Dalam Deru Kereta (Padang Ekspres, 20 April 2014)

Sebelum deru kereta Progo terdengar meninggalkan Stasiun Senen malam itu, kau sudah melemparkan pandangan keluar jendela. Tak tahu apa yang kau lihat dalam kegelapan malam. Matamu lurus, menembus jendela kaca, menerobos pekat malam.

Tak seperti penumpang kereta yang kebanyakan ribut berbagi cerita, sendau gurau, atau sekadar melempar joke sesama teman perjalanan, kau hanya terduduk diam di bangku 10C. Raut wajahmu datar, dingin, sedikit galau atau mungkin juga bimbang. Ah, kuralat. Ekspresi wajahmu seperti tertekan. Dengan wajah seperti itu, kau seolah seorang prajurit yang baru kembali dari medan perang, lalu mendapat kabar kekasihmu sudah menikah.

Matamu menerawang. Jauh. Seolah-olah kau hanya duduk sendiri di kereta menuju Jogja itu. Penumpang di kiri dan depanmu hanyalah radio-radio tua yang terus mengoceh. Tak kau hiraukan. Bahkan sepasang manula di bangku 10A dan 10B yang sejak tadi beberapa kali menyapamu, juga tak kau gubris. Akhirnya, mereka tak mengacuhkanmu.

Tak ada yang tahu, apa yang kau lihat di luar sana. Mungkin kau begitu tertarik dengan jam dinding bulat berlatar putih yang tergantung di stasiun ini. Matamu tertuju ke arah sana. Jam itu belum menunjuk angka 10 (malam), waktu keberangkatan kereta yang tertera di tiketmu. Petugas kereta yang menyewakan bantal terlihat hilir mudik, berapa kali dia berteriak. Manula di depanmu menyewa dua bantal sekaligus. Lima ribu untuk satu batal. Pasti mereka bersiap tidur. Perjalanan dengan kereta malam tak terlalu asyik, tak ada yang bisa dilihat di luar jendela. Anehnya, matamu justru terpaku di sana.

Bila benar kau seorang prajurit yang baru pulang dari medan perang dan patah hati lantaran baru mengetahui kekasihmu sudah menikah dengan orang lain –mungkin dengan seorang juragan tanah yang jelek, botak, buncit, berkumis, tentunya tua bangka bau tanah. Terdengar ini klise sekali. Tapi tak ada yang klise di muka bumi ini. Semua bisa saja terjadi. Kini kau mengenang saat kekasihmu itu mengantarmu di stasiun dulu. Saat kau akan berangkat ke medan perang. Itulah sebab yang membuatmu terus melihat ke luar jendela.

Kau mungkin berharap, tiba-tiba kekasihmu itu datang menyusul. Dia tidak bahagia dengan pernikahannya. Kau pasti berharap demikian, kan? Dia dijodohkan lantaran bapaknya terlilit hutang. Lalu kalian kabur bersama, menuju kota yang tak bisa dilacak juragan tua bangka itu, atau pun orangtua kekasihmu. Di kota pelarian, kalian akan hidup bahagia selamanya.

Ah, ini makin terdengar mirip kisah dongeng.

Tapi siapa pun yang memerhatikan wajahmu saat ini bersepakat: Kau tengah mengalami masa-masa yang sulit dalam hidupmu. Wajahmu itu tak bisa menipu. Juga tatapan matamu yang kosong. Kau seolah tengah memutar kenangan paling kelam dalam hidup. Kau ingin melupakannya. Sialnya, kau tak bisa.

****

Terdengar bunyi peluit. Kereta Progo yang kau tumpangi perlahan bergerak. Lamat-lamat gerbong keretamu meninggalkan Stasiun Senen. Mendadak saja kau berdiri dari dudukmu. Sepasang manula yang duduk di depanmu terkejut, mereka ikut melongoh ke arah kaca jendela kereta, berusaha melihat apa yang membuatmu tiba-tiba berdiri. Tak ada sesiapa di sana, selain petugas stasiun yang terlihat menguap. Remaja tanggung yang jadi teman berbagi bangku denganmu pun ikut-ikutan menjulurkan kepala. Tapi dia menarik kepalanya lagi karena tak melihat apa pun dalam kegelapan malam di luar sana.

Kau pasti terkenang dengan adegan paling sentimentil dalam hidupmu. Sebab matamu tiba-tiba basah. Ada kuncup-kuncup bunga air yang mengembang di sana. Tapi kau berusaha menahannya. Berkali-kali kau terlihat menghirup napas dalam-dalam. Sepertinya dadamu sesak karena ingatan.

Lama sekali kau berdiri dari dudukmu. Sementara sepasang manula dan remaja di sampingmu menatap bingung. Mereka bertiga bertukar pandang. Tak paham. Manula yang perempuan menatap si remaja. Mungkin dia melempar tanya; apa kau melihat sesuatu? Remaja itu mengangkat bahu, tanda dia juga tak tahu.

Kau tiba-tiba teringat dengan adegan paling mengharukan. Yakni ketika kekasihmu melambaikan tangan perpisahan. Saat kereta perlahan menjauh, dia melambaikan tangan yang memegang sapu tangan merah. Matanya berurai basah lantaran tak rela melepasmu berperang. Dia cemas. Itu wajar. Bagaimanapun tak ada yang sudi melepas pujaan hati menjemput maut. Di tempat yang menakutkan itu, hujan tak turun dalam bentuk air. Tapi dalam bentuk peluru. Siapa yang lengah, dia akan terkapar dan meregang nyawa.

