#CERPEN – Menjelang Kematian Dulkarim (Republika, 06 September 2015)

capture-20150907-155236

Ilustrasi oleh Republika

SEPEKAN ini, orang-orang di Tanah Abang dikejutkan dengan berita sekaratnya Dulkarim. Laki-laki berumur setengah abad itu memang sudah lama sakit. Namun tak ada yang tahu persis tentang apa sakitnya. Istri dan anak-anaknya selalu bungkam bila ditanya tetangga perihal penyakit yang diidap Dulkarim. Akan tetapi, orang-orang menduga, musabab sakit misterius Dulkarim ini pasti ada kaitannya dengan kejadian sepuluh tahun lalu. Kejadian memalukan sekaligus memilukan. Tak akan ada orang di Tanah Abang yang bisa melupakan peristiwa itu. Sampai tulang belulang Dulkarim memutih di alam kubur, riwayat luka itu akan terus dikenang.

Hikayat yang tersurat itu seperti ini.

Dulkarim anak tertua dari pasangan Cik Min dengan Siti Asna, dia punya delapan orang adik laki-laki dan perempuan. Namun di antara delapan saudaranya itu, kehidupan Dulkarim memang jauh lebih baik. Dia punya beberapa hektar kebun karet dan toko pecah-belah di pasar kecamatan.

Konon katanya, lebih dari lima puluh persen kekayaan Dulkarim diperoleh dari harta warisan. Seperti halnya orang Tanah Abang kebanyakan, mereka adalah petani karet yang punya kebun berhektar-hektar. Namun seiring waktu yang menggerus usia, kebun-kebun itu terbagi kepada anak-cucu yang kemudian menjelma rumah atau terjual karena berbagai kesulitan hidup yang menerjang.

Cik Min sudah lama wafat, saat Dulkarim baru berusia tiga puluh tahun. Sementara ibunya masih hidup dan sekarang berusia jelang tujuh puluh tahun. Nah, hikayat luka ini ada kaitan dengan perempuan renta itu.

Selain rumah besar mewah warisan bapaknya yang ditempati Dulkarim dengan anak-bininya sekarang, Dulkarim masih punya sebuah rumah panggung kecil di belakang rumah yang dia tempati. Rumah ini memang milik Dulkarim, dia membeli tanahnya dari Wak Hamid, pun papannya dia beli dengan uangnya sendiri, kemudian dia membayar Edi untuk menjadi tukang membangun rumah ini.

Di rumah inilah Siti Asna tinggal. Rumah kecil di belakang rumah mewah Dulkarim. Sebenarnya memang Siti Asna yang memilih tinggal di rumah ini lantaran anak bungsunya, Zainab, belum menikah dan anak-beranak ini tak mau menjadi benalu di rumah Dulkarim. Walau sebenarnya sudah jadi kewajiban Dulkarim untuk menghidupi ibu dan adiknya ini.

Bertahun-tahun setelah kematian Cik Min, Siti Asna dan Zainab menempati rumah Dulkarim itu dengan aman dan sentosa, tak terjadi apa pun. Namun kedamaian itu terkoyak saat asar bergerimis sepuluh tahun lalu. Tiba-tiba orang-orang Tanah Abang dikejutkan dengan teriakan Dulkarim dan tangisan Siti Asna. Untuk menjawab rasa penasaran, orang berbondong-bondong menuju asal suara. Dan alangkah terperangah mereka saat melihat apa yang terjadi.

Di halaman rumah yang ditempati Siti Asna, segala barang berhamburan; kasur, baju, piring, bantal, dan lain sebagainya –mungkin juga kenangan. Dulkarim tengah mengamuk, melempar semua barang yang ada. Bahkan dia dibantu oleh anak-anak lanangnya untuk mengeluarkan segala perabotan milik Siti Asna.

“Ini rumahku! Emak cuma numpang! Tak bayar pula! Jadi kalau aku mau pakai kapan pun, emak harus keluar!” teriaknya dengan wajah memerah sembari berkacak pinggang.

