Galuh Hati: Cerita Berkilau dari Desa Penghasil Intan

GambarJudul : Galuh Hati
Penulis : Randu
Penerbit : Moka Media
Size : 12.7 x 19 cm
Tebal : 300 halaman

 

Aku paling senang ketika membaca cerita (baik cerpen atau pun novel) yang mengangkat kekayaan Indonesia, baik sosial-budaya, adat istiadat, atau sumber daya alamnya. Lewat cerita-cerita bertema lokalitas ini, aku semakin mengenal Indonesia, yang ternyata memang sangat kaya dan penuh keragaman. Saat itu, rasa cinta tanah air akan berkali lipat, terlebih membaca cerita sejenis ini laksana minum obat yang cukup mujarab di tengah berita politik yang memusingkan kepala.


Kali ini aku akan bercerita tentang novel Galuh Hati yang baru kukhatamkan minggu ini. Diterbitkan oleh Moka Media. Aku menaruh perhatian khusus pada penerbit baru ini, sebab orang-orang di dalamnya sedang berusaha menawarkan altrenatif bacaan yang jauh lebih baik untuk remaja di tengah serbuan bacaan pop yang mainstream sekarang ini.

Namun ada sedikit kecemasan yang menyelinap saat membaca prolog novel ini. Novel ini dibuka tentang suasana ujian yang diawasi seorang guru muda dan seorang anak yang kesulitan menjawabnya. Kecemasan itu datang karena aku takut Randu (penulisnya) kena kutukan “Laskar Pelangi” yakni menulis dengan gaya novel populer itu.

Di beberapa bab awal kecemasan itu masih menyerang, tapi perlahan memudar karena ternyata Randu menawarkan cerita yang berbeda. Ya, novel ini memang tentang potret kemiskinan penduduk di Cempaka yang hidup dalam ironi. Tanah mereka kaya, tapi ternyata mereka hidup dalam kemiskinan. Hingga untuk menyekolahkan anak saja tidak mampu. Namun, Randu tidak menitik-beratkan cerita tentang masalah sosial itu. Melainkan ke masalah lain. Tentang keserakahan, cinta, persahabatan, dan detektif. Ya, detektif.
Baiklah, seperti kebiasaanku dalam me-review sebuah buku. Aku akan menuliskan hal-hal yang menurutku mengganggu terlebih dahulu, selama menikmati novel yang apik dan penuh dengan diksi serta metafor yang keren ini. Baru nanti, bagian favoritku.

Pertama, setiap membaca sebuah buku, aku pasti membayangkan alias memvisualkan setting cerita yang kubaca. Aku akan membayangkan bagaimana bentuk rumah yang jadi setting, warung, jalan, dan sebagainya. Hingga cerita itu benar-benar hidup. Benar-benar terasa nyata olehku. Sayangnya, Randu belum bisa membawaku dalam pembacaan secara visual. Aku kesulitan membayangkan kondisi rumah tokoh utama cerita, Abul. Aku tak bisa membayangkan bagaimana suasana kamarnya, ruang tengah, dapur, teras, dan sebagainya. Padahal Randu beberapa kali memakai rumah itu sebagai setting cerita. Juga tentang kondisi sekolah, bagaimana ruangannya, halaman, ruang kelas (deret bangku, meja guru, lemari, papan tulis), dan sebagainya. Termasuk setting yang paling penting dalam cerita ini. Warung ibunya Abul. Aku tak bisa membayangkan kondisi warung itu. Bagaimana bentuknya, ukurannya seperti apa, menghadap ke mana, jika pelanggan datang dan makan serta minum kopi di sana, mereka akan duduk di mana, bagaimana bagian dapurnya, bagaimana tempat Abul sering mencuci piring-gelas kotor di warung, juga bagaimana gambaran sekitar warung itu dengan jalanan di pendulangan intan dan berapa jarak antara warung itu dengan gubuk tempat tinggal Anang, sahabat Abul.

