Hujan Turun di Braga (Tribun Jabar, 18 Januari 2015)

TEPAT ketika aku menjejakkan kaki di trotoar minimarket K, gerimis pecah menjadi hujan. Jalanan Braga terlihat kuyup, taxi yang tadi kutumpangi telah menghilang di belokan jalan depan sana. Aku menghela napas. Tak banyak yang berubah dari Braga, tetap seperti dulu. Menentramkan. Sukar dilupakan dan tentu saja menyimpan kenangan di sepanjang jalannya. Tiba-tiba saja dadaku terasa sesak.

Orang bodoh mana yang mau datang jauh-jauh hanya untuk menjumpai kenangan yang membuat dadanya memar?

Dari kaca dinding minimarket K yang suram dan berembun, aku melihat pantulan wajahku sendiri. Seakan bayangan itu memberi jawaban atas pertanyaan yang baru saja melintas di benakku. Lagi, aku dibuat menghela napas. Mungkin aku memang bodoh, tapi aku merindukannya. Tak ada obat untuk sebuah rindu selain pertemuan. Dan aku hendak menuntaskannya.

Aku segera melangkah, meninggalkan minimarket K. Kami janji bertemu di sebuah kafe ujung jalan ini, sebelum belokan. Aku masih mengingatnya. Kafe J. Dan tadi, aku sengaja turun beberapa meter dari tempat itu untuk menenangkan diri dari harapan yang mendadak menyerang.

Entahlah… seperti tujuh tahun lalu, sebuah harapan memenuhi kepalaku. Aku membayangkan dia sudah duduk manis di meja paling pojok. Menungguku, lalu ketika aku muncul di pintu depan, dia akan menyambutku dengan setangkup bibir hangat. Dadaku mengembang.

Harapan itu melemparku pada kenangan. Pada perjumpaan kami tujuh tahun lalu, di sini. Di jalanan Braga yang basah oleh hujan. Ingatan membawaku berlari pada kafe sunyi dan hujan yang turun sendiri di luar sana. Semuanya terasa begitu bening, seakan baru saja terjadi kemarin. Aku menyesap kopi yang kupesan, lalu mataku berlabuh pada dia yang sendirian menikmati hujan dari balik jendela. Tatapan matanya yang membuat punggungku terangkat dari kursi, lalu duduk di sebelahnya, setelah terlebih dahulu bertanya apa dia berkenan aku duduk di dekatnya.

Tatapan kosong, wajah berduka, dan setangkup bibir basahnya yang membuat mataku tak mampu berpaling darinya. Sebagai laki-laki lajang dan melihat perempuan secantik dia hanya ditemani wajah sedih, aku berusaha mengajaknya ngobrol. Awalnya dia tak terlalu menggubris, tapi aku terus mengoceh seperti radio soak di depannya.

Pada menit kesekian kebersamaan kami itu, saat aku mulai diserang putus asa untuk mendapatkan perhatiannya, dia menggerakkan bibir dan terdengar suara lirihnya: “Aku tak ingin diganggu. Anda bisa duduk di kursi lain. Tak ada pengunjung selain kita.”

Rasa cappucinno yang melewati tenggorokan membuatku paham dengan ucapannya itu. Dia mengusirku. Tapi aku membalasnya dengan senyuman dan sebuah jawaban: “Mantan pacarku baru saja memberiku kartu undangan pernikahannya. Aku juga sedang sedih sepertimu. Mungkin kamu ingin berbagi kesedihan denganku, agar dadaku tak terlalu sesak. Juga dadamu.”

Ia menoleh, menatapku tajam. Aku suka manik matanya yang terlihat basah dan berkilat. Manik itu berwarna cokelat. Aku membalas tatapannya itu dengan tersenyum, lalu menjangkau kembali gelas minumku, menyesap isinya perlahan dan meletakkannya kembali di atas meja. Setelah itu, aku membasahi mataku dengan hujan di luar sana.

“Dia juga meninggalkanku,” ucapnya, setelah beberapa detik menatapku. “Tapi bukan itu yang membuatku sedih.”

“Lantas?” aku menoleh, menyusuri matanya yang semakin basah.

