#CERPEN – Spektrum Banksy (Jawa Pos, 12 Juli 2015)

Spektrum Banksy

Ilustrasi Jawa Pos, 12 Juli 2015

Oleh: Swistien Kustantyana dan Guntur Alam

PERNAHKAH kau membayangkan jika malaikat pencabut nyawa jatuh cinta pada korbannya? Iya, aku tahu seharusnya malaikat tak punya perasaan, tak mengenal cinta, dan tak mengenal rasa cemburu. Namun, aku benar-benar jatuh cinta pada Aya. Spektrum Cahaya –nama lengkapnya. Perempuan yang tiga bulan lagi harus kucabut nyawanya, dengan tanganku sendiri.

Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Dadaku tiba-tiba berdebar saat pertama kali menatap wajahnya. Untuk kau ketahui, selama hidupku, itu kejadian pertama dadaku berdebar. Aya menghentikan aktivitasnya saat aku datang. Tangan kanannya yang semula lincah mengoperasikan mouse kini bergeming. Tubuhnya menegang kaku. Entahlah, apakah Aya merasakan kehadiranku?

Dia memandang berkeliling, mengamati ruangan kamar mungilnya. Lalu, matanya melayang keluar jendela, mengikuti sepasang burung gereja yang terbang di antara kabel-kabel telepon. Aya mendorong kursinya pelan, lalu berdiri dan berjalan ke arah jendela. Dia menyibak gorden, membiarkan cahaya matahari sore menerobos masuk. Di bawah sana, orang-orang berlalu lalang. Dan matanya berhenti pada sepasang muda-mudi yang berjalan sembari bergenggaman tangan.

Aya menghela napas. Melihat muda-mudi itu membuat Aya teringat dengan Bran. Brandon Reese nama lengkapnya, laki-laki campuran Inggris-Indonesia yang Aya kenal saat dia masih kuliah di University of Cambridge. Ibu Bran berasal dari Jawa. Seumur hidupnya, Bran baru dua kali datang ke Indonesia. Kesamaan asal negara ibulah yang membuat mereka akrab dan Aya jatuh cinta padanya. Namun sayang, hubungan mereka hanya seumur jagung. Alasan perpisahan mereka sebenarnya sepele, Aya tak kunjung bisa melepaskan adat ketimurannya, termasuk masalah kevirginan. Sementara Bran yang lahir dan besar di Inggris menganggap Aya kolot.

Hubungan keduanya sempat renggang, tetapi seiring waktu mereka kembali akrab. Menjadi teman. Terlebih karena ibu Bran menganggap Aya seperti anaknya sendiri. Melihat Aya, membuat dia merasa tak sendiri di tanah yang jauh.

Teringat pada Bran membuat Aya memutar badannya, dia melihat sebuah foto yang ada di atas meja. Foto Bran yang tengah berada di Bristol. Aya beranjak ke sana. Disentuhnya foto itu dengan jari, ada sedikit debu. Bran tampak tersenyum lebar di samping tembok yang memuat graffiti. Sebuah buku tergeletak di atas meja, Banksy: The man behind the wall. Aya menghirup napas. Matanya berlari ke arah amplop besar berisi hasil medical cek up-nya.

Aku mewujudkan impian kecil kita terlebih dahulu.

Tulisan tangan Bran di balik foto itu.

Aya segera berjalan menuju meja kerjanya. Tangannya bergerak lincah dengan mouse. Layar komputer menampilkan berbagai halaman penuh warna. Aku terperenyak saat membaca alamat web yang Aya kunjungi.

Mungkin Aya memang sudah tahu aku akan menjemputnya tak lama lagi. Karena itulah dia ingin mewujudkan mimpi kecilnya; berjalan menyusuri jalan-jalan di Bristol sembari memotret graffiti karya Banksy yang tersebar di sudut-sudut kota. Mataku masih sempat membaca kertas-kertas yang meluncur dari printer di meja kerjanya.

Banksy. Upfest. Bristol. Ticket. Hotel. British Embassy.

