#CERPEN – Lipan Hoo (Tribun Jabar, 07 Juni 2015)

DIA menjerit. Histeris, saat aku menembaknya. Dor! Kamu kena! Namun jeritannya bukan jeritan bahagia dan geli dan kesal karena dia kalah dalam permainan ini. Dia menjerit ketakutan. Wajahnya membirunya. Matanya bergerak liar. Tubuhnya menggigil. Dia beringsut, berusaha menjauhi tanganku.

Kita bermain lipan hoo, ucapku, tadi. Ibu yang jaga dan kamu yang bersembunyi. Aku tak mau. Dia menolak. Merengut dan bergulung dalam selimut bergambar Spiderman-nya. Aku mendekat, mendudukkan punggung di pinggir ranjangnya. Kenapa? Bukannya kamu suka bermain lipan hoo? Kusentuh punggungnya dengan tangan. Dia menjerit. Kencang. Aku tersentak. Terkejut sendiri dengan teriakannya yang seperti lolongan hantu dari dasar neraka.

Kenapa? Kenapa? Dia tak menjawab, hanya menarik kakinya, bergelung seperti trenggiling yang melindungi diri. Aku berusaha menyibak selimutnya. Dia menahannya dengan sangat kuat. Lamat-lamat, kudengar isak yang ditahan. Aku merebahkan diri di sampingnya, menyentuh pundaknya. Dia diam. Mata kami terhalang selimut Spiderman yang dia kenakan untuk menutupi wajah. Aku memeluknya. Bahunya terguncang.

Kenapa ibu harus menikahinya? Aku membenci laki-laki itu. Dia bukan ayahku. Dia mulai meracau dengan isak di dalam selimut. Aku tak bisa menjawab. Tak kuasa menjawab. Dia tidak tahu, betapa sulit bertahan hidup sendiri, terlebih dengan tanggung jawab seorang anak. Tanpa pekerjaan. Tanpa kepastian masa depan. Aku tahu, aku tak harus menceritakan itu saat ini. Tersebab aku yakin, semua akan membaik seiring waktu yang berjalan. Mereka hanya butuh waktu untuk saling kenal.

Kami berpelukan. Sepanjang petang itu hanya berpelukan, tapi aku merasa sendiri.[1], walau aku bisa merasakan hangatnya napas ibu. Petang ini terasa aneh. Sepi, Sunyi. Jauh dari hiruk-pikuk tukang bakso, roti, dan jeritan anak-anak tetangga seumuranku yang sedang bermain. Seperti ada yang kosong. Di sini. Di dadaku. Kusentuh tangan ibu yang mengusap pundakku. Hangat. Kusibak selimut. Mata kami bertemu. Canggung.

Dingin menyelinap, menjalar dari matanya yang basah. Rasanya aku tak mengenali mata itu. Mata yang sudah kupandangi ribuan kali, sejak bertahun-tahun lalu. Aku mendekat, membuat hidung kami hampir bersentuhan. Kita main lipan hoo, yuk. Ibu yang jaga, kamu yang sembunyi. Dia bergeming. Aku menarik seulas senyum di bibir. Terasa kaku. Dia mengerjap. Mengangguk.

Hanya beberapa menit, aku menemukan persembunyiannya dan menembaknya. Mengenai punggung. Dia menjerit. Histeris. Bukan senang, tapi sakit. Lalu dia membuka bajunya, menunjukkan luka yang bernanah di sana. Bekas tembakan. Bukan pistolku, karena pistol lipan hoo-ku hanya khayalan. Matanya basah. Dadaku lebam.

LIPAN itu besar. Hitam kemerahan sedikit biru. Kaki-kakinya berbulu, kasar. Bulu kudukku sedikit meremang melihatnya. Aku geli dengan hewan melata, ditambah dengan kakinya yang banyak. Namun hewan menjijikan itu sudah tak bergerak. Dia menghantamnya dengan sandal. Sekali injak.

Pasti mati, Bu. Pasti mati. Aku akan membunuhnya. Tak ada rasa takut. Dia memang tak pernah takut. Setelah memastikan hewan itu telah tamat, dia menghentikan kakinya yang melumat. Keramik putih kami agak kebiruan. Lipan itu nyaris hancur. Dia tersenyum padaku. Puas. Namun ganjil. Senyumnya terasa aneh. Tak seperti biasa. Juga gurat-gurat di wajahnya.

Dia mengangkat sisa-sisa lipan itu, membawanya keluar dari pintu dapur, menuju halaman belakang yang dipenuhi ilalang setinggi pinggang. Aku masih berdiri mematung. Menenangkan kaki yang masih gemetar dan jiwa yang syok karena melihat hewan melata itu merayap di dekat kakiku tadi. Hanya beberapa detik, dia kembali masuk. Tanpa alas kaki. Tangan kecilnya menjangkau korek api, juga botol kecil minyak tanah di bawah dapur –biasanya aku menggunakan minyak ini untuk mengusir semut-semut—aku mengikutinya, dia menuang minyak tanah di atas sepasang sandal dan buuss… api menyambar saat korek api itu dilempar. Sekarang lipan itu benar-benar tamat, Bu.

