Hikayat Zaidah (Pikiran Rakyat, 8 Februari 2015)

PAGI ini dusun gempar. Keriuhan bermuasal dari Zaidah, anaknya Wak Burhan yang baru resepsi pernikahan kemarin siang. Semalam, sekitar pukul dua belas, mendadak saja dia diantar pulang oleh suami, kedua mertua dan kades. Tentu saja kemunculan mereka di tengah malam buta itu membuat Wak Burhan sekeluarga terperangah. Lalu berita itu tersiar. Tak terbendung, seperti air yang tumpah dari tempayan pecah. Zaidah dituding tak perawan! Itu alasan yang membuat dia diantar pulang semalam.

Menurut beberapa orang yang melihat secara langsung kejadian semalam. Wak Burhan mengamuk seperti kesurupan. Zaidah babak-belur dihajarnya. Ditampar. Ditendang. Dipukul. Bahkan sampai diinjak-injak. Laki-laki paruh baya itu tak peduli dengan jeritan, tangis, dan permohonan ampun dari anaknya itu, pun dari istrinya. Jika saja kades dan beberapa lanang yang datang tak sigap menariknya, bisa-bisa Zaidah mati di tangannya.

Berita buruk memang lebih cepat merebak tinimbang berita elok. Sepagi buta itu, orang-orang di Sungai Lematang yang mandi, mencuci, dan berak sebelum berangkat ke kebun karet untuk menyadap, sudah menggunjingkan Zaidah.

“Pantas saja akhir-akhir ini daun kelapa habis dimakan ulat,” ucap Bi Sapot di antara usahanya menguras isi perut. Beberapa perempuan yang sibuk mandi menoleh padanya. Remang subuh tak mengurungkan pergunjingan mereka.

“Kata kajutku dulu, kalau daun kelapa habis dimakan ulat, itu pertanda ada yang bunting gadis atau mesum sebelum nikah. Terbukti sekarang,” pungkasnya.

Beberapa kepala mengangguk dalam remang.

“Seminggu sebelum resepsi, siamang candi juga kerap menjerit-jerit di panas hari. Kata orang-orang tua dulu, kalau siamang candi menjerit panas hari, itu tanda ada petaka.”

Serentak, kepala-kepala perempuan itu menoleh ke asal suara. Bi Ruan yang berucap barusan. Lalu, kepala-kepala itu mengingat kebenaran yang diucapkan perempuan yang terkenal nyinyir itu. Benar adanya. Mereka memang acapkali mendengar siamang candi menjerit-jerit di tengah hari yang panas. Dan itu kejadian langka. Biasanya, ada hal-hal yang buruk menimpah dusun jika binatang berbulu hitam lebat itu menjerit demikian rupa.

“Lalu, mahar pintaan Zaidah bagaimana? Diminta kembali?” terdengar suara Bi Ningayung memecah senyap dan keciprat air setelah keheningan membungkus usai ucapan Bi Ruan tadi. Orang-orang di pangkalan perempuan mandi itu saling lempar pandang.

“Tak tahu,” Bi Ruan yang akhirnya menyahut.

“Berapa pintaan Zaidah kemarin itu?”

“Kalau tak salah,” Bi Ningayung yang kembali bersuara. “Emas sesuku. Beras sepikul. Duit sepuluh juta.”

Perempuan-perempuan itu terdiam. Mungkin mereka tengah menghitung dalam kepala masing-masing, berapa rupiah yang harus dibayar oleh Wak Burhan pada mantan besannya itu? Emas seberat 6.7 gram dan beras seratus kilogram ditambah uang sepuluh juta. Beberapa kepala langsung mencelup ke dalam air setelah hening beberapa jenak itu. Bisa jadi pening karena membayangkan puluhan juta yang harus disiapkan Wak Burhan. Belum lagi denda adat dan rasa malu.

Remang tanah yang perlahan menerang menyudahi pergunjingan subuh kelam ini. Satu per satu, perempuan-perempuan itu gegas meninggalkan bibir Lematang. Tentu saja, pembaca cerita ini tahu, jika pergunjingan ini tidak akan berakhir sampai di sana saja.