“Dia pergi dengan membawa semua kenangan bersamaku. Tak bersisa satu pun. Bukankah itu menyakitkan? Harusnya dia tak membawa semuanya. Biar aku punya sesuatu untuk mengingatnya.”

Aku mengernyitkan kening. “Bukankah itu bagus? Kamu tak perlu sakit hati lagi. Sebab kenangan kerap kali membuat dada memar.”

Dia mendesah. “Laki-laki memang tak penah bisa paham,” dan dia tak berkata lagi.

Dari sanalah semua bermuasal. Perjumpaan pertama yang menetaskan pertemuan kedua, ketiga, dan seterusnya, sampai aku tersadar kami belum pernah berkenalan. Lalu, dia menyebut namanya; Kinarsih. Dan cerita demi cerita kami rangkai, setelahnya aku baru menyadari ada sebiji pohon yang tumbuh di dadaku. Pohon yang berbunga dan buah harapan.

SEPERTI tebakanku, dia sudah duduk di bangku paling pojok. Tak banyak yang berubah dari dirinya. Rambut legam sebahunya diurai begitu saja. Tatapannya terus menerus keluar dinding kaca. Mungkin dia pun sedang terperosok dalam lubang ingatan.

Aku berhenti di depan pintu kaca, belum mendorongnya, walau mataku sudah menabrak tulisan DORONG pada pegangan pintu itu. Kuhela napas, memenuhi dada yang terasa sesak.

Tepat ketika tanganku mendorong pintu kafe ini, dia menoleh. Mata kami bertemu, kuhadiahi dia senyum hangat, dia bergeming dan tetap setia dengan ekspresi wajah kehilangan itu. Sudah berapa tahunkah? Aku ingin bertanya itu, tapi kuperam saja.

“Sori, aku terlambat. Hujan deras dan sangat susah mencari taxi di stasiun kereta,” ucapku sembari menarik kursi di depannya. Dia berusaha tersenyum, hambar. Di atas meja, sudah tergeletak secangkir kopi pesanannya. Moccacinno. Aku menerka. Aku masih hapal dengan kopi favoritnya.

“Tak apa. Aku baru sepuluh menit. Kopiku saja belum kusentuh.”

“Kau tidak memesankan untukku?”

“Aku khawatir salah pesan.”

“Kau tahu selera kopiku.”

“Waktu bisa mengubah selera seseorang, kan?” dia menjangkau gelas kopinya. “Jangankan kopi favorit. Cinta atau dendam pun bisa berubah seiring waktu.”

“Kau tak berubah,” cengirku.

“Jauh berubah,” dia meletakkan kembali gelas kopinya.

Seorang pelayan kafe menghampiri kami.

Hot cappucinno,” ucapku tanpa membuka buku menu yang dia tawarkan. Lalu, pelayan berusia sekitar dua puluh tahun dengan seragam hitam itu tersenyum, mundur ke belakang, meninggalkan kami dan keheningan yang menyergap.

Aku mengeluarkan bungkus rokok, menariknya sebatang. “Kau mau?” tawarku. Dia menggeleng. “Sudah berhenti merokok?”

“Merokok membunuh,” jawabnya.

“Peringatan omong kosong.”

“Setidaknya itu benar untuk diriku sendiri. Rokok sudah membunuhku.”

“Kau kena kanker?” tanyaku cepat, antara cemas dan ketakutan.

Dia menggeleng. “Hidupku bukan cerita picisan sebuah novel, yang tokoh utamanya harus menderita kanker agar jalan cerita sedih dan menguras air mata pembaca. Lalu pengarangnya kaya raya dari memanen air mata pembaca itu.”

Aku terkekeh. “Selera humormu masih bagus. Kau tak berubah.”

“Aku berubah,” tukasnya, mengingatkanku bila dia sudah mengatakan itu tadi. “Jauh berubah.”

Dan aku melihat manik matanya tak basah seperti dulu. Kuraba mata itu lewat tatapan, kususuri juga garis-garis wajahnya. Memang banyak yang berubah di sana. Beberapa kerutan terlihat nyata sekarang. Ah, bukan itu yang tengah kucari, aku sedang berusaha menangkap makna kata-katanya tadi, tetapi aku kesulitan menerka ke arah mana dia akan membawaku lewat kata-katanya.

