#CERPEN – Bolu Delapan Jam (Kompas, 23 Agustus 2015)

Ilustrasi Kompas

Kompas, 23 Agustus 2015, halaman 27

Lebaran tanpa bolu delapan jam bukanlah Lebaran bagi ayah. Anehnya walaupun ibu positif mengidap diabetes kering, ayah tetap saja meminta ibu membuat bolu ini saat Ramadhan memasuki hari-hari terakhir-pastinya saat Lebaran ibu harus mencicipi juga. Bagiku, menyuruh ibu membuat bolu ini sama saja membunuh ibu secara perlahan. Kadar gula bolu ini berlipat-lipat, gigimu akan ngilu saat gigitan pertama menyentuh lidah. Ganjilnya ibu tak mengeluh, tak membantah, tetap memenuhi permintaan ayah. Mungkin benar cinta dan kesetiaan membuat orang rela melakukan apa pun termasuk mati. Namun, apakah benar cintalah yang membuat ibu seperti itu? Bertahun kemudian, aku tahu jawabannya.

Diabetes kering dan usia ibu tak mengubah tradisi di rumah ini. Kata ibu, sejak puluhan tahun lalu, bolu delapan jam sudah menjadi makanan wajib di setiap rumah saat Idul Fitri di Sumatera Selatan. Aku ingat, ibu mengucapkan itu sembari mengaduk adonan bolu delapan jam. Matanya memandang adonan kue berwarna kekuningan di dalam baskom kecil. Seakan dia ingin menembusnya sampai ke dasar, melihat sesuatu yang gelap, hitam, bergumpal, mengendap di bawah sana, seperti hatinya.
Kusadari sekarang, saat mengaduk adonan bolu itu, ibu melakukannya tanpa ekspresi tapi penuh tenaga, seolah dia tengah menumpahkan segala amarah di dalam sana. Seakan-akan ada bakteri dalam adonan itu yang harus ibu lumat sampai mati, tetapi sayangnya tak pernah mati. Ibu tak pernah mau menggunakan mikser saat membuat adonan, dia bersetia pada pengencot yang terbuat dari sebatang kayu dan gulungan kawat berbentuk sarang tawon di ujungnya. Alasannya, rasa bolu delapan jam yang dibuat dengan mikser tak sesedap bila menggunakan pengencot kayu.

Begitulah ayah dan ibu menjalani kehidupan mereka seperti itu saat menjelang Lebaran, apa pun yang terjadi pada ibu, dia tetap harus membuat bolu delapan jam dan memakannya bersama ayah di hari Idul Fitri, walau itu sama saja dengan bunuh diri secara perlahan.

“Apa kau tahu kenapa aku menggunakan dua puluh butir telur bebek untuk adonan ini?”

Aku menggeleng. Dalam resep bolu delapan jam yang ibu tuliskan untukku seharusnya ibu menggunakan dua puluh dua butir telur bebek dan dua butir telur ayam. Namun, ibu menggunakan hanya dua puluh butir.

“Ayahmu suka bolu delapan jam yang rapuh, putih, cantik tapi mudah hancur.”

Mata ibu menjelma seperti lorong panjang yang gelap dan pekat.
“Dua puluh butir memang pas. Kombinasi yang matang. Sedang. Mengkal. Begitu enak dikunyah. Terasa legit. Membuat ayahmu ketagihan. Bila dua puluh dua butir telur bebek, bolunya terlalu padat.”

Aku tak bersuara, hanya menyimak, kemudian mencatat dalam hati. Suatu saat nanti aku juga akan membuatkan bolu delapan jam untuk suamiku. Bisa jadi dia juga lebih menyukai bolu delapan jam yang mengkal, rapuh, putih, cantik tapi mudah hancur seperti ayah.

Ibu menghantamkan satu per satu telur bebek ke tepian baskom, membuat cangkang birunya retak, lalu cairan bening lengket dan kental menetes, kedua jempol tangan ibu menekuknya, memaksa putih dan kuning telur meluncur ke dalam baskom. Namun, pada telur kedua puluh, ibu tak menghantamkannya seperti sembilan belas telur lainnya, ibu justru meremas cangkang telur itu, membuat isi telur menetes-netes dari jarinya. Aku bergetar, tapi ibu tersenyum padaku. Senyum yang mekar, tapi dingin.
Hal yang membuatku menelan ludah, dua butir telur ayam berikutnya ibu masukkan langsung ke dalam adonan. Dia memecahkannya dengan menekan sarang tawon di ujung pengencot kayu.

