#CERPEN – Dongeng Boneka Nyai Djelema (Kedaulatan Rakyat, 23 Agustus 2015)

KR

Foto kiriman Redy “Ugeng” Kuswanto via Facebook

DULU, sebelum dia kehilangan wajah dan memutuskan jadi boneka. Tokoh cerita kita seorang gadis jelita. Kita sebut saja namanya Djelema. Sebab begitulah suaminya yang berdarah Belanda itu memanggilnya: Djelema.

Ini dongeng kuno. Jadi jangan terhenyak bila kukatakan Djelema mengoek dari selakangan emaknya pada tahun 1881, di dusun Sukajadi, Bandung.

Mungkin, bila bisa memilih. Djelema tak ingin dilahirkan di zaman itu. Tapi begitulah takdirnya, Tuhan tak pernah bermufakat ihwal itu. Dia memecah langit subuh yang temaram dengan tangisnya yang melengking panjang di atas bale-bale bambu kasar. Djelema tumbuh dalam kekurangan. Bapaknya bekerja serabutan dan lebih kerap bekerja tanpa gaji di bawah todongan senapan tentara Hindia Belanda. Sementara emaknya? Ah, penuh air mata. Aku benci menceritakan sesuatu yang membuatku menangis. Anak-anakku tak suka aku menangis. Bila aku menangis, Marie, Caroline, James, dan Pieter akan meraung-raung tiada henti.

Sejak berumur delapan tahun dan ketika otot-ototnya sudah mampu untuk melakukan segala pekerjaan rumah tangga, tangan emaknya yang kapalan itu melempar Djelema ke rumah Tuan Edwar. Seorang komandan militer Belanda yang tinggal di Bandung.

Tapi Djelema tidak menangis, dia tak mengutuk emaknya jadi batu karena sudah membuangnya ke sini. Dia tahu emaknya tak punya pilihan. Bila saja dia yang di posisi emaknya, dia akan melakukan hal yang sama. Daripada anaknya mati kelaparan di luar sana, lebih baik dia jadi babu di rumah orang Belanda, walau pun kadang harus makan bersama anjing yang dipelihara tuannya.

Begitulah, beberapa tahun ke depan cerita hidup tokoh kita cukup menyenangkan. Setidaknya, sebelum malam jahanam itu datang. Oh Tuhan, aku tak tahu. Haruskah aku mengisahkan bagian ini? Tapi inilah bagian penting dari dongeng Djelema-ku.

Pertama kali Tuan Willem (dia anak Tuan Edwar yang berusia delapan belas tahun) menyeretnya ke dalam bilik, lalu meremas dadanya yang belum tumbuh sempurna, menyantap bibirnya dengan beringas, dan menarik kain serta kebayanya dengan paksa, Djelema baru berumur tiga belas tahun. Dia sangat ketakutan. Benar-benar takut. Dia mengira Tuan Willem akan membunuhnya, mencincang tubuhnya, lalu membagikan potongan-potongan badannya pada anjing-anjing yang ada di halaman belakang. Ternyata, kematian itu jauh lebih baik daripada apa yang Djelema alami. Tuan Willem melakukan hal yang jauh lebih mengerikan. Sangat mengerikan. Sampai-sampai Djelema mimpi buruk sangat lama.

Sejak malam jahanam itu, hidupnya berubah. Beberapa malam dalam sepekan, akan ada seseorang yang mengendap-endap ke dalam biliknya, lalu menindihnya, dan menghujamkan sesuatu yang keras dalam tubuhnya. Djelema tak bisa menolak, sebab bila menolak artinya dia meminta mati.

ENTAHLAH, apa ini bagian cerita bahagia dalam hidup Djelema atau sesungguhnya awal dari kemalangan demi kemalangan lainnya yang tak kunjung usai menderanya? Setelah cukup lama mengendap-endap ke dalam biliknya, perangai busuk Tuan Willem terbongkar. Ibunya, Nyonya Edwar, mengetahui kebiasaan anaknya yang suka makan daging mentah dari babu itu. Harusnya Djelema bahagia, Nyonya Edwar akan mengakhiri mimpi buruknya. Ternyata, keliru. Djelema salah menyangka. Kakinya sampai gemetar ketika harus berdiri dengan wajah tertunduk dan badan nyaris bugil ketika Nyonya Edwar menangkap basah anak laki-lakinya sedang menindih Djelema.

