Dunia Remaja Tak Melulu Tentang Cinta

Gambar

Cover LUNA, diambil dari twitter Mbak @dheavannea

Pada dasarnya aku membaca semua jenis novel atau buku cerita. Dari novel sastra, teenlit, horror, thriller, dan lain-lainnya. Kenapa? Suka aja. Biar nggak bosan dan monoton. Saat SD-SMP dulu juga gitu, aku baca Lima Sekawan, Sapta Siaga, Pasukan Mau Tahu, juga baca Donal Bebek, Doraemon.

Di waktu yang sama aku juga baca Ateis (ini kubaca saat kelas 5 SD di perpus dan pusing sekali karena nggak ngerti), Layar Terkembang, Salah Asuhan, Sinbad, Sebuah Lorong di Kotaku, dan novel-novel anak pemberian P dan K waktu itu. Wiro Sableng dan komik Petruk juga kubaca.

Hanya saja aku tidak membaca karya Freddy. S. Karena waktu itu tak ada bukunya. Zaman ABG-ku jelang tahun 2000-an, menurut beberapa orang zaman itu Freddy. S sudah mulai tenggelam. Syukurlah, karena menurut orang-orang lagi novel Freddy bisa membuatku lebih cepat dewasa. Aku sedikit benci dewasa terlalu cepat. Hahaha…

Jadi jangan heran kalau ocehan di blogku kali ini tentang novel remaja. Aku juga nulis novel remaja loh. JombloCenatCenut (2011), Solely You (2013), Sebenarnya Cinta (2013), dan My Curly Love (2013). Mungkin novel remajaku yang terbit di tahun 2013 masih tersedia di toko buku. Semoga.

Apa yang menarik dari dunia remaja bagiku? Sangat banyak. Mungkin karena aku kurang bahagia di masa remaja ya? Maklum, masa remajaku terkuras untuk bekerja. Hahahaha… Tak apa-apa. Aku bisa ikut bahagia dan merasakan dunia remaja yang asik lewat buku cerita.

Bila bicara tentang dunia remaja. Pasti akan berkutat pada cinta pertama, naksir seseorang, sohib yang baik. Apa lagi? Kebanyakan cerita di novel remaja kita seperti itu sekarang. Lama-lama bosan, kan? Masak iya dunia remaja sesempit itu. Sebenarnya sih nggak sempit. Cuma kebanyakan penulis kita menyempitkannya. Hanya berkutat di sana. Pada dasarnya sama; remaja itu sedang mencari jati diri lewat cinta, lingkungan, keluarga, dan hal-hal yang ada di dunianya.

Jadi aku sangat tertarik ketika teman bercerita tentang sebuah novel remaja yang ditulis penulis Amerika. Katanya novel itu membahas isu transgender. Wow! Tema yang berat dan menakutkan kalau ditulis di Indonesia. Maklum isu seperti itu sangat sensitif di negara kita. Gimana kalau aku menulis novel remaja tentang anak mantan PKI ya? Menarik juga nggak ya?😀

Tapi teman itu meyakinkan jika bahasa dan pembahasannya sangat remaja. Sangat mudah dipahami. Dan dia menyarankan jika aku menulis novel remaja lagi; Berhentilah menulis tentang cinta lawan jenis saja! Tapi tulislah sesuatu yang menarik. Sesuatu yang takut disentuh orang lain. Sajikan dengan manis. Jangan suguhi pembaca remaja dengan cerita yang membosankan. Luaskan pikiran mereka dengan dunia nyata. Well, lebih kurang seperti itu.

Lalu temanku ini mengirimi novel teenlit yang dia ceritakan. Judul novel ini Luna ditulis oleh Julie Anne Peters dan dialih-bahasakan dengan baik oleh Dewi Sunarni, terbitan Gramedia tahun 2005. Yang dikirim padaku cetakan kedua. Entah apa buku ini masih tersedia di toko buku, mengingat sudah cukup tua dan musim novel di toko buku sangat cepat berganti.

Novel remaja ini banyak mendapat penghargaan. Di antaranya America Library Association Best Book for Young Adults 2005, Chicago Public Library Best of the Best 2004 (Books for Great Teens),  dan  2005 Stonewall Honor Book.

Oya saya tidak sedang berkampanye tentang trasgender. Perlu diingatkan itu, saya hanya akan membahas bukunya yang menurut saya dari segi kemasan penulisnya sangat berhasil, mengingat dia mampu menuliskan tema berat (yang bagi kebanyakan penulis pastilah sangat horror tema ini), tetapi dengan sangat mudah dipahami orang banyak.

Saya tak bisa melepaskan buku ini saat menghabiskan bab pertamanya. Terus lanjut ke bab kedua. Tetapi karena sudah hampir pukul dua belas malam dan saya harus tidur karena besoknya harus bangun pagi dan itu weekday, saya terpaksa menyudahinya. Tetapi sorenya saya menuntaskan buku itu hingga tengah malam.

Selain Winna Efendi, mungkin Miss Pieters adalah pengarang buku remaja favoritku. Oya, Winna penulis Indonesia dan Miss Pieters penulis luar negeri. Saya sangat suka dengan cara mereka bercerita. Terasa manis. Apa adanya. Dan emosi para tokoh ceritanya menyusup dalam benakku, hingga aku sebagai pembaca terbawa ke dalam cerita yang mereka tulis.

Aku tak bisa membayangkan, seorang remaja laki-laki, Liam, berusia hampir 18 tahun, kelas 12 SMA, dan merasa terjebak dalam dunianya yang salah. Dia merasa sudah lahir di raga yang salah. Harusnya dia perempuan seperti adiknya, Regan (kelas 10 SMA). Sungguh dunia yang ganjil. Dia ingin bebas, memilih hidupnya sebagai cewek T (trasgender). Tetapi hidupnya tak sesederhana itu. Ayahnya tak akan membiarkan dia seperti itu. Laki-laki itu memaksanya ikut bisbol, latihan gym, dan segala hal yang identik dengan anak cowok. Liam melakukannya demi sang ayah. Tetapi dia tetap tak bisa menipu dirinya sendiri.