Intinya, aku tak bisa membayangkan setting-setting cerita yang Randu tuliskan dalam Galuh Hati. Entah, apa ada orang yang membaca sepertiku ini? Aku tak tahu. Tapi aku selalu melakukan ini saat membaca. Aku akan membayangkan tempat yang dijadikan cerita. Semakin aku bisa membayangkan tempat itu, aku merasa ceritanya semakin hidup. Ternyata, aku tidak bisa membayangkan tempat-tempat yang Randu jadikan settingnya. Terlalu abu-abu. Terlalu minim informasi akan tempat itu. Hanya disebut. Tapi tidak dideskripsikan. Tidak ditunjukan padaku sebagai pembaca.

Kedua, ini hal yang paling menggangguku dalam membaca Galuh Hati ini. Ternyata Kai Amak itu tidak mengenal Abul sebelumnya. Sebelum malam laki-laki itu tiba-tiba mengetuk warungnya dan mengajak Abul mengambil pasir hitam dan memuatnya dalam karung lalu menyembunyikan di warung Abul dan laki-laki tua yang kaya raya itu “tiba-tiba” saja curhat akan masa lalu dan memberi cerita penuh misteri, yang tentu saja membuat alur novel ini berjalan.

Well, mungkin akan ada yang jawab begini: Lah, kalau Kai Amak tidak curhat ke Abul, gimana novel ini akan berjalan? Gimana plot dan alur di depannya akan dibangun? Ya, memang itu kata kuncinya. Tapi tidakkah terasa ganjil bila seorang laki-laki tua berumur 80 tahun tiba-tiba curhat pada seorang anak yang belum genap 13 tahun. Bukan sekadar curhat, tapi menceritakan rahasia besar dalam hidupnya. Sebuah aib. Sesuatu yang… kau tahu… tidak akan bisa dibicarakan ke sembarang orang. Pertanyaannya adalah kenapa Kai Amak menceritakannya pada Abul? Karena dia mengetuk warung kopi? Tidak kuat alasannya. Pemabaca tahu, warung kopi akan tutup setelah senja di cerita ini. Lalu, apa? Pertanyaan itu terus menghantui. Kenapa Abul yang dipilih untuk dicurhati? Kenapa bukan Anang? Mereka sama-sama anak kecil dan tinggal di sana? Kenapa bukan yang lain? Bukankah ini seperti pelajaran dalam probabilitas? Setiap orang yang ada di daerah pendulangan itu punya peluang yang sama untuk dijadikan tempat curhat dadakan ini oleh Kai Amak? Bila ada 1000 orang, artiya peluang Abul sama 1/1000. Lalu kenapa dia? Itu yang mengganjalku.

Oke, memang Kai Amak harus cerita ke Abul. Tapi apa alasan kuatnya? Harus ada “sesuatu” yang membuat peluang Abul lebih besar dari seluruh penduduk yang ada di pendulangan intan malam itu. Seharusnya Randu membangun “hubungan” dulu antara Kai Amak dan Abul sebelum malam itu terjadi. Sangat mengganggu tiba-tiba orang dewasa curhat rahasia terbesar dalam hidupnya di perjumpaan pertama mereka. Bahkan Kai Amak tak tahu nama Abul sebelum malam itu. Itu terbaca di dialog yang terjadi antara mereka. Bila saja Abul dan Kai Amak sudah akrab terlebih dahulu, ada semacam jalinan emosi sebelumnya, tentu bagian ini tidak menggangguku.

Well, memang jelang ending cerita Randu mengatakan: Malam itu Kai Amak dalam keadaan mabuk, hingga curhat pada Abul. Dia juga dalam kondisi depresi karena dikejar dosa masa lalu. Oh tidak, alasan itu tidak kuat. Sebab saat digambarkan pertama, saat mereka berinteraksi sampai curhat itu terluncur, Kai Amak digambarkan tidak dalam kondisi mabuk sedikit pun.

