#CERPEN – Sepotong Kenangan di Sudut Braga (GADIS, September 2014)

Cerpen Gadis

Ilustrasi Tania

PERNAHKAH kau membayangkan di salah satu trotoar Jalan Braga yang lengang sebuah kenangan duduk kesepian? Dia terserak, sendirian, bertahun-tahun dibungkus kesunyian yang mencekam. Dia pula kerap menjadi saksi bisu kenangan demi kenangan lain yang lahir baik oleh tawa bahagia atau air mata kesedihan. Dalam pandangannya, tawa dan derai tangis begitu ringan, seperti daun-daun kuning yang digugurkan pepohonan.

Bila kau tak pernah membayangkannya, aku akan mengisahkan sebuah cerita tentang kenangan yang menghuni sudut trotoar Jalan Braga sejak bertahun-tahun lampau. Dia duduk di sana setelah seorang gadis berusia tujuh belas tahun meneteskannya lewat air mata di atas sebuah bangku yang dinaungi oleh sebuah lampu taman berwarna tembaga.

Konon, usai meneteskan kenangan dalam bulir air matanya malam itu, gadis manis yang malang ini tidak pernah lagi muncul di sana. Entah, mungkin dia sudah pergi dan menata hidupnya agar lebih baik lagi (semoga demikian). Walau aku pernah mendengar selentingan berita, jika gadis itu telah menjelma kunang-kunang kecil yang bercahaya redup dan dia kerap terbang di sekitar Jalan Braga. Mungkin bila suatu malam kau berjalan menyusuri jalan itu dan kau beruntung, kau akan menemukan seekor kunang-kunang, walau itu sangat sukar. Tentu saja, itu pun bila selentingan berita itu benar.

Baiklah, kukisahkan tentang gadis berwajah sendu yang sudah meneteskan sebuah kenangan sedih, lalu meninggalkannya begitu saja hingga diselimuti kesepian di Jalan Braga.

SEJAK dahulu, Jalan Braga menjadi tujuan orang-orang yang dilanda asmara untuk merajut kenangan paling manis dan romantis yang kelak akan mereka kenang. Begitu juga yang dilakukan gadis manis dalam cerita ini. Kita sebut saja namanya Alea dan dia baru kelas XI SMA. Di suatu senja yang berwarna keemasan, dia bertemu dengan seorang cowok bermata jenaka dan membuat dadanya bergetar hebat.

Alea jatuh cinta pada pandangan pertama. Pada rambut hitam berponi ala Siwon Super Junior idolanya, juga pada sepasang lesung pipit yang membuat cowok itu terlihat manis. Mungkin takdir dan Dewa Cupid sudah membuat janji sebelum Alea dan cowok itu terjebak di trotoar yang sama, hingga keduanya bisa bertemu di sana, saling lirik, melempar senyum, dan entah siapa yang memulai. Keduanya berkenalan dan ternyata mempunyai hobi yang sama: Duduk di kursi kafe yang betebaran di sepanjang Braga, lalu menikmati kopi panas dan senja yang turun perlahan.

“Apa kamu suka membaca buku cerita, Alea?” tanya cowok itu pada pertemuan kedua mereka. Alea yang sedang memperhatikan sepasang bule yang sibuk menggendong anak di seberang jalan tergesa menoleh.

Alea mengangguk. “Iya. Kenapa?” tanyanya sembari tersenyum.

“Kalau mendengar dongeng, apa kamu suka?”

Alea lagi-lagi mengangguk. “Tentu saja,” sahutnya. “Kamu punya dongeng?”

Mata cowok itu berbinar. “Ya, aku punya, tapi ini dongeng sedih. Mungkin kamu nggak akan menyukainya.”

“Aku suka cerita sedih,” tukas Alea.

“Tapi ini benar-benar sedih.”

“Apa sesedih kisah Romeo dan Juliet?”

“Lebih sedih.”

“Sungguh?”

“Iya. Aku jamin itu.”

“Aku tetap ingin mendengarnya. Ceritakan padaku,” pinta Alea.

Cowok berwajah mirip Siwon itu menghela napas. Dada Alea semakin berdenyut melihat wajah manis di depannya yang terlihat sangat galau. Memandang wajah cowok semanis itu dengan jarak sangat dekat membuat dirinya ingin meleleh, laksana es krim vanilla kesukaannya.

“Katanya,” cowok berponi itu memulai cerita sedihnya. “Banyak sekali kenangan yang kesepian di jalan ini. Saking kesepiannya mereka berubah menjadi zombie, kunang-kunang, atau bahkan teronggok seperti sampah.”

Mata jenaka cowok itu berubah berkaca-kaca, dia seakan menyekam kesedihan yang mengendap bertahun-tahun di dalam bola matanya itu.

