Lost: Jangan Baca Saat Malam!

Gambar

 

“Katanya, dulu di sini pernah ada orang bunuh diri.”

Aku langsung nahan napas saat membaca kalimat pembuka novel ini. Tuhan, belum apa-apa sudah dibikin deg-deg-ser. Tapi karena penasaran, aku tetap melanjutkan baca novel ini dan itu pun dibaca saat siang saja, nggak pernah berani malam hari. Aku suka paranoid, membayangkan sosok-sosok mengerikan itu tiba-tiba keluar dari kolong tempat tidur, merangkak ke atas dan mencekikku. Atau membayangkan guling yang kupeluk berubah jadi makhluk menyeramkan. Jadi daripada tak bisa tidur, mending tidak dibaca saat malam. Aku punya kebiasaan baca buku sebelum tidur dan bila sudah mengantuk, mematikan lampu kamar. Tak pernah bisa tidur nyenyak dan nyaman kalau lampu menyala. Bayangkan, betapa menyeramkan tidur dalam gelap sementara pikiran cemas dengan bayangan mengerikan dari novel.

Cerita novel ini tentang Maura dan kakak laki-lakinya, Ryan, seorang manager girlsband, yang baru pindah ke Ilustre Casa, sebuah apartemen tua yang ternyata punya penghuni “lama” di unit yang mereka tempati: 603.

Ternyata, selama ini Maura tidak sadar jika dia punya kemampuan untuk pindah ke dimensi lain. Istilah penulis di novel ini “tatar”. Ada tatar manusia, ada tatar makhluk halus. Hawa dan kondisi apartemen tua ini sangat mendukung perubahan tatar dan seseorang yang pikirannya tengah kosong, galau, dan banyak beban akan dengan mudah terjebak ke tatar makhluk halus. Seperti yang dialami Maura. Papinya baru meninggal, maminya memilih pergi ke Inggris, sahabat baiknya terkena penyakit serius, mantan pacarnya terus meminta balik, dan banyak masalah lainnya, hingga dia secara tak sadar terperosok ke dalam tatar penuh makhluk menyeramkan.

Awalnya Maura merasakan ada penghuni lain selain dia dan kakaknya di unit 603 itu, tapi hanya dia yang merasakan. Ryan tidak. Yang lain tidak. Lalu dia tiba-tiba tergelincir ke tatar lain dan bertemu dengan seorang OB apartemen yang mati bunuh diri karena terjerat rentenir. Arwah OB itu terus menerornya, dia tidak mencelakakan Maura tapi terus menguntit bahkan sampai masuk ke unit 603. Tak hanya arwah OB itu, ada arwah-arwah lainnya. Maura sangat tertekan dan ketakutan.

Untungnya ada tetangga baru di unit 601. Seorang cowok depresi yang ternyata justru membuat pembatas tatar di apartemen itu semakin berlubang besar. Cowok itu tertekan karena dua orang teman baiknya tewas dalam satu hari. Satu teman tewas overdosis karena bunuh diri, satu lagi tewas karena tertabrak mobil saat mencari pertolongan. Nama cowok itu Julian. Dia juga ternyata punya kemampuan indera keenam. Bersama Julian Maura keluar-masuk tatar dan mencari tahu siapa penghuni “lama” di unit 603 itu.

Ada kejutan tak terduga dari penghuni 602 yang ramah. Tuhanku, aku sampai melempar buku ini karena ketakutan di akhir bab 26 itu. Bangsat sekali penulisnya! Dia memberi twist mengerikan di sana. Aku sampai meninggalkan buku ini beberapa hari. Tokoh-tokoh dalam novel ini terlalu mengerikan buatku.

Tapi karena penasaran, aku melanjutkannya lagi. Ada bumbu romance-nya sih dalam novel ini, walau porsinya sangat sedikit. Mungkin 1%. Dan itu bikin gregetan. Bikin kesal. Naggung banget sih. Mending nggak usah sama sekali ada bumbu romance antara Maura dan Julian, fokus ke cerita serem aja. Soalnya gregetan, berasa pengin kutulis sendiri di bagian itu. Menambahkan romance-nya.😀

Pada akhirnya, terungkap juga sih “penghuni lama” itu dan kenapa arwahnya masih di sana. Secara keseluruhan aku suka novel ini. Dari 5 bintang, aku akan memberinya 3. Tapi ada beberapa saran dariku.

Pertama, alasan Ryan jadi depresi dan akhirnya bisa terperosok ke dalam tatar yang dihuni hantu itu, menurutku agak terpaksa. Cepet banget. Alasannya nggak kuat. Terlebih karakter Ryan yang bukanlah cowok mellow dan sejenisnya. Dia keras. Dia kuat. Itu semua terbaca dari awal karakter ini dibangun, termasuk dari konflik-konflik keluarganya. Juga perasaan Ryan terhadap ceweknya itu tak terlalu jelas. Jadi rasanya agak aneh ketika Ryan yang dalam benak pembaca berkarakter kuat, kok begitu mudah depresi saat pacarnya minta break. Yang ada terbacanya, penulis seperti kebingungan mau menyelesaikan cerita novel ini. Jadi ya udah, dibuat Ryan depresi dan dia yang “diculik” hantu itu.

Kenapa bukan Maura? Kenapa bukan Julian? Bila pun Ryan yang harus ‘diculik’ akan lebih baik alasan kemiripan dengan tunangan si arwah itu. Tak usah Ryan dibuat depresi. Lalu kisahnya akan lebih menegangkan bila Maura dan Julian yang berjuang sekuat mungkin melepaskan Ryan dari cengkraman tatar gaib itu.

Kedua, penulis mengakhiri cerita ini dengan ending gantung. Kurasa dalam novel, tak banyak pembaca yang suka dengan pilihan ending ini. Kalau di cerpen lain soal. Ruang novel kan luas. Pembaca pasti akan kecewa dengan ending seperti itu. Ini pendapatku sih. Tapi buat penyuka cerita horror, novel ini cukup lumayan untuk dijadikan bacaan.

Hei, kuingatkan. Kau jangan baca novel ini malam hari. Terlebih saat di bab 26! Jangan! Jangan pernah! [GA]

By AlamGuntur Posted in Buku

3 comments on “Lost: Jangan Baca Saat Malam!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s