#TipsNulis – Cara Asik Atasi Badmood

Magi Apel Pisau

Sering nggak kamu ngalami badmood saat nulis, yang ujungnya tulisan itu nggak kelar-kelar? Aduh, ini sih aku banget. Banyak banget tulisanku yang baru separuh dan nggak selesai. Namun, pada akhirnya bisa selesai juga, sih. Walau ditinggalnya kelamaan. Terus gimana caraku kembalikan mood agar bisa lanjutin tulisan itu? Berikut beberapa cara yang mungkin saja bisa kamu contoh, itu pun kalau cocok.

1. Baca Buku

Ini cara yang pertama kali kulakukan kalau tiba-tiba males ngelanjutin tulisan. Biasanya sehabis baca buku, apalagi bukunya satu genre dengan tulisan yang tengah kugarap, aku akan semangat lagi. Kalau nggak buku yang satu genre, buku apa saja. Misalnya nggak ada stok buku bacaan baru, aku baca ulang beberapa buku penulis favoritku. Baik buku kumpulan cerpen atau novel. Aku suka menandai pakai stabilo kalimat-kalimat yang menurutku keren. Ajaibnya sih walau sudah berkali-kali dibaca ulang, biasanya buku-buku itu tetap saja memberikan efek lain setelah membacanya kembali. Mungkin karena buku dari pengarang favorit, ya?

2. Main ke Toko Buku

Ini beda dengan membaca buku. Biasanya ritual main ke toko buku bagiku adalah mencium aroma buku baru. Ini aneh gak sih? Tapi aku memang suka merasakan aroma buku baru. Ada sensasi luar biasa yang meningkatkan semangat. Selain itu, alasan aku suka berada di rak buku baru, yakni melihat deret buku-buku yang baru datang. Biasanya semangat akan terpacu untuk menyelesaikan tulisan kalau membaca dan melihat buku-buku baru itu, terlebih jika pengarangnya kukenal –walau cuma kenal dan akrab di dunia maya. Alasan lainnya, biasanya aku berburu buku penulis-penulis favorit atau kata teman-teman bukunya menarik dan ceritanya bagus. Setelah merasa “bangkrut” di toko buku, biasanya semangat lanjutin tulisan kembali. Kok bisa? Ya iyalah, mau balikin modal setelah belanja buku.😀

3. Nonton Film

Ritual yang satu ini juga cukup ampuh untuk mengembalikan semangat menulisku. Tapi, aku cuma suka beberapa genre film. Genre paling favorit misteri/horor/thriller, posisi berikutnya genre fantasi/dongeng dan barulah komedi. Namun aku kurang suka nonton film perang seperti Apocalypse Now, War of Resistance, etc. Entahlah, aku kurang bisa menikmati, moodku malah semakin buruk. Mungkin aku perlu bertanya lebih lanjut ke dalam diri sendiri; kenapa kurang suka dengan jenis film ini?

4. Makan Es Krim dan Lihat Orang Berlalu-Lalang

Bisa jadi ini termasuk kebiasaan aneh. Kalau mood menulisku buruk banget, aku suka makan es krim sambil melihati orang berlalu-lalang. Nah, sering kali kalau lihati orang-orang itu, imajinasiku muncul. Misal ada cewek yang jalan sendirian sambil merengut. Akan muncul “mungkin” dan “mungkin” dalam pikiran yang membentuk sebuah cerita. Kadang-kadang aku juga melihat beberapa kebiasaan orang lain yang menurutku unik.

5. Berkebun

Sejak tinggal di kampung, aku menyukai aktivitas ini. Saat mood menulisku jelek, aku sering ke kebun sayur di belakang rumah. Ibuku menanam bayam, cabai, singkong, pepaya, pisang dan lain-lain di sini. Ajaibnya, saat melihat tumbuhan hijau ini, aku merasa lebih fress. Mungkin karena udaranya lebih bersih di kebun ini, nggak sepengap kamarku yang dinding-dindingnya dipenuhi rak buku beserat isinya.

6. Minum Air Jeruk Hangat

Kalau yang lain suka minum kopi atau teh atau cokelat atau lainnya, aku lebih suka minum air jeruk hangat. Sebenarnya minum air jeruk hangat itu lebih bagus saat pagi hari dan baru bangun tidur. Namun saat moodku buruk, biasanya aku minum ini juga. Sensasi asam dari jeruk itu kayaknya yang bikin otakku tersengat.

7. Baca Ulang dan Paksain Diri Menulis

Ini cara terakhirku, jika memang tulisanku harus selesai segera tapi mood jelek, aku memaksakan diri membacanya berulang-ulang kali. Lalu menuliskan apa saja yang terlintas di benakku. Urusan bagus atau tidak, cocok atau tidak, nyambung atau tidak, belakangan. Selesaikan saja dulu. Nanti ada waktunya untuk menyunting.

Itulah beberapa caraku dalam mengatasi mood yang memburuk saat menulis. Mungkin nggak banyak penulis yang sepertiku, apalagi yang sudah profesional, sebab mereka tidak bergantung dengan mood. Sayangnya, aku tergolong penulis (bila sudah layak disebut penulis) yang sangat bergantung dengan suasana hati ini. Hadeehh, pantesan aku nggak seproduktif teman-teman yang lain ya. Semoga bermanfaat. [GA]

G59, Pali, Desember 2015.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s