harapannya dengan cara itu, aku punya semacam tanggung-jawab untuk membaca. Mudah-mudahan aku masih punya malu entar. Duh, jangan sampai setahun cuma satu ocehan buku yang diposting.

Ocehan pertamaku tentang novel Mochtar Lubis berjudul Harimau! Harimau!, terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, cetakan kedelapan, 2013.

Buku ini aku beli saat ke Bandung, mengikuti acara Jabar Award 2013, kebetulan ada yang buka lapak buku di sana. Harganya berapa ya? Agak lupa. Empat puluh ribu kayaknya. Nggak tahu deh kalau di toko buku berapa harganya.

Setelah zaman SD-SMP membaca novel-novel lawas karya pengarang-pengarang beken Indonesia seperti Sultan Takdir Alisjahbana, NH. Dini, Armijn Pane, dan kawan-kawannya, baru kali ini aku kembali membaca novel “tua” dari Indonesia.

Sebenarnya tertarik dengan novel Harimau! Harimau! ini setelah beberapa teman di twitter bercuit tentang buku ini. Lama-lama penasaran juga, sebab teman-teman yang bercuit itu menurutku selera bacanya cukup bagus. Jadi ketika melihat novel ini saat acara Jabar Award 2013, aku tak berpikir panjang lagi untuk membelinya.

Kesan pertama membaca novel ini, sedikit bosan dengan pembukaannya. Aku tak terlalu suka membaca novel yang dibuka dengan deskripsi suasana yang menurutku tak oke. Cuma kurasa, deskripsi tentang hutan di halaman pertama novel ini sengaja ditulis Mochtar Lubis agar pembaca terbawa dengan suasana hutan yang akan jadi setting ceritanya.

Novel ini bercerita tentang tujuh orang pencari damar di hutan daerah Sumatra Barat. Pak Haji, Wak Katok, Pak Balam, Sutan, Talib, Sanip, dan Buyung. Dari ketujuh orang ini, Buyung yang termuda, berusia 19 tahun, belum menikah dan diam-diam menyukai Zaitun. Teman masa kecilnya yang sudah jadi gadis jelita. Buyung memang menjadi tokoh utama dalam novel 212 halaman ini.

Cerita ringkasnya, ketujuh orang ini berprofesi sebagai pencari damar di hutan. Tentu saja ada yang punya profesi lain seperti Wak Katok yang dianggap dukun kampung karena punya banyak ilmu sihir dan mantera-mantera. Mencari damar di tengah hutan rimba tentu memakan waktu yang lama, bisa berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Nasib baiknya, di tengah hutan rimba itu ada ladang Wak Hitam, jadi mereka numpang bermalam di pondok Wak Hitam selama mengumpulkan damar.

Wak Hitam adalah laki-laki tua sakit-sakitan yang misterius. Diceritakan dia mempunyai empat bini, banyak anak dan harta. Dia terkenal sebagai dukun hebat. Wak Katok pun menyebutnya sebagai guru. Namun yang tak habis dimengerti oleh orang-orang kampung adalah dari mana kekayaan yang Wak Hitam dapatkan? Kenapa pula dia lebih memilih hidup di tengah hutan rimba bersama istri mudanya, Siti Rubiyah, yang hampir sebaya dengan Buyung –mungkin lebih tua sedikit. Orang-orang menduga dia melakukan itu karena memang demikian perjanjian yang dilakukan oleh Wak Hitam pada dedemit yang bersekutu dengannya. Nanti alasan tepat tentang hal ini terungkap.

Melihat Siti Rubiyah yang cantik dan molek, tentu saja membuat Wak Katok, Sanip, Talib, Sutan, dan Buyung (Wak Haji dan Pak Balam tak disebut) kerap berdesir-desir darahnya. Terutama bagi Wak Katok Talib, Sutan, dan Sanip yang sudah berkeluarga. Berhari-hari jauh dari istri membuat gejolak di dada mereka membara. Sementara Buyung dia lebih tertarik karena penasaran sekaligus kasihan dengan Siti Rubiyah yang menurutnya menderita. Seharusnya perempuan seumur itu hidup di kampung, di tengah orang ramai, berkumpul dengan karib sebayanya, bukan di tengah hutan rimba yang jauh dari manusia.

