Ular di Rambut Maryama (Tribun Jabar, 04 Mei 2014)

Gambar

Ilustrasi oleh Tribun Jabar

 

KESEKIAN kalinya Sarpen harus menelan kecewa. Rasanya tetap sama, seperti kejadian beberapa tahun lalu itu, saat istrinya keguguran pertama kali. Perih. Sakit. Lalu, dia teringat ucapan Mak Lamin beberapa purnama silam padanya.

“Carilah ular lia. Jemur dengan digantung terbalik di depan pintu limasmu, tali penggantungnya kau ambil dari rambut istrimu. Anakmu akan kokoh, makhluk pemakan bayi itu tak akan bisa lagi mengusik calon anakmu.”


Mendengar ucapan Mak Lamin itu, bulu kuduk Sarpen langsung berdiri, seperti barisan tentara yang tegak mendengar terompet sangkakala. Alahai… tak sekejap pun Sarpen melintaskan cerita buruk ini dalam benaknya. Dia tak hendak percaya awalnya. Tapi bila menengok kejadian yang sudah berulang-ulang, mau tak mau dia dipaksa memercayainya.

Mula-mula, Sarpen masih berusaha menampik. Mak Lamin, dukun beranak sepuh di dusun Tanah Abang itu cuma berkoar. Dia hanya menakut-nakuti saja. Mungkin lantaran dia sudah tak laku lagi sebagai dukun beranak. Sekarang tak banyak orang kampung yang memakai jasanya, semenjak bidan sudah ada dan puskesmas berdiri megah. Jadi dia mengarang cerita seram, berharap orang percaya, dan kembali memakai jasanya.

Sarpen sangat setuju dengan prasangkanya ini. Bila diingat-ingat, Mak Lamin yang tua itu memang tak punya penghasilan tetap. Dia memang punya beberapa orang anak dan cucu dan cicit. Seperti lumrahnya orang Tanah Abang, dia tinggal bersama anak lanang tertuanya, Lamin. Masalahnya Lamin hanya punya sebidang kebun karet berisi lima ratus batang, itu pun karet sepuh. Setua usia Mak Lamin. Getahnya tak banyak lagi. Sementara anak Lamin sangat banyak. Ada delapan orang. Dari yang sudah pecah bulu sampai yang masih netek di emaknya. Ada sebelas mulut yang harus dikenyangkan di rumah itu.

“Aku tak berdusta,” Mak Lamin seolah paham dengan jalan pikiran Sarpen. “Kau boleh percaya, boleh juga tidak. Itu hakmu. Aku hanya kasihan padamu dan istrimu. Saban hamil muda, dia selalu jadi incaran pemakan darah bayi yang bersarang di pohon sawo depan rumah kalian itu. Tak hanya istrimu, banyak perempuan lain yang jadi korbannya.”

Saban teringat dengan ucapan Mak Lamin di bagian ini, Sarpen pasti akan ingat pula dengan raut wajah Mak Lamin yang mendadak begitu menakutkan. Tengkuk Sarpen terasa dingin. Seolah ada air es yang menelisik di pori-porinya. Mata Mak Lamin terlihat tajam, hitam, dan berselubung misteri. Seolah di kedua rongga matanya itu ada sepasang sumur kelam tanpa dasar, dan dari sana berkelebat bayang-bayang menakutkan.

“Kau ingat Sumaria?”

Sarpen mengangguk. Dia sedikit menyesal membiarkan dukun beranak tua ini mampir ke bawah limasnya, duduk di atas bale-bale bambu, dan mengoceh sembari Sarpen mengasah pisau sadap yang agak tumpul.

“Dia bukan mati beranak secara biasa. Makhluk pemakan darah bayi itu menghirup darahnya. Dia terlalu rakus. Andai saja Sumaria percaya padaku. Dia tak akan mati muda.”

Mak Lamin memaksa ingatan Sarpen untuk berlari ke empat purnama silam. Saat tangisan duka memenuhi bubungan limas Jufri. Istri Jufri, Sumaria, dikabarkan mati setelah beranak. Anak keempatnya. Laki-laki. Dia kehabisan darah, sementara bidan tak punya stok darah. Di kampung pun tak ada peralatan semacam memasukan darah ke sesama tubuh orang macam di rumah sakit kota. Jadi Sumaria mati dengan badan pucat pasi. Mengenaskan. Kematian yang menghebohkan sekaligus menakutkan.

