Berkelana dalam Ruang Imajinasi dan Kerumitan Pikiran Norman

kumcer norman

 

SUNGGUH, aku jatuh cinta dengan judul buku kawanku ini, Norman Erikson Pasaribu (kemudian aku akan menyebutnya Norman di sini) yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, April 2014: Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu.

Norman membuka buku ini dengan sebuah quote yang langsung menyesatkanku dalam sebuah perasaan yang sesak; Kesedihan adalah kesedihan yang sabar dan tanpa harapan. (William Maxwell, So Long, See You Tomorrow). Saat membaca quote itu di halaman sebelum daftar isi, aku sadar akan banyak kesedihan (yang mungkin berasal dari kehilangan; ditinggalkan, meninggalkan) yang akan kutemukan dalam buku ini. Dan itu… bisa dikatakan benar.
Maka, mari kita berkelana ke beberapa cerita yang mengisahkan tentang kesedihan yang sabar dan tanpa harapan itu.

Cerita yang paling membekas dan membuatku tertegun serta mungkin merasa dada demikian sesak ketika membaca cerpen berjudul Garpu (halaman 41). Inilah berengseknya Norman, dia begitu pandai ‘merumitkan’ hal sederhana hingga aku rela tersesat dalam pikirannya itu. Apa yang menarik dari sebuah garpu yang kerap kita gunakan saat makan? Nyaris tak ada. Aku bahkan lupa sudah berapa juta kali menggunakan benda itu dan bajingannya, aku tak pernah memikirkan garpu yang demikian menyentuh seperti yang Norman ceritakan.

Akan kuceritakan tentang Garpu itu di sini. Garpu yang punya tiga cabang. Garpu makan. Ini filosofi tentang tiga orang teman yang kesepian dan membentuk sebuah keluarga. Mereka datang dari lemparan masa lalu yang menyakitkan. Adalah tokoh dia (perempuan) yang ingin menjadi biarawati, kamu (laki-laki) gay, dan aku (perempuan) yang hanya tak ingin menikah –kelak kalian akan tahu mengapa mereka demikian.

Dalam beberapa waktu, dia, kamu, dan aku menjadi sebuah keluarga yang bahagia, saling melengkapi dalam suka-duka. Lalu, sebuah undangan makan malam datang. Aku mulai membayangkan hal-hal yang menakutkan. Tentang ditinggalkan. Apalagi rasa sakit yang paling purna selain ditinggalkan? Sendiri. Kesepian. Dan terluka. Benar adanya; dia dan kamu akan menikah. Aku terkejut; sejak kapan dia berhenti ingin jadi biarawati daan sejak kapan kamu tertarik pada perempuan (secara seksual)?

Kemudian filosofi garpu makan malam inilah yang membuatku terhenyak. Norman menuliskan filosofi ini dengan sangat menyentuh. Ini bukan hanya tentang ditinggalkan kedua teman yang akan bahagia, tapi jauh dari itu.

Sebenarnya sungguh aku hanya ingin keluarga darurat ini tetap serupa garpu makan, tiga cabang; bukan garpu kue yang hanya dua cabang dan satu tusuk sate. Tahukah kamu makna filosofi sepi dalam satu tusuk sate? Hanya ada bau malam dan remah jerih payah di dalamnya.
Duh, betapa dalam kalimat itu bagiku. Kehilangan sebuah “keluarga” bisa jadi kehilangan yang paling menyakitkan.

Selain Garpu, aku juga menyukai cerpen pembuka dalam buku ini; Tentang Mengganti Seprai dan Sarung Bantal. Seperti yang kukatakan tadi, Norman sangat bajingan. Dia bisa mengubah hal sederhana seperti rutinitas mengganti seprai dan atau sarung bantal menjadi demikian bermakna.

Tahukah kalian ini bukan sekadar mengganti seprai dan sarung bantal, tapi mengganti (lebih tepatnya mungkin berusaha membuang sebuah kenangan) kenangan yang mengakibatkan bau apak di dalam kamar tidur. Anehnya, kamu justru menyukai bau tak sedap itu.

Norman memang banyak bermain filosofi dalam cerpen-cerpennya di buku ini. Tentang Doa, Sepasang Sosok yang Menunggu (cerpen ini membuatku merinding dan aku tak berhenti mengumpat karena Norman bisa menjeratku dan memaksaku menjadi sosok yang menunggu itu).

Selain imajinasi yang tak terduga, aku suka dengan dengan catatan kaki dalam cerpen-cerpen di buku ini, walau terkadang catatan itu terkesan sepele dan tidak dibutuhkan. Ajaibnya, aku justru menyukai ketidak-pentingan catatan kaki itu hingga menjadi terasa penting. Mungkin aku harus belajar pada Norman bagaimana cara agar bisa membuat hal yang tak penting itu tapi terasa penting bagi pembaca ceritaku.