Namun kelima orang ini berusaha menyembunyikan perasaan terhadap Siti Rubiyah karena mereka takut dengan Wak Hitam. Sementara Buyung menutupi perasaannya selain takut dengan Wak Hitam, karena dia tetap mencintai Zaitun walau gadis itu jinak-jinak merpati. Kadang baik, terseyum, dan tersipu-sipu jika bertemu. Kadang kala cuek dan seolah tak peduli padanya. Sikap ini membuat Buyung kian penasaran dan makin jatuh cinta pada Zaitun.

Saat rekan-rekannya mengumpulkan damar, Wak Katok pergi menyelinap. Dia mengintip Siti Rubiyah mandi di sungai. Kondisi Wak Hitam yang tergolek lemah di dalam kamar pondok yang pengap, membuat Wak Katok jadi berani. Selepas perempuan itu mandi, dia menyeretnya ke balik semak-semak. Wak Katok tak sadar jika Sanip mengetahui perbuatannya itu –karena dia pun pergi menyelinap untuk mengintip.

Buyung pun pernah ngobrol panjang lebar dengan Siti Rubiyah di sungai, saat perempuan itu tengah mandi dan bermain air. Dia berusaha menangkap ikan kecil-kecil dan Buyung membantunya. Di sini terungkaplah kebengisan Wak Hitam pada perempuan muda ini. Setiap malam Wak Hitam melakukan hal keji padanya. Mereka akan tidur dalam satu selimut tanpa kain lagi yang melekat di badan. Katanya biar kemudaan Siti Rubiyah mengalir pada Wak Hitam, agar laki-laki tua itu panjang umur. Tak hanya itu, setiap akan berhubungan suami-istri, Wak Hitam menyiksa Siti Rubiyah dulu. Mencakar punggungnya, dada, dan bagian-bagian tubuh lainnya. Sebentar, seingatku ini termasuk kelainan seksual. Seseorang baru terangsang ketika pasangannya menderita dan terluka.

Inilah alasan kenapa Wak Hitam lebih senang hidup di hutan rimba bersama satu per satu istrinya (bergantian), biar dia bisa menyiksa mereka sebelum berhubungan suami istri. Bila ini dilakukan di kampung, mungkin orang-orang akan marah. Tentu saja selain hal ini, alasan Wak Hitam tinggal di hutan agar dia leluasa menjual racun dan hal-hal buruk pada beberapa orang yang membutuhkan jasanya.

Saat damar sudah terkumpul, ketujuh orang ini hendak pulang ke kampung mereka, menjual hasil damar, dan mungkin kembali lagi ke hutan beberapa hari kemudian. Satu per satu mereka berpamitan dengan Wak Hitam dan Siti Rubiyah. Buyung pun begitu. Dia sedikit tak tega melihat Siti Rubiyah, terlebih dia sudah berjanji akan menolong perempuan ini lepas dari cengkraman Wak Hitam. Katanya, dia akan memikirkan caranya dan meminta pertolongan orang di kampung. Padahal dalam hati Buyung, dia berharap Wak Hitam mati saja dengan demikian Siti Rubiyah bebas dan dia tak susah menolongnya.

Di tengah jalan pulang, Buyung teringat dengan jerat kancilnya. Dia memang memasang jerat kancil, bila dapat anak kancil, akan dia hadiahkan pada adiknya Zaitun. Itu tentu cara yang manis untuk memikat hati Zaitun. Sayangnya selama itu tak satu pun kancil terjerat. Pagi itu, Buyung lupa melihat jeratnya. Talib mengatakan sebaiknya Buyung melihatnya. Mungkin saja ada anak kancil yang terjerat, kalau iya, anak kancil itu akan mati kelaparan karena mereka akan kembali ke hutan ini beberapa hari atau minggu kemudian. Karena desakan Talib inilah Buyung kembali.

Ternyata benar, ada anak kancil yang terjerat. Buyung membawanya dalam keranjang tapi dia berbolek ke sungai untuk memberi anak kancil itu air minum. Di sanalah dia melihat Siti Rubiyah sedang mandi tanpa sehelai kain penutup. Siti Rubiyah menyadari kehadiran Buyung, menanyakan kenapa Buyung kembali. Buyung menunjukan anak kancil di keranjangnya. Mereka mengobrol dan ujung-ujungnya…. terjadilah hal yang diinginkan. Bagian ini tak boleh kuceritakan. Baca sendiri. Hahahaha…

Di tengah perjalanan pulang ke kampung. Mereka berburu rusa. Buyung berhasil menembak mati rusa jantan dan mereka mengulitinya dan membagi dagingnya. Sayangnya rusa betina melarikan diri. Ternyata ini kesalahan fatal. Seekor harimau tua sudah mengintai rusa betina ini, dia kelaparan berhari-hari, dan sangat marah ketika buruannya diambil Buyung dan kawan-kawan.