“Oya, berapa usiamu?” cowok itu tiba-tiba bertanya yang melenceng dari cerita.

“Aku tujuh belas tahun, baru kelas sebelas SMA. Apa ini ada hubungan dengan cerita sedihmu?”

“Nggak,” jawabnya cepat. “Aku cuma ingin tahu, apa kamu sudah cukup umur untuk mengetahui kisah ini?”

Alea tertawa kecil. “Ceritamu nggak vulgar, kan?” godanya.

“Nggak,” dia menyahut degan wajah memerah. “Ceritaku nggak vulgar atau seram. Aku cuma nggak mau kamu terbawa emosi nantinya.”

“Hei, apa urusan dengan emosi?”

“Cewek kan sentimentil,” dia tersenyum, manis. “Kalian gampang terbawa perasaan.”

“Kata siapa?”

“Kataku.”

Alea tertawa. Dia tahu, cowok itu benar. Cewek lebih perasa dan mudah terharu, tapi sebagaimana cewek pada umumnya, Alea tak ingin mengakui itu di depan cowok yang dia taksir. Bukankah di mana-mana cewek ingin terlihat sempurna di depan gebetannya? Begitu juga Alea.

Namun Alea segera menepis pikirannya yang menghinggapi kepalanya itu, ketika cowok bermata jenaka itu kembali pada cerita sedihnya.

DI suatu musim, ada sepasang remaja yang awal mula pertemuan mereka terjadi di Jalan Braga ini. Mereka terjebak di trotoar yang sama saat hujan deras tiba-tiba turun. Mungkin benar cerita orang-orang, bila Dewa Cupid memang menjadikan jalan ini sebagai tempat nongkrongnya, sebab begitu banyak orang yang bertemu, kenalan, lalu jatuh cinta dan menjalin kisah demi kisah di jalan yang romantis ini.

Jalan Braga memang disesaki oleh kenangan demi kenangan manis. Tak heran, bila kita ke sana, sering menjumpai berbagai pasangan lanjut usia yang terlihat begitu mesra bergandengan tangan dan menghirup napas dalam-dalam, lalu saling pandang, dan tersenyum. Tentu saja, mereka berdua tengah mengulang masa-masa manis dulu. Saat mereka berpacaran, kencan, dan akhirnya berkomitmen di jalan ini.

Namun, tak semua kenangan dan cerita bahagia terlahir di Braga. Di sini pula, terlahir kisah-kisah sedih bernama pertengkaran, air mata, dan perpisahan. Dari kisah-kisah inilah lahir kenangan demi kenangan sedih yang tertinggal dan mereka kesepian. Kebanyakan kenangan sedih yang tertinggal di sini berisi cinta yang sangat dalam tetapi tak bisa dipertahankan. Seperti kisah yang diceritakan cowok yang ditaksir Alea itu.

Katanya, dua orang yang terjebak hujan bersama itu akhirnya menjadi akrab. Mereka punya hobi yang sama: Sama-sama senang memperhatikan orang lewat. Sama-sama suka minum kopi hangat. Sama-sama suka hujan. Sama-sama suka senja. Dan banyak kesamaan yang membuat keduanya semakin dekat. Mereka juga pada akhirnya sama-sama menyukai sebuah bangku taman tua di salah satu sudut Braga. Bangku kayu yang di sampingnya berdiri lampu bermakhota besi dengan warna cat tembaga.

Keduanya kerap berjanji bertemu di sana. Biasanya yang cewek datang lebih dulu, dia selalu membeli dua cangkir kopi panas dari minimarket seberang jalan. Tak lupa sebungkus wafer cokelat kesukaan mereka berdua. Lalu dia akan menunggu cowok itu datang dari ujung jalan. Nanti mereka akan menikmati kopi dan wafer sambil memperhatikan orang-orang lewat. Mereka berdua kerap mengarang cerita lucu atau romantis tentang orang-orang yang mereka lihat itu. Sesekali, cowok itu membuat sketsa dari pensil di atas buku pelajarannya. Cewek itu sangat terkejut pertama kali melihat sketsa yang cowok itu buat. Dia tak pernah menduga, jika cowok berwajah oriental itu pandai melukis.

Dari sanalah awal cerita sesungguhnya, dia ingin dilukis oleh cowok itu.

“Aku belum pernah melukis wajah seorang cewek.”

“Kenapa?”

“Aku hanya ingin melukis wajah cewek yang spesial?”

“Berarti aku kurang spesial?”

“Aku…” cowok itu gugup. “Maksudku…”

“Ya atau tidak?”