Ketiga, ada sedikit “kekacauan” POV dan dimulai dari halaman 46-60. Bagian di mana Kai Amak curhat tentang rahasia besar dari masa lalunya ke Abul. Dari awal Randu menulis novel ini melalui POV akuan Abul. Tiba-tiba di bagian Kai Amak curhat, Randu memakain POV akuan Kai Amak. Ini sedikit mengganggu. Kenapa harus berganti POV-nya? Bukankah Kai Amak bisa tetap curhat walau lewat POV Abul? Dan “kekacauan” POV ini semakin mengganggu saat di halaman 55. Sebab Randu memakain POV akuan dari Abul dan akuan juga dari Kai Amak. Ada dua “aku” sekaligus.

Aku tidak tahu apa yang terjadi, apa ini human erorr dalam kondisi pengeditan. Sebab ada beberapa human error yang kutemukan, seperti kata “kai” yang dipakai sejak awal novel ini dan baru diberi keterangan arti kata “kai” itu di halaman 110. Kai artinya kakek dalam bahasa Banjar. Oh, ini menyiksa. Dari halaman 2 kata “kai” sudah disebutkan, tapi pembaca baru diberitahu artinya dalam footnote oleh Randu saat di halaman 110. Tak semua pembaca paham bahasa Banjar.

Ada juga human error saat Gil, teman Abul, sering menyapa Abul dengan nama Watson.Oke, ini mungkin julukan dari Gil untuk Abul. Sebab Randu tidak memberitahu nama lengkap Abul itu siapa. Tapi kurasa tidak mungkin ada seorang anak dari pedalaman sana bernama Abul Watson. Itu terkesan modern sekali. Dan sayangnya lagi, aku sudah membolak-balik halaman novel ini, takut ada yang terlewat, tapi tidak kutemukan alasan Gil sesekali menyapa Abul dengan Watson. Tentu saja sebagaian pembaca aku ingin tahu; kenapa? Apa latar belakang julukan itu muncul? Siapa Watson? Kenapa Gil menyapa Abul sebagai Watson? Apa mereka mirip? Dan sebagainya, dan sebagainya. Entahlah, mungkin seseorang yang sudah membaca bisa memberitahuku di halaman mana penjelasan Gil memakai nama Watson ini, bila aku terlewat.

Keempat, ada sedikit logika cerita yang membuat keningku berkerut. Saat Kai Amak merekayasa kematiannya. Ya, dia memang dikuburkan dengan menggunakan peti. Dan dia meninggal saat di rumahnya. Di desa Cempaka. Dan dari novel ini dia sepertinya orang Islam. Dari yang kutangkap, orang-orang hanya menguburkan peti kosong, tanpa jasad. Tapi ada yang aneh. Bukankah sebelum dikuburkan ada prosesinya selayak mengurus mayit dalam Islam? Memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan sebagainya. Terus, tidakkah aneh bila dikuburkan dengan peti dikondisi desa seperti itu? Kecuali bila dia meninggal di rumah sakit dan keluarga beralasan semua prosesi sudah dilakukan rumah sakit. Tentu dong, orang-orang kampung akan ikut memandikan, melihat dia dikafani dan sebagainya. Tapi itu tidak terjadi. Sementara keluarga Kai Amak itu cuma satu; Sari. Sepupunya, yang sama tuanya. Tanpa pembantu di rumah. Tidak mungkinkan Sari melakukan segala prosesi itu sendiri? Orang kampung pasti curiga. Dan juga biasanya yang memandikan, mengkafani, dan menshalatkan adalah orang-orang yang paham tertib dan tata cara prosesi ini. Ini mengganggu sekali. Sangat mengganggu. Oke, bila Kai Amak bukan Islam (walau cenderung di novel Islam), dia Kristen, Budha, Hindu, dan sebagainya. Tetap dong akan ada prosesi sebelum jenasah dikuburkan, dikremasi, dan sebagainya. Bagian ini membuatku harus memberi stabilo banyak sekali di halaman novel ini. Sebagai pelajaran juga buatku.