Aku yang nyaris tamat tadi karena ketakutan hewan melata itu merayap di kakiku, lalu dia akan menyuntikan bisanya yang ada di ekor ke dalam kulitku. Sekuat tenaga. Sampai ke ujung-ujungnya. Menghujam Menebus kulit. Sakit. Namun dia tak akan peduli. Dia hanya ingin menuntaskan hasratnya mengeluarkan racun yang menggelora di dalam tubuhnya. Disemprotkannya semua. Jika perlu aku menjerit-jerit kesakitan, lalu mati, tak bergerak. Dan dia akan tersenyum puas. Meloyor pergi. Meninggalkan luka kecil yang membengkak tapi mematikan. Dan aku sekarat. Antara mati dan tidak.

KENAPA kamu membenci lipan hoo? Bukankah kamu suka bermain perang-perangan ala cowboy ini? Kami tidak lagi berpelukan. Aku sudah melepaskannya. Karena aku benci Om Fredy. Dia tak berani menatap mataku. Jangan panggil Om, dia ayahmu.

Ayahku bukan dia. Aku benci dia. Aku juga benci ibu yang terus memintaku memanggil laki-laki berbulu itu ayah. Ya, aku membencinya setelah dia kerap menembakku dalam permainan lipan hoo. Dia terus menembakku, walau aku sudah menyerah dan menjerit kesakitan. Dia tetap tak peduli. Dia selalu ingin menang dan tak pernah mau mengalah dalam permainan itu.

Aku capek bersembunyi. Aku ingin berjaga dan mengendap-endap dengan pistol di tangan. Lalu menembaknya sampai mati, sampai aku menang, sampai dia tergeletak tak bernyawa. Kemudian aku akan berteriak: Lipan hoo…! Bersembunyilah! Aku akan menemukanmu! Aku akan menembakmu! Dan aku akan menemukannya yang bersembunyi di bawah ranjang, menarik kakinya, menggelitik pinggangnya. Aku tak akan peduli walau dia menjerit-jerit kegelian dan memohon agar aku berhenti karena dia nyaris terkencing di celana. Setelah aku puas menggelitiknya, aku akan melemparnya ke atas ranjang.

Setelah itu akan kutindih dia. Mencekiknya. Sampai dia menggapai-gapai udara. Kaki yang berkelojotan, menendang-nendang di atas kasur yang panas. Tak akan kulepas, sampai semua usai. Saat dia sekarat dan memohon udara kembali untuk memenuhi dadanya, aku akan menarik pelatuk pistol dan kutembakkan. Tepat di dadanya. Sesuatu akan menyembur. Hangat. Sakit. Di dada.

Bulu kudukku meremang. Mata itu tak kukenali lagi, juga suaranya, pun ceritanya. Aku seperti tersesat dalam lorong hitam yang panjang tak berujung. Kusentuh pelan pipinya. Dia bergeming. Masih lembut dan halus seperti dulu. Dalam balutan cahaya matahari senja yang menerobos lewat jendela yang terbuka, aku berusaha masuk jauh ke dalam matanya. Mencari-cari cerita yang tersembunyi di sana. Namun aku gagal. Tak ada yang bisa diraba, selain kegelapan yang menyesatkan dan memenjarakan.

Aku tak mengenalinya lagi, meski dia sudah kukenal jauh sebelum dia lahir. Sungguh aku tak mengenalinya lagi petang ini. Dia seperti orang asing di mataku. Seperti bukan anakku. Harusnya perasaan ini datang kepada Fredy, bukan padaku. Justru aku merasa Fredy dan dia begitu akrab. Aku melihat mereka bermain lipan hoo sepanjang petang dan weekend. Harusnya aku bahagia melihat keadaan yang ada. Itu yang kuinginkan, keakraban yang terjalin antara mereka. Kedekatan yang perlahan akan meruntuhkan tembok bernama orang asing. Anehnya, aku justru merasa terasing dan ganjil dan bingung dengan kedekatan yang begitu cepat itu.

Aku tak perlu takut meninggalkannya sendiri bersama Fredy. Dia laki-laki yang tepat untuk kami. Dia mencintaiku. Juga mencintai anakku. Menyayangiku, pun menyayangi anakku. Sempurna. Tak ada masalah. Namun aku menemukan ketidak-sempurnaan sejak petang kemarin. Sejak lipan berwarna hitam kemerahan sedikit biru itu muncul di dapur rumah kami. Lipan yang mati di kakinya. Dia membunuhnya dengan penuh kebencian serta kemarahan. Melihatnya demikian aku seperti melihat puluhan kelelawar menyerang mata dan kepalaku, lalu hewan bertaring itu akan menyedot seluruh darah yang keluar dari tubuhku. Badanku menggigil.