Padahal Liam sangat sempurna sebagai anak cowok. Dia dipuja kebanyakan anak cewek di SMA-nya karena sangat menarik. Dia genius. Punya pekerjaan merakit komputer dan freelance di perusahaan games karena kemahirannya di dunia IT. Tapi dia tak bahagia.

Di sinilah kisah menarik itu. Adiknya, Regan, sekaligus narator dalam novel ini menjadi satu-satunya orang yang bisa dia andalkan. Tempat dia bersandar. Berbagi. Oh man, aku merasa Miss Pieters sangat-sangat berhasil membangun hubungan antara abang-adik ini. Ikatan emosi dan saling melindungi itu yang terasa sangat kuat. Betapa Liam sosok yang rapuh dan adiknya tampil sebagai pelindung. Regan menukar seluruh jiwa dan waktunya demi abangnya ini. Ada saat-saat Liam depresi dengan gejolak batinnya dan dia berniat bunuh diri. Dia ingin jadi manusia normal seperti orang lainnya. Tetapi dia tak pernah bisa. Dia terkurung dan teperangkap. Sungguh mengerikan.

Dari novel ini juga aku baru ngeh jika transgender itu tak pernah mau disebut gay/homoseksual. Bagi mereka orang gay beda dan jauh dari mereka karena gay tetap bisa menikah sebagai laki-laki dan punya anak dan punya keluarga utuh. Orang gay hanya masalah orientasi seksualnya. Sementara orang transgender jauh lebih kompleks. Bila kasusnya seperti Liam yang ingin jadi Luna (namanya sebagai perempuan, sekaligus judul novel ini). Dia ingin jadi perempuan seutuhnya. Berdandan perempuan. Berkelamin perempuan. Hidup dan diterima masyarakat sebagai perempuan.

Novel ini sangat sarat pesan moral dan kecenya Miss Pieter tak pernah berkhutbah dengan pesan moralnya. Dia hanya menggambarkan bahwa sesungguhnya Liam hanyalah korban dari orangtuanya. Ibunya “melarikan” diri ke dalam dunia kerja, hingga tak peduli ketika Liam dan ayahnya bertengkar yang menyangkut hidup-mati anak laki-laki itu. Dia hanya sibuk dengan pekerjaannya dan obat penenang. Ayahnya sedikit tertekan karena menuntut terlalu banyak pada Liam dan setelah dipecat dari pekerjaan, berganti pekerjaan yang jauh lebih rendah dari istrinya.

Hanya Regan yang peduli. Hanya Regan adiknya yang terpaksa dewasa, menukar jiwa dan seluruh waktunya. Bahkan Regan mengorbankan masa remaja, kencan, dan segala hal yang dilalui anak Amerika lainnya demi abang yang dia sayangi. Hanya dia yang paham pada Liam. Pada akhirnya, Regan pun harus melepaskan Liam untuk memilih hidupnya. Memilih sesuatu yang dia yakini.  Shit! Walau pun nggak nangis di ending ini –maklum aku sangat sukar terharu dengan sebuah novel, tetapi cukup membuat aku sesak membacanya.

Inilah novel remaja populer yang fokusnya bukan tentang cinta pada lawan jenis. Tetapi krisis identitas. Kisah cinta Regan dan Chris hanya mengambil porsi 3-4% dari novel ini. Sisanya berkutat dan bergelut dengan masalah Liam, Regan, keluarga, dan lingkungan mereka. Salutnya, Miss Pieter tak membuatku mati bosan menghabiskan 297 halaman novelnya yang berukuran 14×20 cm.

Oya, bagi yang suka pelajaran Kimia. Kalian harus membaca buku ini. Banyak sekali bahasan tentang Kimia. Dan itu tak membuat cerita ini berat, melainkan makin asyik. Apa mungkin ya Miss Pieters mendapat nilai A+ saat SMA di mata pelajaran Kimia-nya? Entahlah…

Selain itu diksi dalam novel ini sangat keren. Salut dengan penerjemaahnya yang bisa mengambil kata-kata yang keren untuk padanan dari bahasa aslinya.

Itu saja deh ocehan tentang buku ini. Sebenarnya selain baca Luna, aku juga baca novel remaja terjemahan berjudul Princess of Gossip karya Sabrina Bryan dan Julia Devillers, terbitan Gagas Media tahun 2009. Ceritanya juga bukan tentang kisah cinta antar lawan jenis. Tetapi anak SMA yang terjebak di dunia selebritas Hollywood. Novel ini cukup menarik karena pembaca akan diajari tentang arti persahabatan dan mawas diri. Kejujuran dan popularitas. Intinya hampir sama; cerita tentang remaja yang sedang mencari identitas dirinya.

Seminggu ini cukup asik karena aku menghabiskan beberapa buku. Satu novel Agatha Christie, tiga novel romance remaja, dan satu kumpulan cerpen SGA, Penembak Misterius. Mungkin aku akan ngoceh tentang buku SGA itu nanti. Semoga bacaanku semakin banyak dan beragam. Penulis harus banyak baca kan? Biar nggak kering kata temenku. Selamat membaca.[]

By AlamGuntur Posted in Buku

4 comments on “Dunia Remaja Tak Melulu Tentang Cinta

    • iya, tema yang berat sebenarnya. jangankan remaja, orang dewasa aja menganggap tema ini tabu, khususnya masyarakat kita. tetapi di novel ini diceritakan dengan sangat ringan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s