Song of Will: Cerita Tak Biasa Tentang Remaja

Gambar

Judul : Song Of Will
Penulis : Jason Abdul
Penerbit : Moka Media
Size : 12.7 x 19 cm
Tebal : 264 halaman

Sebenarnya, aku sudah baca novel debut Jason Abdul ini sebelum naik cetak, dia temanku, dan memintaku memberi pendapat atas novel perdananya ini. Siapa sih yang tidak ikut hepi ketika temannya berhasil menerbitkan tulisannya dalam bentuk buku? Semua orang, termasuk aku.

Ceritanya cukup seru, menurutku. Berkisah tentang 4 remaja SMA: Will, Laura, Evan (Evil), dan Nana yang masing-masing punya problem dalam hidup dan menyimpan rahasia-rahasia besar (aku tak akan menceritakan rahasia-rahasia yang akan bikin pembaca terkejut, kau harus membacanya sendiri).

Will, seorang cowok sempurna secara fisik, anggota vokal grup beken di sekolahnya, Lumos, tiba-tiba harus ditinggalkan oleh sahabat terbaik yang harus ikut pindah keluar negeri bersama orangtuanya. Padahal Will begitu “bergantung” padanya.

Laura, dia sahabat Will, cewek cantik yang sempurna. Tapi sepertinya selalu jatuh cinta pada laki-laki yang salah. Sebenarnya dia punya seseorang yang dicintai, tapi orang itu seperti tidak pernah menyadarinya. Itulah yang membuat Laura melarikan hati pada banyak laki-laki.

Evan, tapi dia dipanggil Evil oleh Will dan teman-temannya. Mereka berteman cukup baik semasa SMP dulu. Harusnya Evan kakak tingkat Will, tapi karena kebadungannya, dia harus sekelas dengan Will dan mereka baru ketemu lagi setelah Ben pindah, karena Evan tiba-tiba pindah ke SMA Will dan mereka satu kelas. Sebuah kebetulan yang menurutku agak mengganggu. Ada lagi kebetulan yang menggaggu lainnya yaitu ketika Laura hampir “dikerjain” oleh Albert, tiba-tiba Will dan Evil menyelamatkannya.

Nana. Dia tipe cewek cupu di sekolah dan diperparah ceroboh. Hobi sekali menjatuhkan barang-barang apa saja yang ada di dekatnya, terutama buku-buku. Oh, hidupnya menyedihkan. Rumahnya adalah panggung sandiwara. Kau akan terhenyak saat mengetahui perilaku ayah-ibunya di novel ini. Nana yang malang…

Sejujurnya, aku tidak terlalu pandai dalam me-review sebuah buku cerita. Jadi di sini, aku hanya akan bercerita dari hasil bacaanku. Dari segi kelebihan dan kekurangan novel ini. Karena bagaimana pun, sebagai pembaca yang suka nulis dan sedang belajar menulis novel remaja juga, aku menemukan beberapa bagian yang menurutku mengganggu dan ada juga yang menurutku hal yang bagus.

Baiklah, kita bicara yang mengganggu saja dulu. Di mana-mana harus pahitnya dulu, jangan langsung mengecap rasa manis. Asek!

1st, Empat tokoh utama dalam sebuah novel, sudah cukup banyak bagiku. Lalu, bagaimana jika ada tokoh-tokoh figuran (ayah, ibu, kakak, adik, dan teman-teman sekolah) dan mereka ikut bersuara? Itu dia yang kutemukan dalan Song of Will. Terlalu banyak tokoh figuran yang ikut berdialog dan ikut dalam cerita ini. Well, mungkin maksudnya biar cerita lebih hidup dan show. Tapi terlalu berisik dan ramai sekali. Bayangkan bila ada 4 tokoh utama berarti akan ada 4 orangtua dan saudara-saudaranya. Lalu, ada tokoh-tokoh lain dari grup vocal Lumos yang juga bersuara, bahkan beberapa orangtua dari tokoh figuran ini ikut meramaikan juga. Bayangkanlah betapa “berisiknya”.

2nd, pilihan sudut pandang. Aku setuju dengan pilihan sudut pandang orang ketiga dalam novel ini. Tapi sepertinya Jason kebablasan dalam posisi “tuhan” yang dia mainkan. Harusnya Jason membagi buku ini dalam 4 bagian. Masing-masing tokoh punya kesempatan yang sama besar untuk bercerita (dalam kapasitas jumlah halaman atau kata). Bila selesai bagian Will, silakan lanjutan bagian Laura, Evil, dan Nana. Nanti pada epilog, cerita mereka bisa ditemukan dalam ending yang sama. Kalau ini campur baur, hingga semakin ramai dan riuh. Dan menurutku tokoh-tokoh figuran itu sebaiknya disebutkan dalam narasi saja, mereka tak usah mengambil jatah dialog, dan sebagainya. Selain benar-benar penting. Contohnya, ketika Will ketemu Bram dan ibunya. Harusnya tak usah ada dialog antara mereka, hanya memanjangkan cerita. Tak terlalu penting. Cukup diceritakan dalam narasi bila Will bertemu Bram dan ibunya, lalu ceritakan apa yang mereka obrolkan.