Kebun belakang rumah ini terlalu kotor. Ilalangnya sudah sangat tinggi. Perlu dibersihkan. Pasti banyak lipan bersarang di sana, mungkin juga ular. Hari Minggu ini kami akan membersihkannya, untukmu.

Aku tersenyum senang, juga Fredy, tetapi dia tidak. Wajahnya merengut, dia tergesa pergi. Ke lantai atas. Menuju kamarnya. Terdengar bantingan pintu yang cukup keras. Aku mendongak. Bingung. Biarkan. Fredy menghalangi langkahku. Aku akan menyelesaikannya. Masalah anak laki-laki harus diselesaikan oleh laki-laki. Kamu di dapur saja. Masak makan malam untuk kita. Tenang, tak akan ada lagi lipan di sana.

Kugenggam tangannya. Dia tersenyum. Hangat, tetapi terasa berbeda. Aku tak sempat mencernanya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul lima. Makan malam belum siap. Mereka mungkin perlu waktu untuk lebih akrab. Ini waktunya. Ayah dan anak menyelesaikan masalah. Aku akan membiarkannya. Kelak, semua harus seperti ini. Dan memang harus seperti itu.

SUARA pintu berderit. Aku tergesa mendongak, mata kami bertemu. Oh, aku lupa menguncinya. Namun semua sudah terlambat. Dia sudah berdiri dan menutup pintu itu perlahan. Aku gugup, tanganku gemetar ketika berusaha menarik celana yang sudah kuturunkan. Niatku ingin mandi dan memadamkan api dalam kepalaku, buyar. Klik! Dia mengunci pintu. Aku pasi.

Dia tersenyum. Mungkin bukan tersenyum, tapi menyeringai. Mendekat. Aku berusaha mundur. Namun kakiku membatu di lantai. Mungkin saja dia sudah menyihirku tadi, hingga aku tak bisa bergerak untuk menjauh. Lalu dalam hitungan detik dia sudah memelukku. Jantungku berdegup. Jantungnya juga. Aku mendengarnya karena telingaku tepat di dadanya.

Kita main lipan hoo, yuk. Kamu sembunyi. Aku yang jaga.

Aku berusaha menggeleng, tapi dia tak peduli dengan jawabanku.

Lipan hoo…! Dia sudah berteriak, masih memelukku. Dan kami terhempas di atas ranjang berselimut Spiderman-ku. Bersembunyilah….! Aku berusaha bersembunyi darinya, tetapi bibir, mulut, dan tangannya menemukanku. Aku akan menemukanmu! Dia benar-benar menemukanku, aku tak berkutik. Tak ada tempat untuk berlari. Aku akan menembakmu! Aku memohon, aku merintih, aku menangis. Dia menyeringai. Ini hanya permainan. Permainan cowboy anak laki-laki. Tidak akan sakit bila ditembak. Kamu sudah sering kan main lipan hoo? Namun pistol ibuku hanya khayalan. Sementara pistolnya nyata. Mengeluarkan peluru hangat yang menembus kulit dan daging paling dalam. Aku menggigit bantal. Rasanya sakit. Jauh sebelum pistol itu meledak dan menyalak, memuntahkan peluru yang merobek kulit, meneteskan darah, memasak nanah.

AKU akan menembaknya, Bu. Atau melumatnya dengan sandal. Sebab aku benci dan jijik dengan lipan. Aku tak suka bisa yang dia suntikan ke kulitku. Rasanya sakit. Jadi maafkan aku yang membenci permainan lipan hoo-mu. Karena dia menembakku sungguhan, bukan dengan pistol khayalan.

Kamu jangan mengarang cerita.

Aku tak berdusta.

Mata kami bertautan.

Aku tak berdusta, Bu. Lalu dia membuka baju dan celananya, menunjukkan bekas luka yang bernanah. Bekas tembakan. Pistol sungguhan. Aku terhenyak, kupandang wajahnya yang menyekam kecemasan. Aku tak berdusta. Matanya basah. Dan aku seperti tersesat dalam lorong pekat bola matanya. []

[1] digubah dari sajak Acep Zamzam Noor berjudul “Tentang Jarak”

By AlamGuntur Posted in cerpen

One comment on “#CERPEN – Lipan Hoo (Tribun Jabar, 07 Juni 2015)

  1. ih.., kalau tidak salah ini tentang anak yang dilecehkan secara sexual ama bapak tirinya ya, dengan alasan permainan lipan hoo? soalnya agk-agak bingung mencernanya, karena sudut pandang ceritanya berubah-ubah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s