Sepasang Kutu, Kursi Rotan, dan Kenangan di Atasnya (Pikiran Rakyat, 22 Juni 2014)

SATU

Bagaimana bila kau punya sepasang kursi rotan tua yang disesaki kenangan? Kursi itu warisan paling berharga dari ibumu, setidaknya demikian dia mengatakannya sebelum dia pergi tanpa pesan. Sepasang kursi itu satu-satunya benda yang dia sayangi. Konon katanya, di sepasang kursi itulah ayahmu menjelma jadi kutu, lalu dia menyelinap di sela-sela anyaman kursi. Sejak saat itu, ibumu menjaga kursi itu dengan segenap jiwa raganya, sebab dia percaya; kelak ayahmu akan kembali jadi manusia.

Mungkin, bila kebanyakan anak lain, akan serta merta mengatakan ibunya berdusta dengan dongeng picisan seperti itu. Kau tidak akan mengatakannya, sebab kau percaya; ibumu bukan pendusta.

Siang dan malam kau menjaga sepasang kursi rotan tua itu, tak akan pernah kau izinkan seorang pun untuk mendekatinya, seperti yang ibumu lakukan dulu. Kau pun kerap membantu ibumu mengintip tiap bagian dari kursi rotan itu, berharap menemukan seekor kutu yang mirip dengan ayahmu –berdasarkan ciri-ciri yang pernah ibumu ceritakan.

Kata ibumu, ayahmu berwajah bulat telur dengan mata jenaka. Dia setampan pangeran dalam negeri dongeng yang kerap ibumu ceritakan jelang kau tidur di masa kanak-kanak.

“Lalu, kenapa ayah berubah jadi kutu?”

Ibumu menoleh ke kiri dan kanan, lalu sembari berbisik, dia mengatakan ini: “Ini hanya rahasia kita berdua,” kau tergesa mengangguk. “Ayah pergi ke negeri kutu untuk menyelamatkan negeri itu dari serangan musuh. Kelak bila misi itu selesai, ayah akan kembali. Tentu saja dia akan membawakanmu oleh-oleh dari negeri kutu itu. Kau mau apa?” tanya ibumu.

Sejenak, kau berpikir. “Aku ingin mahkota seperti pangeran. Juga baju perang dan pedangnya,” tambahmu cepat-cepat.

“Pejamkan mata dan berdoalah,” bisik ibumu sembari mengecup keningmu. Kau mengangguk, tersenyum, dan tergesa memejamkan mata, mengucapkan doa agar kelak, ketika ayahmu kembali dia akan membawakanmu makhota pangeran dari negeri kutu dan baju perang dengan pedangnya. Usai itu, ibumu akan mematikan lampu kamar dan kau akan tertidur, bermimpi ayahmu kembali dengan membawa permintaanmu.

Begitulah, masa kecilmu dihidupkan oleh dongeng tentang ayahmu yang berubah jadi kutu saat duduk di atas kursi rotan ruang tamu. Setiap teman-temanmu bertanya tentang ayahmu yang tak pernah terlihat, kau akan mengisahkan dongeng dari ibumu itu. Bisa ditebak, tak ada seorang temanmu pun yang percaya. Tapi kau tetap yakin bila ibumu tidak berdusta.

Dalam daya khayalmu yang membumbung tinggi, kau bayangkan ayahmu tengah berperang di negeri kutu anyaman kursi rotan itu. Kau kerap membawa kaca pembesar yang dibelikan ibumu untuk memeriksa tiap jengkal sepasang kursi itu. Kau bayangkan para musuh ayahmu seperti makhluk menyeramkan di film Epic yang pernah kau tonton bersama ibumu di bioskop saat akhir pekan. Di lain waktu, kau membayangkan musuh-musuh ayahmu dan para kutu itu seperti kodok raksasa yang licik dan menjijikan. Kodok itu punya perut besar yang tak pernah kenyang dan lidah panjang yang begitu lengket. Sekali makan, kodok itu bisa menghabiskan satu kompleks kutu di negerinya.

Kau terus membayangkan berbagai macam makhluk mengerikan yang akan ayahmu hadapi di negeri kutu itu. Tapi kau berhenti membayangkan makhluk mengerikan itu, setelah ibumu bercerita tentang musuh sebenarnya yang dihadapi oleh ayahmu.

DUA

Dulu, bertahun-tahun lalu, ada seorang gadis jelita yang terperangkap di sebuah menara. Menara itu sangat tinggi. Tak ada tangga di sana, hingga dia tak bisa pergi dari menara yang memenjarakan dirinya. Bila di cerita dongeng, gadis jelita ini punya rambut pirang yang panjang dan ajaib, hingga dia bisa pergi dan bermain dan bertemu pangeran tampan yang baik hati, lalu mereka jatuh cinta, pacaran, menikah, dan hidup bahagia selamanya, tidak demikian dengan gadis itu. Bukan karena ini cerita pendek jadi dia tak punya rambut panjang yang ajaib. Bukan. Tapi karena memang demikian yang ada dalam cerita. Dia hanya punya sepasang kursi rotan yang kerap diajaknya berbicara.