KAU tahu, aku tidak selalu seperti ini. Tugas utamaku hanyalah menjemput yang memang harus pergi dari dunia ini. Sudah itu saja. Namun kadang aku ingin mengunjungi orang-orang tertentu beberapa bulan sebelumnya. Agar dia tahu dia akan pergi meninggalkan dunia ini. Agar dia menyelesaikan semua urusannya. Termasuk mewujudkan mimpi. Seperti yang kulakukan pada Aya. Hanya saja, kali ini ada hal yang tak terduga. Aku justru jatuh cinta pada senyum manis dan binar matanya.

Mungkin, inilah dosa termanis yang pernah dilakukan oleh seorang malaikat sepertiku. Aku tak bisa lepas dari perasaan ganjil yang bersarang di dadaku. Perasaan terlarang. Debar yang membuatku tak bisa menahan diri untuk terus mengunjungi Aya. Berada di dekatnya membuatku bahagia. Ganjil sekali, kan? Aku datang. Terus dan terus. Mengikuti perjalanan hidupnya yang tak lama lagi. Seperti sekarang.

Di sanalah dia, duduk bersandar di sofa, di sebelah tas punggungnya. Lobi hotel Ibis London Heathrow Airport tidak seramai biasanya. Aya menguap sesekali, jari-jemarinya terselip di dalam buku tebal bersampul merah dengan judul A Game of Thrones: Perebutan Takhta. Dia membaca keras-keras untuk mengusir kantuknya, “inilah yang kulakukan demi cinta.”

“Demi cinta Cersei Lannister!” kalimat itu terdengar dibarengi suara tawa.

Laki-laki itu akhirnya datang. Aku sudah tahu Aya menunggunya, tetapi tetap saja dadaku terasa kebas melihat kemunculan Bran.

“Akhirnya kamu datang juga.” Aya berdecak kesal. Dia tak berusaha bangun dari posisi duduknya. Bran yang masih tersenyum memandang Aya tak berkedip.

“Aya Stark!” ucapnya dengan senyum jail. Dia mengacak rambut Aya dan duduk di sebelahnya.

“Oh, Bran Stark. Hormatlah pada kakakmu,” cengiran lebar muncul di wajah Aya.

Aku tersenyum getir melihat mereka berdua. Sejak dulu mereka selalu suka saling menggoda dengan nama Aya Stark dan Bran Stark. Mereka berdua penggemar serial Game of Thrones dan memuja Klan Stark.

Kutelan ludah. Ternyata patah hati rasanya sesakit ini.

Bran memeluk Aya erat. Lebih lama dari yang kuharapkan. Aya menyurukkan kepalanya di dada Bran. “I miss you,” ucap Bran lirih di telinga Aya. Rasa sesak di dadaku kian menggumpal.

Me, too,” Aya berbisik.

Bran dan Aya jatuh cinta, berpacaran, lalu memutuskan untuk berpisah. Harusnya aku bahagia dengan kenyataan itu, tetapi tidak melihat kondisi mereka sekarang.Mereka duduk bergandengan tangan di dalam bus National Express yang akan membawa mereka ke Bristol Bus Station.

“Kedatanganmu mendadak sekali,” Bran berdecak. Tangan kanannya meremas tangan kiri Aya.

“Tidak mendadak, kok. Kan sudah kukasih tahu sebulan yang lalu,” kilah Aya.

“Tetap saja mendadak. Kan kita janjian ketemu Juli nanti di Upfest,” sahut Bran.

“Iya sih,” Aya menyahut sekenanya. Dia menyandarkan kepalanya ke bahu Bran dan menutup matanya.

“Kau lelah? Wajahmu tampak pucat,” tangan kiri Bran mengelus rambut Aya.

Aya menggelengkan kepalanya lemah. “Tidak. Aku hanya ingin menyimpan kenangan ini, Bran.” Aya sengaja menyembunyikan rahasianya pada Bran.