Wajah cowok itu memerah. Dia cowok SMA yang belum pernah punya pacar, jadi mungkin dia agak gugup. “Kamu spesial,” jawabnya sembari menunduk.

Giliran pipi ceweknya yang merona. “Berarti kamu mau melukisku, kan?”

“Aku…”

“Kalau nggak, aku akan jadi hantu dan menghuni jalan ini,” goda si cewek.

“Baiklah,” cowok itu tergesa menjawab. Tentu dia tak ingin cewek yang dia sukai menjadi hantu. “Besok sore, aku akan melukismu. Aku nggak mau melukis cewek spesial di halaman buku catatan. Aku akan melukismu di kertas gambar.”

“Jam lima kita bertemu,” putus cewek itu cepat. “Aku mau dilukis di bangku taman dengan senja yang merona.”

Cowok itu mengangguuk.

“Jangan telat. Jangan nggak datang,” ingat si cewek. “Kalau kamu nggak datang, aku akan jadi kunang-kunang yang kesepian di sini,” ancamnya.

“Aku akan datang,” janji cowok itu.

Begitulah, mereka berjanji untuk bertemu kembali.

Besoknya, sepulang sekolah cewek ini pergi ke salon agar dia tampil lebih cantik. Dia hampir saja telat karena sibuk membongkar lemari pakaiannya dan mencari gaun terbaik agar dia menjelma putri petang itu. Namun ketika dia datang pukul lima sore di bangku salah satu trotoar Braga itu, cowok itu belum datang. Dia sedikit lega sebab bisa menarik napas, membeli dua gelas kopi hangat dan wafer di minimarket seberang jalan, dan tentu saja memastikan penampilannya sempurna.

Sayangnya ketika malam datang bersama gelapnya, cowok itu tak kunjung datang. Nomor teleponnya pun tidak aktif. Dia menunggu. Terus menunggu. Dari senja, gelap, lalu pekat. Dari ramai, sepi, dan lengang. Cowok itu tetap tak muncul. Dan dia menangis. Menangis sesugukan. Tengah malam, dia masih duduk di sana dengan harapan cowok itu datang walau sangat telat. Namun dia benar-benar tak muncul.

“Apa yang terjadi?” Alea menyela cerita.

“Cowok itu kecelakaan. Motornya tabrakan dan dia dibawa ke rumah sakit. Hapenya rusak dan hancur,” mata cowok itu semakin basah.

“Lalu apa yang terjadi dengan cewek itu? Apa dia tahu yang cowoknya kecelakaan? Apa dia benar-benar menjelma kunang-kunang?”

“Dia nggak tahu. Nggak pernah tahu kalau cowoknya meninggal di rumah sakit,” sahut cowok di depan Alea.

Mata Alea terasa panas. Lalu sepasang air mata jatuh perlahan.

“Kata orang-orang, cewek itu terus menunggu dan dia benar-benar jadi kunang-kunang yang kesepian dan tetap menunggu di bangku taman itu. Bila beruntung, kau akan menemukan seekor kunang-kunang bercahaya pucat di Jalan Braga. Kata orang-orang, kunang-kunang tersebut jelmaan cewek itu.”

Air mata Alea semakin mengalir. “Ceritamu memang sedih.”

Cowok itu berusaha tersenyum. “Cewek memang perasa,” dia berdiri. Berniat pergi ketika mendengar suara azan magrib berkumandang.

“Kamu mau ke mana?” Alea ikut berdiri dari bangkunya.

Cowok itu memandang Alea, dalam. “Seperti biasa,” jawabnya, lalu meninggalkan Alea yang menatap punggungnya menghilang di tikungan.

MULA­-mula Alea tak yakin akan debar-debar yang tumbuh di dalam dadanya. Dia beranggapan, mana mungkin dia jatuh cinta pada pandangan pertama? Terlebih pada cowok yang hanya bertemu dan kenal dengannya di sudut Braga. Ini terlalu picisan. Namun begitulah yang terjadi padanya.

Suatu hari, dia datang dan duduk di bangku kafe yang sama, seakan bangku itu sudah menjadi hak milik Alea dan cowok berponi lempar itu. Alea memesan kopi panas kegemaran mereka berdua, juga cupcake favorit mereka. Dan dia menunggu. Menunggu cowok itu yang biasanya datang menjelang senja. Lalu, seperti hari-hari sebelumnya, mereka akan bercerita banyak hal, tentang orang-orang yang berlalu lalang atau kisah-kisah romance yang dituturkan cowok itu –Alea sering berpikir, mungkinkah cowok ini seorang penulis novel?