Nah, sekarang giliran yang menurutku sedikit kubenci (aku agak bingung, ini sedikit atau benar-benar kubenci, atau sebenarnya aku hanya cemburu karena Norman bisa melakukannya dalam menulis cerita, sementara aku tidak. Bisa jadi).

Norman itu terlalu rumit! Benar-benar rumit. Dia bisa bertele-tele menceritakan sesuatu yang menurutku sederhana. Dia seperti seorang pelari marathon yang lebih suka rute larinya menikung, melewati lembah, tanjakan, dan sebagainya dan sebagainya. Dan itu kerap membuatku kesal dan bertanya-tanya; apakah Norman tidak akan tersesat sendiri dalam pikirannya yang rumit itu? Atau sesungguhnya dia sudah sangat lama tersesat dan tak pernah bisa pulang dari kerumitan pikirannya itu. Bisa jadi. Atau jangan-jangan sebenarnya Norman adalah seorang alien yang menyaru manusia tapi dia tidak pernah bisa menghilangkan sisi aliennya itu, yakni pikiran yang rumit tersebut.

Hal kedua yang tidak kusukai dari buku ini, beberapa catatan kaki yang hilang. Sepertinya telah terjadi kesalahan teknis dalam penyuntingan buku ini, hingga tanpa disadari oleh penulis dan editornya ada sesuatu yang terbuang. Dan itu sangat mengesalkan. Sementara aku gengsi untuk meminta pada Norman mengirimkan catatan-catatan yang hilang itu.

Bagian ketiga yang tidak kusukai dari cerita Norman; dia seperti keran air yang dibuka. Segala hal tumpah ruah. Sebagai pembaca, kadang aku merasa kesal sendiri; betapa Norman seperti nenek tua yang nyinyir (semoga dia tidak mengirimiku SMS penuh kemarahan setelah membaca ini). Hei, seberapa penting bagian ini hinggak harus dimasukan? Bolehkah aku membuangnya dan membaca ulang cerita tersebut tanpa bagian yang menurutku tidak penting itu? Menurutku, dalam bercerita, terutama cerita pendek, kita harus memikirkan; seberapa penting hal ini saya tambahkan untuk menguatkan cerita? Jika tidak, buang saja.

Namun, sungguh aku cukup menyukai (jangan-jangan sangat menyukai) buku ini. Norman bisa menggunakan filosofi-filosofi yang bagus, quotes yang bikin dada lebam dan memar, dan tentu saja memaksaku untuk menikmati kesedihan demi kesedihan di dalamnya.

Oya, aku iri dan benci sekali dengan referensi bacaan Norman. Betapa dia penulis yang kece. Bacaannya sangat bagus. Itu bisa terlihat dari kutipan-kutipan yang dia sisipkan dalama cerita dan diambil dari buku-buku penulis luar negeri. Sungguh, bila aku bertandang ke rumahnya, aku akan merampok semua buku bagus itu agar aku bisa membacanya juga.

Lalu, bagaimana rasanya ditinggalkan? Norman akan mengajak kalian memaknai dan merasakan jawaban dari pertanyaan itu. Aku sendiri tak bisa mendefinisikan perasaan sedih itu? Saat menikmati kesedihan demi kesedihan di buku ini, aku merasa sesak napas, seolah-olah udara menjauh dari paru-paruku yang payah dan menyebalkan. Hingga aku megap-megap, lalu mataku memerah dan terasa hangat karena paru-paruku tadi bekerja demikian kuat agar aku bisa bernapas –dan ternyata itu memaksa semua organ dan indera tubuhku juga bekerja keras.

Jadi? Mungkin kesedihan itu semacam merasakan penyakit asma bagiku. Dan tentu saja itu rasanya akan berbeda padamu. Pada Norman juga. Saranku, bacalah buku ini dan kalian akan bisa merasakan sensasi kesedihan yang tak bisa kudefinisikan dengan baik itu (bukankah mengatakan kesedihan seperti merasakan sakit asma itu payah?). Apa pun itu, kalian akan rugi jika tidak membaca buku ini. Selamat membaca. []

One comment on “Berkelana dalam Ruang Imajinasi dan Kerumitan Pikiran Norman

  1. Sepertinya buku ini harus menjadi daftar bacaan selanjutnya (tinggal menunggu isi dompet penuh, bang). Pasalnya, membaca beberapa penjelasan Kang Gulam menjadi satu ketertarikan mengenai tulisan-tulisan Norman ini.
    Dan sepertinya Norman ini juga sudah berhasil merakit cerita. Beranjak dari ucapan M. Atar Semi bahwa suatu karya sastra yang bermutu salah satunya memuat unsur simbol-simbol. Di sana ada. (y)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s