Melihat mereka berdua, dadaku terasa meledak. Hancur berkeping-keping. Rasanya sesak sekali, aku kesulitan bernapas.

Tiga setengah jam kemudian Bran dan Aya sudah tiba di Bristol Bus Station. Aya merapatkan jaketnya, memandang langit sejenak, lalu menghirup napas panjang. Udara Bristol memenuhi paru-parunya. “Kita langsung melihat Wall Hanger ya,” ucap Aya seraya tersenyum kepada Bran.

Your wish is my command, my Lady,” Bran mengedipkan sebelah matanya.

Sepuluh menit kemudian mereka sudah menyusuri jalanan yang tak begitu ramai. Suhu 9ºC membuat Aya berulangkali menggosokkan kedua tangannya. Bangunan sewarna tanah yang berjejer rapi di sepanjang Park Street tampak seragam.

Aya memandang tembok cokelat menjulang di depannya dan berdecak kagum, “Wall Hanger.”

“Graffiti favoritmu,” desis Bran.

“Iya, karena menurutku graffiti yang ini brilian. Aku pernah baca. Laki-laki yang bergelantungan di luar jendela itu Keith Allen, anggota tim manajemen Banksy, dan perempuan itu partner hidup Banksy,” cerocos Aya.

Bran tertawa. “Kau suka sekali ya dengan Wall Hanger.”

Aya ikut tertawa, “It’s because Banksy is amazing. He is so creative. Creativity is great!”

He is,” Bran memandangi Aya lekat-lekat. “Omong-omong, kau sudah baca buku yang kukirimkan? Banksy: The man behind the wall.

Aya mengangguk. “Aku paling suka saat Banksy bilang, melukis tak selesai saat kuasmu diletakkan. Ketika itulah, hal sesungguhnya dimulai. Reaksi publik yang sebenarnya memberikan arti dan nilai. Seni jadi hidup, justru ketika kamu memiliki argumen tentangnya.”

“Kamu mengingatnya?” Bran tersenyum. “Aku juga suka bagian itu. Tapi alasan Banksy menggunakan teknik stensil itu juga menarik. Ternyata stensil mampu memicu revolusi dan menghentikan perang.”

Keduanya terus berjalan dan mengomentari semua karya Banksy. Selama perjalanan itu, Bran tak sekali pun melepaskan tangan Aya. Dia terus menggenggamnya seakan takut Aya hilang dan diambil orang.

Melihat graffiti Branks yang menggambarkan seorang suami memergoki istrinya selingkuh, lalu memandang jauh ke depan di jendela, sementara istrinya ada di belakangnya. Suami itu tak tahu bila selingkuhan istrinya tengah bergantung di bawah jendela apartemen mereka, membuat hatiku mencelos. Aku tak dapat lagi menahan perasaan yang meledak-ledak dalam dadaku. Tanpa bisa kukontrol, aku berjalan ke arah Bran dan Aya. Mereka tak menyadari kedatanganku. Saat jarak kami sudah sangat dekat, kutarik nyawa Aya dari ubun-ubunnya. Dia yang tengah tertawa bersama Bran mendadak terkulai. Bran terperenyak. Memanggil namanya. Hening.

Baru kali ini aku merasa demikian bahagia. Namun kebahagiaan itu seketika sirna saat aku teringat isi perintah tentang kematian Aya; dia akan meninggal bukan karena sakitnya, tetapi karena kesedihan dan kesepian serta ketidak-bahagiaan yang bersarang di dada. Bukan dada Aya, tetapi dadaku. Sungguh, jika malaikat maut bisa menangis, aku ingin menangis petang jelang musim dingin ini. []

Jakarta – Pali – Seoul – Pali – Pemalang, 2015.

Semoga lekas sembuh, T.

Swistien Kustantyana, menulis cerpen dan novel remaja.

Guntur Alam, buku kumpulan cerpen gotiknya Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang sedang proses terbit di Gramedia Pustaka Utama.

By AlamGuntur Posted in cerpen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s