Sayangnya, sampai malam datang dengan sempurna dan kopi di dalam gelas membeku, cowok itu tak datang. Benar-benar tak datang. Baru kali itu Alea merasa demikian cemas, dia gelisah. Berkali-kali Alea memanjangkan lehernya, menatap sudut jalan, berharap cowok itu muncul. Namun dia tak pernah muncul hari itu.

Alea menyesal tak pernah berani meminta nomor ponsel cowok itu terlebih dahulu, sebab selama ini cowok bermata jenaka ini tak pernah memberinya nomor ponsel. Tidak pula akun Twitter. Bila saja dia punya nomor teleponnya, Alea pasti akan menelepon. Memastikan apa dia baik-baik saja. Seumur hidupnya, itulah kecemasan luar biasa yang melanda Alea. Kecemasan yang absurd. Kecemasan yang membuat dia tak kunjung bisa tidur. Kecemasan yang membuat dia ta sabar menunggu petang berikutnya. Tentu saja dengan harapan, cowok itu datang dan menceritakan kenapa dia tak muncul kemarin.

Alea baru tersadar, ketika cemas menyergapnya lantaran cowok itu raib tanpa kabar, adalah bukti, jika dia mencintai cowok itu. Dan itu membuat dadanya lebam.

Begitulah, sejak cowok itu raib di petang kesekian pertemuan mereka. Dia tak pernah muncul lagi. Alea tak tahu harus mencarinya ke mana. Dia hanya bisa menunggu. Menunggu. Dan menunggu, sampai batas waktu yang dia sendiri tak pernah tahu.

Sementara itu, rasa cemas terus menjalari hatinya. Rasa cinta dan kehilangan tumbuh seperti disiram pupuk urea. Namun, Alea tak menyerah. Dia terus datang dan datang ke kafe itu. Duduk di bangku yang sama. Memesan menu yang sama. Menghadap ke sudut yang sama. Tentu saja, menunggu sosok yang sama. Hingga di suatu petang, Alea tak sanggup lagi menahan kesedihannya, dia menangis. Sepasang air mata kesedihan bergulir di Braga.

BAGIAN yang Alea tidak pernah tahu, jika setiap meninggalkan Alea, cowok itu pergi ke salah satu sudut Jalan Braga yang punya bangku tua dan sebuah lampu taman bermakhota besi dengan cat warna tembaganya. Dia akan menunggu lama di sana, menunggu seekor kunang-kunang muncul. Setiap magrib. Setiap hari. Sejak bertahun-tahun lalu.

Dan Alea juga tidak tahu, jika sejak lama orang-orang di kafe itu menatapnya dengan heran. Sejak kedatangan Alea di petang pertama di kafe itu, memesan dua gelas kopi, dan mengobrol, orang-orang memandangnya bingung. Sebab Alea terus menerus mengoceh sendiri. Tak pernah ada siapa pun di depannya. Alea tak pernah tahu, jika hanya dia yang bisa melihat cowok berwajah oriental itu. Hanya dia. Cuma dia. []

Pali, 2014.

Untuk Swistien dan Mbak Dhea.

25 comments on “#CERPEN – Sepotong Kenangan di Sudut Braga (GADIS, September 2014)

  1. Lebih termehek-mehek kalau dibacanya di jalan braga juga. nih🙂

    Setiap baca cerita Mas Guntur. Saya harus menggunakan mata dengan kecepatan 5 km/jam. sangat slow. Karena jalinan kata-nya tidak ringan. Saya baru lega setelah sampai di akhir ceritanya. Lega setelah dapat apa yang ingin disampaikan penulisnya.

      • Membaca cerpen ini, aku seperti melihat Mas Guntur ngebuat Juice (yang tentu saja rasanya enak) dari bahan-bahan karangan Agus Noor dan Sungging Raga?
        Kunang2nya: mengingatkanku pada karya2 Agus Noor
        Zombie, Alea (Mas Raga sering pake’ nama tokoh Nalea), juga kisah-nya yang seringkali fiksi fantasi, mengingatkanku pada Sungging Raga. Di salah satu cerpennya yang menceritakan sebatang pohon di Lotus Road (kalo nggak salah) juga mengisahkan tentang seseorang yang menunggu.

        Nggak mirip, Mas Guntur justru piawai mengolah kata.
        Kalo kubaca cerpen2 sebelumnya, seperti makin lama Mas Guntur malah makin nulis ke arah fiksi romance…

  2. Keren. Selain bisa menulis ‘nyastra’ di koran. Ternyata mas Guntur Alam bisa juga menulis cerita yang ngepop. Twist ending!

    • Terima kasih sudah mampir.
      Ada beberapa novel remajaku loh, juga kumpulan cerita pop kayak Musim yang Bercerita tentang Cinta. Sekadar ngasih tahu sih😀

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s