Skenario (Lampung Post, 12 Oktober 2014)

INT. KAMAR LEAN – TENGAH MALAM

LEAN memijat keningnya, kertas-kertas berhamburan di bawah meja. Seminggu ini, dia kehilangan ide untuk menulis cerita pendek. Padahal sebentar lagi akhir bulan, itu artinya dia harus segera menyiapkan uang sewa kamar. Setelah ratusan surat lamaran kerja yang melampirkan ijazah sarjananya dikirim dan tak satu pun yang menuai hasil, Lean hanya bisa menggantungkan hidup dari honor menulis cerita pendek di koran. Dan dia memuji Tuhan untuk talenta ini, karena pekerjaan mengkhayal ini sudah berkali-kali menyelamatkannya dari kematian akibat lapar.

Kali ini, dia begitu cemas. Ide mendadak buntu. Sialnya lagi dia hanya punya satu ide cerita yang tak kunjung sanggup dia rampungkan.

Beginilah kerangka skenario cerita yang Lean buat dan tak kunjung selesai: Mario dan Lusi bertemu di bar. Mario pelanggan tetap bar. Lusi seorang pelayan yang seksi dan cantik. Mario dan Lusi saling mencintai dan akhirnya menikah. Lean ingin cerita berakhir bahagia, tapi dia kesulitan menemukan ending seperti itu.

Nah, sebagai pembaca cerita pendek di koran. Maukah kamu menolong Lean dalam menulis cerita picisan untuk Mario dan Lusi? Kalian bebas bercerita, asal akhirnya bahagia dan tentu saja penuh drama –tersebab orang Indonesia menyukai hal-hal yang penuh drama. Namun bacalah dulu beberapa skenario yang Lean tulis untuk kisah cinta Mario dan Lusi ini –dari beberapa skenario yang terserak di bawah mejanya.

Skenario 1

Mario, pemuda berusia dua puluh dua tahun, anak seorang tuan tanah di Kota A, jatuh cinta pada Lusi si Pelayan Bar. Mereka bertemu saat Mario terjebak hujan deras dan mobilnya mogok tepat di depan bar yang sepi malam itu. Tak ada sesiapa selain Lusi. Cuaca memang buruk sejak sore, Mario nekat pergi karena ayahnya meminta untuk meninjau lahan di kota tetangga yang kelak akan dijadikan real-estate.

Sebenarnya, Lusi hampir saja membalik tulisan open di pintu menjadi close karena majikannya sudah mengatakan tak akan ada tamu lagi di cuaca seburuk ini. Terlebih kedua majikannya sudah naik ke lantai atas untuk tidur –lantai atas bar itu memang tempat tinggal mereka dan Lusi mendapat salah satu kamar tinggal di sana. Namun Lusi salah menduga, Mario mendorong pintu bar dengan baju sedikit basah. Dia memesan segelas brendi tanpa belahan dada, tapi Lusi memberinya bonus itu.

Karena ini cerita romance, Lean membuat kedua tokohnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Lusi jatuh cinta pada badan tegap, rahang keras, sorot mata tajam, dan tentu saja wajah tampan Mario (Oh, Lean menjadikannya terlalu sempurna!). Sementara Mario, bisa ditebak. Sebagai pemuda yang baru berusia dua puluh dua tahun, tentu dia menelan ludah melihat belahan dada Lusi, lenggokan pinggul, dan bibir penuhnya. Ini karena Lean menjadikan tokoh Mario-nya sebagai heteroseksual –harusnya untuk lebih drama, Lean menjadikan Mario seorang gay atau biseksual, nanti kita usulkan pada Lean di skenario berikutnya.

Malam itu mereka bercinta di atas salah satu meja bar. Bahkan keduanya tak malu-malu untuk melenguh dan mengumpat. Hujan deras tak akan membangunkan sepasang suami-istri pemilik bar, pikir Lusi. Malah Mario beranggapan bisa jadi pemilik bar sudah bergelung di bawah selimut untuk menghangatkan malam mereka.

Begitulah, mereka menjadi sepasang kekasih. Setiap akhir pekan, Mario akan membawa Lusi untuk berkencan dan mereka akan menghabiskan malam dalam pergumulan demi pergumulan. Karena merasa tak akan jatuh cinta pada perempuan lain, Mario melamar Lusi. Mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.

Lean membuang draf pertamanya ini dengan mencabik-cabiknya, lalu membakarnya dan membuang abunya ke dalam kloset kamar mandi. Cerita pendek ini terlalu memuakan. Dia membayangkan AS Laksana akan bunuh diri bila membaca cerita jenis ini ada di halaman koran Minggu yang dia baca.