SEJAK dipulangkan malam itu, tak sekali pun Zaidah menampakkan batang hidungnya. Berita yang tersiar, dia dikurung Wak Burhan di kamar. Ada pula yang menambahkan bila dia dipasung. Entah, kabar terakhir itu benar atau tidak. Tak ada yang dapat memastikannya. Sebab Wak Burhan melarang siapa pun mendekati kamar Zaidah, termasuk istrinya, kecuali bila anaknya itu ingin buang hajat di kakus yang ada di bawah rumah. Sekali tersiar pula berita, kalau Zaidah berak di dalam kamar tempat dia dikurung lantaran Wak Burhan tak membukakan kunci kamar itu.

“Zaidah menjerit-jerit karena ebaknya itu mencengkram kepala belakangnya dan menjejalkan muka Zaidah ke tahinya sendiri,” ungkap Bi Mar yang rumahnya hanya berjarak pohon jambu dengan rumah panggung Wak Burhan.

“Katanya, makan tuh tahi. Macam inilah kau lumurin wajahku di depan orang sedusun. Macam tahi inilah busuknya.”

Senyap.

Tak ada yang bersuara, menyahuti cerita Bi Mar. Perempuan-perempuan yang tengah membeli beras dan ikan asin di warung Mang Deris itu hanya meringis. Bahkan satu-dua orang tergesa menutup mulut dan memuntahkan isi perut di pokok batang kelapa yang tumbuh di samping toko sembako itu.

Mereka bergidik membayangkan tahi yang busuk itu melumuri wajah Zaidah. Bahkan mungkin tertelan oleh gadis malang itu.

“Salah sendiri, jadi gadis kegatalan. Sembarang saja dia mengangkat rok di depan lanang lain. Itu resikonya,” ternyata ada Bi Sapot pula di antara perempuan-perempuan itu Mulutnya-lah yang menumpahkan ucapan barusan.

“Tapi setahuku, Zaidah itu gadis baik-baik,” Bi Mar berusaha membela. “Tak pernah dia keluyuran malam-malam nonton orgen tunggal di hajatan orang macam beberapa anak gadis di sini.”

Bi Sapot mendelik mendengar ucapan Bi Mar barusan.

“Maksudmu anak gadisku betine nakal?!” hardiknya. Dia melepaskan ikan asin yang tengah dipilihnya. Matanya melotot dan dia berkacak pinggang. “Walau anak gadisku sering nonton orgen tunggal. Dia tidak dipulangkan lakinya setelah malam pertama.”

Bi Mar menelan ludah. Dia seperti baru sadar sudah salah memilih kata. “Maksudku bukan begitu, Yuk,” ujarnya, lirih.

“Hati-hati kalau ngomong,” dengus Bi Sapot, sewot.

Bi Mar tak jadi meneruskan kata-kata yang bersarang dalam kepalanya. Namun orang-orang yang ada di toko sembako Mang Deris tak urung membasahi ingatan mereka pada tingkah laku Zaidah semasa gadisnya.

Perempuan belia berwajah bulat telur dengan kulit sawo matang itu memang tak banyak ulah dan tingkah. Semasa sekolah, dia tak pernah mendapat masalah. Dia juga pendiam. Jarang terlihat keluyuran dengan anak laki-laki seperti lazimnya anak gadis sekarang. Jadi beberapa orang mungkin saja tak percaya bila Zaidah sudah berbuat nakal, kehilangan perawan sebelum menikah.

“Tapi memang iya,” kali ini Bi Jumar yang angkat bicara sembari memilih bawang merah. “Zaidah itu anak yang baik. Pendiam. Tak banyak ulah. Rajin belajar ngaji juga di musalah. Jadi agak aneh kalau….”

“Justru yang macam Zaidah itu yang tak bisa diterkah. Di depan kita saja pura-pura alim dan baik. Di belakang? Siapa yang tahu? Buktinya, dia dibalikkan lakinya usai malam pertama. Heeemmm….” Bi Sapot mencibir.