Dalam ingatanmu, kekasih yang sangat kau cintai itu berlari-lari mengejar keretamu. Dia masih terisak. Kau sangat yakin itu, karena dia berkali-kali mengelap wajah dengan sapu tangannya. Kau berdiri dari duduk dan menyembulkan kepala dari kaca jendela.

“Aku pasti kembali! Aku berjanji!” teriakmu.

Dia berhenti. Tak mengejar lagi. Bukan tak ingin. Tapi keretamu semakin menjauh dan lantai stasiun sudah berakhir. Dia hanya melihatmu melambai-lambaikan tangan dari jendela kereta yang terbuka. Lalu kau menghilang, juga kereta yang membawamu.

****

Kereta Progo yang membawamu sudah jauh meninggalkan Stasiun Senen. Deru rodanya terdengar beradu dengan rel tua, seperti kidung patah hati. Penumpang kelas ekonomi yang kau tempati sudah banyak terlelap. Bahkan sepasang manula di depanmu sudah tertidur sambil bergenggaman tangan. Remaja laki-laki di sampingmu pun sudah tidur dengan mulut mengangah. Sementara kau masih terjaga. Tak semenit pun kau memejamkan mata.

Di luar, malam menuang pekat bersama rintik hujan. Air hujan itu meleleh di dinding kaca. Dia serupa ingatan yang meluber dalam kepalamu. Terasa jauh lebih nyata dari yang kau harapkan.

Matamu masih terpaku di jendela kereta.

Kau kembali teringat dengan janji yang kau buat bersama kekasihmu. Dulu, sebelum berangkat ke medan perang, kau meminta kekasihmu untuk setia. Kau berjanji akan terus berkirim kabar. Dan secepatnya untuk pulang.

Mula-mula, semua berjalan sesuai kesepakatan yang kalian buat. Kau kerap berkirim kabar di antara keterbatasan di medan perang. Dua kali kau mendapat surat balasan. Kau tak mengeluh lantaran memang kekasihmu akan sukar menghubungimu. Kau tak selalu berada di markas, sebab lebih banyak bertaruh nyawa. Tapi sungguh, dua surat itu telah membuatmu tetap waras di tengah kegilaan manusia di medan perang.

Tiap waktu kau didera ketakutan saat menemukan kawanmu mati tertembak. Sebab kau akan teringat dengan kekasihmu yang menunggu. Diam-diam kau sering bertanya di antara tidur yang tak pernah lelap: Untuk apa kami berperang dan saling membunuh? Untuk menghilangkan dahaga seorang drakula-kah? Tapi kau tak kunjung menemukan jawaban itu.

Bertahun-tahun kau di sana, di ladang yang menanam manusia sebagai benihnya. Tapi manusia tetap tak tumbuh di sana, walau sudah diairi dengan darah.

****

Kau tahu sendiri, betapa perjuanganmu sangat berat untuk tetap waras di medan perang. Semua demi janji yang sudah kalian buat. Biadabnya, kekasihmu justru mengkhianati janji itu.

Bila disuruh memilih, kau lebih baik meminta kekasihmu itu mati bunuh diri. Meneguk racun serangga, mengiris nadi, atau bahkan menceburkan diri ke jurang. Tapi dia terlalu pengecut untuk melakukan itu. Mungkin dia takut mati. Sama sepertimu saat di medan perang itu. Makanya dia memilih menerima pinangan laki-laki lain.

Takutku beralasan, tampikmu.

Ya, memang beralasan. Kau takut mati lantaran masih ingin hidup seribu tahun lagi dengan kekasihmu itu. Kalian sudah menggadang impian yang besar. Hidup bahagia selamanya sampai maut memisahkan. Nyatanya? Apa lacur, dia berkhianat.

Jika kau tahu semua akan berakhir seperti ini, kau pasti lebih memilih mati di medan perang itu. Sungguh, kau sangat menyesal tidak mati di sana. Setidaknya, itu jauh lebih jantan dan membuatmu bahagia, ketimbang mati karena menerima kenyataan ini.

Kau pun pasti lebih memilih jadi gila di medan perang. Menerobos ke depan, membabi-buta dan tak peduli bila seorang musuh akan menembakmu tanpa belas. Kau juga tak akan mengindahkan lagi taktik dan strategi, perintah komandan, dan segala tetek bengek lainnya. Bahkan bila diperbolehkan, kau pasti akan menembak kepalamu sendiri agar bisa mati lebih cepat. Itu bila kau tahu semua akan berakhir seperti ini. Bila kepulanganmu setelah bertahun-tahun tak memiliki arti lagi.

****

Kereta terus bergerak, menerobos malam, menembus pekatnya sebuah ingatan. Kau masih duduk diam. Tak bergerak. Tak memejamkan mata. Sementara seluruh penumpang gerbong ekonomi yang kau tumpangi sudah terlelap.

Kau merasa sudah gila sejak malam ini, karena sebuah ingatan yang terus menusuk kepalamu. Kegilaan itu pulalah yang membuatmu berada di kereta ini. Di kereta Progo menuju Lempuyangan, bangku 10C, tengah malam.

Matamu masih menatap keluar jendela, ke arah gerimis yang tumpah. Ekspresi wajahmu sulit digambarkan, antara tertekan atau galau. Tapi orang-orang menduga; kau tertekan karena lama bertugas di medan perang. Itu bisa ditebak dari seragam tentara yang kau pakai. Nyatanya tidaklah demikian, ada kisah yang tak diketahui aku, si tukang cerita. []

Jogja – C59, 29 April – 10 Mei 2013.

By AlamGuntur Posted in cerpen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s