#TipsNulis – Bagaimana Jika Kamu Harus Menghidupkan Karakter?

 

Menjaring Ide

BEBERAPA waktu lalu, aku membaca tulisan Mas Keff di Taman Fiksi yang mengisah cara beliau “mendapatkan” ide dalam tulisannya, yakni dari sebuah judul. Tulisan itu membuatku berpikir ke belakang, “bagaimana caraku memancing ide selama ini?”. Ternyata, caraku mainstream sekali dan akan kubagi pada kesempatan ini.

Setelah kurunut, ternyata dalam menulis, aku lebih banyak menggunakan cara ini dalam mengolah ide: BAGAIMANA JIKA alias WHAT IF.

Bagaimana jika kamu jatuh cinta pada teman baikmu, tapi ternyata temanmu justru suka orang sama orang lain dan gilanya lagi, dia meminta kamu jadi mak comblangnya. (Novel remaja My Curly Love, Ice Cube-KPG, 2013).

Bagaimana jika kamu bertemu cewek asing di rumah abu, kamu tak tahu namanya, di mana alamatnya, tapi ganjilnya kamu justru jatuh cinta pada pandangan pertama? (Cerpen Pertemuan di Rumah Abu, Gadis, 19-28 Mei 2015).

Bagaimana jika ada seorang yang merasa dia lahir dengan tubuh yang salah tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena masyarakat akan menganggapnya salah, tapi saat kematian ayahnya dia ingin menjadi dirinya sendiri, apa pun kata orang? (Cerpen Upacara Hoe, Kompas, 15 Februari 2015)

Dan bagaimana jika – bagaimana jika yang lainnya.

Sebenarnya, banyak cara memancing ide, seperti Mas Keff yang memulai dari judul, lalu saya dengan berangan-angan lewat bagaimana jika. Di antara cara yang bisa kamu coba dalam mendapatkan ide, seperti dimulai dari karakter tokohmu. Misal, saat kamu di jalan atau membaca buku atau menonton film, kamu menemukan karakter yang unik seperti seseorang yang berambut keriting kayak Ahmad Albar, lalu tokoh ini bela-belain make over dirinya agar mirip aktor Korea yang imut dan manis dengan rambut hitam lurus plus poni lempar ala JB, demi seorang cewek yang dia dambakan –ini tokoh dalam novel My Curly Love.

Nah, tentu menarik, kan? Dari karakter unik tokohmu ini, kamu bisa memancing ide, merancang plot dan alur cerita.

Kamu bisa juga menjaring ide dari setting. Mas Keff kayaknya banyak menulis tentang Braga. Nah, sepertinya ide-ide ceritanya itu dimulai dari Braga yang menjadi setting cerita. Aku juga pernah nulis tentang Braga dan dimuat GADIS (satu cerpen berbeda lagi yang masih bersetting tempat favorit di Bandung ini dimuat Tribun Jabar). Awalnya sangat sederhana, saat berkunjung ke kota itu, hujan turun, aku yang menunggu dijemput teman, terjebak di Braga. Untuk membunuh rasa bosan, aku berteduh di semacam minimarket semi kafe gitu; bisa pesan kopi dan makanan. Di sanalah, ide tentang cerpen Sepotong Kenangan di Sudut Braga tercipta ketika aku melihat bangku taman yang kehujanan dan kesepian jelang magrib.

Cara paling top dan sering digunakan orang dalam mendapatkan ide yakni permainan kata. Kalau yang pernah ikutan workshop menulis, biasanya cara ini sering sekali dijadikan contoh dalam mendapatkan ide. Misal, kamu tuliskan 3 kata seperti perempuan, sisir, dan hujan. Nah, dari tiga kata inilah kita memulai cerita yang kita tulis. Kalau tiga kata terlalu sedikit, kamu boleh menambahnya. Sesuka kamu.

Hei, ada juga cara yang menurutku unik dan aku pernah mencoba, yakni daur ulang ide. Kalau kamu punya kucer baruku, Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang, carilah cerpen berjudul Gadis Buruk Rupa dalam Cermin. Cerpen ini ditulis dengan mendaur-ulang dongeng Putri Salju. Akan tetapi ceritanya dibalik, yang hidup bahagia selama-lamanya adalah si ibu tiri. Tentu resiko mendaur-ulang ide, kita nggak boleh terjebak dalam alur yang sudah familiar dalam benak pembaca. Selain cerpen ini, saya pun mendaur-ulang ide –tepatnya menggabungkan beberapa dongeng—dalam cerpen Sepasang Kutu, Kursi Rotan dan Kenangan yang Tumbuh di Atasnya –juga ada dalam kumcer Magi.