Dan satu hal lagi yang berhubungan dengan logika cerita. Gil, teman Abul, dia dikatakan sebagai anak penyandang tunagrahita –tidak spesifik level yang dia sandang, dan dia anak perempuan tomboy. Tetapi di novel ini, Gil sangat cerdas dan bahkan tergolong genius dan di atas rata-rata dengan bisa membantu memecahkan kasus dan teka-teki Kai Amak ini. Dia digambarkan tidak seperti anak penyandang tunagrahita. Walau memang beberapa kali di awal mengenalkan tokoh ini, Randu memberi deskripsi tentang fisik anak perempuan ini. Tapi itu tidak cukup meyakinkanku sebagai pembaca bahwa anak ini menyandang tunagrahita, dan terlebih sepanjang novel Gil menjelma jadi anak yang menurutku semakin jauh dari kata tunagrahita tadi. Bukan bermaksud mengecilkan teman-teman penyandang tunagrahita, tapi maksudku Randu tidak memberi pembaca keyakinan yang kuat tentang kekurangan yang Gil sandang itu. Dia terlalu sempurna untuk anak yang punya kekurangan berat dalam hidupnya. Dan Randu tidak sedikit pun mengekspos masalah kekurangan Gil itu.

Maksudku, ayolah, biar manusiawi dan ini nyata, tunjukan juga kekurangan Gil karena takdir yang Tuhan berikan itu. Mungkin tujuan dibangun sosok Gil yang “sempurna” itu agar pembaca tidak memandang sebelah mata teman-teman yang menyandnag tunagrahita ini. Tapi menurutku Randu terlalu memjadikannya sosok sempurna.

Kelima, bagian ini termasuk human error tadi. Seperti typo. Penulisan “disini” yang harusnya “di sini” (halaman 39). Dan ada juga beberapa kalimat yang menurutku agak ambigu.

Gil mengambil tempat di sampingku. Bau nyamannya mengingatkanku pada kacang dan keju. (Halaman 125).

Sepertinya Abul belum pernah mencium atau memakan keju. Dengan internet dan laptop saja dia baru tahu dan menganggap google adalah robot-robot imajinatif. Jadi ketika dia menganggap bau Gil (baju atau badan) seperti bau keju, rasanya itu tidak mungkin.

Dia menyorotkan senter untuk menandai jalan yang harus kita pilih. (Halaman 39).

Kata “kita” harusnya “kami”. Itu narasi Abul yang berjalan bersama Kai Amak dalam gelap malam menuju danau pendulangan. Sepemahamanku kata “kita” artinya Abul, Kai Amak, dan aku (pembaca). Sementara dari awal pembaca tidak dilibatkan. Jadi harusnya “kami” yakni Abul dan Kai Amak saja.

Ada juga human error di halaman 146, paragraf kedua, ada satu paragraf tiba-tiba ayah Abul ikut berdialog di tengah dialog Abul dan Gil. Dan di halaman 150 terakhir, ayah Abul muncul dan konteks dialog di halaman 146 tadi terulang. Mungkin harusnya yang di halaman 146 itu dihapus, tapi terlewat saat editing.

Human error lagi kasus yang hampir mirip dengan kata “kai” tadi. Saat Abul ke tempat pengasahan intan. Setelah berdialog cukup lama dengan laki-laki gemuk pengasah intan itu di halaman 157-159 dan Randu mendeskripsikannnya sebagai laki-laki gemuk berkeringat. Barulah pada halaman 161 Randu menuliskan nama laki-laki itu lewat narasi akuan Abul, yakni Bram. Oh kenapa di sana? Harusnya di halaman 157 nama itu sudah disebutkan. Dan saat nama itu disebut lagi pada halaman 220, Randu salah menuliskannya. Bram menjadi Bara.

Dan masih ada beberapa human error yang tidak terlalu mengganggu, masih bisa dinikmati, seperti typo dan kesalahan ketik atau salah eyd seperti kata “mengubah” yang masih tertulis “merubah” di halaman 242 dalam surat Sarah untuk Gil.

Nah, sekarang ke bagian favorit-favoritku.

Pertama, bila kau sedang belajar nulis dan ingin tahu bagaimana membuat narasi yang bagus dengan pilihan bahasa yang enak, renyah, manis, tapi nggak bikin kening berkerut. Kau harus baca Galuh Hati.