3th, Jason terlalu sering menyebut nama para tokohnya. Mungkin ini resiko karena kebanyakan tokoh tadi. Misal seperti ini: Kata-kata Will memberi Nana kelegaan. Nana tahu kalau Will orang yang baik dan peduli. Namun, sampai dia merasa siap Will tak perlu tahu tentang Papi. (Halaman 196, paragraf 6) — Namun, sampai dia merasa siap (harusnya ada tanda koma di sini) Will tak perlu tahu tentang Papi.. Kebanyakan seperti itu di sepanjang novel. Menyebutkan nama tokoh yang dimaksud. Aku rasa akan lebih menarik bila Jason mampu memberi “kata ganti” pada tokoh-tokohnya tanpa menyebutkan nama tapi pembaca ngeh siapa yang dimaksud. Bisa cowok itu, cowok bermata sipit, dsb. Agar pembaca tidak merasa bosan. Ritme membaca novel ini juga jadi begitu cepat alias ngos-ngosan karena seakan-akan pembaca diping-pong ke kiri kanan dengan pilihan bercerita seperti ini.

Sekarang kelebihan novel Song of Will versiku.

1st, tentu saja tema novel ini membuatku terkejut dan salut: Orientasi seksual, drugs, problem berat orangtua, dan lingkungan buruk (jalanan dan teman). Tidak semua penulis mau menggarap tema ini, karena ini sedikit “tabu”, terlebih dalam masyarakat Indonesia. Oh, aku tak akan menceritakannya secara detail. Kalian harus baca sendiri. Mungkin itu juga yang membuat novel ini cocok dengan MokaMedia, karena temanya nggak mainstream. Tapi ya begitulah yang terjadi di dunia nyata. Problem remaja itu bukan hanya urusan jatuh cinta, patah hati, belajar dan mengejar cita-cita. Hidup remaja tak sesederhana itu. Banyak problem berat yang harus mereka hadapi sebagai individu yang ada di tengah masyarakat.

2nd, salutnya lagi, Jason bisa mengemas tema berat dan tabu tadi jadi begitu ringan dan remaja. Mengalir saja. Dia tak perlu memasukan pesan moral. Hidup yang baik itu seperti ini dan ini, sementara hidup yang tidak bermoral di masyarakat itu ya begitu dan begitu. Tidak. Jason tidak melakukannya. Dia hanya memotret kehidupan mini para remaja dan mencetaknya dalam bentuk buku. Pesan moral silakan diambil sendiri oleh pembacanya.

3th, kelebihan ketiga mungkin secara teknis ya. Aku suka sekali desain kavernya. Terkesan rumit tapi sederhana dan punya efek yang ketje sekali. Layout di dalamnya juga menarik, walau mungkin semua penerbit sudah melakukan hal itu. Pembatas bukunya juga keren.

4th, Satu hal yang harus kutekankan, buat kalian yang mulai bosan baca romance yang ceritanya itu-itu melulu alias mainstream, kayaknya Song of Will bisa jadi bacaan alternatif. Ada kisah cinta yang tak biasa dalam novel ini. Ada pula tentang persahabatan yang ganjil. Ada kisah tentang kasih sayang keluarga yang absurd. Terkesan rumit, padahal sederhana. Itu hanya tentang pilihan hati. Dan bukankah hidup sebenarnya kumpulan dari pilihan? Setiap orang berhak memilih jalan hidupnya. Seperti Will. Seperti Laura. Seperti Evil. Seperti Nana. Hidup adalah kumpulan pilihan. Silakan kau ambil jalan pilihamu, lalu lewatilah. Tentu kau harus bersiap menemukan apa saja dalam perjalanan. Tersebab hidup butuh kejutan demi kejutan agar kita tetap bergairah dan tetap bertumbuh.

Salut buat Jason atas pilihan tak biasanya dalam tema novel ini. Sukses selalu. Dan aku percaya, kau akan bisa menulis lebih baik, lebih baik, dan jauh lebih baik dari ini. Tiga bintang kuambil dari langit untuk novel debutmu.[]

By AlamGuntur Posted in cerpen

4 comments on “Song of Will: Cerita Tak Biasa Tentang Remaja

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s