Nah, menulis yang paling gampang itu, ya tulislah apa yang kamu tahu dan sangat kamu kenali. Seperti yang dilakukan Benny Arnas. Dia menulis tentang Lubuk Linggau yang sangat dia kenali.

Selain cara-cara di atas, masih banyak cara lain dalam menjaring ide, seperti dari lirik lagu favorit, pengalaman pribadi, curhat teman, dan lain-lain.

 

Menghidupkan Karakter

KITA semua acapkali terkendala cara menghidupkan karakter tokoh dalam cerita. Atau bahasa umumnya, saat menulis kita terlalu telling bukan showing. Lantas, gimana sih cara menghidupkan karakter tokoh dalam cerita tanpa terjebak telling? Sebab emosi tokoh itu sangat penting. Emosi karakter yang akan membuat cerita menjadi menarik; naik, turun, cepat, lambat atau justru meneror.

Di romanceuniversity.org, Janice Hardy, seorang novelis asal Amerika, menuliskan beberapa cara sederhana dalam menghidupkan karakter tokoh. Dan sudah diterjemahkan oleh teman saya Jia Effendi di blognya –sedikit saya edit bahasanya untuk ditampilkan di sini.

Berikut contohnya dan mungkin bisa dicoba oleh teman-teman.

 

  1. Gunakan gejala fisik yang dialami tokoh

Emosi memacu reaksi fisik. Ini dapat membantu pembaca untuk melihat perasaan tokoh; jantung berdebar, jemari membeku dan mati rasa, telapak tangan berkeringat, dan sebagainya. Contohnya: mereka tertawa terbahak-bahak melihatnya dan dia berpaling dengan wajah yang seperti terbakar dan jemari yang sedingin es. Jangan menulis seperti ini: dia berpaling, wajahnya memerah karena malu.

 

  1. Gunakan pikiran atau dialog

emosi dapat memacu respon mental maupun verbal. Seperti, komentar “dasar berengsek” yang diucapkan dengan volume suara pelan dan cepat dapat menimbulkan emosi yang sama dengan mengerutkan kening, dan terasa lebih natural. Misal: dasar berengsek! “permisi, tadi bilang apa?”. Bandingkan: dia mengerutkan kening karena laki-laki itu sangat berengsek.

 

  1. Gunakan subteks

Seringkali, apa yang tidak diucapkan oleh karakter malah lebih memperlihatkan apa yang terjadi.  Saat keadaan mendesak yang berkontradiksi dengan apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan bisa memperlihatkan berlapis-lapis emosi. Subteks juga dapat menambahkan konflik dalam sebuah adegan dan membantu menaikkan ketegangan. Contoh: “tentu saja kau boleh tinggal,” katanya sambil menyobek-nyobek tisu di tangannya menjadi potongan-potongan kecil. Daripada: dia tidak menjawab, walaupun dirinya tahu john ingin dia mengatakan iya.

 

  1. Gunakan indera eksternal

Emosi yang tinggi juga dapat meningkatkan indra, jadi persepsi bisa menjadi lebih kuat. Ketakutan bisa menimbulkan kewaspadaan berlebih, dan cinta bisa membuat hal-hal lebih sensual. Ketakutan sering kali diperlihatkan dengan bagaimana perut atau tenggorokan bereaksi. Tapi bagaimana dengan suara atau aroma? Kamu bisa menunjukkannya dengan telinga berdenging, atau sesuatu terdengar jauh dan teredam. Aroma juga bisa memicu jenis emosi yang ingin kamu perlihatkan.

Contoh: ia tak hanya mendengar suara langkah di belakangnya—bau minyak wangi murah, bir yang sudah basi, dan keputusasaan yang merayap semakin dekat, menambah rasa jerinya. dia mempercepat langkahnya.

Daripada: rasa takut membuatnya mempercepat langkah. seseorang mengikutinya.

  1. Gunakan majas

metafor, simile, dan jenis majas lain bisa efektif untuk memperlihatkan emosi tanpa harus menggunakan kata yang menunjukkan emosi secara spesifik.

Cobalah:

dunia meluruh, warna-warna meluntur memperlihatkan sosok dirinya yang semakin jelas di bawah gemilang cahaya matahari.

Alih-alih:

dia sangat tampan hingga aku tak bisa memalingkan mataku.

 

Demikianlah tulisan singkat tentang menjaring ide dan menghidupkan karakter. Semoga bermanfaat. Salam. [GA]

2 comments on “#TipsNulis – Bagaimana Jika Kamu Harus Menghidupkan Karakter?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s