Orang-orang terkesiap dan ternganga. Tak ada yang dapat percaya dengan apa yang mereka dengar barusan, serta apa yang terjadi di depan mata kepala mereka sendiri. Dulkarim mengusir emaknya yang renta dari rumah. Seketika orang-orang beristigfar, tapi tak ada satu pun yang berani melerai. Lalu, Guru Tain Beng muncul. Imam masjid dan pengajar ngaji itu datang tergopoh-gopoh setelah mendapat kabar dari tetangganya. Dia tergesa mendekati Dulkarim, memegang lengan lelaki itu dengan kuat dan berkata; “Istigfar! Kau sadar apa yang kau lakukan!”

“Guru tak usah ikut campur! Ini urusan keluarga kami! Rumah ini rumahku! Bukan rumah guru! Terserah aku mau diapakan rumah ini!”

“Kau….” lutut Guru Tain Beng gemetar, dia mencengkram kuat tongkatnya. Seketika kelebat bayangan wajah Cik Min melintas. Darah Guru Tain Beng mendidih, dia mencengkram ujung tongkatnya. “Kau akan menyesal, Dul. Api neraka itu panas!”

“Itu urusanku dengan Tuhan!” mata Dulkarim memerah, hampir melompat dari rongganya.

Guru Tain Beng seketika berbalik, ke arah Siti Asna yang terduduk dan menangis.

“Bangunlah, Yuk. Jangan menangisi anak durhaka. Dia lupa kalau dia lahir dari perutmu dan menyusu kepadamu.”

Siti Asna menatap Guru Tain Beng dengan mata basah. Dia mengangguk dan bangun dari bersimpuhnya dengan dipapah Zainab.

Begitulah hikayat luka yang diingat orang-orang Tanah Abang. Siti Asna diusir Dulkarim saat asar bergerimis, barang-barangnya dilempar dari dalam rumah. Seperti anjing yang diusir majikannya, Siti Asna dan Zainab menyewa kontrakan Haji Kosim atas pertolongan Guru Tain Beng. Tak ada yang tahu pasti musabab pengusiran itu. Katanya rumah itu hendak ditempati oleh anak sulung Dulkarim yang baru menikah, Jamal. Memang setelah Siti Asna pergi, Jamal dan istrinya yang menempati rumah itu. Dua tahun kemudian, Siti Asna pergi dari Tanah Abang, mengikuti Zainab yang menikah dan pindah ke Makassar.

“TOLONGLAH, Guru. Bacakan ebak yasin atau doa, agar dia tak tersiksa seperti ini. Kami tak tega melihatnya sekarat sejak seminggu lalu.”

Guru Tain Beng hanya dapat menghirup napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Dia belum pernah melihat seseorang yang begitu sukar sakratul mautnya selain Dulkarim. Tak terbilang berapa kali dia membaca yasin dan meminumkan air yasin itu kepada Dulkarim, tapi hasilnya nihil. Dia juga sudah bermunajat, tetap tak ada hasil. Dulkarim tak kunjung mati, dia menggeliat-geliat di kasur, seperti ayam yang tengah sekarat karena disembelih. Tubuhnya tinggal tulang belulang dibungkus daging. Sungguh, Guru Tain Beng baru mengakui dengan sepenuh hati, bila sakratul maut itu memang sangat sakit.

“Aku tak tahu lagi, apa yang harus kubuat untuk ebak-mu, Jamal.”

“Tolonglah, Guru. Kemana lagi kami harus minta tolong. Kami benar-benar tak tega melihat dia mengerang siang dan malam. Ebak sepertinya sangat kesakitan, kadang-kadang dia menjerit dan meraung. Guru pernah bilang, sakitnya sakratul maut itu seperti dikuliti, sementara ebak sudah seminggu lebih mengalaminya.” Mata Jamal memerah, basah, lalu sepasang air mata meluncur di landai pipinya.

Guru Tain Beng terpekur. Sejatinya dia hendak mengutarakan tentang hikayat luka yang dikenang orang-orang Tanah Abang, tentang perbuatan Dulkarim yang mengusir ibu kandungnya seperti anjing sepuluh tahun lalu. Namun, Guru Tain Beng tak hendak menguak luka lama. Dia tahu, Jamal-lah yang meminta pada Dulkarim untuk menempati rumah itu.