Skenario 2

Mario jatuh cinta pada Lusi, seorang pelayan bar bertubuh seksi di Kota A. Sayangnya, Lusi tidak jatuh cinta kepadanya. Namun, Lusi menyukai uangnya. Mereka bertemu dan berkenalan karena suatu malam mobil Mario mogok di depan bar yang hampir tutup. Melihat siapa tamunya (tentu saja Lusi mengenal Mario yang adalah satu-satunya putra tuan tanah terkaya di Kota A), Lusi berusaha memikat Mario. Bahkan dia sengaja membuka dua kancing atas bajunya agar dadanya yang mengkal terlihat lebih nyata di mata Mario. Dia pun tak malu-malu menggoda pemuda berusia dua puluh dua tahun itu.

Mario tergoda. Malam itu mereka berdua menghabiskan malam bersama di atas meja bar. Pergumulan demi pergumulan mereka tuntaskan dengan dada membara. Seumur hidupnya, baru malam itu Mario merasakan bercinta yang membuat dadanya akan meledak. Lusi benar-benar sudah memikatnya.

Lusi yang merasa Mario benar-benar mencintainya, mulai memasang perangkapnya. Dia meminta pemuda itu untuk membelikannya apartemen. Tentu saja dengan alasan agar mereka lebih leluasa bercinta, sebab bila Lusi masih terus tinggal bersama majikannya di bar ini, kesempatan mereka untuk bercinta sangatlah langka. Mario yang dibungkus hawa nafsu setuju. Dia membelikan Lusi apartemen mewah di pinggiran kota. Saban malam, sepulang Lusi bekerja, mereka akan bercinta sampai pagi. Sesungguhnya, Lusi muak melayani Mario yang hanya besar nafsu tetapi payah dalam bermain. Namun dia bertahan dengan harapan akan dinikahi Mario.

Sayangnya, impian Lusi terancam kandas lantaran ibunya Mario tidak setuju. Oh, tentu saja sebagaimana cerita fiksi romance, ibu-ibu kaya mendambakan menantu yang cantik dan sederajat. Mana mau dia melihat anak laki-lakinya menikah dengan pelayan sebuah bar kecil. Ayah Mario pun mendukungnya –di dalam cerita jenis ini kebanyakan suami takut pada istrinya. Namun Lusi berlaku cerdik. Dengan tubuhnya, dia menaklukan ayah Mario. Laki-laki tua itu selalu kelojotan setiap Lusi merangkak di atas tubuhnya. Dia rela mati dan menukar apa pun demi detik-detik yang melambungkan jiwanya itu.

Setelah merasa menggenggam ayah-anak itu, Lusi melancarkan rencana berikutnya. Dia membayar seseorang (dan uang itu dia dapatkan dari Mario dan ayahnya) untuk menghabisi ibu Mario. Perempuan paruh baya yang angkuh itu ditemukan mati tanpa busana di dalam got busuk penuh kotoran. Berita yang tersiar, dia dirampok lantaran perhiasan mewah di tubuhnya lenyap tanpa sisa.

Di endingnya, Lean menuliskan, pada akhirnya Lusi menikah dengan Mario. Lalu, dia meracuni ayah mertuanya. Semua harta jatuh pada Mario dan secara perlahan pindah ke Lusi. Pelan-pelan pula, Lusi menjadikan Mario budaknya, dia pun memuaskan hawa nafsunya dengan meniduri banyak pemuda-pemuda perkasa. Cerita berakhir di sini.

Lagi-lagi, Lean membuang draf ceritanya ini. Dia merinding membayangkan bila Triyanto Triwikromo membaca cerita pendeknya ini. Apa reaksinya? Cerpen ini terlalu sinetron. Sangat lebay dan menjijikan. Mungkin saja Triyanto akan menegak empat butir paramex sekaligus karena kepalanya sakit.

Skenario 3

Mario laki-laki tua yang malang. Dia berkali-kali menikah, tetapi istri-istrinya selalu meninggal sebelum usia pernikahan mereka satu tahun. Oleh karena kemalangan ini banyak perempuan yang menjadi takut bila didekati Mario. Ada desas-desus yang beredar, bila laki-laki tua itu menyimpan kutukan. Setiap perempuan yang dinikahinya akan mati. Orang-orang mengatakan perempuan-perempuan itu menjadi tumbal kekayaan yang dimiliki Mario.

