Benarkah Metode Belajar Kurikulum 2013 Membuat Siswa Mandiri?

#K13

sumber foto: mcdens13.wordpress

Beberapa waktu belakangan ini di sosial media berseliweran berita tentang Kurikulum 2013 yang katanya terlalu memberatkan siswa dengan tugas hingga waktu bagi para siswa tersita habis dalam urusan tugas sekolah, jadi mereka tak bisa mengembangkan bakat dan kreativitas di bidang lainnya. Awalnya saya cuek saja. Toh, saya bukan siswa lagi. Jadi tidak perlu pusing memikirkan kurikulum sekolah yang berubah. Suatu hal yang wajar bila kurikulum berubah, sebab zaman pun berubah, jadi tentu saja tantangan dunia pendidikan dalam mencetak generasi bangsa juga berubah. Namun lama kelamaan saya jadi penasaran dengan perbincangan tentang Kurikulum 2013 dan akhirnya ingin tahu lebih banyak mengenai kurikulum ini.

Kebetulan seorang kakak perempuan saya adalah guru di sebuah SMA di tempat tinggal saya. Saya sempat ngobrol dan bertanya, apa benar Kurikulum 2013 terlalu membebani siswa? Dari cerita beliau, ternyata waktu belajar dalam Kurikulum 2013 memang lebih banyak dari sebelumnya. Misal, waktu belajar Matematika yang tadinya hanya 4 jam per minggu, menjadi 5 jam. Akan tetapi, 1 jam tambahan itu tidak serta merta wajib diikuti siswa, sebab siswa dapat memilih untuk mengikuti waktu tambahan tersebut atau mengikuti mata pelajaran lain yang sesuai minat dan bakatnya. Jadi ada istilah jam wajib mengikuti mata pelajaran tersebut dan ada jam perminatan.

Mendengar cerita kakak saya itu, saya jadi tertarik. Dulu, zaman saya sekolah, tidak ada kesempatan bagi siswa untuk memilih dan mengikuti mata pelajaran yang dia minati dan sesuai dengan bakatnya. Semua mata pelajaran dan jam-nya wajib diikuti tanpa terkecuali.

Dari perbincangan dengan kakak saya ini, saya juga baru tahu jika Kurikulum 2013 ternyata berusaha mencetak generasi yang mandiri dan punya skill dalam kehidupan bermasyarakat. Kalau dulu, zaman saya sekolah mata pelajaran Prakarya itu tidak masuk dalam kurikulum. Kami lebih banyak belajat teori dan menghapal, paling pusing bila menghapal Undang-Undang Dasar dan nama-nama menteri dalam kabinet. Kalau ingin punya keahlian dan bekerja selulus sekolah tingkat atas, harus masuk STM. Makanya ada istilah di zaman saya sekolah. Lulus STM itu dicetak untuk bekerja, jadi agak aneh bila melanjutkan kuliah. Sementara lulus SMA itu dicetak untuk melanjutkan ke universitas, jadi rada nyeleneh kalau cari kerja. Tentu pemeo itu tidak lahir serta merta begitu saja, tetapi karena kurikulum-nya memang membentuk siswanya seperti itu.

Dari cerita kakak saya yang guru SMA ini, saya mengetahui jika siswa SMA sekarang belajar Prakarya dalam mendaur-ulang sampah, membudi-dayakan tanaman hias, dan berbagai keahlian yang kelak diharapkan bisa digunakan para siswa ini dalam kehidupannya bermsyarakat bila dia tidak melanjutkan pendidikan ke universitas. Menurut saya ini hal yang bagus. Sebab Kurikulum 2013 berarti mencetak generasi yang berwirausaha, bukan generasi karyawan seperti zaman saya.

Seperti yang kita semua tahu, lonjakan penduduk semakin tidak terkendali, sementara lapangan kerja semakin sempit. Setiap tahun kota-kota metropolitan diserbu para pendatang yang ingin mengadu nasib. Urbanisasi memang tidak bisa dielakkan di negara berkembang. Akan tetapi bila para pendatang ini tidak punya keahlian apa pun, mereka akan jadi apa? Bekerja di mana? Tentu bila tak punya skill, mereka hanya akan menjadi beban pemerintah kota dan negara. Nah, bila punya keahlian, mereka bisa membuka usaha sendiri tanpa perlu meninggalkan tanah kelahiran.

Lalu, kenapa ada beberapa pihak yang mengeluh tentang Kurikulum 2013 karena dianggap memberatkan siswa? Saya jadi ingat ucapan seorang manager tempat saya bekerja di perusahaan Jepang dulu, “orang Indonesia susah mengubah kebiasaan bila sudah nyaman, walau hal baru itu akan membuat dia lebih baik.” Ucapannya ini terkait kebiasaan karyawan yang tidak mau membuang sampah berdasarkan organik dan non organik. Nah, jangan-jangan mereka yang mengeluh tentang Kurikulum 2013 itu seperti yang mantan manager saya bilang itu? Hemmmm…. []

2 comments on “Benarkah Metode Belajar Kurikulum 2013 Membuat Siswa Mandiri?

  1. salam, mas…🙂 saya baca tulisan mas guntur ini hanya memperhatikan kur13 dr usaha menanamkan keterampilan, sedangkan sebenarnya kompetensi ini sudah mjd perhatian juga pd kurikulum sebelumnya (KTSP). kur13 banyak menerima penolakan dan kritik adalah pada substansi dan metode pengajarannya. salahsatunya proses evaluasi. seperti yg dicontohkan dlm artikel yg saya share via twitter, gimana mengukur siswa dapat bersyukur atas anugerah bahasa Indonesia? saya pikir rasa syukur tidak bisa dikuantifikasi. belum lagi dlm kur13 terindikasi adanya persoalan-persoalan yg bersifat politis, seperti yg dijabarkan artikel berikut: http://doa-bagirajatega.blogspot.com/2014/09/layu-sebelum-berkembang-febri-hendri-aa.html

  2. “Lalu, kenapa ada beberapa pihak yang mengeluh tentang Kurikulum 2013 karena dianggap memberatkan siswa? Jangan-jangan mereka yang mengeluh tentang Kurikulum 2013 itu seperti yang mantan manager saya bilang itu?” | Yang mengeluhkan nggak beberapa lho, Mas… Banyak. Nggak cuma guru, murid, orangtua, tapi para pakar dan aktivis pendidikan juga–yg paham betul mengenai hal ini. Masa’ mereka nggak meghendaki perubahan ke arah yg lebih baik,.hehe

    Kalo soal penanaman kompetensi keterampilan yg toh udah jd perhatian kurikulum sebelumnya, tp ternyata nggak keliatan hasilnya, brarti kan bs hanya dgn mengevaluasi bagian ini. Sedangkan berdasarkan hasil diskusi antara para aktivis pendidikan dgn kemdikbud d ICW awal september lalu, katanya “sampai kini, Kemdikbud belum mampu menunjukkan satu pun dokumen kajian dan evaluasi atas kelemahan dan kekuatan serta relevansi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) kepada publik.”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s