Orang-orang kembali senyap. Bi Mar yang merasa tak enak hati tergesa menimbang ikan asin, beras, dan mencomot sebungkus garam. Lalu membawanya pada Mang Deris yang duduk di belakang meja kayunya. Usai membayar semua belanjaannya, perempuan beranak tiga itu terburu pulang. Tak sekali pun dia menoleh ke belakang. Tersebab dia yakin sekali, Bi Sapot pasti mencibirnya. Kemudian perempuan paruh baya itu akan menggunjingkannya, sok menjadi pahlawan kesiangan yang berusaha membela Zaidah di depan orang-orang sedusun. Padahal sudah jelas-jelas perempuan belia itu dipulangan suaminya usai malam pertama. Pasti itu yang diulang-ulang perempuan bertahi lalat besar di ujung bibir bawah itu.

CERITA tentang Zaidah yang dipulangkan usai malam pertama itu terus menerus jadi buah bibir orang dusun. Laki-perempuan, besar-kecil menguraikan kisah yang sama. Perempuan-perempuan yang punya anak gadis jadi lebih cerewet dari biasanya. Lakinya pun merepet siang dan malam, mewanti-wanti agar istrinya selalu mengawasi gerak-gerik anak gadis mereka. Bila perlu 24 jam bersamanya. Bahkan bila bisa, anak gadisnya berak sekali pun harus diikuti.

Tentu saja, istri Wak Burhan, Wak Mai kian malu tak alang kepalang. Sebenarnya bila hendak menuruti kata hatinya, Wak Mai ingin dikurung seperti Zaidah juga. Dia sudah berusaha menulikan telinganya dari omongan orang-orang, tapi tetap saja kata-kata pedas itu menerobos gendang telinganya.

“Itulah kalau tak becus mengajari anak. Jaga anak gadis satu pun tak bisa. Kebobolan sebelum nikah. Aih, tak usah dijadikan besan orang macam itu.”

Wak Mai mendengar ucapan itu saat hendak mandi dan mencuci baju di Lematang. Melihat dia yang muncul di atas tebing dan hendak turun tangga, perempuan-perempuan yang riuh di atas batang mencuci seketika senyap, berbisik-bisik dengan suara lirih. Dia hendak berbalik dan pulang, lalu mengadukan gundah gulana di hati pada lakinya. Namun Wak Mai mengurungkan niat itu. Wak Burhan tak akan menghiburnya, laki-laki itu justru akan murka kembali karena dia dianggap biang kerok semua ini. Dia tak becus mengajari dan menjaga anak gadis mereka. Jadi ditebal-tebalkannya saja muka, pura-pura tak mendengar suara lantang Bi Sapot tadi.

Gegas sekali Wak Mai mandi dan mencuci petang itu. Dia yakin baju-baju yang dia sikat tak terlalu bersih, juga daki-daki dan getah karet di badannya masih melekat. Namun dia tak peduli. Dia benar-benar tak tahan dengan tatapan perempuan-perempuan itu padanya. Sesampai di rumah, dia terburu membuka pintu kamar tempat Zaidah disekap. Ditumpahkannya tangis di sana. Lalu tangannya tak terkendali lagi. Digebukinya anak perempuannya itu. Zaidah tak bersuara. Dia hanya menangis, menangis, dan menangis. Memasrahkan tubuhnya yang ngilu dan memar dihantam telapak tangan emaknya yang kasar karena kapalan.

“Kau benar-benar melumuri wajah emak dan ebak dengan tahi, Zaidah! Dengan tahi!” raung Wak Mai, tak terbendung. Orang-orang yang melewati rumahnya dan mendengar ucapan Wak Mai itu hanya menoleh sejenak, lalu gegas pergi. Satu-dua perempuan menyunggingkan senyum, sembari menyeret anak perempuannya pulang. []

Pali, September 2014.

11 comments on “Hikayat Zaidah (Pikiran Rakyat, 8 Februari 2015)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s