Di bagian ingatan ini, tengkuk Sarpen kembali dingin, bulu kuduknya meriap. Dia tak hendak mengingat kisah seram yang beredar. Tapi otaknya sudah terlanjur membuka lipatan ingatan. Dengan sangat terpaksa, kali ini pun Sarpen harus mengingat kisah horror itu.

Menurut cerita yang beredar saat itu, sesaat sebelum Sumaria mengatakan perutnya sangat sakit dan dia hendak segera beranak. Sumaria kedatangan seorang tamu menjelang magrib. Perempuan misterius. Lalu saat Jufri pulang dari mandi di Sungai Lematang, perempuan itu pamit. Tak lama Sumaria sakit perut. Dan inilah bagian yang menakutkan itu. Jufri gegas menjemput Bidan Dina, meminta bantuan untuk Sumaria beranak. Saat proses beranak itu, Sumaria menjerit-jerit histeris. Bukan. Bukan karena rasa sakit yang mengili-kili. Tapi karena dia melihat perempuan misterius itu berdiri di ambang pintu kamarnya dan membenamkan kepala di selangkangannya. Sekali waktu, perempuan itu mengangkat wajah dan lidahnya merah menjulur, darah memburai, memenuhi wajah itu. Itu yang dijeritkan Sumaria dan didengar beberapa orang di rumah Jufri.

Sarpen mengusap-usap tengkuknya. Dia tak ingin percaya. Bisa saja orang-orang hanya mengarang cerita. Menambah bumbunya biar sedap. Macam tak tahu saja mulut orang-orang kampung, berita biasa bisa jadi luar biasa karena ditambah-tambah. Seperti saat Gedo berkelahi dengan abangnya, Jemek, dikatakan keduanya adu-pukul hingga gigi Gedo rontok empat biji. Nyatanya? Cuma lebam-lebam saja. Begitulah orang kampung. Sarpen menghibur hatinya yang mendadak kempis.

“Kau masih tak percaya?” mata Mak Lamin yang tersimpan di ceruk rongganya itu kian terasa mengerikan dalam pengelihatan Sarpen. “Kau ingat Almah? Almah istri Nalis. Temanmu itu. Dia hampir mati juga. Kandungannya diincar oleh makhluk itu. Untunglah Almah dan Nalis percaya padaku. Dia mencari ular lia dan memasangnya di atas pintu rumah. Anak-istrinya selamat. Bila kau tak percaya. Kau tanya saja pada Nalis.”

Sarpen gamang. Dia menghirup napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan berat. Gumpalan-gumpalan sesak terasa mengimpit dadanya. Dan dia pun teringat dengan ucapan bininya, Maryama, sebelum keguguran pagi kemarin itu.

“Semalam aku bermimpi ketemu Sumaria, Bang. Dia tersenyum. Pucat. Memandangku. Aku mengelus-elus perutku.”

Kejadian yang sama. Sarpen sudah dapat firasat jika Maryama akan keguguran, tersebab beberapa kejadian sebelumnya juga sama. Maryama mimpi bertemu perempuan-perempuan yang mati beranak itu. Lalu dia keguguran.

♦♦♦

SESUNGGUHNYA, Sarpen masih tak ingin percaya pada Mak Lamin. Ini hanya kebetulan semata. Kebetulan yang menyakitkan. Namun lama kelamaan dia tak bisa mengusir pikirannya sendiri. Acapkali teringat dengan kejadian pahit ini, ingatannya langsung melayang ke arah Mak Lamin. Dan kisah mengerikan itu langsung terulang dalam benaknya, termasuk air muka Mak Lamin yang mendirikan bulu kuduknya.

Susah payah Sarpen meredam perasaannya sendiri, juga memeram rahasia ini sendiri. Tapi pada akhirnya dia tak tahan lagi. Dikisahkannya saja cerita menakutkan itu pada istrinya, Maryama. Seperti yang sudah dia duga, istrinya yang masih lemah lantaran keguguran dua hari yang lalu itu, langsung pucat pasi. Bibirnya gemetar dan matanya melotot seolah hendak meloncat dari rongganya.

“Kenapa kau tak cerita, Bang?” suara istrinya terdengar mencicit, seperti tercekik. “Aku jadi takut. Kau tebang saja pohon sawo depan rumah itu.”

Sarpen menghirup kopinya. “Itu bukan pohon sawo kita. Pohonnya Bi Eng sebagai tanda batas tanah. Tak bisalah asal tebang. Kalau pun kita tebang, makhluk pemakan bayi itu bisa pindah bersarang.”