Adalah Lusi, pelayan bar yang kerap didatangi Mario untuk membuang kesedihan. Dia begitu iba dan diam-diam jatuh cinta pada Mario. Di usia Mario yang tidak lagi muda, laki-laki itu tetap memancarkan pesona. Kedekatan antara Mario dan Lusi terjalin karena perempuan itu kerap menemaninya minum dan mendengarkan ceritanya sampai bar tutup.

Dulu, Lusi pernah punya pacar. Seorang laki-laki seusia dengannya. Namanya Pieter. Sayangnya, Pieter belum mau berkomitmen. Dia hanya ingin bersenang-senang saja. Mereka sempat tinggal bersama, tetapi pada akhirnya Lusi melepaskan diri dari Pieter. Laki-laki itu malas bekerja, setiap ada uang dia habiskan untuk membeli minuman dan ganja. Dia pun setiap hari meminta Lusi bercinta dengannya. Mulanya Lusi berharap percintaan demi percintaan mereka akan membuat Pieter mengubah perilakunya. Terlebih bila Lusi hamil nanti. Namun itu tak terjadi. Pieter tetap saja laki-laki berengsek yang tak bisa diharapkan. Karena tak ingin menderita lebih sakit lagi, Lusi meninggalkan Pieter.

Kejadian itu membuat Lusi sedikit susah jatuh cinta, terlebih pada pria sebayanya. Lusi jadi lebih tertarik pada pria berumur, dalam benaknya, pria berumur lebih matang dalam segala hal, termasuk komitmen. Itulah sebab yang membuat Lusi menerima cinta Mario. Dia pun kagum pada laki-lai paruh baya itu karena selama hubungan mereka, laki-laki itu tak pernah memaksanya untuk bercinta. Mereka hanya sebatas ciuman dan bermesraan. Tak banyak laki-laki sekarang yang begitu, pikir Lusi.

Pada akhirnya mereka menikah. Lusi berpikir dia akan hidup bahagia dengan Mario. Sejatinya begitu sebelum Lusi tahu jika Mario laki-laki impoten. Dia tak pernah bisa bercinta dengan Lusi. Hal ini sangat menyiksa Lusi. Disaat dia terbakar dalam ciuman demi ciuman Mario, percintaan mereka berakhir sampai di situ. Tak ada adegan yang Lusi harapkan. Lusi berusaha bertahan, tapi semuanya runtuh ketika Pieter muncul lagi. Laki-laki itu menawarkan kehangatan yang Lusi cari.

Suatu hari, saat Mario pergi keluar kota dalam urusan bisnisnya, Pieter mendatangi Lusi dan menggodanya. Lusi tak bisa lagi menahan dirinya. Dia dan Pieter bercinta sepuas-puasnya, membasahi kehausan yang didera Lusi selama ini. Hingga mereka tidak sadar jika Mario kembali karena ada barang yang tertinggal. Laki-laki itu begitu marah melihat Lusi tengah bergumul dengan laki-laki lain di atas ranjang mereka. Tanpa pikir panjang, dia mencabut pistolnya dan menebak kedua orang itu. Lusi dan Pieter tewas seketika.

Mario tertegun, dia baru tersadar saat melihat Lusi dan Pieter bersimbah darah. Seumur hidupnya, baru kali ini dia begitu jatuh cinta pada seorang perempuan. Lusi berbeda dari istri-istrinya terdahulu. Untuk menghapus kesedihannya, Mario menebak kepalanya sendiri.

Hampir saja Lean menyimpan draf cerpennya yang ini dan kemudian mengetik dan mengirimnya ke koran. Namun saat dia membacanya ulang, Lean merasa jijik sendiri. Betapa cerita pendeknya ini sangat penuh dengan adegan ranjang. Seketika dia membayangkan Sungging Raga membaca cerpen ini di halaman koran Minggu pagi, pasti Sungging akan memasukan bersendok-sendok garam ke dalam gelas kopi paginya saking mual.

INT. KAMAR LEAN – TENGAH MALAM

LEAN masih menatap kertasnya di depannya. Dia memang lebih nyaman menulis cerita dengan pulpen dan kertas sebelum mengetiknya di komputer. Kopinya tinggal ampas dan itu bungkus terakhir. Dia benar-benar sadar sekarang, menulis cerita pendek bertema cinta dan harus berakhir bahagia itu sangat sukar di tengah perut yang melilit perih. Akhirnya, dia hanya bisa menulis kalimat ini: Mario dan Lusi jatuh cinta dan menikah. Namun terjadi krisis moneter, semua serba mahal dan uang susah dicari. Untuk bertahan hidup, Lusi membunuh Mario dan memasaknya. []

Pali, Agustus 2014.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s