#CERPEN – Kue Bulan dan Rencana-rencana Kecil Liu (Tribun Jabar, 11 Oktober 2015)

Kue 1

LIU memandang almanak bergambar naga hijau yang tertempel di dinding dapur. Dia sengaja memindahkan kalender itu dari ruang tengah ke sini. Tujuannya cuma satu, agar dia bisa terus melihat angka di almanak setiap hari, jadi dia tak lupa untuk mencoret tanggal hari ini dengan spidol. Liu tak mau sampai melupakan satu hari pun, sebab Perayaan Kue Bulan tahun ini sangat istimewa. Kokonya, Zixin, pulang untuk pertama kali sejak merantau ke Jakarta lima tahun lalu.

Berita kepulangan Zixin ini datang dari teleponnya seminggu setelah hari pertama bulan September. Sebelumnya Liu yang menelepon Zixin, mengabarkan jika sakit ibu semakin parah akhir-akhir ini. Dulu, ibu masih bisa berkebun, menyadap karet, ke pasar tiap hari pekan dan memasak di dapur. Namun dua bulan terakhir, ibu hanya bisa tergolek di atas tempat tidur.

“Pulanglah, Ko. Aku khawatir ibu tak akan sembuh lagi. Beberapa kali aku bermimpi tentang arwah ayah yang datang, juga arwah A Kong dan An Ma. Kupikir itu semacam firasat bila ibu akan segera menyusul mereka.”

Mulanya Zixin tak sependapat dengan Liu. Katanya ibu akan berumur panjang. Dulu, saat masih kecil, Zixin pernah mendengar ramalan tentang ibu. Ibu tak akan mati sekarang. Usia ibu baru 47 tahun. Sementara di ramalan itu, ibu akan meninggal pada usia 54 tahun. Masih ada tujuh tahun.

Zixin ingat sekali, ibu menguncang-kuncang tabung bambu yang berisi lidi-lidi merah bertuliskan angka. Lalu sebatang lidi terlempar dan si peramal mengambilnya, Dia membaca sesaat dan mengeluarkan kertas merah.

“Wu Shi Si.” Baca ibu.

  1. Zixin ingat dengan jelas. Peramal itu mengatakan ibu akan meninggal di usia ke-54 tahun. Jadi Liu keliru. Namun Zixin tetap memilih pulang pada Perayaan Kue Bulan tahun ini. Bukan karena dia sangat memercayai ramalan itu, tapi juga dia teringat, sudah lima tahun sejak merantau, dia tak sekali pun pulang. Dia rindu dimsum yang dimasak ibu. Dia juga rindu pada adiknya, Liu.

LIU mengangkat tutup panci, lalu memasukan satu per satu dimsum isi babi ke dalamnya. Dia mengecikan nyala api, agar dimsum matang dengan sempurna. Liu teringat, kokonya sangat suka makan dimsum. Jadi ketika Zixin memastikan akan pulang, Liu membuat beberapa rencana kecil untuk menyambut Zixin dan membuatnya betah selama di rumah.

Rencana pertama yang Liu buat adalah belanja ke pasar dan membeli berbagai kebutuhan dapur. Zixin sangat suka makan, terutama dimsum. Dan tentu saja, sudah lima tahun Zixin tidak makan masakan Liu atau pun masakan ibu. Walau terbaring sakit, ibu masih bisa menerangkan resep rahasia dimsum-nya.

Liu membayangkan saat nanti tiba di rumah, Zixin akan memakan dimsum dengan lahap. Mereka berdua akan menggotong ibu agar bisa duduk bersama menghadap meja makan, lalu makan bersama. Sembari mengisi perut, Liu dan ibu akan mendengar cerita Zixin tentang Jakarta dan pekerjaannya.

Itu sebuah rencana kecil dan sederhana, tapi Liu sangat yakin bisa membuat Zixin bahagia, juga ibunya. Liu berharap dengan melihat Zixin yang makan dimsum begitu lahap, kesehatan ibu akan perlahan kembali pulih seperti sedia kala. Dan begitu melihat kondisi ibu yang sakit, Liu berharap Zixin akan tinggal lebih lama di kampung.

Membayangkan rencana kecilnya, Liu tersenyum senang.

Liu menjangkau daun teh kering yang ada di dalam toples. Dia sengaja membeli daun teh kering di pasar. Dulu, saat masih tinggal bersama mereka, Zixin sangat suka minum teh kurma.

Kata almarhum ayah, teh kurma minuman khas Tionghoa, khususnya di Provinsi Gansu. Cara membuat teh kurma sangat mudah. Liu ingat sekali, ayah mengajarinya saat masih berumur sepuluh tahun. Semua itu berawal karena Zixin tak mau membagi teh kurmanya. Untuk meredamkan tangis Liu, ayah mengajarinya membuat teh kurmanya sendiri.

“Kurmanya harus dibakar dulu. Bukan digoreng.” Ujar ayah sembari membakar buah kurma di atas bara api.

Ketika kurma itu sudah setengah matang, ayah mengambil dan meletakkannya ke dalam gelas. Dua lembar daun teh kering ayah comot dari dalam toples, lalu tangannya mengambil sebiji lengkeng dan membukanya dan menaruhnya ke dalam gelas juga.

“Tuangkan gula dan air. Terserah Liu. Mau manisnya sedang atau manis sekali.”

