Looking for Alibrandi: Tentang Kita yang Mencari Jati Diri.

looking

 

Hei, siapa yang suka baca teenlit? Aku baru baca teenlit 2-3 tahun terakhir sih, saat muncul niat untuk belajar nulis cerita remaja. Awalnya aku memang membaca dan menulis cerita non-remaja. Jadi mungkin buku ini sudah basi karena diterbitkan di Indonesia oleh GPU tahun 2004. Ini pun bukunya aku dapat minjam dari teman.

Looking for Alibrandi, bercerita tentang Josephine seorang cewek Australia keturunan Mediterania (Yunani, Itali, dan Turki). Nonno-nonna (kakek-nenek) Josie orang Itali, mereka datang ke Aussie di tahun 1940-an. Menetap dan beranak-pinak di negara banyak ular itu.

Josie tidak punya ayah. Ibunya, Christina hamil diluar nikah saat berumur 17 tahun. Cowoknya itu anak tetangga Nonno-nonna, keturunan Itali juga, tapi cowok itu tidak bertanggung-jawab dan ikut pindah bersama orangtuanya ke kota yang jauh tapi masih di Aussie. Mereka tidak bertemu lagi sampai Josie berumur 17 tahun dan Michael (ayahnya) baru tahu jika waktu itu Christina tidak menggugurkan kandungan tapi justru melahirkan dan membesarkan Josie.

Di sinilah titik konflik itu sebenarnya. Adat orang Itali Tradisonal yang menganut Katolik taat, sangat memalukan perempuan hamil di luar nikah. Perempuan harus terus perawan sampai dia bersuami. Perempuan Itali juga hanya menikah sekali seumur hidupnya, terlebih mereka orang Katolik. Karena hamil diluar nikah, ibunya Josie diusir oleh ayahnya dan menumpang hidup pada keluarga adik ibunya. Sampai sang ayah meninggal, mereka tidak berbaikan. Christina dan Josie berani berhubungan lagi dengan Nonna setelah Nonno meninggal dunia.

Konflik dalam hidup Josie makin rumit. Selain diolok-olok sebagai anak haram di kalangan teman-temannya, terutama kalangan sesama orang Itali –ternyata orang Itali gemar bergunjing, menurut cerita ini, perusahaan telepon di Aussie bakalan bangkrut jika tak ada orang Itali yang hobi bergosip itu. :D—Josie juga mengalami rasis di sekolah. Dia dianggap wog, sebutan untuk keturuan Mediterania di Aussie. Seperti negro bila di Eropa. Makna kata ini mengolok-olok status. Kalau bukan wog, teman-teman menyebutnya etnik.

Kurasa tema ini sangat remaja dan cukup berat. Di usia remaja, setiap orang memang mencari jati dirinya. Ada kalanya Josie menyesal lahir sebagai Mediterania. Kenapa dia bukan keturunan dari Eropa yang dianggap ‘wah’ di sini? Terutama keturunan Inggris, walau dulunya orang-orang Inggris yang hidup di Aussie didatangkan dengan kaki-tangan dirantai alias narapidana dan orang-orang buangan. Tapi sekarang mereka terhormat.

Pergolakan dalam diri Josie makin mengental, saat Michael, ayah yang tak pernah dia jumpai itu muncul. Hidupnya jungkir-balik. Dia antara senang dan bingung serta takut karena selama ini tak punya ayah. Tapi dia berusaha menjalin hubungan baik.

Cerita makin seru ketika sisi remaja Josie juga diangkat: Cinta pertama! Dia yang menyukai Jacob dan Jhon. Dua laki-laki yang bertolak belakang dan semua menyukainya. Jacob si Australia asli yang punya pesona tapi urakan, seperti preman dan dari sekolah negeri. Sementara John keturunan Inggris yang keluarganya turun temurun selalu ada di jajaran “bangsawan” di pemerintahan.

Bagian yang kurang nyaman tapi justru memang itu kekuatan cerita ini adalah “dialog-dialog” kasar antara Josie dengan ibunya, neneknya, dan ayahnya. Well, ini memang setting Aussie. Di mana lingkungan didominasi orang-orang Eropa, jadi pergaulan yang tumbuh ya seperti layaknya orang Eropa. Jadi sangat ganjil dan sedikit aneh membaca kata-kata kasar Josie kepada ibu, nenek, dan ayahnya bagi saya yang orang Timur.

Namun justru kadang kata-kata di sana bikin nyengir saat dibaca. Ketika Josie mengatakan, “kecerewetan neneknya bahkan bisa membuat Bunda Teresa bête.” Atau saat Josie mengomentari foto ayahnya saat masih kecil, “kamu mirip setan waktu kecil!” Dan kata-kata yang “agak” kasar lainnya.

Di luar semua itu. Aku suka sekali dengan novel ini. Terutama tentang benturan budaya Itali, Eropa, dan Australia itu. Tanpa mengatakannya, penulis sudah menyusupkan sebuah pesan lewat karakter Josie: Sejauh apa pun seseorang berlari meninggalkan tanah leluhurnya, budaya dan darah leluhurnya akan tetap mengalir di jiwanya.

Merasa tercubit saat menamatkan buku itu. Orang-orang di luar sana, terutama orang Itali di Aussie terus gencar menyadarkan anak-anaknya untuk tak lupa akan jati diri sebagai orang Itali, walau mereka sudah jadi orang Australia. Sementara kita? Kita sibuk mengajarkan anak kita untuk jadi orang Eropa dan menanggalkan ke-Indonesia-an.

Oya, aku memberi novel ini 4 bintang dari 5. Memang keren, terlepas dari bagian yang tak kusuka tadi, sebab itu tadi, karena aku orang Timur. Mungkin akan beda jika aku orang Barat. Tentu itu tak masalah.

Sayangnya, novel ini sudah langka. Mungkin teman-teman akan sulit menemukannya. Semoga saja sih GPU mencetak ulang. Kalau GPU cetak ulang, aku akan beli. Termasuk novel Luna karya Julie Anne Peters.

Setidaknya, novel ini memberiku semangat baru untuk menulis tema yang lebih baik bagi remaja. Tak melulu tentang cinta. Dunia remaja tak sesempit itu. Seperti yang sudah diceritakan dalam Looking for Alibrandi ini. Doakan bisa ya. Selamat akhir pekan. Mampirlah ke toko buku dan kayakan dirimu di sana. [GA]

By AlamGuntur Posted in Buku

7 comments on “Looking for Alibrandi: Tentang Kita yang Mencari Jati Diri.

  1. Tambahan: Bagian yang sangat keren menurutku, ketika Josie mempertahankan keperawanannya saat dia dan Jacob bermesraan. Walau Jacob memaksa, Josie tetap memakai “otaknya”. Cinta bukan tentang hanya tentang seks. Dia ingin menjaganya karena itu hal paling berharga bagi perempuan. Dia ingin memberikannya pada suaminya kelak. Dan secara tersirat, sikap Josie yang tetap ingin virgin itu adalah “bentukan” budaya Itali yang ditanamkan dalam dirinya oleh keluarganya, terutama dia bercermin dari masalah ibunya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s