Dongeng Putri Kematian (Jurnal Nasional, 30 Maret 2014)

Gambar

Ilustrasi oleh Jurnal Nasional

Disebutkan pada sebuah kisah, ada seorang laki-laki yang selalu datang ke upacara pemakaman siapa pun di kotanya. Usianya sudah empat puluh tahunan. Seorang lajang dan belum pernah jatuh cinta pada seorang perempuan pun, selain putri kematian yang didongengkan ibunya saat dia kanak-kanak.

Tak seperti kebanyakan orang, dia selalu suka cita mendengar berita kematian. Hal pertama yang dia cari di lembaran koran, bukan lowongan kerja, tapi halaman obituari. Tak seperti orang-orang yang menunggu suara azan dari toa masjid, dia menunggu berita kematian. Bahkan matanya akan berbinar bila menemukan bendera kuning tanda berduka cita.

Tak heran bila laki-laki ini kerap terlihat di depan pintu gerbang tanah pemakaman. Dia selalu bertanya pada penjaga makam; apakah ada yang meninggal hari ini? Jika ada, dia rela meninggalkan segala pekerjaannya untuk datang melayat. Kenal atau pun tidak kenal. Bila tak ada yang dikubur di tanah pemakaman itu, dia akan berkeliling ke tanah pemakaman lain di kotanya.

Selalu begitu dan terus begitu. Hingga orang-orang di kotanya sudah hapal betul. Bahkan tetangga pun sudah paham, jika pagi-pagi sekali laki-laki itu berdandan rapi. Mengenakan jas hitam terbaiknya, celana licin karena setrikaan, dan memotong satu tangkai mawar merah dari pekarangan rumahnya, itu pertanda akan ada seseorang yang meninggal dan dikubur hari ini.

Tak satu pun yang ingat secara persis, kapan laki-laki ini mulai begitu terobsesi dengan upacara kematian. Orang-orang hanya ingat, dia melakukannya sejak kecil. Dulu dia sering datang bersama ibunya –seorang janda. Tapi hanya pada pemakaman orang-orang yang mereka kenal. Ketika ibunya meninggal saat dia berusia tujuh belas, dia mulai mendatangi tiap pemakaman siapa pun.

Awalnya orang-orang kerap bertanya pada kebiasaan anehnya ini. Dan dia selalu memberi jawaban yang sama.

“Aku ingin bertemu putri kematian. Ibuku bilang, putri kematian yang cantik itu sudah merebut ayahku, membawanya kabur dan meninggalkan kami. Bila bertemu, aku ingin membawa ayahku kembali dan menikahi putri itu.”

Tentu saja, jawabannya ini terdengar gila bagi orang-orang. Makanya tak ada seorang pun yang ingin bertanya lagi alasan kebiasaannya itu.

****

Sejak laki-laki itu berumur lima tahun, ibunya selalu mendongeng tentang putri kematian yang cantik jelita tapi kesepian hingga kerap menculik laki-laki di dunia. Putri kematian itu sudah menculik ayahnya dan memenjarakan laki-laki itu dalam istananya. Dia akan berhenti menculik laki-laki, jika ada seorang laki-laki tampan yang mencintainya dan bersedia jadi suaminya. Saat mendengar bagian ini lagi di usianya yang kesepuluh tahun, laki-laki itu bersumpah akan mencintai putri kematian.

Dongeng ini menjadi cerita wajib pengantar tidurnya. Saban malam, ibunya pasti berkisah hal yang sama. Saat berkisah, mata ibunya yang bening itu akan berubah warna menjadi merah. Merah yang membara. Merah yang panas. Merah yang membuat kuduknya berdiri tegang.

Akhir cerita ibunya selalu sama.

“Kalau kau sudah besar. Kau harus pergi membebaskan ayahmu. Bawa dia kembali.”

Dan dia akan bertanya hal yang sama juga.

“Di mana aku bisa menemukan Ayah, Bu?”

“Di istana putri kematian.”

“Istananya di mana?”

“Tersembunyi. Jauh. Jauh sekali. Ada di lembah yang sepi. Ada ribuan mayat hidup yang menjaganya. Sangat sukar ke sana. Tapi Ibu yakin kau bisa.”

“Aku bisa. Aku pasti bisa,” sahutnya antusias. “Tapi bagaimana caranya aku menemukan istana itu?” mata kanak-kanaknya mengerjap. Penuh minat.

“Tentu kau harus menemukan putrinya dulu.”

“Di mana? Di mana, Bu?”

“Putri itu selalu datang di acara pemakaman seseorang. Karena dia kerap mengintai para pelayat yang tampan, lalu menculiknya dan memenjarakan mereka di istananya.”

Jawaban ibunya itu yang membuatnya selalu datang ke acara pemakaman siapa pun di kotanya. Bahkan semasa ibunya masih hidup, dia kerap merengek-rengek meminta ibunya gegas berganti pakaian berkabung bila terdengar berita seseorang meninggal dan akan dikuburkan.

Dulu, saat dia masih duduk di bangku SD, dia tergila-gila dengan karakter Zorro. Laki-laki bertopi hitam, topeng hitam, jubah hitam, dan pakaian serba hitam itu menginspirasinya. Setiap orang yang pergi ke upacara pemakaman, pasti menggunakan pakaian hitam-hitam sebagai tanda berduka cita. Tapi misinya tak hanya itu, dia punya tugas besar membebaskan ayahnya yang diculik putri kematian. Oleh karena itulah, dia meminta ibunya yang bekerja sebagai tukang jahit untuk menjahitkan pakaian Zorro untuknya. Agar dia bersiap jika menemukan putri kematian di upacara pemakaman.