Bila sudah duduk di atas salah satu dari sepasang kursi rotan di menaranya, dia akan terlihat sangat khusyuk, seolah-olah dia tengah berbincang dengan seseorang. Dan memang benar, dia bercerita dengan seseorang, ah tepatnya bukan seseorang tapi seekor kutu yang hidup di sela-sela anyaman kursi rotan yang dia duduki. Ajaibnya, gadis jelita ini jatuh cinta pada kutu itu. Seekor kutu laki-laki yang saban hari duduk khidmat menyimak setiap cerita dan impian si gadis jelita.

Konon katanya, seekor kutu itu bukanlah kutu biasa. Pada waktu-waktu tertentu kutu ini bisa menjelma jadi manusia. Jadi seorang laki-laki tampan dengan mata jenaka. Kulitnya kecokelatan, rambutnya juga. Dan seperti di cerita-cerita sinetron atau pun dongeng yang kerap kau tonton dan baca, mereka berdua jatuh cinta.

Mula-mula, mereka hanya saling mendengarkan cerita satu sama lain. Si gadis jelita bercerita tentang segala hal yang sudah dia lewati dalam hidupnya. Tentang ayahnya yang otoriter, tentang ibunya yang tak punya suara, dan tentu saja tentang dia yang harus dipenjara dalam menara tinggi nan pengap itu. Seumur hidupnya, baru kali itu dia bercerita dengan makhluk berjenis kelamin laki-laki, selain ayahnya. Sementara si kutu bercerita tentang negerinya yang elok dan kedamaian di sana, tetapi seumur hidupnya baru kali itu dia bertemu dengan perempuan sejelita gadis di menara ini.

Suatu hari, saat si kutu menjelma lelaki tampan, hujan deras turun dengan lebat. Kilat menyambar-nyambar dan guntur bersahutan seperti nyanyian langit dalam masa berkabung yang demikian pilu. Lalu, tak tahu siapa yang memulai. Mereka saling melindungi dari jeritan histeris langit yang tengah meratap. Kau pasti paham apa yang terjadi antara laki-laki dan perempuan yang tengah kasmaran dan mereka terjebak di sebuah ruangan hanya berdua.

Tanpa mereka sadari, ada seorang hantu laki-laki yang cemburu dengan hubungan mereka. Hantu ini murka bukan kepalang. Suatu hari, dia mengasah parang dan hendak membabat leher si kutu yang tengah menjelma jadi manusia. Kutu itu bergerak cepat, dalam hitungan detik dia kembali menyalin rupa dan bersembunyi di antara anyaman kursi rotan. Hantu itu mengejarnya sampai ke negeri para kutu dan belum jua kembali. Itu artinya mereka belum saling mengalahkan.

Konon, sejak saat itu dia menjaga sepasang kursi rotannya. Dia percaya, laki-laki yang menjelma kutu itu –dia terus memercayai jika sebenarnya laki-laki itu memang manusia, tapi bisa berubah jadi kutu, bukan sebaliknya, akan menang dan kembali padanya suatu hari nanti. Terlebih karena mereka berdua sudah menanam kenangan di atas sepasang kursi rotan itu. Lalu kenangan itu tumbuh besar karena disiram dan dipupuk dengan perasaan. Dia menganggap kenangan itu seperti anaknya sendiri. Pada kenangan yang tumbuh membesar itu dia menceritakan, bila ayahnya adalah seorang manusia yang menjelma kutu di anyaman kursi rotan untuk menyelamatkan negeri itu dari serangan musuh. Kenangan itu memercayainya, walau diam-diam sepasang kursi rotan berusaha menceritakan kisah sebenarnya.

TIGA

Sepasang kursi rotan itu menghela napas lega ketika melihat senja perlahan muncul di jendela rumah. Bagi keduanya, senja begitu berharga, sebab itu sebagai penanda, dongeng picisan yang penuh kebohongan itu akan segera berakhir. Setidaknya untuk hari itu. Dan malamnya sepasang kursi itu akan menyiapkan diri untuk mendengar kembali dongeng menyebalkan itu besok pagi, sekaligus memikirkan cara agar dongeng itu menemukan ending untuk selama-lamanya.

“Apa sebaiknya kita ceritakan saja padanya jika yang perempuan itu ceritakan adalah dusta?” kursi rotan yang berjenis kelamin perempuan membuka percakapan malam ini sembari menatap kenangan yang terus tumbuh di atas tubuh mereka. “Bahwa sebenarnya ayahnya seorang bajingan yang lari dari tanggung-jawab. Aku kecewa malam itu lehernya tak putus karena parang. Itu semua karena jendela berbaik hati menolongnya.”

“Hei!” jendela menukas cepat. “Dia salah satu tokoh utama kita. Kalau dia mati, perempuan itu tak akan bisa mengarang cerita demikian memukau seperti sekarang.”