“Gula pasir.” Ibu menunjuk 420 gram gula pasir yang ada di atas meja. Aku tersengat. “Tuangkan!” perintah ibu sembari tangannya masih terus mengaduk adonan bolu dengan kuat tetapi hati-hati. Bolu delapan jam memang seperti gadis muda yang rapuh, adonannya tidak boleh dikocok terlalu kuat karena tak boleh mengembang, tapi bila tak mengaduk dengan tenaga gula pasir di dalamnya tak bisa larut. Perlu teknik memadukan irama kekuatan dan perasaan. Dan ibu mahir melakukannya.

Dengan sedikit gugup, aku menuang gula pasir itu. Semuanya. Rasanya aku ingin menuang setengah saja gula pasir itu, tersebab selain gula ini ibu sudah menyiapkan sekaleng susu kental manis berwarna putih. Susu itu pasti akan ibu tuangkan semuanya. Aku sangat khawatir bolu ini kemanisan dan ibu akan mati bila memakannya.

“Aku tak akan mati. Lihat, aku masih sehat bahkan masih bisa membuat bolu yang memeras tenaga dan perasaan ini.” Dia seakan paham apa yang bersemayam dalam tempurung kepalaku.

Mataku berkaca-kaca. Aku jadi teringat rengekanku dulu, saat tahu ibu mengidap diabetes kering, “Kalau ibu mati, nanti ibu jadi sundel bolong.”

“Kau ini,” ibu mencubit lembut pipiku. “Kenapa harus jadi sundel bolong? Kenapa tidak jadi bidadari atau peri?”

Aku menghirup ingus yang tak ada. “Kan ibu sendiri bilang ada lubang di dada ibu, lubang hitam yang tembus ke punggung. Sundel bolong ada lubang di punggungnya.”

Ibu terkekeh. Tawa yang kering. Hambar. Jauh.
Mataku terus mengikuti gerakan tangan ibu yang menggenjot adonan, menyatukan telur dan gula di dalamnya. Ketika membayangkan ibu yang menggigit seiris demi seiris bolu delapan jam sambil menahan air matanya di depan ayah, ingin sekali aku mengambil baskom berisi adonan ini dan menuangkan ke dalam saluran air. Namun, aku tak punya keberanian. Karena ayah adalah raja di rumah ini, sebagai raja dia berhak mengatur siapa pun, termasuk aku dan ibu. Sebagai raja, ayah berhak memerintahkan apa pun kepada kami. Sebagai raja, ayah boleh menggiring ibu ke dalam peti mati yang pekat. Peti mati yang akan memenjarakan ibu dalam kegelapan panjang.

“Saringan!”

Ucapan ibu membuatku tergesa menarik baskom bersih yang ada di samping kanan dan meletakkan saringan plastik di atasnya. Ibu menuangkan adonan telur dan gula pasir, sisa-sisa cangkang telur yang lebur tertinggal di atasnya, seperti kenangan buruk. Ah, andai saja kenangan buruk bisa disaring seperti itu, tentu saja aku akan melakukannya. Namun, tidak demikian, kenangan akan terus menempel seperti kanker yang menggerogoti dan dengan beringas melumatmu.

“Tuangkan susunya!”

Aku tak membantah. Tanganku gemetar ketika susu kental manis berwarna putih itu terjun seperti hujan ke dalam baskom adonan. Ibu mengaduknya. Cairan susu itu seperti airmata yang mengalir, tak akan berhenti sampai kering. Dan aku tak tahu apakah air mata ibu sudah lama kerontang?

Saat susu itu habis, aku meletakkan kalengnya di atas meja, lalu meraih dua sendok makan terigu dan satu sendok teh vanili. Ibu belum meminta, tapi aku tahu, aku harus menuangkan terigu dan vanili itu ke dalam adonan. Tanpa berkata, ibu mengaduk lebih keras adonan bolu delapan jamnya saat terigu dan vanili itu kutuang. Keringat tumbuh laksana bentol-bentol penyakit kulit di pelipis ibu. Dia tak menyekanya, mungkin ibu berharap keringat itu jatuh ke dalam adonan dan menjadi racun yang akan membunuh siapa pun kelak yang memakan bolunya. Ah, imajinasiku terlalu tinggi.