Mulailah novel ini jadi menegangkan. Harimau itu memburu mereka. Pak Balam yang pertama-tama menjadi korban, dia disergap saat buang hajat di sungai. Nyawanya selamat tapi dia sekarat. Dari mulut Pak Balam inilah terurai mimpi buruknya sebelum mereka berangkat mencari damar ke hutan. Tentang mereka yang akan mati. Dan harimau yang dikirim Tuhan untuk menghukum mereka yang berdosa.

Bagian ini membuatku sedikit malas dengan novel ini. Karena serasa dikhutbahi dengan segala hal yang baik dan buruk. Pembaca tak di bebaskan, tetapi dituntun.

Namun ceritanya memang seru dan menegangkan. Korban harimau ini jatuh satu per satu. Pak Balam, Talib, Sutan, dan lain-lainnya.

Memang harimau dalam novel ini sangat multitafsir. Bisa jadi memang harimau dalam bentuk yang sesungguhnya, hewan. Bisa jadi harimau di sini adalah hawa nafsu manusia, seperti yang disinggung-singgung pengarangnya dalam cerita. Ada harimau yang jauh lebih berbahaya dalam jiwa setiap manusia. Harimau itulah yang membuat citra Wak Katok  runtuh. Terbongkar seluruh aib tentangnya, termasuk mentalnya.

Sebagai pembaca ada imajinasi lain ketika aku menamatkan novel ini. Entah ada yang berpikir sama denganku atau tidak. Aku merasa harimau tua yang mengejar Buyung dan keenam temannya adalah harimau jadi-jadian. Jelmaan Wak Hitam. Rusa betina buruan harimau ini, yang kemudian lepas gara-gara Buyung menembak mati rusa jantan adalah simbol untuk Siti Rubiyah. Buyung dan beberapa orang dalam kelompoknya sudah mengganggu Siti Rubiyah, jadi Wak Hitam marah dan ingin membunuh mereka.

Entahlah, ini benar atau bukan. Memang harimau dalam novel Mochtar Lubis ini bisa bermakna yang macam-macam tadi. Bisa berupa simbol dan yang lain-lain.

Secara umum, aku suka novel ini. Gaya ceritanya sederhana dan khas novel-novel lama yang dulu aku baca dan kenal. Berbeda dengan novel-novel penulis zaman sekarang yang sibuk dengan berbagai teknik yang rumit dalam bercerita. Mocthar Lubis bercerita dengan cara yang sederhana, bahasa sederhana, dan hal yang tidak sederhana sebenarnya. Tapi semua itu tersampaikan pada pembaca –khususnya padaku.

Namun seperti yang sudah kukatakan di awal, aku sedikit tak suka dengan cara Mocthar Lubis membuka novelnya. Mungkin di zaman novel ini ditulis, membuka cerita dengan deskripsi setting hal lumrah. Kedua aku tak suka dibagian seperti khutbah, saat narasi Pak Balam yang tentang dosa, Tuhan, dan azab. Mungkin juga di zamannya menuliskan amanat dalam novel harus seperti itu, kurang tahu juga. Maklum, aku bukan pengkaji sastra, hanya penikmat semata.

Heemm, itu saja deh ocehan tentang novel Mochtar Lubis ini. Semoga ada manfaatnya. Kalau penasaran tentang kelanjutan kisah Buyung dalam novel ini, silakan beli dan baca sendiri. Sori kalau ocehan ini kurang bagus. Ternyata menulis review sebuah buku itu bukan hal mudah. Aku baru menyadarinya. Tapi aku tetap ingin belajar dan menuliskan ocehanku tentang buku-buku lain yang kubaca. Salah satu tujuannya agar bacaanku jadi banyak tahun ini. Hehehe..