Tapi ibunya tak pernah mengabulkan permintaannya itu. Perempuan itu terlalu sibuk menjahitkan baju pelanggan, juga tak punya bahan berwarna hitam yang lebar untuk pakaian Zorro yang dia minta. Agar dia tak kecewa, ibunya berkata.

“Putri kematian tak suka laki-laki bertopeng, karena wajah tampannya tertutup. Jika kau ingin dibawa putri itu ke istananya dan membebaskan ayahmu, kau harus mengenakan jas terbaik, kemeja terbaik, celana terbaik, dan sepatu terbaik saat pemakaman. Agar kau terlihat lebih tampan dari laki-laki yang datang melayat.”

Dan dia memercayai itu.

****
Laki-laki itu sempat berhenti mendatangi upacara pemakaman siapa pun saat dia berusia lima belas tahun. Dia sudah masuk SMA waktu itu dan belum pernah jatuh cinta pada seorang gadis pun selain putri kematian. Alasan dia berhenti karena ibunya sakit-sakitan, dia khawatir bila ibunya meninggal sewaktu-waktu tanpa dia di sisinya.

Tapi itu hanya sebentar. Ibunya kembali meminta dia datang lebih sering ke upacara pemakaman orang-orang.

“Kau harus segera menemukan ayahmu. Katakan padanya, Ibu sakit dan merindukannya. Ibu ingin sekali mati dalam pelukannya.”

“Ibu tidak akan mati. Tidak akan,” selanya.

“Pasti. Ibu pasti mati. Karena racun yang ditikamkan putri kematian itu sudah menjalari hati dan jantung Ibu sejak lama. Sejak dia menikam Ibu dari belakang, lalu membawa kabur ayahmu.”

“Racun…” suaranya bergetar.

“Di hari putri itu merampas ayahmu dari tangan Ibu, dia menghujamkan pisau berkarat yang dibaluri racun paling mematikan, tepat di dada Ibu. Racun itu pelan-pelan menggerogoti hati dan jantung Ibu. Lalu terus bergerak ke seluruh tubuh Ibu.”

“Apa ada penawarnya?”

“Bila ada, itu pasti ayahmu. Cuma ayahmu yang bisa menyembuhkan Ibu.”

Sejak melihat ibunya sekarat karena racun yang ditikamkan putri kematian itu. Dia kembali mendatangi upacara pemakaman siapa pun di kota ini. Karena dia ingin segera membebaskan ayahnya yang disekap putri kematian. Sayangnya, sampai ibunya meninggal dan usianya kian tua, dia tak pernah menemukan putri kematian yang dimaksud ibunya.

Tapi dia terus mencari dan mencarinya. Karena dia percaya, ibunya tak berdusta. Dia pun tahu, samar-samar dalam ingatannya, dia melihat ayahnya pergi dengan seorang perempuan jelita. Naik mobil bagus dan meninggalkan ibu yang dadanya terluka. Darah mengalir dari sana. Dia ingat. Ingat sekali, dia yakin itu, karena ibu menggendongnya. Dia merasakan darah hangat itu mengalir dari dada ibunya.

****

Kemarin, laki-laki itu membaca koran pagi. Di halaman obituari, ada berita tentang kematian seorang pejabat penting kota ini. Laki-laki itu percaya, jika putri kematian pasti akan datang ke acara pemakaman itu. Sudah lama sekali tak ada pejabat yang mati, selama ini hanya kaum gelandangan, pengemis, dan rakyat jelata yang mati. Hingga pelayat hanya sedikit. Jadi mungkin itu alasan putri kematian tidak datang. Kali ini, dia yakin sekali putri kematian akan datang.

Sejak membaca obituari itu, laki-laki itu bersiap. Dia pergi ke salon terbaik yang ada di kota. Rambutnya sudah gondrong dan berantakan, kumis dan jenggotnya juga sudah panjang. Tak terurus. Dia ingin terlihat rapi serta lebih tampan dari siapa pun yang ada di pemakaman. Jadi dia bercukur dengan model rambut terbaru.

Di rumah, dia juga memotong kukunya. Menyiapkan jas, celana, bahkan dia sudah memilih-milih dan menandai tangkai mawar yang paling bagus untuk dipotong dan dia bawa ke pemakaman. Semua berjalan sempurna. Pasti sempurna, andai saja ide itu tidak terlintas tiba-tiba dalam benaknya. Sebuah ide terlarang.

Jika aku berhasil bertemu Ayah, bagaimana dia mengenaliku? Kami berpisah saat aku berumur empat tahun. Sekarang umurku empat puluh tahun. Pikiran itulah yang membuatnya tergesa-gesa ke kamar ibunya. Kamar yang sudah lama sekali dia kunci. Dia ingin mencari sesuatu yang membuat ayahnya teringat pada ibunya. Semacam tanda pengenal.

Lalu, dia secara tak sengaja menemukan kaleng biskuit persegi panjang yang berkarat. Sebuah kaleng yang disimpan di dasar lemari, ditimbun pakaian dan selimut-selimut tebal. Pasti agar aman dan tak mudah ditemukan orang. Dia berharap menemukan kenangan di sana. Kenangan yang akan membuat ayahnya langsung teringat ibu dan mengenalinya sebagai putra mereka. Ternyata bukan.

Bukan itu isi kaleng biskuit yang dia temukan.

Di dalam kaleng biskuit itu terdapat racun yang menikam ibunya.

Surat cerai dari pengadilan dan kabar dari ayahnya yang sudah menikah lagi. Bahkan ada foto ayahnya dan seorang perempuan asing dengan pakaian pengantin tersenyum bahagia.

Tangan laki-laki itu bergetar. Bulu kuduknya meremang. []

C59, 2013.

Ditulis untuk Anggun Prameswari dan laki-laki Ketan Hitam-nya.

By AlamGuntur Posted in cerpen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s