“Harusnya kau meminta pada ibu,” ucapnya dengan aksen Eropa yang membuat lubang cuping Djelema berdenging. “Memang sudah masanya kau bermain dengan perempuan. Ambillah dia jadi nyaimu. Setelah mahir, kau akan menikah dengan gadis Eropa yang sederajat.”

Bila boleh memilih. Djelema ingin sekali menikam dadanya sendiri dengan pisau saat itu juga. Dia menatap wajah Nyonya Edwar dengan kaca-kaca yang retak di bola matanya. Dan perempuan bergaun terbuka lebar di dada dengan bagian bokong seperti pantat bebek itu, tersenyum demikian puas. Kuduk Djelema meriap. Dia pikir, hanya ibunyalah perempuan di muka bumi ini yang demikian terkutuk lantaran melempar anaknya ke rumah orang Belanda agar dia dan suaminya bisa makan dan terus menerus membuat anak seperti kucing. Ternyata, ada yang lebih mengerikan dari ibunya.

DALAM hidupnya, empat kali Djelema bertarung nyawa. Mengejankan bayi-bayi cantik dan tampan dari selangkangannya yang hitam. Bayi-bayi itu menjelma boneka yang menarik senyum kebahagiaan bagi Djelema.

Kemalangan demi kemalangan tak hendak usai menyapanya. Saat dia beranak yang ketiga kalinya, putri pertamanya sudah berusia lima tahun. Inilah awal kepedihan yang berkepanjangan dalam hidupnya. Tuan dan Nyonya Edwar beserta Tuan Willem, memaksanya menyetujui surat pengakuan anak. Putri bermata perinya resmi menyandang nama Edwar. Nama Eropa dan itu artinya dia harus segera dikirim ke Belanda untuk masuk sekolah. Satu per satu, Djelema merelakan anak-anak bermata perinya. Lalu, setelah semua direnggut dari dirinya. Dia dilempar seperti anjing ke jalanan. Alasannya klise, Tuan Willem akan menikah dengan perempuan Eropa, dia sudah mahir bermain perempuan, dan mereka tak butuh lagi tenaga babu, juga tak butuh keringat seorang nyai.

Oh, kau bayangkanlah. Djelema yang masih cantik walau perlahan mulai keriput, tertatih-tatih pulang ke rumah orangtuanya. Tak ada sambutan selamat datang, Djelema memang sudah dianggap antara ada dan tiada.

Djelema ingin mengakhiri penderitaannya. Tak ada cara lain, walau wajahnya sudah hilang, ternyata tubuhnya yang menggairahkan tetap membawa sengsara baginya. Sejak itulah dia meminta pada kegelapan untuk mengutuknya jadi boneka.

Nek, apa aku boleh bertanya?

Tentu, tentu saja kau boleh bertanya anak manis.

Siapa nama anak-anak Djelema? Apa mereka tak ingat dengan ibunya yang malang?

Oya, aku hampir lupa. Nama anak-anaknya itu Marie, Caroline, James, dan Pieter. []

Pali, 2014.

Setelah membaca De Njai: Het Concubinaat in Nederlands-Indiȅ karya Reggie Baay.

Catatan: Ini versi naskah asli, saya belum tahu versi cetak di KR, karena korannya sedang dalam perjalanan ke alamat saya.

By AlamGuntur Posted in cerpen

4 comments on “#CERPEN – Dongeng Boneka Nyai Djelema (Kedaulatan Rakyat, 23 Agustus 2015)

  1. Cerita-cerita anda kebanyakan selalu bernuansa muram. Mungkinkah latar belakang kehidupan penulisnya juga muram, hihiiihi. maaf, kepo. Tapi saya selalu suka baca-baca cerpen anda. Sayangnya, saya belum punya buku anda satu pun. Tapi suatu waktu pasti akan beli..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s