Selamat membaca.[GA]

By AlamGuntur Posted in Buku

7 comments on “Ocehan Tentang Harimau! Harimau! Mochtar Lubis

  1. Satu lagi tips biar kelar baca novel bung, tuntaskan!
    Ketika kita menemui cerita bab yang membosankan jangan ditunda atau diletakkan untuk baca yang lainnya, paksa tuntaskan. Pokoknya komit harus kelar, jangan baca 2, 3 atau 5 novel sekaligus akan membuat malas. Pokoknya tuntaskan, pasti tak kan terbengkelai.
    Mengenai harimau, memang raja hutan ini penuh simbol. Harimau raja simbol, terlalu banyak cerita pengandaian dengan binatang satu ini. Eh saya belum baca harimau harimau!
    Yang jelas kalau tentang harimau, macam, singa dan sejenisnya juaranya adalah NARNIA!😀

  2. mantap bang . . salam kenal dari saya,karena ini kunjungan pertama saya . . hehehe . . .

    Ocehan abang satu ini,kembali mengingatkan saya akan novel itu,telah lama sekali saya membaca novel tersebut,bahkan mungkin lupa kapan persisnya . . . hahaha . . .

    Ijinkan saya juga sedikit menanggapi tulisan abang,
    karena saya bukan penulis ulung,dan tak punya karya yg hebat,mungkin saya hanya bisa katakan melalui sudut pandang dan kemampuan saya saja,

    Pertama
    Tentang kicauan pak Balam, menurut saya proses menggiring inti dari cerita ini ada disana, sehingga cerita menjadi lebih menarik. kita tidak langsung disuguhi loncatan yang sulit kita jangkau pemahamannya, namun tidak pula kita diumbar untuk langsung menerka inti cerita tersebut. Kita dibawa untuk memperhatikan psikis seseorang, yang terbentur akan keadaan. (hemat saya hampir sama dengan buku Penjual Koran, seingat saya karya A.A. Navis, maaf jika keliru bang . . hehehehe . . . )
    ‘Khutbah’ pak Balam menurut saya memberikan gambaran bahwa,sebagian besar manusia,akan mengalami goncangan dasyat ketika mendapat tekanan, lebih-lebih jika itu adalah suatu bentuk bencana. Kita disuguhkan gejolak psikis dari seseorang, dimana perjalanan psikis tersebut cepat atau lambat akan berimbas pada lingkungan, termasuk kepada seorang lain disekitarnya. Seingat saya,karena ‘khutbah’ pak Balam ini, menjadikan keadaan mulai nampak tegang, ditambah dengan perubahan pada karakter yg lain dimana prinsip dasar seseorang adalah menimbang kebenaran perihal sesuatu, sehingga muncul goncangan terhadap karakter lain dan akhirnya menunjukkan sikap yg mungkin asli atau terpaksa menjadi asli dari karakter-karakter dalam cerita tersebut.
    Jadi,saya tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Pak Balam adalah seorang yang bermental baja (kuat), sehingga ia hanya cukup menampilkan rasa sakit fisik akibat terkaman harimau.

    Kedua
    Jujur saya masih bimbang akan pesan penulis, bahwa bunuhlah harimau dalam hatimu . . . (hanya mengingat-ingat pesannya . . hehehe . . .)
    apakah harimau dalam hati kita melambangkan perihal wak hitam, atau perihal buyung,selaku kita ini masih muda atau karakter yang lain???
    Saya benar-benar merasa bingung, ketika memaknai cerita ini . . !

    Fantasi saya lebih berkata, harimau ini bukan perlambang sifat, atau rohani seseorang, namun lebih kepada sikap (dalam artian sedikit bergeser dari makna sifat,sehingga saya lebih mengartikan adanya perbedaan antara sifat dan sikap) seseorang dalam menerima pengajaran dari suatu keadaan. Sehingga pada tiap masa, kita akan tanggap dengan suatu hal yg diberikan oleh keadaan.

    Akhir celoteh saya ini,
    Saya benar-benar minta maaf atas kelancangan saya pada kunjungan pertama ini.
    Bukan bermaksud menjadi seorang yg faham dan fasih akan sebuah karya, namun saya hanya sangat tertarik akan catatan abang ini, dan seketika itu pula kelancangan saya muncul, mungkin itu juga termasuk harimau dalam hati saya . . hehehe . . .
    dan mungkin hal ini akibat dari kegemaran saya, membaca cerpen dan novel, khususnya cerpen dan novel lama.
    Mohon pencerahan dan bimbingan dari abang untuk saya . . . Semoga ini menjadi awal silaturahmi, dan semoga abang tidak bosan akan kunjungan saya berikutnya.

    Beribu terimakasih untuk abang . . .

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s