“Aku ingin kembali padanya,” ucapannya itu membuatku tersentak.

“Pada siapa?”

“Pada laki-laki yang meninggalkanku tujuh tahun lalu.”

“Kenapa?” aku merasa lututku lemas.

“Dia kembali dan memintaku untuk bersamanya lagi.”

“Semudah itukah?” tanyaku, sangsi. “Dia sudah membuat hatimu memar, bahkan dia pergi dengan membawa seluruh kenangan yang ada antara kalian berdua.”

“Laki-laki memang susah paham,” dengusnya.

“Biarkan aku paham.”

Dia memejamkan mata. “Semalam dia datang dan membawa seluruh kenangan kami.”

“Lalu?”

“Dia mengatakan tak bisa hidup tanpaku.”

“Apa dia mati selama tujuh tahun itu?”

“Hatinya yang mati.”

“Kau percaya?”

“Aku tahu dia jujur.”

Aku menghela napas. Berat. Hatiku terasa remuk. Lalu, untuk apa dia memintaku datang jauh-jauh ke sini? Kupikir, dia memintaku bertemu untuk membicarakan kesempatan dan peluang bagi kami. Aku tahu, dia sudah menolakku sejak pengakuan pertamaku. Katanya dia masih belum bisa melupakan laki-laki yang meninggalkan dia beserta seluruh kenangan antara mereka. Tapi dia memintaku untuk menunggu. Aku menurutinya. Kupikir, semua akan berubah oleh waktu. Perlahan dia akan melupakan masa lalunya. Ternyata aku salah. Dia memang berubah, tapi bukan berubah seperti yang kuharapkan.

“Perempuan memang gampangan, kan?” desisnya, memasang wajah sedih. Mungkin semacam permintaan maaf padaku.

“Tidak,” gelengku. “Kau tidak gampangan, buktinya kau tak mudah goyah dengan kehadiranku. Kau masih menunggunya walau dia sudah meninggalkanmu.”

Matanya mendadak basah. “Aku langsung meleleh ketika melihat dia muncul dengan wajah dan hati yang berantakan. Lalu dia berkata, tolong, kembali padaku. Aku tak bisa hidup tanpamu. Aku mohon. Dan aku menerimanya. Bukankah itu gampangan?”

Aku menelan ludah. Ada yang membara di dalam dadaku.

“Lantas, bagaimana denganku?”

“Aku ingin berpamitan.”

“Kau meninggalkanku?”

“Ya,” suaranya terdengar mantap. “Aku akan pergi beserta seluruh kenangan yang ada di antara kita. Sori, aku terlihat kejam. Aku tak ingin menyakitimu. Bila aku pergi dan membiarkan kenangan tertinggal bersamamu, kau akan berkubang dalam kesedihan. Aku tak mau itu.”

Dia berdiri dari duduknya, membuka dompet, dan menyelipkan selembar uang untuk membayar kopinya. Tanpa menoleh lagi, dia meninggalkanku. Pelayan yang datang membawa kopi pesananku tertegun, mungkin dia terkejut. Aku hanya mampu memandang punggungnya yang menjauh.

Aku masih memandangnya sebelum menghilang di balik belokan jalan. Tas di pundaknya terlihat begitu berat dan sarat. Mungkin di sana berisi seluruh kenangan antara kami berdua. Dia pergi dengan membawa semuanya, tak meninggalkan sedikit pun untukku.

TEPAT ketika aku menjejakkan kaki di jalanan Braga, gerimis pecah menjadi hujan. Tak banyak yang berubah dari tempat ini. Masih sama seperti empat belas tahun lalu. Seketika hujan menyeretku pada bening kenangan akan tempat ini. Rasanya masih begitu segar. Seolah kemarin, ketika aku bertemu dengan perempuan yang duduk di pojok kafe dengan manik mata basah. Lalu tujuh tahun kemudian dia meninggalkanku dengan membawa seluruh kenangan antara kami.

Ah, orang bodoh mana yang datang jauh-jauh untuk mengunjungi tempat yang membuat hatinya memar? Hujan turun dengan lebat di Braga. Juga di dalam dadaku. []

Bandung – Pali, 2013-2014

8 comments on “Hujan Turun di Braga (Tribun Jabar, 18 Januari 2015)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s