“Dia bisa mengganti ceritanya jadi kisah horor,” jawab kursi rotan perempuan dengan muka ketus.

“Kita tak usah membahas itu,” lerai kursi rotan laki-laki. “Pikirkanlah cara agar anak itu tahu, bila cerita yang ibunya kisahkan adalah dusta.”

Lalu mereka senyap, memikirkan cara agar kisah memuakkan itu segera berakhir.

Dulu, sebelum gadis jelita itu bertemu dengan laki-laki yang menjelma kutu itu, sepasang kursi rotan dan isi ruangan itu menyukainya. Dia gadis manis yang baik hati. Setiap pagi dia akan membuka jendela lebar-lebar, membiarkan seluruh penghuni kamar menghirup udara segar sepuas-puasnya, setelah semalam suntuk mereka terperangkap bersama dalam ruang kamar yang sempit dan pengap.
Usainya, si gadis jelita akan membacakan mereka buku dongeng yang kerap disusupkan ibunya di antara makanan yang perempuan itu antar di pagi, siang, dan malam hari. Penghuni kamar itu, terutama sepasang kursi rotan yang jadi tempat favorit gadis itu duduk, paling menyukai kisah tentang putri berambut pirang panjang yang diculik oleh seorang penyihir jahat yang ingin terus awet muda. Keinginan penyihir itu hanya bisa dikabulkan oleh khasiat rambut panjang nan ajaib si putri. Untuk itulah si penyhir menyekapnya di atas menara yang tinggi tanpa tangga. Padanya, penyihir mengatakan bila mereka ibu dan anak, serta dunia luar adalah tempat menyeramkan.

Namun kebohongan penyihir terbongkar, setelah seorang pemuda baik hati yang tampan membawa gadis itu melihat dunia luar. Akhirnya dia tahu apa yang terjadi sebenarnya. Ah, bisalah ditebak akhir cerita. Setelah melepaskan diri dari si penyihir, putri berambut pirang panjang itu hidup bahagia selama-lamanya bersama si pemuda tampan yang baik hati. Saat mendengar dongeng ini, sepasang kursi rotan itu berharap bila si gadis jelita mengalami nasib yang sama dengan putri dalam cerita dongeng itu.
Sayangnya, doa sepasang kursi rotan itu tidak terkabul. Tuhan bukan mengirim seorang laki-laki tampan yang baik hati, tetapi laki-laki bangsat yang berwujud seekor kutu. Pada hari pertama kedatangannya, mereka sudah membencinya dan sudah paham bila laki-laki itu adalah laki-laki bangsat. Dia cuma cecunguk yang tengah menipu. Berkali-kali sepasang kursi rotan ini berteriak dan mengingatkan si gadis jelita akan dugaan mereka. Tapi gadis itu tak mendengar. Ya, ya, ya… walau pun ini kisah fiksi, tapi tetap saja seorang manusia tidak paham dengan bahasa sepasang kursi rotan, jadinya gadis itu tak mendengar peringatan sepasang kursi rotan di kamarnya.

Gadis itu mabuk asmara, dia sudah terjerat dalam rayuan dan bibir manis laki-laki bangsat itu, hingga dia teperdaya. Lalu, pada suatu hari yang tengah dibasuh oleh hujan, sepasang kursi itu menjerit dan melolong saat gadis itu pasrah ketika laki-laki bangsat merebahkannya di atas kursi, membuka kancing bajunya satu per satu. Semua pembaca tahu cerita selanjutnya.
“Begitulah kisah yang sebenarnya,” pungkas kursi rotan perempuan pada kenangan yang duduk menyimak. Dari wajahnya tergambar jelas ketidak-percayaan. “Ayah si gadis memergoki perbuatan mereka. Tentu saja dia mengamuk dan hendak membunuh laki-laki bangsat itu, tapi dia selamat karena meloncat dari jendela.”

“Dan dia lari ke dalam gelap malam, tak kembali. Meninggalkan gadis itu sendirian. Dia menanggung semuanya seorang diri. Termaksud merawatmu, kenangan bersamanya. Itulah kenapa kami membencinya dan menganggapnya sebagai laki-laki berjiwa kutu bangsat,” tutup kursi rotan yang laki-laki.

“Lalu, kemana perginya ibuku?”

“Dia mencari laki-laki itu,” jendela yang menjawab dengan muka sedih. “Mungkin ingin menuntaskan rindu. Kami tak tahu…”

EMPAT

Bagaimana bila kau punya sepasang kursi rotan tua yang disesaki kenangan? Kursi itu warisan dari ibumu. Dia memintamu untuk menjaganya. Konon katanya, di sepasang kursi itulah ayahmu raib dan menjelma jadi kutu. Ibumu percaya, kelak ayahmu akan kembali menjadi manusia dengan membawa oleh-oleh yang kau ucapkan dalam doa saban malam. []

Pali, 24 Mei 2014.

ketika melihat sepasang kursi rotan tua di rumah kakek…

By AlamGuntur Posted in cerpen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s