Randu sangat pintar menjalin narasi dengan diksi-diksi yang menawan. Aku tidak bosan dan tidak merasa terbebani saat membaca novel ini. Ceritanya enak dengan pilihan bahasa yang menarik tadi. Apa istilah tepatnya ya? Segar. Bahasa yang Randu pakai dalam novelnya ini sangat segar dan…. oh tuhan, aku tak dapat mengatakannya, aku bingung memilih frasa yang tepat. Pokoknya kau akan terpukau dengan kemampuan Randu menjalin kata demi kata yang sangat menarik itu. Seperti senja buting oleh semburat cahaya, dan banyak lain lagi. Aku tidak bisa mengutip semuanya. Intinya aku suka dengan kekayaan bahasa yang dimiliki Randu. Novel ini jadi tidak terasa kering.

Kedua, aku lega dan sangat senang ketika Galuh Hati tidak kena kutukan “Laskar Pelangi”. Randu memilih kisah lain. Kisah yang penuh debar dan misteri, sedikit ala detektif yang membuatku tak bisa melepaskan buku ini sebelum menemukan kata tamat. Karena Randu dengan lihainya selalu memberi penawaran demi penawaran tiap satu bab berakhir. Itu artinya, aku sebagai pembaca harus terus mengikuti permainannya. Dan itu menyebalkan sekaligus menyenangkan. Tak banyak penulis yang mampu mengikat pembaca sedemikian rupa dan Randu berhasil melakukannya.

Ketiga, sebenarnya pesan novel ini sangat kompleks. Dan Randu mempersilakan pembaca untuk memetik satu demi satu. Tentang ironinya kehidupan sosial masyarakat di tengah kekayaan alam mereka. Tentang impian dan cita-cita. Tentang persahabatan yang ganjil antara anak normal dan anak penyandang tunagrahita. Tentang persahabatan di masa lalu yang dilumuri darah. Tentang impian. Tentang cinta. Lengkap sekali. Dan banyak sekali. Ada beberapa bagian jelang ending yang membuat mataku berkaca-kaca, terutama saat bagian antara Abul dan orangtuanya sebelum pengumuman beasiswa.

Dadaku sedikit sesak saat membaca bagian itu. Inilah potret nyata kehidupan masyarakat Indonesia di tengah kekayaan bangsanya. Seperti tikus-tikus kelaparan di sawah yang padinya menguning masak. Ironis.

Keempat, aku jadi tahu banyak tentang Martapura (khususnya Desa Cempaka) yang terkenal dengan intan dan batu mulianya. Hal itu keren bagiku yang menyukai travelling, terutama karena aku ini pemimpi kere yang penginnya banyak mengunjungi tempat-tempat menarik, tapi karena kere dan terikat pekerjaan, jadinya ya cuma membaca. Dan Randu sudah menghiburku dengan novelnya yang segar dan penuh bahasa menarik ini.

Intinya, di balik sedikit kekurangan Galuh Hati karya Randu ini. Aku menyukai novel ini. Terutama karena tema yang dia usung. Pilihan bahasa. Dan kesegaran yang dia bawa untuk bacaan populer.

Bila diminta memberi rating untuk novel Randu ini, aku akan memberi angka 3.5 dari 5. Percayalah, kau akan belajar banyak hal dari novel ini. Belajar tentang budaya, kekayaan alam, dan hal-hal yang akan membuat rasa cinta tanah airmu semakin bertambah, sekaligus empatimu akan negeri ini semakin besar. Ah, betapa kita memang berharap akan ada pemimpin baru yang membawa kita semua keluar dari jeratan masalah yang sangat kompleks ini. Kita kaya, tetapi kita tak berdaya karena ketidak-tahuan (pendidikan).
Selamat Randu untuk novelnya. Dan kau keren. []

By AlamGuntur Posted in cerpen

8 comments on “Galuh Hati: Cerita Berkilau dari Desa Penghasil Intan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s