“Siapkan loyang pengukusnya.”

Seperti tadi, aku tak membantah. Kutarik loyang aluminium persegi empat berukuran 20 sentimeter x 20 sentimeter yang sudah kubersihkan. Ibu menuang perlahan adonan bolu delapan jam ke dalam loyang.

“Kau sudah menyiapkan tungku api?”

Aku mengangguk. Kata ibu, mengukus bolu delapan jam memang harus memakan waktu delapan jam. Tak boleh lebih, tak boleh kurang. Bila kurang, bolunya tidak kenyal, kalau kelebihan bolunya akan terlalu padat. Mungkin ibu benar, bolu ini seperti gelas kaca yang rapuh, terlalu kuat menggosoknya akan membuat gelas pecah, tapi jika tak digosok akan membiarkan kuman menggerogotinya tanpa ampun.

Selain tak ingin menggunakan mikser, ibu tak pernah mau mengukus bolu delapan jam dengan menggunakan kompor gas. Harus kayu bakar. Tungku api pun harus kusiapkan sebelum ibu membuat adonan, aku harus memastikan air mendidih sebelum loyang adonan dimasukkan dan mengecilkan api serta menjaga besaran api itu agar tetap stabil selama delapan jam. Bila nanti airnya menyusut dan delapan jam masih jauh, ibu harus menambah airnya dengan air panas sedikit demi sedikit. Benar-benar membuat bolu yang merepotkan dan mengancam nyawa ibu, tapi ibu tetap melakukannya.

Dulu, aku pernah bertanya kepada ibu; “Kenapa ibu terus membuat bolu ini dan memakannya padahal ibu tahu, ibu akan mati olehnya?”

Dan jawaban ibu akan selalu sama; “Tak semua hal butuh alasan, kan? Sama seperti kenapa ibu menikah dengan ayahmu, bertahan sampai detik ini. Ada hal-hal yang kita tak memerlukan jawaban karena.”

Ibu melapisi penutup dandang kukusan dengan kain. Aku tahu, kain itu dipasang agar uap air tak menetes ke permukaan bolu. Seperti hati ibu dan rahasia kepatuhannya pada ayah yang dia selubungi dengan kain hitam, tebal, pekat; pada bola matanya yang berkaca, aku tahu ibu terus menelan ludah yang begitu pahit dan mencekik, mungkin bila dia tak tahan lagi, ibu akan menggigit dan menelan lidahnya sendiri.

Aku tak pernah tahu, apa alasan ibu terus memenuhi permintaan ayah saat Lebaran tiba? Membuat dan memakan bolu delapan jam bersamanya, padahal ibu sadar bila kadar gula dalam bolu itu akan membunuhnya. Dan seiring waktu yang terus membesarkanku, aku mulai melupakan pertanyaan itu. Mungkin apa yang ibu lakukan adalah wujud kesetiaan. Kesetiaan yang menyakitkan sekaligus menakutkan, tapi romantis.

Namun, suatu hari, seminggu sebelum dia dilarikan ke IGD rumah sakit, ibu membuka sebuah cerita yang membuatku tak pernah paham arti pernikahan dan cinta serta kesetiaan yang selama ini kupelajari dari ayah dan ibu.

“Aku tak pernah mencintai ayahmu. Dia teman pacarku, tapi ayahmu menyukaiku. Dia menipuku. Malam itu dia mengatakan Antoni kecelakaan dan dia menjemputku. Ternyata aku dijebak. Dia menyekap dan memerkosaku. Semalam suntuk. Delapan jam yang bagai neraka. Sialnya, aku hamil. Mengandungmu. Dan aku terpaksa menikah dengannya. Usiaku dua puluh tahun waktu itu.”
Kutelan ludah.

“Dia tahu aku meracuninya dengan cinta dan dia akan mati oleh cinta itu. Itulah sebab dia pun ingin membunuhku dengan bolu delapan jam. Delapan jam semacam pengingat untukku. Setiap Lebaran, Antoni akan pulang kampung dan bolu delapan jam melebarkan jurang kembali antara aku dan Antoni.”

Kurasa aku tak pernah benar-benar mengenal ayah dan ibuku. Dan aku tak akan pernah mau membuat bolu delapan jam untuk suamiku, kelak. []

By AlamGuntur Posted in cerpen

3 comments on “#CERPEN – Bolu Delapan Jam (Kompas, 23 Agustus 2015)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s