Liu tersenyum mengingat kenangan manis itu. Tanpa bisa dicegah, mata Liu memerah, basah. Dia segera mendongak. Tak ingin membiarkan air mata jatuh di landai pipinya. Mendadak dadanya sesak. Dia teringat ayah, dengan semua hal yang pernah mereka lewati bersama.

Terdengar suara panci mendengung. Air mendidih. Liu terperenyak. Lamunannya pecah. Dia segera memutar tombol kompor gas, api biru itu seketika padam. Diangkatnya tutup panci, asap uap menggumpal, meninggalkan panas. Liu membuang wajah, tak ingin rasa panas itu menyambar kulitnya. Dia menyentuh dimsum dalam panci dengan garpu. Sudah matang. Diliriknya jarum jam di tembok dapur. Hampir pukul empat sore. Biasanya mobil travel dari Palembang akan sampai ke kampung pukul lima. Liu masih punya waktu untuk memasak makanan-makanan favorit Zixin.

SELAIN memasak dimsum dan membuat teh kurma, Liu menyiapkan tekwan ikan. Makanan khas Palembang ini sebenarnya makanan favorit ayah, apalagi jika di dalam kuahnya ditambahkan jamur kuping. Bukan tanpa tujuan Liu memasak tekwan ikan ini. Dia ingin Zixin langsung teringat almarhum ayah bila melihat makanan ini, tanpa Liu harus mengatakannya.

Inilah rencana kecil kedua Liu. Dia ingin mengajak Zixin memperbaiki makam ayah. Sudah enam tahun lebih ayah meninggal dan sejak itu makamnya hanya gundukan tanah dengan nisan batu biasa –ayah memang minta dimakamkan, bukan dikremasi. Tak seperti makam-makam yang ada di TPU yang rata-rata sudah dipasang keramik atau pun marmer.

Liu tidak meminta makam yang mewah untuk ayah. Dia hanya ingin Zixin membelikan nisan berukiran nama ayah di sana. Li Po Wang. Kemudian tanggal lahir dan wafat ayah tertulis di bawah nama itu. Hanya hal sederhana itu yang Liu inginkan. Dia yakin Zixin tidak akan keberatan. Zixin sangat mencintai ayah, banyak kenangan manis yang sudah mereka lewati bersama. Dan sebagai seorang anak, sudah barang tentu Zixin harus berbakti, walau pun ayah sudah meninggal.

Liu memupuk harapannya. Dia berharap Zixin mengabulkan rencana kecilnya ini. Perayaan Kue Bulan dua minggu lagi, tepatnya 15 September ini, dan dia ingin sebelum sembahyang leluhur di festival ini makam ayah sudah seperti apa yang dia rencanakan.

Tentu ibu akan senang sekali bila mendengar makam ayah sudah punya nisan dan disemen. Sejak seratus hari meninggalnya ayah, ibu sering mengatakan betapa dia ingin mengumpulkan uang agar bisa membuatkan nisan yang bagus untuk ayah. Sayangnya ibu sering sakit-sakitan sejak ayah meninggal, walau masih bisa bekerja. Namun tak sekuat dan segesit dulu.

Bukankah rencana-rencana ini akan membahagiakan semua orang? Senyum Liu semakin mekar. Terdengar suara air mendidih dari atas kompor. Dia teperenyak dan tergesa mematikannya. Dituangnya air ke dalam gelas berisi kurma, kelengkeng, daun teh dan gula. Jarum jam hampir mendekati pukul lima sore. Waktu yang tepat untuk menyeduh teh, nanti saat Zixin datang tehnya sudah bisa diminum tanpa meniup.

LIU melepas lap di tangannya. Dia memandang jendela. Ada sesuatu yang berubah di luar sana. Tadi matahari masih bersinar terang, lalu mendadak langit jadi gelap dan angin bertiup kencang. Liu berjalan menuju jendela.

Rintik hujan turun besar-besar. Sebelum Liu menyadarinya, gerimis sudah berubah menjadi hujan deras. Tempias hujan mengenai wajahnya. Dia tergesa menutup jendela dan menarik gerendelnya. Hujan turun di luar rencana Liu.

Mata Liu beralih ke jam dinding, hampir pukul lima sore. Seharusnya travel pertama akan segera datang. Liu menjangkau ponselnya, mencari kontak Zixin dan meneleponnya. Namun nomor itu tak aktif.

Mungkin hapenya abis batre.

Liu kembali ke meja dan menutup rantang bertotol hijau-putih yang berisi dimsum isi babi. Dia ingin mengirimi Bibi Nang makanan –adik ibunya, sekaligus memberi kabar bila Zixin pulang hari ini. Namun sepertinya dia harus menunda itu. Hujan turun dengan deras dan seolah tak akan berhenti sampai malam tiba.

Liu merapikan meja dapur dan hujan masih belum berhenti ketika dia selesai membereskan semuanya. Saat dia akan beranjak ke jendela, terdengar panggilan ibu. Liu tergesa ke kamar. Ibu menanyakan apakah Zixin sudah datang, Liu hanya menggeleng. Mata ibu berubah keruh.

Liu merogoh ponselnya lagi. Tetap saja nomor telepon Zixin tak aktif. Sementara itu, hujan masih turun deras, jarum jam bergerak ke angka enam. Liu tidak tahu, bila terjadi sesuatu yang diluar rencana pada Zixin. Dia benar-benar tak tahu itu. []

Pali, Juni 2015.

By AlamGuntur Posted in cerpen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s