Mengenal Potensi Diri Sejak Dini

Buku SD Kur13

Kurasa, mereka yang SD di tahun 80-90-an pasti pernah menjawab jadi polisi, dokter dan pilot ketika ditanya cita-citanya. Tak banyak yang menjawab ingin jadi atlet sepakbola, penulis novel, penari, penyanyi, dan lain sebagainya.


Mungkin ada pula yang bertanya-tanya sepertiku saat ini, kenapa ya dulu rata-rata anak SD menjawab jadi polisi, pilot, atau dokter sebagai cita-citanya, tidak yang lain? Lalu, aku mengingat-ingat, kenapa dulu jawab jadi pilot saat ditanya cita-cita? Ternyata jawabannya sederhana, aku meniru jawaban dari teman-teman yang lain, dari kakak kelas, dari saudara yang lebih tua. Padahal aku dulu juga tidak terlalu tahu, pilot itu apa dan bagaimana pekerjaannya.

Aku tahu sedikit lebih banyak tentang profesi pilot itu setelah semakin rajin membaca buku-buku kiriman P & K. Seingatku, saat SD kelas 4 aku mulai gemar membaca buku novel tanpa gambar kiriman P & K itu. Kelas 1-3 SD lebih sering membaca komik Petruk karya Tatang S, majalah Bobo bekas (karena aku suka serial Oki dan Nirmala), Komik Donal Bebek, dan sebagainya.

Zaman itu, tak ada guru atau kakak atau orang tua yang membimbingku untuk mengenali potensi diri lewat kegemaranku. Saat itu, bila tengah membaca buku kiriman P & K, aku sering berkhayal, seandainya aku bisa menulis cerita versiku sendiri? Ketika SD-SMP aku sempat belajar menulis secara autodidak dengan menulis ulang beberapa buku yang kubaca dengan versiku sendiri. Misal, bila aku tidak suka dengan nasib malang yang menimpah tokoh utamanya, aku akan menulis cerita versiku sendiri di buku tulis dengan menggunakan pulpen. Pada akhirnya, aku tetap tahu cara mengasah talentaku di dunia tulis menulis. Hanya saja, aku menyayangkan kenapa aku menyadari potensi itu ketika sudah kuliah? Bila saja aku menyadarinya sejak dini, mungkin hasilnya akan jauh lebih baik dari sekarang. Sebab aku bisa mengasah kemampuanku lebih awal.

Nah, mungkin itu juga yang ingin dilakukan oleh pemerintah lewat Kurikulum 2013 ini. Konsep buku-buku untuk siswa SD yang tematik, diharapkan bisa menggali potensi anak-anak tersebut. Salah satunya buku Kegemaranku seperti yang ada di foto pendukung artikel ini. Zamanku SD, tidak ada buku jenis ini. Murid tidak dirangsang untuk mengetahui kegemarannya apa? Bila dia senang bermain bola, tentu guru dan orangtuanya akan membimbing dan menggiringnya dalam kegiatan yang bisa mengasah kemampuannya. Pun bila siswanya gemar menari, pidato, membaca, dan sebagainya.

Pada dasarnya, semua anak cerdas dan punya kelebihan masing-masing. Masalahnya adalah bagaiman agar anak tersebut, orangtua dan guru bisa menggali kelebihan itu? Tidak seperti beberapa tahun belakangan, kecerdasan anak dihitung hanya berdasarkan prestasi akademik semata. Bila seorang anak tidak pandai di bidang Matematika, orangtua dan guru langsung memberi stempel sebagai anak bodoh. Pemoe ini harus dihapuskan. Anak yang kesulitan dalam ilmu pasti, bisa jadi punya kelebihan di bidang seni atau olahraga. Profesi untuk mencari nafkah tidak melulu sebagai akunting di perusahaan, tetapi bisa menjadi olahragawan, seniman, atau justru wirausahawan.

Saat melihat buku-buku SD Kurikulum 2013 milik keponakan ini, aku cukup bangga dengan niat pemerintah yang ingin mencetak generasi berprestasi di berbagai bidang. Untuk bersaing di kancah internasional, kita memang tak bisa mengandalkan satu bidang, harus semua bidang dan segala elemen serta unsur di dalamnya perlu diperbaiki. Termasuk dalam mengajak siswa, orangtua, dan guru untuk mengenali potensi diri sejak dini, agar bisa diasah dan diarahkan. Dan kelak, ketika dewasa para siswa ini bisa diandalkan dalam membangun bangsa.

Namun, seperti yang dikritikan beberapa pihak, Kurikulum 2013 ini belum sempurna. Masih banyak celah yang harus ditambal dan diperbaiki, seperti peleburan beberapa mata pelajaran dalam satu buku. Perlu dipikirkan jalan tengah agar mata pelajaran – mata pelajaran ini tetap diberikan oleh guru yang sesuai bidangnya tetapi tujuan baik di Kurikulum 2013 tercapai. Nah, apa kamu ada usul untuk itu? []

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s