Menikmati Menu Cinta di Kedai Bianglala

 kedai

foto diambil dari just-fatamorgana blogspot

 

APA yang kamu pikirkan bila membaca halaman persembahan sebuah buku yang ditulis seperti ini; demi seorang perempuan rumit, luka-duka, dan lelaki-lelakinya? Dan penulisnya seorang perempuan. Mungkihkah pikiran kalian akan sama denganku; buku ini akan dipenuhi cerita tentang cinta-cinta yang akan membuat hatimu terperas. Aku menggadang itu sejak membaca halaman persembahan tersebut.


Mari kita mampir ke daftar menu Kedai Bianglala karya Anggun Prameswari ini. Di daftar pertama ada sebuah hidangan berjudul Dosa-dosa yang Manis, ditulis Anggun tahun 2011-an.

Sejujurnya, ekseskusi Anggun pada bahan-bahan cerita ini terasa biasa sekali. Kisahnya tentang ‘dosa-manis’ seorang adik kepada kakaknya. Cerita dibuka dengan kematian ayah si tokoh, dari sini frasa dosa manis itu mulai muncul. Kisah bergulir ke Mama si tokoh yang sepertinya mencari nafkah dengan cara menjual jasa cinta pada orang-orang yang kekurangan cinta.

Lalu, kisah terus bergerak saat tokoh dan keluarganya ‘tumbuh’. Dosa manis itu terulang, seperti kutukan purba. Kali ini si tokoh bermain api dengan kakak iparnya. Ada cinta yang diam-diam tumbuh di antara mereka, jauh sebelum kakaknya mengucapkan ijab qabul dengan laki-laki yang ternyata juga mencintai si tokoh. Endingnya, si kakak ipar dan tokoh tetap menyimpan dosa manis mereka sampai kakak ipar tersebut meninggal dunia.

Sungguh, nyaris tanpa kejutan apa pun dalam cerpen ini, walau Anggun berusaha memberi twist di akhir dengan membuka dosa manis si tokoh di dalam narasi. Tapi tetap saja, itu terlalu biasa. Mungkin di tahun 2011, saat Anggun menulis cerpen tersebut, jam terbangnya belum sebagus sekarang.

Merindu Hujan adalah menu kedua dalam daftar di Kedai Bianglala. Cerpen ini ditulis Aggun tahun 2012-an. Racikan cerpen ini masih biasa saja, walau memang manis. Anggun mahir bercerita dengan cara menyajikan (show), bukan menceritakan (tell). Kisahnya tentang dua orang yang saling mencintai sejak kanak-kanak, namun pada akhirnya tidak bisa bersama. Klise, kan? Ya. Ide yang klise. Hanya saja Anggun menggarapnya dengan cukup manis, walau tidak terlalu istimewa bagiku.

Aku cukup tertarik dengan cerpen KM 40 dan Dongeng Cinta Dua Wanita. Idenya cukup unik dan Anggun berhasil menyajikan sedikit berbeda dari kedua cerpen di atas. Walau Anggun tetap bermain di ranah cinta. Hanya saja masih belum membuatku mengumpat karena suka.

Cerpen Perempuan Setengah Mati jug menarik. Idenya bagus, terlebih endingnya. Dan di cerpen ini aku mulai menyukai cara Anggun menyajikan cerita di kedainya. Tak terasa membosankan dan klise seperti yang sebelumnya. Mungkin juga karena cerpen ini ditulis pada tahun 2013-an, masa itu jam terbang Anggun sudah semakin baik. Mungkin. Oya, aku terhenyak saat membaca Kenangan Kembang Sepatu. Aku suka hal yang sederhana tapi bisa dikemas menjadi istimewa seperti itu.

Ada 20 cerita pendek dalam buku Anggun ini. Semua cerita punya benang merah yang sama. Kisah tentang perempuan dan para lelakinya alias cinta. Cinta yang universal. Dari sekian cerpen yang ada, aku mengamati jika Anggun seorang pencerita yang bagus. Jalinan kisah dalam bukunya manis. Tak membuat kening berkerut. Untuk kamu yang ingin belajar nulis cerpen dengan manis dan menyenangkan, coba baca cerpen-cerpen di buku Anggun ini. Selamat membaca. []

By AlamGuntur Posted in cerpen

One comment on “Menikmati Menu Cinta di Kedai Bianglala

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s