Terdengar erangan dari dalam kamar Dulkarim yang tertutup gorden merah marun. Lamunan Guru Tain Beng pecah. Dia menoleh. Bulu kuduknya meremang seketika saat Dulkarim menjerit, panjang, tertahan seperti dia tengah disiksa dengan siksaan yang sangat pedih. Lolongan itu meriapkan bulu kuduk Guru Tain Beng.

“Mal,” suara Guru Tain Beng seperti tersendat di kerongkongan. “Apa kau ingat kajut­-mu Siti Asna?”

Seketika wajah Jamal memucat. Bibirnya bergetar. Juga jemarinya. Namun dia mengangguk, pelan.

“Apa sekaratnya ebak ada kaitan dengan kajut, Guru?”

“Ini cuma dugaanku, tak ada salah untuk mencoba. Kurasa ebak-mu durhaka. Dia sudah melukai perasaan kajut-mu. Carilah dimana kajut-mu sekarang, pintakan maaf untuk ebak-mu. Bila perlu, cuci kaki kajut-mu dan minumkan airnya pada ebak-mu. Cuma itu jalan satu-satunya. Ini waktu yang pas untuk saling memaafkan. Sudah sepuluh tahun mereka tak bermaaf-maafan.”

Jamal menelan ludah. “Kami tak tahu dimana kajut, Guru.”

Guru Tain Beng menepuk pundak Jamal. “Temui Nardi, adik ebak-mu di Desa Raja. Dia pasti tahu alamat Zainab dan kajut-mu. Bila bisa, kau cukup meminta nomor telepon Zainab, pintakan maaf ebak-mu via telepon.”

KATA cerita yang beredar, Jamal harus mencium kaki pamannya itu sebelum Nardi berkenan memberikan nomor telepon Zainab. Perbuatan Dulkarim tak hanya melukai Siti Asna, tapi semua adik-adiknya. Bahkan mungkin bila Nardi meminta Jamal memotong jari-jemarinya agar mendapat nomor telepon itu, bisa jadi Jamal akan melakukannya. Dia semakin tak tahan dan tak kuasa setiap hari melihat penderitaan bapaknya. Terlebih ibunya tak henti berkuah air mata, siang dan malam. Namun sayangnya, Siti Asna tak pernah mau memberikan maaf. Dia sudah terlanjur sakit hati dengan Dulkarim. Mau tak mau, Guru Tain Beng ikut turun tangan. Dia yang menelepon Siti Asna.

Yuk, tak elok merawat dendam. Bagaimana pun dia anakmu. Sekarang dia sekarat. Sudah lebih seminggu. Berilah maaf. Apa ayuk tak ingat betapa dulu ayuk bersusah payah mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkannya? Apa ayuk tega melihat anak yang dulu sangat ayuk sayangi menderita?”

Tak ada sahutan. Siti Asna bergeming di ujung telepon. Sejak sepuluh tahun lalu hatinya sudah mengeras laksana batu.

Yuk, di zaman Nabi bila ada anak yang durhaka pada orangtua dan susah matinya, untuk menghindari siksa neraka, anak itu akan dibakar, bukan dikubur. Ayuk mau Dulkarim yang sekarat itu dibakar?”

“Bakar saja, Beng. Aku tak peduli. Dia bukan anakku.” Suara Siti Asna terdengar bergetar, lalu nada tuuut panjang tanda telepon diputus menggema.

Guru Tain Beng terngangah. Dia tak menduga sama sekali jawaban Siti Asna akan seperti itu. Dia menoleh, menatap Jamal yang mendengar dari speaker ponsel. Wajah Jamal seketika memucat dan sepasang air mata mengucur dari matanya. Seketika bulu kuduk Guru Tain Beng berdiri tegak. []

G59, 2015.

CATATAN: Ini versi asli, bukan versi cetak di Republika. Karena korannya masih dalam perjalanan menuju alamat saya, jadi saya belum bisa menyesuaikan dengan editan editor Republika. Demikian.

By AlamGuntur Posted in cerpen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s