Istrinya terdiam, dia masih sedikit meringis saat menggerakan badan. “Apa abang percaya cerita Mak Lamin?” ada keraguan yang terdengar dari mulut istrinya.

“Menurutmu?”

“Coba abang tanya Nalis, benar tidak seperti yang Mak Lamin cakapkan.”

Sarpen segera mengangguk-anggukan kepalanya. Dia menyetujui usul istrinya. Ide itu tak terlintas dalam benaknya. Mungkin karena dia terlalu kalut memikirkan cerita Mak Lamin, hingga alfa sendiri untuk bertanya pada Nalis, mengukur sejauh apa cerita dukun beranak tua itu benar. Sarpen sedikit merutuki kebodohannya, padahal Mak Lamin sudah jelas-jelas memintanya bertanya ke Nalis, tapi dia lupa sendiri.

Tak tahu kenapa, hati kecil Sarpen meminta Nalis mengatakan Mak Lamin berdusta. Dia masih tak ingin percaya dengan kisah menakutkan itu. Dia tak bisa membayangkan akan berurusan dengan hal semacam ini. Memang dia orang kampung, tapi Sarpen merasa ini sudah zaman modern. Tak mungkin hal-hal semacam itu masih ada.

Sarpen menghibur dirinya sendiri sembari menandaskan sisa kopi dalam gelasnya. Lalu dia gegas pamit pada istrinya, menemui Nalis.

♦♦♦

BULU kuduk Sarpen kembali tegak berdiri saat Nalis mengisahkan cerita yang tak pernah ingin dia dengarkan. Tapi Sarpen terpaksa memasang cupingnya dengan baik.

“Kau tahu kenapa aku memangkas habis seluruh pohon pisang di belakang dapur rumahku?”

Sarpen menggelengkan kepala atas pertanyaan Nalis itu. Dia memang tak tahu dan tak pernah mau mencari tahu alasan Nalis melakukannya waktu itu. Dia bukan laki-laki yang sibuk mengurus urusan orang lain. Hak Nalis untuk menumpas segala tanaman yang tumbuh di atas tanahnya. Hak Nalis untuk merapikan pekarangannya. Hak Nalis…

“Menurut Mak Lamin, ada dedemit yang bersarang di rumpun pohon pisang itu. Terutama pada pisang-pisang yang sedang berjantung. Itu kenapa istriku berapa kali keguguran. Dia kerap diganggu.”

Sarpen menelan ludah. Dia mengusap-usap tengkuknya.

“Awalnya aku tak percaya. Tapi Mak Lamin memasang jarum dan paku di pohon pisang yang berjantung, lalu tengah malam aku dan biniku mengintip dari sela dinding papan kamar. Kami melihat ada sosok putih terpaku di sana, bergerak-gerak dan ingin keluar. Malam itu kami tidur berpelukan karena makhluk itu terus menjerit-jerit.”

Sarpen kembali menelan ludahnya. “Lalu?” tanyanya.

“Paginya kujemput Mak Lamin, meminta dia melepaskan paku dan jarum di pohon pisang. Lalu kutebang semuanya. Dan dia menyuruhku mencari ular lia untuk penangkal.”

“Kau dapat di mana?”

“Kudapat di kebun karet.”

“Boleh aku tengok? Mak Lamin suruh hal yang sama padaku.”

Nalis segera beranjak dari kursi rotan di teras depannya. Bininya tengah sibuk menyusui anak mereka di ruang tengah. Perempuan berumur dua puluh tahun itu segera menutupi dadanya yang terbuka saat Sarpen lewat.

Tangan Nalis meraih sesuatu yang tergantung di atas kusen pintu kamar mereka. Benda seperti lidi yang keras. Diikat tali dari rambut. Mata Sarpen menyipit saat melihatnya. Bentuknya memang mirip lidi, berwarna kecoklatan, tapi ada sepasang kaki.
“Inilah ular lia,” ucap Nalis. Sarpen menganggukkan kepalanya.

Setelah melihat bentuk ular lia, juga cerita Nalis yang menyeramkan itu, Sarpen gegas pulang ke rumah. Sepanjang jalan bulu kuduknya berdiri. Padahal ini tengah hari, bahkan dia sedikit berlari saat melewati batang sawo besar yang tumbuh di depan rumahnya. Dalam benaknya, sepasang mata merah dengan wajah seram tengah mengintainya. []

C59, 2013.

By AlamGuntur Posted in cerpen

One comment on “Ular di Rambut Maryama (Tribun Jabar, 04 Mei 2014)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s